Skip to main content
Buku 
Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a. 
|| 
|| 
|| 
Oleh 
H.M.H. Al Hamid Al Husaini 
Penerbit: 
Lembaga Penyelidikan Islam 
Jl. Blora 29, Jakarta 
Oktober 1981 
|| 
|| 
|| 
Sejarah Imam Ali: 
1. M U Q A D D I M A H- 
2. Bab I : Masa Asuhan- 
3. Bab II : Lingkungan Keluarga- 
4. Bab III : Rumah Tangga Serasi- 
5. Bab IV : PERANAN KEPAHLAWANAN- 
6. Bab IV-1 : Perang Badr- 
7. Bab IV-2 : Perang Uhud- 
8. Bab IV-3 : Perang Ahzab (Kandhaq)- 
9. Bab IV-4 : Perang Khaibar- 
10. Bab IV-5 : Perang Hunain- 
1
11. Bab V : WAFATNYA RASUL ALLAH S.A.W.- 
12. Bab VI : KHALIFAH ABU BAKAR ASH SHIDDIQ- 
13. Bab VII : KHALIFAH UMAR IBNUL KHATTAB R.A.- 
14. Bab VIII : KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN R.A.- 
15. Bab IX : DELAPAN HARI TANPA KHALIFAH- 
16. Bab X : BENIH-BENIH PEPERANGAN SAUDARA- 
17. BAB XI : PERANG SHIFFIN- 
18. Bab XII : GERAKAN KHAWARIJ- 
19. Bab XIII : WAFATNYA IMAM ALI R.A.- 
20. Bab XIV : KEUTAMAAN IMAM ALI R.A.- 
21. Bab XV : PINTU ILMU- 
22. SEBUAH KENANGAN- 
23. PENUTUP-M 
U Q A D D I M A H 
Usaha menyingkat sejarah kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. dalam 
lembaran-lembaran buku, bukanlah pekerjaan yang mudah. Sejak semula telah 
terbayang kesukaran-kesukaran yang bakal dihadapi. Betapa tidak! 
Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a., terutama pada tahap-tahap terakhir, 
sejak terbai'atnya sebagai Khalifah sampai wafatnya sebagai pahlawan syahid, 
bukankah satu kehidupan biasa. Ia merupakan satu proses kehidupan yang lain 
daripada yang lain. Ia menuntut penalaran luar biasa, menuntut kekuatan 
syaraf istimewa pula. 
Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. penuh dengan ledakan-ledakan luar 
biasa, keagungan dan hal-hal mempesonakan. Tetapi bersamaan dengan itu 
juga penuh dengan gelombang kekecewaan dan kengerian. 
Oleh karena itu penulisan tentang semua segi kehidupannya menjadi benar-benar tidak mudah. 
Ditambah pula dengan adanya pihak-pihak yang menilai beliau secara berlebih-lebihan. Baik 
dalam memujinya maupun dalam mencacinya. 
Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sendiri tidak senang pada orang-orang yang menilai diri beliau 
secara berlebih-lebihan. Hal itu tercermin dengan jelas dari kata-kata beliau: "Ada dua fihak 
yang celaka karena berlebih-lebihan menilai sesuatu yang sebenarnya tidak kumiliki. Sedangkan 
pihak yang lain ialah yang demikian bencinya kepadaku sehingga mereka melontarkan segala 
kebohongan tentang diriku." 
Dari sini pulalah maka Imam Ali r.a. mengatakan: "Ada segolongan orang yang demi cintanya 
kepadaku mereka bersedia masuk neraka. Tetapi ada segolongan lain yang demi kebenciannya 
kepadaku sampai-sampai mereka itu bersedia masuk neraka." 
Ada dua faktor yang menyebabkan timbulnya pertentangan penilaian mengenai menantu dan 
sekaligus saudara misan Rasul Allah s.a.w. itu. Dua faktor itu ialah sifat atau watak pribadi 
Imam Ali r.a. sendiri dan situasi serta kondisi kehidupan Islam pada zaman hidupnya tokoh 
penting Islam itu. 
Faktor mana yang lebih dominan, sehigga pribadi Imam Ali r.a. mempunyai kedudukan yang 
unik dalam sejarah Islam sulit dikatakan. Yang jelas kedua faktor itu memegang peran penting 
dan memberi arti khusus yang pengaruhnya hingga kini masih terasa. Bahkan sejak 
meninggalnya pada tahun 40 Hijriyah pendapat yang kontroversial mengenai dirinya itu tidak 
2
mereda, malahan makin berkembang sehingga sangat mewarnai sejarah Islam sampai abad ke- 
15 Hijriyah sekarang ini. 
Periode kehidupan Imam Ali r.a. ditandai dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh 
ummat Islam, terutama setelah wafatnya Rasul Allah s.a.w. Belum lagi jenazah Rasul Allah 
s.a.w. dimakamkan telah muncul krisis. Dan krisis itu disusul pula oleh krisis-krisis lain. 
Ancaman dari dalam dan dari luar sangat membahayakan kedudukan Islam yang masih muda 
itu. 
Pertentangan pribadi, qabilah, suku, golongan, bangsa dan antar-negara bermunculan hampir 
secara simultan. Keseimbangan kehidupan rohani dan jasmani, masalah keagamaan dan 
kenegaraan yang serasi dan seimbang di bawah satu pimpinan, yaitu di tangan Rasul Allah 
s.a.w. semasa hidupnya, tiba-tiba saja mengalami kegoncangan, ketidak-seimbangan dan 
ketidak-serasian. 
Proses kristalisasi dan disintegrasi yang menyusul wafatnya Rasul Allah s.a.w. dihadapkan pada 
tokoh-tokoh terkemuka ummat Islam, yang selama itu merupakan pembantu-pembantu 
terdekat Rasul Allah s.a.w. Diantaranya Imam Ali r.a. sebagai salah satu tokoh yang menonjol 
dan dekat sekali dengan Rasul Allah s.a.w. Dan dialah salah seorang yang paling merasa 
berkepentingan terhadap kemaslahatan Islam dan ummatnya. Sebab dialah yang paling dini 
melibatkan diri sebagai pengikut setia Nabi Muhammad s.a.w. 
Awal tahun Hijriyah ditandai oleh peranan Imam Ali r.a. Malam sebelum Rasul Allah s.a.w. 
melakukan hijrah ke Madinah, yang sangat bersejarah itu, rumah kediaman beliau dikepung 
rapat oleh para pemuda Qureiys: Mereka bertekad hendak membunuh nabi Muhammad s.a.w. 
Pada saat itulah Rasul Allah s.a.w. memerintahkan Imam Ali r.a. supaya mengenakan mantel 
hijau buatan Hadramaut dan agar saudara misannya itu berbaring di tempat tidur beliau. Imam 
Ali r.a. dengan kebanggaan dan keberaniannya melaksanakan tugas tersebut. 
Ketika para pemuda Qureisy yang berniat jahat itu mengintip, mereka mengira Rasul Allah 
s.a.w. berada di dalam. Padahal sebenarnya saat itu Rasul Allah s.a.w. telah berhasil 
menyelinap keluar menuju ke rumah Abu Bakar r.a. 
Ketaatannya kepada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya pada malam hijrah itu bukan 
merupakan kasus tersendiri. Pada masa-masa hidupnya lebih lanjut, faktor keberanian ini 
sangat mewarnai kehidupan Imam Ali r.a. Dasar-dasar keberanian ini tambah diperkuat oleh 
keyakinannya yang makin teguh pada kebenaran ajaran Rasul Allah s.a.w. dan ketaqwaannya 
pada Allah s.w.t. 
Ketaatannya pada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya dalam membela serta menegakkan 
kebenaran-kebenaran agama Allah merupakan pendorong utama, sehingga kemudian ia 
diagungkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai pahlawan besar ummat Islam. 
Hal itulah yang antara lain telah menimbulkan perbedaan penilaian yang hasilnya melahirkan 
perselisihan pendapat. Yang menilai positif melambangkan Imam Ali r.a. sebagai contoh tokoh 
yang paling ideal, pelanjut cita-cita dan perjuangan Rasul Allah. Kemudian eksesnya menjadi 
berlebih-lebihan, sehingga sama sekali tidak disukai oleh yang bersangkutan sendiri. 
Sebaliknya mereka yang menilai negatif, Imam Ali r.a. mereka anggap sebagai tokoh yang amat 
berambisi untuk mendapat kedudukan memimpin ummat Islam. Penilaian terakhir ini 
mengundang sifat-sifat kebencian dan menjurus ke permusuhan, dan akhirnya memuncak dalam 
bentuk peperangan melawan Imam Ali r.a. 
Kepribadian dan watak Imam Ali r.a. yang unik itulah yang mengembangkan pendapat ekstrim 
tentang dirinya. Yang mengaguminya, kemudian memitoskan dan mendewakannya. Tidak 
3
jarang, karena ekses penyanjungan kepada Imam Ali r.a. akhirnya secara sadar atau tidak sadar 
golongan ini mengaburkan peran agung Rasul Allah s.a.w. Sebaliknya yang membenci Imam Ali 
r.a. melahirkan ekses mengkafirkannya. 
Dua fihak yang sangat bertentangan penilaian terhadap Imam Ali r.a. tercermin pada dua 
kelompok yang terkenal dalam sejarah Islam. 
Kaum Rawafidh bukan saja pengagum Imam Ali r.a., malahan boleh dibilang sebagai "kaum 
penyembah Imam Ali r.a." Semasa hidupnya, Imam Ali r.a. sendiri sudah berulang kali melarang 
tindak dan sikap mereka yang sangat keliru itu, tetapi sikap Imam Ali r.a. yang tidak mau 
disanjung dan disembah itu bahkan mereka nilai sebagai sikap yang agung. Imam Ali r.a. 
sampai-sampai mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu syirik. Peringatan itu 
sama sekali tidak menyurutkan pendirian mereka. 
Begitu fanatiknya mereka kepada Imam Ali r.a. sehingga mereka bersedia mengorbankan 
segala-galanya demi tegaknya pendirian itu. Bahkan ketika mereka dijatuhi hukuman dengan 
dibakar hidup-hidup, hukuman itu mereka terima dengan penuh ketaatan. Di tengah kobaran 
api unggun yang membakar diri mereka di depan umum, dengan penuh gairah mereka berseru: 
"Dia (Imam Ali) adalah tuhan. (Sebab) dialah yang menetapkan adzab neraka ini". Mereka rela 
mati dibakar dengan penuh keikhlasan. Mereka memandang layak hukuman demikian 
dijatuhkan oleh "tuhan" mereka sendiri. 
Sangat berlawanan dengan kaum Rawafidh ini, adalah pendirian golongan Nawasib dan 
Khawarij yang sangat benci kepada Imam Ali r.a. Ironisnya, kaum Khawarij ini sebelumnya 
justru merupakan pengikut Imam Ali r.a. yang paling setia dan taat. Mulamula mereka sangat 
cinta, kagum, taat dan setia. Lalu berbalik 180 derajat menjadi muak, benci, mengutuk, 
bahkan mengkafirkan Imam Ali r.a. Itu terjadi ketika tokoh yang mereka kagumi itu bersedia 
menerima "perdamaian" dengan Muawiyah. Peristiwa yang dalam sejarah terkenal sebagai 
"Tahkim bi Kitabillah". 
Kaum Khawarij itu menuntut kepada Imam Ali r.a. agar ia bertaubat kepada Allah atas 
perbuatan salah yang dilakukannya (mengadakan perdamaian dengan Muawiyah). Begitu 
mendalamnya kebencian mereka sehingga pada kesempatan apa, kapan dan di mana saja 
mereka melancarkan kecaman pedas dan memaki habis. Bahkan sejarah mencatat, Imam Ali 
r.a. wafat akibat pembunuhan yang dilakukan golongan Khawarij. 
Sulit untuk dicari bahan bandingan bagi seorang tokoh yang begitu hebat menimbulkan 
pertentangan pendapat seperti yang ada pada diri Imam Ali r.a. Lebih sulit lagi untuk menarik 
kesimpulan dari kenyataan ini. Apakah karena ia orang besar, maka timbul pertentangan 
pendapat yang begitu hebat? Ataukah karena adanya pertentangan pendapat itu hingga ia 
menjadi mitos. Kenyataan adanya pertentangan pendapat itu sendiri sudah mengungkapkan, 
bahwa Imam Ali r.a. adalah tokoh potensial sekali, khususnya bagi ummat Islam. 
Juga merupakan ironi sejarah, salah seorang yang pertama-tama berperan vital dalam membela 
Islam, akhirnya dijatuhkan oleh seorang yang ayahnya justru paling memusuhi Islam ketika 
Rasul Allah s.a.w. mulai dengan da'wahnya. Orang yang sejak masa anak-anak sudah 
mempertaruhkan segala-galanya demi tegak dan berkembangnya Islam, kepemimpinannya 
direbut oleh orang-orang yang pada awal Islam paling gigih menentang. 
Lebih menyedihkan lagi karena orang yang melawan Imam Ali r.a. menempuh segala usaha dan 
tipu-daya "dengan mengatas-namakan Islam". Lebih parah lagi karena dengan "mengatas-namakan 
Islam" selama 136 tahun, kekuasaan Bani Umayyah, nama Imam Ali ditabukan, 
direndahkan dan dihina. Pada setiap khutbah, pada setiap doa sehabis shalat tidak pernah 
ditinggalkan cacian dan kutukan terhadap Imam Ali agar ia disiksa Allah. 
4
Bahkan nama Imam Ali digunakan oleh dinasti Bani Umayyah untuk menegakkan kekuasaan 
otoriter. Tiap orang atau kelompok yang berani menentang, atau tidak sependapat dengan 
kebijaksanaan penguasa Bani Umayyah dapat ditindak dengan menggunakan dalih "pengikut 
Imam Ali" (Pecinta Ahlulbait). 
Siapa yang mempelajari sejarah Imam Ali r.a. dengan jujur, pasti akan menemukan pada 
dirinya salah satu segi yang khas ada pada kehidupan tokoh legendaris itu. Nama Imam Ali r.a. 
identik dengan sifat-sifat manusiawi yang mendalam. Baik sejarah sendiri, maupun sejarawan 
tidak cukup mampu mengungkapkannya. Kaitan yang seperti itu biasanya oleh seorang penulis 
terpaksa dikesampingkan saja dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan. 
Makin berkurangnya faktor-faktor kejiwaan yang menyulitkan pembahasan dan makin 
dibatasinya segi-segi sejarah yang hendak ditulis, bisa jadi lebih mendekati objektivitas. Tetapi 
apakah begitu jadinya? 
Para sejarawan mengungkapkan bahwa pada ghalibnya makin lama seorang telah meninggal 
akan lebih mudah ditemukan objektivitas untuk pengungkapan riwayat orang yang 
bersangkutan. Akan tetapi kalau menyangkut Imam Ali r.a. hal itu masih dipertanyakan. 
Dalam batas-batas pengungkapan yang demikianlah, buku "Imam Ali bin Abi Thalib r.a." ini 
mengetengahkan riwayat kehidupan Imam Ali pada masa asuhan, keluarganya, rumah-tangganya, 
peranan kepahlawanannya semasa Rasul Allah masih hidup, wafatnya Rasul Allah 
s.a.w., masa-masa kekhalifahan Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., delapan hari tanpa 
khalifah, Perang Unta, Perang Shiffin, Gerakan Khawarij, keutamaan, pintu ilmu dan sebuah 
kenangan. 
Bab I : Masa Asuhan 
Dengan membaca buku-buku riwayat atau sejarah, kita akan mengenal tokok-tokoh pembela 
kebenaran dan keadilan: yang lebih mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan 
pribadi, tanpa pamrih dan bersedia mengorbankan diri untuk membela keyakinan yang dirasa 
benar dan adil. 
Juga dengan membaca buku-buku riwayat atau sejarah, kita akan mengenal orang-orang yang 
senantiasa memusuhi kebenaran dan keadilan, yang lebih mementingkan kepentingan pribadi 
daripada kepentingan umum dan hanya memikirkan keuntungan saja tanpa memperdulikan 
halal atau haramnya sesuatu. 
Dua macam sifat atau watak seperti di atas, tidak mungkin mendadak lahir setelah dewasa 
saja. Sifat tersebut lahir melalui proses. Hal ini juga berlaku bagi Imam Ali r.a. 
Untuk mengetahui bagaimana proses Imam Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi seorang pahlawan 
Islam yang tangguh, hingga dijadikan suri-tauladan oleh para pejuang Islam, marilah kita ikuti 
sejak kelahirannya, masa kanak-kanaknya, masa remajanya dan kemudian setelah dewasa. 
Putera Ka'bah 
Telah menjadi keyakinan orang yang beragama, bahwa manusia dapat merencanakan sesuatu 
dan berusaha mewujudkan rencananya. Akan tetapi apakah rencana tersebut akan tercapai 
atau gagal, manusia yang merencanakan tadi tak dapat menentukannya. Penentuan terakhir di 
tangan Allah s.w.t. 
Banyak orang yang ingin agar isterinya dapat melahirkan putera atau puteri di tempat tertentu 
dan disaksikan oleh keluarga yang lengkap. Apakah keinginan atau rencana orangtua itu akan 
tercapai, Allah s.w.t. yang menentukan. 
Bagaimana halnya dengan kelahiran Imam Ali r.a.? Di mana beliau dilahirkan? Di rumah Abu 
Thalib atau di tempat lain? 
5
Tentang tempat kelahiran Imam Ali r.a., A1 Hakim dalam buku "Al Mustadrak", jilid III, halaman 
483, antara lain mengemukakan: Ketika itu hari Jum'at, 13 bulan Rajab, 12 tahun sebelum Nabi 
Muhammad s.a.w. mendapat risalah. Seorang wanita, meskipun perutnya nampak besar sekali, 
bersama suaminya melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah. Wanita yang bernama Fatimah itu 
tiba-tiba merasakan perutnya sakit. Ketika rasa sakitnya bertambah, segera diberitahukan 
kepada suaminya, Abu Thalib. Mendengar keluhan itu, Abu Thalib segera menggandeng 
isterinya masuk ke dalam Ka'bah. Menurut perkiraan, isterinya kelelahan. Diharapkan dengan 
beristirahat sebentar rasa sakitnya akan berkurang. 
Kenyataannya tidak seperti yang diperkirakan Abu Thalib. Perut Fatimah bertambah sakit. 
Fatimah yang sudah berkali-kali melahirkan, telah mengerti isyarat apa yang sedang 
dialaminya. Sebagai seorang wanita yang shaleh, ia tidak mengungkapkan isyarat itu kepada 
suaminya. Dia khawatir jika suaminya tahu, tentu maksud suaminya menyelesaikan tawaf akan 
terganggu. Ia tidak ingin berbuat demikian. Suaminya tetap dianjurkan menyelesaikan 
tawafnya. 
Dalam keheningan dan keredupan Baitullah, rumah Allah, Fatimah merasa perutnya bertambah 
mulas. Disaat itu yang teringat di hati Fatimah ialah bahwa rasa sakitnya akan berkurang 
dengan datangnya pertolongan Allah. Fatimah segera mengangkat tangan, yang sebelumnya 
memegang perut untuk menahan rasa sakit dan dengan suara sayu tersengal-sengal berucap: 
"Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku bernaung kepada-Mu, kepada utusan-utusan-Mu dan Kitab-kitab 
yang datang dari-Mu. Aku percaya kepada ucapan datukku Ibrahim, pendiri rumah ini. Maka 
demi pendiri rumah ini dan demi jabang bayi yang ada di dalam perutku, aku mohon kepada-Mu 
untuk dimudahkan kelahirannya". 
Beberapa saat seusai mengucapkan doa, lahirlah bayi dengan selamat. Bayi ini adalah putra ke-empat 
dari Fatimah. Sepanjang ingatan orang, inilah untuk pertama kali seorang wanita 
melahirkan puteranya dalam Ka'bah. Kelahiran bayi ini hanya disaksikan oleh ayah bundanya 
saja. 
Kejadian yang luar biasa ini, beritanya segera tersiar ke berbagai penjuru. Berbondong-bondonglah 
mereka, terutama keluarga Bani Hasyim, datang ke Ka'bah, guna menyaksikan bayi 
yang baru lahir. Di antara yang datang ialah Nabi Muhammad s.a.w. Bayi ini saudara misan 
beliau sendiri. Beliau menggendong bayi tersebut, kemudian bersama ayah-ibunya pulang ke 
rumah Abu Thalib. 
Meskipun bayi ini merupakan putera keempat, namun oleh ayahnya dipandang sebagai kurnia 
besar yang dilimpahkan Allah s.w.t. kepada keluarganya. Kegembiraan Abu Thalib ini tercermin 
dari perintah yang segera dikeluarkan untuk menyelenggarakan pesta walimah. Guna 
memeriahkan pesta itu, beberapa ekor ternak dipotong. Pemuka-pemuka Qureiys diundang 
mengunjungi pesta itu, sebagai penghormatan atas kelahiran puteranya. Pada kesempatan 
itulah Abu Thalib mengumumkan pemberian nama "Ali" kepada puteranya yang baru lahir. "Ali" 
berarti "luhur". 
Nama dan Gelarnya 
Sesungguhnya, sebelum berlangsung pesta walimah, di mana Abu Thalib mengumumkan nama 
"Ali" bagi puteranya yang keempat itu, Fatimah telah memberi nama "Haidarah", yang berarti 
"Singa". Satu nama yang diambil persamaannya dari nama Asad, nama datuknya dari pihak ibu, 
yang juga berarti "Singa". 
Sementara orang mengatakan, bahwa yang memberi nama "Haidarah" ialah orang-orang 
Qureiys. Tetapi sejarah membuktikan, bahwa nama "Haidarah" itu sesungguhnya pemberian 
ibunya sendiri. 
6
Bukti sejarah ini dapat diketahui dari peristiwa perang-tanding, seorang lawan seorang, antara 
Imam Ali r.a. melawan Marhaban. Dalam perang-tanding itu Marhaban mengagul-agulkan diri 
dengan bait syairnya: "Aku inilah yang diberi nama Marhaban oleh ibuku!" Imam Ali r.a. segera 
menukas dan melanjutkan bait syair itu dengan kata-katanya: "Aku inilah yang diberi nama 
Haidarah oleh ibuku!" 
Hanya saja nama yang diberikan ibunya menjadi tenggelam sesudah pengumuman ayahnya 
dalam pesta walimah, yaitu "Ali". Ia lebih terkenal dengan nama Ali bin Abi Thalib. 
Ketika di bawah asuhan Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. pernah diberi julukan "Abu Turab", 
yang artinya "Si Tanah". Pemberian julukan itu erat kaitannya dengan peristiwa ditemuinya 
Imam Ali r.a. di satu hari sedang tidur berbaring di atas tanah. Yang menemuinya Nabi 
Muhammad s.a.w. sendiri. Beliau menghampirinya dan duduk dekat kepalanya sambil 
mengusap-usap punggungnya guna membuang debu-tanah. Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. 
membangunkannya seraya berkata: "Duduklah, engkau hai Abu Turab!" 
Nama Abu Turab ini paling disukai oleh Imam Ali r.a. Ia sangat bangga bila dipanggil dengan 
nama itu. Menurut Al Bashri, nama Abu Turab ini di kemudian hari oleh orang-orang Bani 
Umayyah dijadikan bahan ejekan guna merendahkan martabat Khalifah Imam Ali r.a. Mereka 
mengatakan, bahwa pemberian nama Abu Turab" oleh Rasul Allah s.a.w. merupakan bukti 
tentang kekurangan dan kelemahan fitrahnya. 
Disamping nama-nama tersebut di atas, Imam Ali r.a. juga terkenal dengan panggilan Abul 
Hasan. Ini terjadi, setelah kelahiran putera beliau, Al Hasan. Selain dari nama-nama tersebut di 
atas; Imam Ali r.a. banyak sekali mendapat gelar dan yang paling populer hingga sekarang ialah 
"Imam". 
Di bawah Naungan Wahyu 
Ketika Imam Ali r.a. menginjak usia 6 tahun, Makkah dan sekitarnya dilanda paceklik hebat. 
Sebagai akibatnya, kebutuhan pangan sehari-hari sulit diperoleh. Bagi mereka yang berkeluarga 
besar dan ekonomi lemah, seperti keluarga Abu Thalib, pukulan paceklik terasa parah sekali. 
Pada masa paceklik ini, Nabi Muhammad s.a.w. telah berumah tangga dengan Sitti Khadijah 
binti Khuwalid r.a. Beliau tak dapat melupakan budi pamannya yang telah memelihara dan 
mengasuh beliau sejak kecil hingga dewasa. Bertahun-tahun beliau hidup di tengah-tengah 
keluarga Abu Thalib, mengikuti suka-dukanya dan mengetahui sendiri bagaimana keadaan 
penghidupannya. 
Dalam suasana paceklik ini, Nabi Muhammad s.a.w. menyadari betapa beratnya beban yang 
dipikul pamannya, Abu Thalib, yang sudah lanjut usia. Hati beliau terketuk dan segera 
mengambil langkah untuk meringankan beban pamannya. 
Nabi Muhammad s.a.w. mengetahui, bahwa Abbas bin Abdul Mutthalib, juga paman beliau, 
adalah seorang terkaya di kalangan Bani Hasyim. Dibanding dengan saudara-saudaranya, Abbas 
mempunyai kemampuan ekonomis yang lebih baik. Dengan tujuan untuk meringankan beban 
Abu Thalib, beliau temui Abbas bin Abdul Mutthalib. Kepada pamannya itu beliau kemukakan 
betapa berat derita yang ditanggung Abu Thalib sebagai akibat paceklik. Kemudian, dalam 
bentuk pertanyaan, Nabi Muhammad s.a.w berkata: "Bagaimana paman, kalau kita sekarang ini 
meringankan bebannya? Kusarankan agar paman mengambil salah seorang anaknya. Aku pun 
akan mengambil seorang." 
Abbas bin Abdul Mutthalib menyambut baik saran Nabi Muhammad s.a.w. Setetah melalui 
perundingan dengan Abu Thalib, akhirnya terdapat kesepakatan: Ja'far bin Abi Thalib 
diserahkan kepada Abbas, sedang Ali bin Abi Thalib r.a. diasuh oleh Nabi Muhammad s.a.w. 
7
Sejak itu Imam Ali r.a. diasuh oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan isteri beliau, Sitti Khadijah binti 
Khuwailid r.a. Bagi Imam Ali r.a. sendiri lingkungan keluarga yang baru ini, bukan merupakan 
lingkungan asing. Sebab Nabi Muhammad sendiri dalam masa yang panjang pernah hidup di 
tengah-tengah keluarga Abu Thalib. Malahan yang menikahkan Nabi Muhammad s.a.w. dengan 
Sitti Khadijah binti Khuwalid r.a., juga Abu Thalib. 
Bagi Nabi Muhammad s.a.w., Imam Ali r.a. bukan hanya sekedar saudara misan, malahan dalam 
pergaulan sudah merupakan saudara kandung. Lebih-lebih setelah dua orang putera lelaki 
beliau, Al Qasim dan Abdullah, meninggal. Betapa besar kasih sayang yang beliau curahkan 
kepada putera pamannya itu dapat diukur dari berapa besarnya kasih-sayang yang ditumpahkan 
Abu Thalib kepada beliau. Bahkan pada waktu dekat menjelang bi'tsah, Nabi Muhammad s.a.w. 
sering mengajak Imam Ali r.a. menyepi di gua Hira, yang terletak dekat kota Mekkah. Ada 
kalanya Imam Ali r.a. diajak mendaki bukit-bukit sekeliling Makkah guna menikmati keindahan 
dan kebesaran ciptaan Allah s.w.t. 
Sejak usia muda Imam Ali r.a. sudah menghayati indahnya kehidupan di bawah naungan wahyu 
Illahi, sampai tiba saat kematangannya untuk menghadapi kehidupan sebagai orang dewasa. 
Selama masa itu beliau mengikuti perkembangan yang dialami Rasul Allah s.a.w. dalam 
kehidupannya. 
Sungguh merupakan saat yang sangat menguntungkan bagi pertumbuhan jiwa Imam Ali r.a. 
dengan berada di dalam lingkungan keluarga termulia itu. Periode yang paling berkesan dalam 
kehidupan Imam Ali r.a. adalah dimulai dari usia 6 tahun sampai Nabi Muhammad s.a.w. 
menerima wahyu pertama dari Allah s.w.t. Imam Ali r.a. mendapat kesempatan yang paling 
baik, yang tidak pernah dialami oleh siapa pun juga, ketika Nabi Muhammad s.a.w. sedang 
dipersiapkan Allah s.w.t. untuk mendapat tugas sejarah yang maha penting itu. 
Imam Ali r.a. menyaksikan dari dekat saudara misannya melaksanakan ibadah kepada Allah 
s.w.t dengan cara yang berbeda sama sekali dari tradisi dan kepercayaan orang-orang Makkah 
ketika itu. Imam Ali r.a. menyaksikan juga betapa saudara misannya menjauhi kehidupan 
jahiliyah, menjauhi kebiasaan minum khamar, menjauhi perzinahan. Selain itu, dengan mata 
kepala sendiri Imam Ali r.a. menyaksikan dan mengikuti perkembangan jiwa dan fikiran Nabi 
Muhammad s.a.w. 
Semua warisan yang telah diterima Imam Ali r.a. dari para orangtuanya, kini berkembang 
mekar di hadapan seorang maha guru yang cakap dan bijaksana, yaitu putera pamannya 
sendiri. Manusia terbesar di dunia itulah yang menghubungkan diri Imam Ali r.a. dengan Allah 
s.w.t. 
Masa Kanak-kanak 
Tentang usia Imam Ali r.a. ketika Rasul Allah s.a.w. mulai melakukan da'wah risalah, terdapat 
riwayat yang berlainan. Sebagian riwayat mengatakan, bahwa Imam Ali r.a. pada waktu itu 
masih berusia 10 tahun. Sementara ahli sejarah lain mengatakan, Imam Ali r.a. ketika itu telah 
berusia 13 tahun. Yang terakhir ini antara lain ditegaskan oleh Syeikh Abul Qasyim Al Balakhiy. 
Masalah usia Imam Ali r.a. ini banyak dipersoalkan oleh penulis sejarah, karena ada kaitannya 
dengan penilaian: apakah Imam Ali memeluk agama Islam di masa kanak-kanak ataukah setelah 
akil baligh. Tampaknya riwayat yang lebih kuat mengatakan bahwa Imam Ali r.a. telah berusia 
13 tahun pada waktu Rasul Allah s.a.w. memulai da'wahnya. 
Pada waktu Nabi Muhammad s.a.w. menerima tugas da'wah Ilahiyah, Imam Ali r.a. 
menyambutnya tanpa bimbang dan ragu. Hal itu dimungkinkan karena lama sebelumnya ia 
telah langsung hidup di bawah naungan Rasul Allah s.a.w. Bila ada hal yang ketika itu tidak 
mudah difahami Imam Ali r.a. hanyalah mengenai cara-cara pelaksanaan risalah dan beban 
tanggung jawab yang harus dipikulnya sebagai orang beriman. 
8
Pada waktu Rasul Allah s.a.w. menerima perintah Allah s.w.t. supaya melakukan da'wah secara 
terbuka dan terang-terangan, Imam Ali r.a. ikut ambil bagian sebagai pembantu. Imam Ali r.a. 
antara lain menyampaikan seruan-seruan Rasul Allah s.a.w. kepada sejumlah orang tertentu di 
kalangan anggota-anggota keluarganya. 
Tentang hal yang terakhir ini, ibnu Hisyam dalam riwayatnya mengemukakan, bahwa Imam Ali 
r.a. pernah mengatakan dengan jelas, bahwa Rasul Allah s.a.w. secara rahasia memberi tahu 
kepada siapa saja yang mau menerima dari kalangan anggota-anggota keluarga dan familinya, 
mengenai nikmat kenabian yang dilimpahkan Allah kepada beliau dan kepada umat manusia 
melalui beliau. 
Untuk itu Rasul Allah s.a.w. menyampaikan da'wahnya lebih dahulu kepada anggota-anggota 
keluarga yang paling dekat, yaitu isterinya sendiri Sitti Khadijah r.a. dan saudara misan 
asuhannya, Imam Ali r.a. Setelah kepada dua orang itu, barulah kepada Zaid bin Haritsah, 
putera angkatnya. 
Imam Ali r.a. sendiri sebagai orang yang paling dini melakukan tugas da'wah membantu Rasul 
Allah s.a.w. pernah menerangkan, bahwa pada masa itu tidak ada satu rumah pun yang 
menghimpun anggota-anggota keluarga dalam agama Islam, selain rumah-tangga Rasul Allah 
s.a.w. dan Khadijah r.a. "Dan akulah orang ketiga dalam rumah itu. Aku menyaksikan langsung 
cahaya wahyu dan risalah serta mencium semerbaknya bau kenabian" demikian kata Imam Ali 
r.a. 
Ali bin Al Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Imam Ali r.a., melalui sebuah riwayat 
memberitahukan kapan datuknya mulai memeluk agama Islam. Ia mengatakan: "Ia beriman 
kepada Allah dan Rasul-Nya tiga tahun lebih dulu sebelum orang lain." 
Masa Remaja 
Dari sejarah hidupnya, sejak usia kanak-kanak langsung menerima asuhan Rasul Allah s.a.w., 
tidak ada keraguan lagi, bahwa Imam Ali r.a. merupakan orang yang paling dini menerima 
hidayah Ilahi, paling dulu beriman dan bersujud kepada-Nya. Para peneliti buku-buku riwayat 
akan menemukan kenyataan tersebut dan dapat mengetahuinya dengan jelas. 
Dalam masa remaja, Imam Ali r.a. sudah aktif membantu da'wah Rasul Allah s.a.w. Menurut 
Abdullah bin Abbas, Imam Ali r.a. sendiri pernah menceritakan tentang hal itu sebagai berikut: 
"Setelah turun ayat 214 Surah Asy Syura (perintah Allah kepada Rasul-Nya supaya 
memperingatkan kaum kerabat yang terdekat), beliau memanggil aku. Kemudian berkata: "Hai 
Ali, Allah telah memerintahkan supaya aku memberi peringatan kepada kaum kerabatku yang 
terdekat. Aku merasa agak sedih, sebab aku tahu, jika aku berseru kepada mereka 
melaksanakan perintah itu, aku akan mengalami sesuatu yang tidak kusukai. Oleh karena itu 
aku diam saja sampai datanglah Jibril yang berkata kepadaku, "Hai Muhammad, jika engkau 
tidak berbuat seperti yang diperintahkan kepadamu, Tuhan akan menjatuhkan adzab 
kepadamu." Oleh karena itu, hai Ali, buatlah makanan. Masaklah paha kambing dan sediakan 
untuk kita susu sewadah besar. Setelah itu kumpulkan keluarga Bani Abdul Mutthalib. Mereka 
hendak kuajak bicara dan akan kusampaikan apa yang diperintahkan Allah kepadaku." 
"Semua yang diperintahkan beliau kepadaku, kukerjakan segera. Kemudian anggota-anggota 
keluarga Bani Abdul Muttalib kuundang supaya hadir. Jumlah mereka yang hadir kurang lebih 40 
orang. Di antara mereka itu terdapat para paman Rasul Allah s.a.w., seperti Abu Thalib, 
Hamzah, Abbas dan Abu Lahab. Setelah semuanya berkumpul, Rasul Allah s.a.w. memanggilku 
dan memerintahkan supaya makanan segera dihidangkan. Hidangan itu kusajikan. Rasul Allah 
s.a.w. mengambil sepotong daging, lalu diletakkan kembali pada tepi baki. Beliau 
mempersilakan mereka mulai menikmati hidangan: 'Silakan kalian makan, Bismillah!' Mereka 
9
semua makan dan minum sekenyang-kenyangnya. Demi Allah, mereka masing-masing makan 
dan minum sebanyak yang kuhidangkan." 
"Ketika Rasul Allah s.a.w. hendak mulai berbicara beliau didahului oleh Abu Lahab. Abu Lahab 
berkata kepada hadirin dengan sinis: "Kalian benar-benar sudah disihir oleh saudara kalian!" 
"Karena ucapan Abu Lahab semua yang hadir pergi meninggalkan tempat. Keesokan harinya aku 
diperintahkan lagi oleh Rasul Allah s.a.w. supaya mempersiapkan segala sesuatunya seperti 
kemarin. Setelah semua makan minum secukupnya, Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepada 
mereka: "Hai Bani Abdul Mutthalib. Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui ada seorang 
pemuda dari kalangan orang Arab, yang datang kepada kaumnya membawa sesuatu yang lebih 
mulia daripada yang kubawa kepada kalian. Untuk kalian aku membawa kebajikan dunia dan 
akhirat. Allah memerintahkan aku supaya mengajak kalian ke arah itu. Sekarang, siapakah di 
antara kalian yang mau membantuku dalam persoalan itu dan bersedia menjadi saudaraku, 
penerima wasiatku dan khalifahku?" 
"Semua yang hadir bungkam. Hanya aku sendiri yang menjawab: "Aku !" Waktu itu aku seorang 
yang paling muda usianya dan masih hijau. Kukatakan lagi: "Ya, Rasul Allah, akulah yang 
menjadi pembantumu!" Beliau mengulangi ucapannya dan aku pun mengulangi kembali 
pernyataanku. Rasul Allah s.a.w. kemudian memegang tengkukku, seraya berseru kepada 
semua yang hadir: "Inilah saudaraku, penerima wasiatku dan khalifahku atas kalian!" Semua 
yang hadir berdiri sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka berkata hampir serentak kepada Abu 
Thalib: "Hai Abu Thalib! Dia (yakni Muhammad) menyuruhmu supaya taat kepada anakmu!" 
Hadits yang senada dengan apa yang dikemukakan Abdullah bin Abbas, juga diriwayatkan oleh 
Abu Ja'far At Thabary dalam bukunya "At Tarikh". 
Itulah sekelumit riwayat tentang seorang muda remaja yang kemudian hari bakal menjadi 
pemimpin ummat Islam. Seorang pemimpin yang dihormati tidak saja oleh kaum muslimin, 
tetapi juga oleh para ahludz dzimmah, yaitu kaum Nasrani dan kaum Yahudi yang bersedia 
hidup damai di bawah pemerintahan Islam. 
Di depan Abu Lahab, orang yang selama ini selalu mengancam-ancam dan menuntut supaya 
Rasul Allah s.a.w. menghentikan da'wahnya, Imam Ali r.a. yang masih remaja itu berani 
menyatakan dukungan dan bantuannya kepada Nabi Muhammad s.a.w. 
Bab II : Lingkungan Keluarga 
Pemimpin, yang riwayatnya kita bicarakan ini berasal dari lingkungan keluarga terkemuka 
qabilah Qureiys, yaitu Abul Hasan Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdi 
Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Ayah Imam Ali r.a., yakni Abu Thalib, adalah saudara kandung 
Abdullah bin Abdul Mutthalib, ayah Nabi Muhammad s.a.w. Jadi, Nabi Muhammad s.a.w. dan 
Imam Ali r.a. sama-sama berasal dari satu tulang sulbi seorang datuk: Abdul Mutthalib bin 
Hasyim. Jelasnya, baik Rasul Allah s.a.w. maupun Imam Ali r.a., dua-duanya termasuk keluarga 
Bani Abdul Mutthalib. Atau jika ditarik lebih ke atas lagi, dua-duanya termasuk keluarga Bani 
Hasyim. Dalam sejarah sebutan "keluarga Bani Hasyim" lebih populer dibanding dengan sebutan 
"Bani Abdul Mutthalib". 
Hingga akhir hayatnya, Abdul Mutthalib merupakan pimpinan tertinggi qabilah Qureiys di 
Makkah. Sepeninggal Abdul Mutthalib, Abu Thalib menggantikan kedudukan ayahnya sebagai 
pemimpin Qureiys dan kepala kota Makkah. Abu Thalib juga merangkap sebagai pemimpin 
terkemuka Bani Hasyim. 
Abdul Mutthalib mempunyai 10 orang putera. Tiga di antaranya ialah Abbas, Abu Thalib dan 
Abdullah. Nabi Muhammad s.a.w., manusia termulia di dunia, adalah putera Abdullah bin Abdul 
Mutthalib. Ia menjadi mundzir (juru ingat) bagi segenap 
ummat manusia. Sedang Imam Ali r.a., seorang pemimpin kaum muslimin yang tiada taranya, 
10
adalah putera Abu Thalib bin Abdul Mutthalib. Ia jadi penuntun kaum muslimin sedunia. 
Imam Ali r.a. mempunyai 3 orang saudara lelaki, yaitu Ja'far, 'Aqil dan Thalib. Di suatu medan 
pertempuran di Tabuk, Ja'far gugur sebagai pahlawan dalam perjuangan membela Nabi 
Muhammad s.a.w. dan Islam. 'Aqil dikurniai usia panjang hingga sempat mengalami zaman 
kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan. Sedang Thalib, anak sulung Abu Thalib, wafat mendahului 
saudara-saudaranya. 
Ibunda 
Nama lengkap ibunda Imam Ali r.a. ialah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin 
Qushaiy bin Kilab. Fatimah binti Asad adalah seorang puteri dari Bani Hasyim yang pertama 
bersuamikan seorang berasal dari Bani Hasyim juga. Ia termasuk yang paling dini memeluk 
agama Islam, serta memberikan dukungan kepada da'wah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad 
s.a.w. Beliau sangat menghargai dan menghormati Fatimah binti Asad, bahkan memanggilnya 
dengan sebutan "Bunda" dan dipandang sebagai ibu kandung beliau sendiri. 
Pada waktu Fatimah binti Asad wafat, Nabi Muhammad s.a.w. bersembahyang untuk 
jenazahnya. Di saat pemakamannya, Nabi Muhammad s.a.w. turun sendiri ke liang lahad dan 
setelah jenazahnya diselimuti dengan baju beliau, beliau berbaring sejenak di samping 
jenazahnya. 
Mengetahui hal itu, beberapa orang sahabat sambil keheran-heranan bertanya: "Ya Rasul Allah, 
kami tidak pernah melihat anda berbuat seperti itu terhadap orang lain!" 
"Tak seorangpun sesudah Abu Thalib yang kupatuhi selain dia", jawab Nabi Muhammad s.a.w. 
dengan segera. "Kuselimutkan bajuku, agar kepadanya diberi pakaian indah di dalam sorga, Aku 
berbaring di sampingnya, agar ia terhindar dari jepitan dan tekanan kubur." 
Ayahanda 
Ayahanda Imam Ali r.a. adalah seorang pemimpin Qureisy. Ia sangat terpandang, dicintai, 
dihormati dan disegani oleh penduduk Makkah. Beliau dihormati bukan semata-mata karena 
kedudukannya, tetapi lebih-lebih karena budi pekertinya yang luhur, jiwanya yang besar, 
kepribadiannya yang tinggi dan tindakannya yang senantiasa adil. Satu pribadi yang 
mengungguli semua orang pada zamannya. Baik dalam soal kesanggupannya, kemantapannya 
maupun dalam kegigihannya membela sesuatu yang diyakininya benar. 
Tentang kesanggupan, kemantapan dan kegigihan Abu ThalIib dapat disaksikan dari 
penampilan-penampilan beliau menghadapi orang-orang kafir Qureiys. Dengan kekuatan sendiri 
ia memikul beban membela Nabi Muhammad s.a.w. dari tantangantantangan dan perlawanan 
orang-orang Qureiys. Satu beban yang tak pernah dipikul oleh paman-paman serta keluarga 
atau kerabat Nabi Muhammad s.a.w. yang lain. Penilaian yang semacam itu terhadap Abu 
Thalib, diterima bulat oleh para sejarawan dari segala mazhab. 
Abu Thalib adalah orang yang teguh berdiri membentengi Nabi Muhammad s.a.w. dari segala 
bentuk rongrongan komplotan kafir Qureiys. Abu Thalib berbuat demikian didorong oleh 
pandangannya yang luas, penglihatan hati dan fikirannya yang tajam, tekad serta semangatnya 
yang tak terpatahkan. 
Hal ini tercermin pula ketika untuk pertama kalinya Abu Thalib melihat puteranya, Imam Ali 
r.a., secara diam-diam bersembahyang di belakang Rasul Allah s.a.w. Diamatinya putera yang 
masih muda belia itu telah menjadi pengikut Nabi Muhammad s.a.w. Diperhatikan pula 
puteranya itu tidak gelisah bersembahyang meskipun dilihat ayahnya. 
Malahan Imam Ali r.a. setelah mengetahui ayahnya melihat ia bersembahyang di belakang Rasul 
Allah, segera menghadap kepadanya, kemudian berkata: "Ayah, aku telah beriman kepada Allah 
11
dan Rasul-Nya. Aku mempercayai dan membenarkan agama yang dibawa olehnya dan aku 
bertekad hendak mengikuti jejaknya!" 
Mendengar pernyataan puteranya yang terus terang tanpa dibikin-bikin, Abu Thalib berkata: 
"Sudah pasti ia mengajakmu ke arah kebajikan, oleh karena itu tetaplah engkau bersama dia!" 
Lain kali Abu Thalib melihat puteranya sedang berdiri di sebelah kanan Nabi Muhammad s.a.w. 
yang siap menunaikan sembahyang. Dari kejauhan Abu Thalib melihat puteranya yang seorang 
lagi yaitu Ja'far. Ja'far segera dipanggil, kemudian diperintahkan: "Bergabunglah engkau 
menjadi sayap putera pamanmu di sebelah kiri, dan bersembahyanglah bersama dia!" 
Abu Thalib seorang pemimpin yang mempunyai kebijaksanaan tinggi. Ia tidak bersitegang leher 
mempertahankan kebekuan zaman dan tidak menghalang-halangi hadirnya masa mendatang 
yang lebih cemerlang. Kebijaksanaan yang tinggi itu tercermin benar dari wasiyat yang 
diucapkannya pada detik-detik menjelang ajalnya, ditujukan kepada orang-orang Qureiys: 
"…Wahai orang-orang Qureiys. Kuwasiatkan agar kalian senantiasa mengagungkan rumah itu 
(Ka'bah). Sebab di sanalah tempat keridhoan Tuhan dan sekaligus juga merupakan tiang 
penghidupan… Eratkanlah hubungan silaturrahmi, janganlah sekali-kali kalian putuskan. 
Jauhilah perbuatan dzalim… Betapa banyaknya sudah generasi-generasi terdahulu hancur 
binasa karena dzalim...! 
"Wahai orang-orang Qureiys. Sambutlah dengan baik orang yang mengajak ke jalan yang benar, 
dan berikanlah pertolongan kepada setiap orang yang membutuhkan... Sebab dua perbuatan 
terpuji itu merupakan kemuliaan bagi seseorang, selagi ia masih hidup dan sesudah mati… 
Hendaknya kalian selalu berkata benar dan setia menunaikan amanat…! 
"Kuwasiatkan kepada kalian supaya berlaku baik terhadap Muhammad. Sebab ia orang yang 
paling terpercaya di kalangan Qureiys dan tidak pernah berdusta…! 
"Apa yang kuwasiatkan kepada kalian, semuanya telah terhimpun padanya. Kepada kita ia 
datang membawa missi yang sebenarnya dapat diterima oleh hati-sanubari, tetapi diingkari 
dengan ujung lidah, hanya karena takut akan tidak disukai orang lain. Demi Allah, aku seakan-akan 
dapat melihat bahwa orang-orang Arab lapisan bawah, orang-orang yang hidup terlunta-lunta, 
dan orang-orang yang lemah tidak berdaya, sudah siap menyambut baik seruannya, 
membenarkan tutur-katanya, dan menjunjung tinggi missi yang di bawanya. Bersama mereka 
itulah Muhammad mengarungi ancaman gelombang maut! 
"Namun aku juga seolah-olah sudah melihat, bahwa orang-orang Arab akan dengan tulus hati 
mengikhlaskan kecintaan mereka dan mempercayakan kepemimpinan kepadanya." 
"Demi Allah, barang siapa yang mengikuti jejak langkahnya, ia pasti akan menemukan jalan 
yang benar. Dan barang siapa yang mengikuti petunjuk serta bimbingannya, ia pasti selamat!" 
"Seandainya aku masih mempunyai sisa umur, semua rong-rongan yang mengganggu dia, pasti 
akan kuhentikan dan kucegah, dan ia pasti akan kuhindarkan dari tiap marabahaya yang akan 
menirnpanya…" 
Wasiat yang gamblang itu tidak memerlukan ulasan lagi. Dari wasiyat yang diucapkan sesaat 
sebelum ajalnya datang, orang dapat mengambil kesimpulan sendiri, siapa sebenarnya Abu 
Thalib itu, bagaimana sikapnya terhadap Nabi Muhammad s.a.w. dan sejauh mana pandangan 
dan fikirannya terhadap Islam. 
Sikap, pandangan dan fikiran yang sangat positif itulah yang memberi kesanggupan kepadanya 
untuk mencurahkan seluruh hidupnya melindungi pembawa da'wah yang mengajak manusia ke 
12
jalan yang benar. 
Abu Thalib bukan hanya mengenal kebenaran Nabi Muhammad s.a.w., tetapi juga mengenal 
pribadi beliau dengan baik. Ia paman beliau, pengasuh dan pemelihara beliau sejak kanak-kanak 
sampai dewasa. Dalam waktu yang amat panjang, Abu Thalib menyaksikan sendiri 
bagaimana praktek kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. sehari-hari. Abu Thalib rindu sekali ingin 
melihat hakekat kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Hatinya pedih dan kesal 
menyaksikan kaumnya menyia-nyiakan akal fikiran dan hidup mereka di depan tumpukan batu, 
yang dianggapnya sebagai sesembahan dan tuhan-tuhan. 
Dengan tangguh Abu Thalib menghadapi tantangan-tantangan kafir Qureiys serta menggagalkan 
rencana-rencana jahat yang mereka tujukan terhadap Rasul Allah s.a.w. Ketika orang-orang 
kafir Qureiys sudah merasa putus asa dan tidak sanggup lagi membendung da'wah risalah Nabi 
Muhammad s.a.w., dan tidak berdaya lagi menggertak Abu Thalib supaya menghentikan 
perlindungan dan pembelaannya kepada Rasul Allah s.a.w., maka tokoh-tokoh mereka 
mengambil keputusan: melancarkan blokade dan pemboikotan total terhadap semua orang Bani 
Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib. 
Blokade dan pemboikotan total yang demikian itu adalah cara-cara yang di cela oleh tradisi dan 
moral bangsa Arab sendiri. Tetapi bagi kaum kafir Qureiys, itu bukan soal. Yang penting, tujuan 
harus tercapai. Segala cara atau jalan mereka halalkan demi tujuan. 
Blokade kafir Qureiys itu ternyata lebih mendorong orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul 
Mutthalib untuk bertambah cenderung dan berfihak kepada Abu Thalib. Orang-orang Bani 
Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib berhimpun dalam sebuah Syi'ib (lembah di antara dua bukit). 
Dengan semangat baja mereka hadapi kepungan ketat serta pemboikotan total di bidang 
ekonomi dan sosial. Selama lebih kurang 3 tahun mereka menahan penderitaan dan kelaparan. 
Mereka sampai terpaksa menelan dedaunan sekedar untuk mengganjel perut yang lapar. 
Selama masa yang penuh derita dan sengsara itu, Abu Thalib tetap tegak berdiri laksana gunung 
raksasa yang kokoh-kuat, tak tergoyahkan oleh gelombang badai dan tiupan angin ribut. 
Dengan tegas Abu Thalib menolak setiap kompromi dan tawar-menawar yang diajukan oleh 
orang-orang kafir Qureiys. Penolakkannya itu diucapkan dengan bait-bait syair. Inilah di antara 
syair-syair tersebut : 
"Sadarlah kalian, sadarlah, 
sebelum banyak liang digali orang, 
dan orang-orang tak bersalah diperlakukan sewenang-wenang. 
Janganlah kalian ikuti perintah orang jahat tiada berakhlaq 
untuk memutuskan tali persahabatan 
dan persaudaraan dengan kita. 
Demi Tuhan Penguasa Ka'bah, 
Kami tak akan menyerahkan Muhammad ke dalam marabahaya 
yang dirajut orang-orana penentang zaman, 
sebelum terbedakan mana leher kami dan mana leher kalian, 
dan sebelum tangan berjatuhan ditebas pedang mengkilat tajam!" 
Ya… benarlah. Jika Abu Thalib sudah mempercayai suatu kebenaran, kepercayaannya itu benar-benar 
keras dan mantap. Sekeras dan semantap kepercayaan yang diwariskan kepada putera 
bungsunya, Imam Ali r.a., bahkan sampai kepada anak cucu keturunan Imam Ali r.a.! 
Abu Thalib bergerak membela Nabi Muhammad s.a.w. bukan disebabkan karena beliau putera 
saudaranya sendiri. Abu Thalib menyingsingkan lengan baju, karena Nabi Muhammad s.a.w. 
seorang yang menyerukan kebenaran dan mengajak manusia ke arah kebajikan! Ia membela 
13
kebenaran dan bukan membela kekerabatan. Ia menentang dan melawan saudaranya sendiri, 
Abu Lahab, karena ia tahu, Abu Lahab berada di atas kebatilan. 
Tentang betapa adil dan jujurnya Abu Thalib dapat pula disaksikan dari peristiwa berikut. Pada 
suatu hari Rasul Allah s.a.w. memberitahukan kepada Abu Thalib, bahwa naskah pemboikotan 
yang ditempelkan oleh orang-orang kafir Qureiys pada dinding Ka'bah sudah hancur di makan 
rayap, sehingga tak ada lagi bagian yang tinggal selain yang bertuliskan: "Dengan Nama Allah." 
Setelah mendengar keterangan Rasul Allah s.a.w., Abu Thalib segera mendatangi sejumlah 
tokoh Qureiys. Kepada tokoh-tokoh kafir Qureiys itu, Abu Thalib berkata dengan lantang: "Hai 
orang-orang Qureiys, putera saudaraku telah memberitahu kepadaku, bahwa naskah 
pemboikotan yang kalian tulis dan kalian gantungkan pada Ka'bah, sekarang sudah hancur. 
Tengoklah naskah kalian itu! Kalau benar terjadi seperti apa yang dikatakan oleh Muhammad, 
hentikanlah pemboikotan kalian terhadap kami. Tetapi jika Muhammad ternyata berdusta, ia 
akan kuserahkan kepada kalian!" 
Abu Thalib mengatakan semuanya itu hanya berdasarkan kepercayaan yang penuh kepada Nabi 
Muhammad s.a.w. Ia sendiri belum pernah melihat bagaimana keadaan naskah yang tergantung 
pada dinding Ka'bah. 
Tokoh-tokoh Qureiys merasa puas dengan kesediaan Abu Thalib menyerahkan Nabi Muhammad 
s.a.w., bila terbukti beliau berdusta. Mereka segera pergi menuju Ka'bah untuk menengok 
naskah pemboikotan dan ternyata benar apa yang dikatakan Nabi Muhammad s.a.w. Tokoh-tokoh 
kafir Qureiys lemas, tak berdaya dan terpaksa mengumumkan penghentian pemboikotan 
pada hari itu juga. Aksi komplotan mereka berakhir dengan kegagalan. 
Dari peristiwa tersebut Abu Thalib memperoleh pembuktian langsung dari Allah s.w.t. tentang 
benarnya kepercayaan yang selama ini dipertahankan dan dijaganya baik-baik. Pembuktian 
yang didapatnya sebagai mu'jizat Rasul Allah s.a.w. itu datang dari kekuasaan Allah dan bukan 
datang dari seorang famili yang harus diikuti. 
Jauh sebelum kejadian di atas, orang-orang kafir Qureiys sudah berkali-kali menghimbau Abu 
Thalib baik dengan bujuk rayu, maupun dengan ancaman kekerasan. Orang-orang kafir Qureiys 
pernah mengancam Abu Thalib dengan kata-kata: 
"Hai Abu Thalib, engkau orang yang sudah lanjut usia, terhormat dan mempunyai kedudukan 
terpandang… Kami telah berkali-kali meminta kepadamu supaya engkau melarang putera 
saudaramu terus menerus berda'wah, tetapi engkau tidak mau melarangnya… Kami tidak dapat 
lagi menahan kesabaran mendengar orangtua kami dicerca, tuhan-tuhan kami dicela, dan 
orang-orang arif kami dijelek-jelekkan... Silakan engkau pilih… Apakah engkau bersedia 
mencegah Muhammad supaya tidak terus menerus menyerang kami, atau, kamilah yang akan 
bertindak memerangi dia, termasuk engkau sekaligus, sampai salah satu fihak binasa…" 
Mendengar ancaman itu, Abu Thalib bukannya menjadi mundur dalam membela kebenaran Nabi 
Muhammad s.a.w., malahan justru bertambah teguh pendiriannya, semakin tinggi semangatnya 
dan merasa lebih mampu memberikan tamparan keras terhadap muka orang Qureiys yang sudah 
semakin nekad. Melalui syairnya dengan tegas Abu Thalib menjawab: 
"Aku tahu bahwa agama Muhammad, agama terbaik bagi segenap manusia. Demi Allah, hai 
Muhammad, mereka tak akan dapat menyentuhmu, sebelum aku terkapar berkalang tanah." 
Pada suatu hari Abu Thalib sedang duduk santai di rumah. Tiba-tiba datang Rasul Allah s.a.w. 
kelihatan sedih dan kesal. Setelah duduk, Rasul Allah s.a.w. segera menyampaikan 
persoalannya. Mendengar keterangan beliau, Abu Thalib segera mengerti, bahwa orang-orang 
kafir Qureiys telah berhasil membujuk salah seorang yang berperangai jahat di kalangan 
14
mereka melemparkan kotoran ternak dan gumpalan darah beku ke atas kepala Rasul Allah 
s.a.w. Pelemparan itu dilakukan, di saat Nabi Muhammad s.a.w. sedang sujud bermunajat ke 
hadirat Allah s.w.t. 
Dengan tidak menunggu waktu lagi Abu Thalib bangkit. Dengan tangan kanan membawa pedang 
terhunus dan tangan kiri menggandeng Nabi Muhammad s.a.w., ia berangkat mendatangi 
gerombolan Qureiys yang telah mengganggu Nabi Muhammad s.a.w. Setiba di depan 
gerombolan itu, Abu Thalib berhenti sejenak. Diperhatikannya gerak-gerik gerombolan itu. 
Seorang demi seorang mereka mundur. Rupanya di luar perkiraan mereka, bahwa Nabi 
Muhammad s.a.w. akan datang kembali bersama pamannya. 
Abu Thalib terus berteriak kepada gerombolan itu: "Demi Allah, yang Muhammad beriman 
kepada-Nya. Jika ada seorang dari kalian yang berani melawan, akan kupersingkat umurnya 
dengan pedang ini!" 
Setelah itu Abu Thalib dengan tangannya sendiri membersihkan tubuh Nabi Muhammd s.a.w. 
dari kotoran ternak dan darah. Semua kotoran itu dikumpulkan, digenggam, lalu dilemparkan 
ke wajah orang-orang Qureiys yang sedang siap hendak lari. Di hadapan Abu Thalib kelihatan 
sekali kekerdilan gerombolan itu. 
Dalam membela dan melindungi Rasul Allah s.a.w. dari marabahaya keteguhan Abu Thalib 
dapat diandalkan benar. Keteguhannya itu tercermin juga dari syair-syair yang diucapkannya 
sendiri: 
Janganlah kalian sulut api pengobar perang, 
Yang akibat-pahitnya akan ditelan semua orang! 
Demi Allah, Muhammad tak nanti 'kan kuserahkan 
Kepada tangan pencetus bencana mengerikan. 
Kenalkah kalian siapa Hasyim, 
Ksatria yang pernah berpesan, 
Agar kami berani berperang dengan semangat jantan? 
Kami bukan pejuang-pejuang yang jemu perang, 
Tak'kan kami sesali yang gugur di medan juang! 
Kubela Rasul, utusan Penguasa Maha Kuasa, 
Pembawa amanat berkilauan laksana kilat bercahaya, 
Kubela dan kulindungi utusan Tuhan Ilahi, 
Karena ia manusia kesayanganku sendiri, 
Kulindungi ia dari serangan musuh-musuhnya, 
Laksana gadis kulindungi dari gangguan pria! 
Hai Abu Ya'la, 
Teguh dan sabarlah dalam agama Muhammad, 
Nyatakan dirimu terang-terangan sebagai muslim yang mantap, 
Bulatkan tekad mendampingi pembawa kebenaran Tuhan, 
Betapa riang hatiku mendengar engkau beriman, 
Janganlah engkau menjadi kafir tidak bertuhan, 
Jadikan dirimu pembela Rasul dan pembela Tuhan, 
Tunjukkan agamamu di mata Qureiys terang-terangan, 
Katakanlah: Muhammad bukan si tukang sihir! 
Datukanda 
Pada waktu jemaah haji berjubel tiap tahun di sekitar sumur Zamzam, tentu mereka teringat 
kepada nama seorang terhormat yang dikagumi rakyatnya. Nama seorang yang dengan tangan 
dan keringat sendiri menggali sumur itu hingga airnya memancar, setelah sekian abad lamanya 
tertutup. Sumur Zamzam tak dapat dipisahkan dari nama Abdul Mutthalib. 
15
Pada satu malam, di kala Abdul Mutthalib sedang tidur, jiwanya yang putih bersih menyongsong 
suara orang berseru: "Galilah Thaibah!" Abdul Mutthalib terjaga. Ia tak mengerti takwil 
mimpinya. Pada malam berikutnya orang yang bersuara itu muncul kembali dalam mimpi. 
"Galilah barrah!". 
Abdul Mutthalib terbangun. Ia masih tak dapat memahami apa yang harus dilakukan. Pada 
malam ketiga, sekali lagi ia mendengar suara itu di dalam mimpi: "Galilah Zamzam!" Abdul 
Mutthalib bertanya: "Apakah arti Zamzam?" orang yang berseru itu menjelaskan: "Ia tidak 
kunjung kering dan tak berkurang airnya, sanggup memberi minum kepada jemaah haji betapa 
pun besar jumlahnya!" Kemudian ditunjukkan tempatnya. 
Pagi-pagi buta, dengan disertai puteranya, Al Harits, ia berangkat menuju letak sumur yang 
ditunjuk dalam mimpi. Bersama puteranya ia bekerja menggali. Tak lama kemudian memancar 
air dari sumber yang abadi. Sebenarnya tempat itu dahulunya merupakan sumur. Hanya dalam 
kurun waktu yang panjang telah tertimbun oleh batu-batu besar dan pasir. Dahulu kala sumur 
itu merupakan kurnia Allah s.w.t. kepada Nabi Isma'il a.s. bersama bundanya. 
Abdul Mutthalib atau Syaibah (nama aslinya) adalah seorang yang mempunyai type cemerlang. 
Sukar ditemukan bandingannya. Keharuman namanya menjadi buah bibir orang di segenap 
penjuru gurun sahara Semenanjung Arabia. Karena banyak pekerjaan terpuji yang 
dilakukannya, sehingga ia disebut dengan nama panggilan "Syaibatul Hamd". Bahkan banyak 
yang menyebutnya sebagai "Pemberi makan manusia di dataran dan pengumpan margasatwa di 
pegunungan!" 
Abdul Mutthalib seorang yang memiliki kebijaksanaan yang luas dan iman yang dalam. Hal ini 
tercermin dengan jelas, tatkala Abrahah datang ke Makkah membawa pasukan yang luar biasa 
besarnya guna menghancurkan Ka'bah. Setelah Abdul Mutthalib mengetahui bahwa kaumnya 
tidak sanggup menghadapi pasukan penyerbu, maka diperintahkan supaya masing-masing pergi 
mengungsi ke daerah-daerah pegunungan. Tinggalkan kota Makkah sebagai kota kosong. Anak 
dan isteri serta hak miliknya masing-masing supaya dibawa. Mengenai keselamatan Ka'bah 
diserahkan kepada Pemilik rumah suci itu. 
Pada suatu hari, Abdul Mutthalib pergi menemui Abrahah. Ketika Abdul Mutthalib ditanya oleh 
Abrahah tentang maksud kedatangannya, Abdul Mutthalib dengan tegas menjawab: "Aku datang 
kepada tuan untuk meminta kembali unta-untaku yang tuan ambil." 
Abrahah menyatakan keheranannya karena Abdul Mutthalib sebagai penguasa Makkah tidak 
memikirkan Ka'bah yang akan dihancurkannya itu, tetapi hanya memikirkan unta-untanya saja. 
Guna menghilangkan keheranan Raja Yaman itu, Abdul Mutthalib dengan jelas mengatakan, 
bahwa unta-unta yang kalian ambil adalah milikku, sedang Ka'bah yang hendak dihancurkan itu 
mempunyai pemiliknya sendiri yang akan melindungi keselamatannya. 
Itulah pendirian seorang yang benar-benar berketuhanan. Seorang yang hidup di tengah-tengah 
gelombang penyembahan berhala. Jiwa dan hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh perasaan 
halus yang tersembunyi, yang mengakui dengan haqqul yakin, bahwa di sana terdapat Tuhan 
Yang Maha Mulia, Maha Agung dan Maha Kuasa. 
Kemurnian iman Abdul Mutthalib tampak jelas sekali. Walaupun ia tahu, bahwa di sekitar 
Ka'bah bercokol 300 buah lebih berhala, tidak kepada sebuah berhala pun ia meminta 
pertolongan guna menyelamatkan Ka'bah. Ia tidak meminta kepada si Hubal, tidak kepada Laat 
dan tidak pula kepada si Uzza! Meskipun tidak ada jarak pemisah antara berhala-berhala itu 
dengan Ka'bah, Abdul Mutthalib sama sekali tidak sudi meminta sesuatu kepada patung 
sembahan jahiliyah itu! 
16
Tidak lain ia hanya memohon kepada Allah, tunduk dan khusuk kepada-Nya, serta hanya mau 
berlindung kepada Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, sesuai dengan isyarat yang diberikan oleh 
perasaan halus yang tersembunyi di dalam hati nuraninya: "Ya Tuhan, tiap orang 
mempertahankan rumahnya, oleh karena itu pertahankanlah Rumah-Mu!" Alangkah sederhana 
dan mantapnya doa seperti itu. 
Doa Abdul Mutthalib ternyata bukan seperti melempar batu ke lubuk. Pukulan yang mematikan 
dialami oleh balatentara Abrahah. Dengan suatu "pasukan" yang paling lemah berupa burung-burung 
Ababil, Allah s.w.t. menghancurkan mereka. Burung-burung menyebarkan maut di 
kalangan balatentara Abrahah. Bangkai mereka bergelimpangan menjadi cerita sejarah. 
Sifat pasrah diri Abdul Mutthalib kepada Allah seperti di atas seakan-akan kekanak-kanakan. 
Sungguh tidaklah demikian. Pasrah diri Abdul Mutthalib bukan pasrah diri orang yang sama 
sekali tak berdaya, melainkan karena keyakinan imannya, bahwa di sana ada Allah Maha Kuasa, 
Tuhan yang senantiasa berada di belakang setiap gerak dan perbuatan. Abdul Mutthalib yakin, 
sesuatu yang tak dapat dilaksanakan dengan kekuatan kebajikan yang ada pada manusia akan 
ditentukan persoalannya oleh Dia sendiri Yang Maha Kuasa. Sungguh, suatu kepasrahan yang 
sangat polos, indah dan murni. 
Melalui Abdul Mutthalib Allah s.w.t. melimpahkan kemudahan dan keberkahan kepada 
penduduk Makkah. Lebih dari satu kali langit dan udara Makkah sedemikian gersangnya. Tidak 
setetes air hujan pun yang turun membasahi bumi. Hampir saja penduduk mati kekeringan dan 
dilanda paceklik amat berat. Pada saat yang berat itu, penduduk mendatangi Abdul Mutthalib. 
Abdul Mutthalib mengajak mereka berbondong-bondong menuju sebuah puncak bukit. Di 
puncak bukit itulah dengan khusyu' Abdul Mutthalib berdoa: "Ya Tuhan, mereka itu adalah 
hamba-hamba-Mu. Engkau mengetahui apa yang sedang menimpa kami semua. Oleh karena itu 
jauhkanlah kegersangan dari kami, turunkanlah hujan membawa rahmat dan berkah, 
menumbuhkan tetanaman, memberi kehidupan dan penghidupan." 
Iman Abdul Mutthalib kelihatannya memang lain dari yang yang lain. Iman seorang yang hidup 
di masa penyembahan berhala masih menjadi agama peribadatan di mana-mana. Namun Abdul 
Mutthalib mengenal Allah melalui setiap nikmat yang terlimpah kepadanya dan dari tiap 
langkah yang berhasil ditempuhnya. 
Ketika ia mendengar kelahiran cucunya, Nabi Muhammad s.a.w., segera diemban dan dibawa 
masuk ke dalam Ka'bah. Disana ia memanjatkan puji syukur dalam bentuk syair: 
"Puji syukur bagi Allah yang mengaruniakan kepadaku, 
seorang anak yang baik susunan bentuknya ini, 
selagi dalam buaian ia mengungguli anak yang lain. 
Ia kulindungkan pada Tuhan Maha Perkasa 
sampai kusaksikan masa dewasanya." 
Abdul Mutthalib ditunjukkan oleh penglihatan batinnya sendiri, sehingga dapat mengetahui 
bahwa anak yang baru lahir itu akan memainkan peranan besar di kemudian hari. Oleh karena 
itu ia mencintai Nabi Muhammad s.a.w. melebihi kecintaan yang diberikannya kepada 
siapapun. 
Tiap kali Abdul Mutthalib bertemu dengan Abu Thalib, tangan puteranya itu selalu ditarik, 
kemudian dilekatkan pada tangan cucunya, Nabi Muhammad s.a.w., sambil berkata: "Hai Abu 
Thalib, di kemudian hari anak ini akan mempunyai kedudukan, oleh karena itu jagalah dia baik-baik. 
Jangan kaubiarkan ada sesuatu yang tidak baik menyentuhnya!" 
Amanat ayahnya dipenuhi dengan baik oleh Abu Thalib. Ia jaga dan pelihara putera saudaranya 
itu sebagaimana mestinya. Ia mengasuh anak itu sesuai dengan kematangan berfikirnya, 
17
ketinggian martabat keturunannya dan kebesaran sifat keutamaannya. 
Abdul Mutthalib adalah datukanda Nabi Muhammd s.a.w., juga datukanda Imam Ali r.a. 
Setelah keluarga besar itu ditinggal wafat oleh Abdul Mutthalib dan Abu Thalib, Imam Ali r.a. 
sebagai cucu Abdul Mutthalib dan putera Abu Thalib mewarisi budi pekerti luhur dan kebesaran 
jiwa yang sukar ditemukan bandingannya. Ia benar-benar mewarisi dua hal sekaligus: akhlaq 
utama dan darah mulia. 
Bab III : Rumah Tangga Serasi 
Lahirnya Sitti Fatimah Azzahra r.a. merupakan rahmat yang dilimpahkan llahi kepada Nabi 
Muhammad s.a.w. Ia telah menjadi wadah suatu keturunan yang suci. Ia laksana benih yang 
akan menumbuhkan pohon besar pelanjut keturunan Rasul Allah s.a.w. Ia satu-satunya yang 
menjadi sumber keturunan paling mulia yang dikenal umat Islam di seluruh dunia. Sitti Fatimah 
Azzahra r.a. dilahirkan di Makkah, pada hari Jumaat, 20 Jumadil Akhir, kurang lebih lima tahun 
sebelum bi'tsah. 
Sitti Fatimah Azzahra r.a. tumbuh dan berkembang di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah 
kancah pertarungan sengit antara Islam dan Jahiliyah, di kala sedang gencar-gencarnya 
perjuangan para perintis iman melawan penyembah berhala. 
Dalam keadaan masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra r.a. sudah harus mengalami 
penderitaan, merasakan kehausan dan kelaparan. Ia berkenalan dengan pahit getirnya 
perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Lebih dari tiga tahun ia bersama ayah 
bundanya hidup menderita di dalam Syi'ib, akibat pemboikotan orang-orang kafir Qureiys 
terhadap keluarga Bani Hasyim. 
Setelah bebas dari penderitaan jasmaniah selama di Syi'ib, datang pula pukulan batin atas diri 
Sitti Fatimah Azzahra r.a., berupa wafatnya bunda tercinta, Sitti Khadijah r.a. Kabut sedih 
selalu menutupi kecerahan hidup sehari-hari dengan putusnya sumber kecintaan dan kasih 
sayang ibu. 
Puteri Kesayangan 
Rasul Allah s.a.w. sangat mencintai puterinya ini. Sitti Fatimah Azzahra r.a. adalah puteri 
bungsu yang paling disayang dan dikasihani junjungan kita Rasul Allah s.a.w. Nabi Muhammad 
s.a.w. merasa tak ada seorang pun di dunia yang paling berkenan di hati beliau dan yang paling 
dekat disisinya selain puteri bungsunya itu. 
Demikian besar rasa cinta Rasul Allah s.a.w. kepada puteri bungsunya itu dibuktikan dengan 
hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Menurut hadits tersebut Rasul Allah s.a.w. berkata 
kepada Imam Ali r.a. demikian: 
"Wahai Ali! Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari aku. Dia adalah cahaya mataku dan buah 
hatiku. Barang siapa menyusahkan dia, ia menyusahkan aku dan siapa yang menyenangkan dia, 
ia menyenangkan aku…" 
Pernyataan beliau itu bukan sekedar cetusan emosi, melainkan suatu penegasan bagi umatnya, 
bahwa puteri beliau itu merupakan lambang keagungan abadi yang ditinggalkan di tengah 
ummatnya. 
Di kala masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra r.a. menyaksikan sendiri cobaan yang dialami 
oleh ayah-bundanya, baik berupa gangguan-gangguan, maupun penganiayaan-penganiayaan 
yang dilakukan orang-orang kafir Qureiys. Ia hidup di udara Makkah yang penuh dengan debu 
perlawanan orang-orang kafir terhadap keluarga Nubuwaah, keluarga yang menjadi pusat iman, 
hidayah dan keutamaan. Ia menyaksikan ketangguhan dan ketegasan orang-orang mukminin 
dalam perjuangan gagah berani menanggulangi komplotan-komplotan Qureiys. Suasana 
18
perjuangan itu membekas sedalam-dalamnya pada jiwa Sitti Fatimah Azzahra r.a. dan 
memainkan peranan penting dalam pembentukan pribadinya, serta mempersiapkan kekuatan 
mental guna menghadapi kesukaran-kesukaran di masa depan. 
Setelah ibunya wafat, Sitti Fatimah Azzahra r.a. hidup bersama ayahandanya. Satu-satunya 
orang yang paling dicintai. Ialah yang meringankan penderitaan Rasul Allah s.a.w. tatkala 
ditinggal wafat isteri beliau, Sitti Khadijah. Pada satu hari Sitti Fatimah Azzahra r.a. 
menyaksikan ayahnya pulang dengan kepala dan tubuh penuh pasir, yang baru saja dilemparkan 
oleh orang-orang Qureys, di saat ayahandanya itu sedang sujud. Dengan hati remuk-redam 
laksana disayat sembilu, Sitti Fatimah r.a. segera membersihkan kepala dan tubuh 
ayahandanya. Kemudian diambilnya air guna mencucinya. Ia menangis tersedu-sedu 
menyaksikan kekejaman orang-orang Qureisy terhadap ayahnya. 
Kesedihan hati puterinya itu dirasakan benar oleh Nabi Muhammad s.a.w. Guna menguatkan 
hati puterinya dan meringankan rasa sedihnya, maka Nabi Muhammad s.a.w., sambil membelai-belai 
kepala puteri bungsunya itu, berkata: "Jangan menangis..., Allah melindungi ayahmu dan 
akan memenangkannya dari musuh-musuh agama dan risalah-Nya" 
Dengan tutur kata penuh semangat itu, Rasul Allah s.a.w. menanamkan daya-juang tinggi ke 
dalam jiwa Sitti Fatimah r.a., dan sekaligus mengisinya dengan kesabaran, ketabahan serta 
kepercayaan akan kemenangan akhir. Meskipun orang-orang sesat dan durhaka seperti kafir 
Qureiys itu senantiasa mengganggu dan melakukan penganiayaan-penganiayaan, namun Nabi 
Muhammad s:a.w. tetap melaksanakan tugas risalahnya. 
Pada ketika lain lagi, Sitti Fatimah r.a. menyaksikan ayahandanya pulang dengan tubuh penuh 
dengan kotoran kulit janin unta yang baru dilahirkan. Yang melemparkan kotoran atau najis ke 
punggung Rasul Allah s.a.w. itu Uqbah bin Mu'aith, Ubaiy bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf. 
Melihat ayahandanya berlumuran najis, Sitti Fatimah r.a. segera membersihkannya dengan air 
sambil menangis. 
Nabi Muhammad rupanya menganggap perbuatan ketiga kafir Qureiys ini sudah keterlaluan. 
Karena itulah maka pada waktu itu beliau memanjatkan doa kehadirat Allah s.w.t.: "Ya Allah 
celakakanlah orang-orang Qureiys itu. Ya Allah, binasakanlah 'Uqbah bin Mu'aith. Ya Allah 
binasakanlah Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf" 
Masih banyak lagi pelajaran yang diperoleh Sitti Fatimah dari penderitaan ayahandanya dalam 
perjuangan menegakkan kebenaran Allah. Semuanya itu menjadi bekal hidup baginya untuk 
menghadapi masa mendatang yang berat dan penuh cobaan. Kehidupan yang serba berat dan 
keras di kemudian hari memang memerlukan mental gemblengan. 
Hijrah ke Madinah 
Tepat pada saat orang-orang kafir Qureiys selesai mempersiapkan komplotan terror untuk 
membunuh Rasul Allah s.a.w., Madinah telah siap menerima kedatangan beliau. Nabi 
Muhammad meninggalkan kota Makkah secara diam-diam di tengah kegelapan malam. Beliau 
bersama Abu Bakar Ash Shiddiq meninggalkan kampung halaman, keluarga tercinta dan sanak 
famili. Beliau berhijrah, seperti dahulu pernah juga dilakukan Nabi Ibrahim as. dan Musa a.s. 
Di antara orang-orang yang ditinggalkan Nabi Muhammad s.a.w. termasuk puteri kesayangan 
beliau, Sitti Fatimah r.a. dan putera paman beliau yang diasuh dengan kasih sayang sejak kecil, 
yaitu Imam Ali r.a. yang selama ini menjadi pembantu terpercaya beliau. 
Imam Ali r.a. sengaja ditinggalkan oleh Nabi Muhammad untuk melaksanakan tugas khusus: 
berbaring di tempat tidur beliau, guna mengelabui mata komplotan Qureiys yang siap hendak 
membunuh beliau. Sebelum Imam Ali r.a. melaksanakan tugas tersebut, ia dipesan oleh Nabi 
Muhammad s.a.w. agar barang-barang amanat yang ada pada beliau dikembalikan kepada 
19
pemiliknya masing-masing. Setelah itu bersama semua anggota keluarga Rasul Allah s.a.w., 
segera menyusul berhijrah. 
Imam Ali r.a. membeli seekor unta untuk kendaraan bagi wanita yang akan berangkat hijrah 
bersama-sama. Rombongan hijrah yang menyusul perjalanan Rasul Allah s.a.w. terdiri dari 
keluarga Bani Hasyim dan dipimpin sendiri oleh Imam Ali r.a. Di dalam rombongan Imam Ali r.a. 
ini termasuk Sitti Fatimah r.a., Fatimah binti Asad bin Hasyim (ibu Imam Ali r.a.), Fatimah binti 
Zubair bin Abdul Mutthalib dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutthalib. Aiman dan Abu 
Waqid Al Laitsiy, ikut bergabung dalam rombongan. 
Rombongan Imam Ali r.a. berangkat dalam keadaan terburu-buru. Perjalanan ini tidak 
dilakukan secara diam-diam. Abu Waqid berjalan cepat-cepat menuntun unta yang dikendarai 
para wanita, agar jangan terkejar oleh orang-orang kafir Qureiys. Mengetahui hal itu, Imam Ali 
r.a. segera memperingatkan Abu Waqid, supaya berjalan perlahan-lahan, karena semua 
penumpangnya wanita. Rombongan berjalan melewati padang pasir di bawah sengatan terik 
matahari. 
Imam Ali r.a., sebagai pemimpin rombongan, berangkat dengan semangat yang tinggi. Beliau 
siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal dilakukan orang-orang kafir Qureiys terhadap 
rombongan. Ia bertekad hendak mematahkan moril dan kecongkakan mereka. Untuk itu ia siap 
berlawan tiap saat. 
Mendengar rombongan Imam Ali r.a. berangkat, orang-orang Qureiys sangat penasaran. Lebih-lebih 
karena rombongan Imam Ali r.a. berani meninggalkan Makkah secara terang-terangan di 
siang hari. Orang-orang Qureiys menganggap bahwa keberanian Imam Ali r.a. yang semacam itu 
sebagai tantangan terhadap mereka. 
Orang-orang Qureiys cepat-cepat mengirim delapan orang anggota pasukan berkuda untuk 
mengejar Imam Ali r.a. dan rombongan. Pasukan itu ditugaskan menangkapnya hidup-hidup 
atau mati. Delapan orang Qureiys itu, di sebuah tempat bernama Dhajnan berhasil mendekati 
rombongan Imam Ali r.a. 
Setelah Imam Ali r.a. mengetahui datangnya pasukan berkuda Qureiys, ia segera 
memerintahkan dua orang lelaki anggota rombongan agar menjauhkan unta dan menambatnya. 
Ia sendiri kemudian menghampiri para wanita guna membantu menurunkan mereka dari 
punggung unta. Seterusnya ia maju seorang diri menghadapi gerombolan Qureisy dengan 
pedang terhunus. Rupanya Imam Ali r.a. hendak berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh 
mereka. Ia tahu benar bagaimana cara menundukkan mereka. 
Melihat Imam Ali r.a. mendekati mereka, gerombolan Qureiys itu berteriak-teriak menusuk 
perasaan: "Hai penipu, apakah kaukira akan dapat menyelamatkan perempuan-perempuan itu? 
Ayo, kembali! Engkau sudah tidak berayah lagi." 
Imam Ali r.a. dengan tenang menanggapi teriakan-teriakan gerombolan Qureiys itu. Ia 
bertanya: "Kalau aku tidak mau berbuat itu...?" 
"Mau tidak mau engkau harus kembali," sahut gerombolan Qureiys dengan cepat. 
Mereka lalu berusaha mendekati unta dan rombongan wanita. Imam Ali r.a. menghalangi usaha 
mereka. Jenah, seorang hamba sahaya milik Harb bin Umayyah, mencoba hendak memukul 
Imam Ali r.a. dari atas kuda. Akan tetapi belum sempat ayunan pedangnya sampai, hantaman 
pedang Imam Ali r.a. telah mendahului tiba di atas bahunya. Tubuhnya terbelah menjadi dua, 
sehingga pedang Imam Ali r.a. sampai menancap pada punggung kuda. Serangan-balas secepat 
kilat itu sangat menggetarkan teman-teman Jenah. Sambil menggeretakkan gigi, Imam Ali r.a. 
berkata: "Lepaskan orang-orang yang hendak berangkat berjuang! Aku tidak akan kembali dan 
20
aku tidak akan menyembah selain Allah Yang Maha Kuasa!" 
Gerombolan Qureiys mundur. Mereka meminta kepada Imam Ali r.a. untuk menyarungkan 
kembali pedangnya. Imam Ali r.a. dengan tegas menjawab: "Aku hendak berangkat menyusul 
saudaraku, putera pamanku, Rasul Allah. Siapa yang ingin kurobek-robek dagingnya dan 
kutumpahkan darahnya, cobalah maju mendekati aku!" 
Tanpa memberi jawaban lagi gerombolan Qureiys itu segera meninggalkan tempat. Kejadian ini 
mencerminkan watak konfrontasi bersenjata yang bakal datang antara kaum muslimin melawan 
agresi kafir Qureiys. 
Di Dhajnan, rombongan Imam Ali r.a. beristirahat semalam. Ketika itu tiba pula Ummu Aiman 
(ibu Aiman). Ia menyusul anaknya yang telah berangkat lebih dahulu bersama Imam Ali r.a. 
Bersama Ummu Aiman turut pula sejumlah orang muslimin yang berangkat hijrah. Keesokan 
harinya rombongan Imam Ali r.a. beserta rombongan Ummu Aiman melanjutkan perjalanan. 
Imam Ali r.a. sudah rindu sekali ingin segera bertemu dengan Rasul Allah s.a.w. 
Waktu itu Rasul Allah s.a.w. bersama Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. sudah tiba dekat kota 
Madinah. Untuk beberapa waktu, beliau tinggal di Quba. Beliau menantikan kedatangan 
rombongan Imam Ali r.a. Kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, Rasul Allah s.a.w. memberitahu, 
bahwa beliau tidak akan memasuki kota Madinah, sebelum putera pamannya dan puterinya 
sendiri datang. 
Selama dalam perjalanan itu Imam Ali r.a. tidak berkendaraan sama sekali. Ia berjalan kaki-telanjang 
menempuh jarak kl 450 km sehingga kakinya pecah-pecah dan membengkak. 
Akhirnya tibalah semua anggota rombongan dengan selamat di Quba. Betapa gembiranya Rasul 
Allah s.a.w. menyambut kedatangan orang-orang yang disayanginya itu. 
Ketika Nabi Muhammad s.a.w. melihat Imam Ali r.a. tidak sanggup berjalan lagi karena kakinya 
membengkak, beliau merangkul dan memeluknya seraya menangis karena sangat terharu. 
Beliau kemudian meludah di atas telapak tangan, lalu diusapkan pada kaki Imam Ali r.a. Konon 
sejak saat itu sampai wafatnya, Imam Ali r.a. tidak pernah mengeluh karena sakit kaki. 
Peristiwa yang sangat mengharukan itu berkesan sekali dalam hati Rasul Allah s.a.w. dan tak 
terlupakan selama-lamanya. Berhubung dengan peristiwa itu, turunlah wahyu Ilahi yang 
memberi penilaian tinggi kepada kaum Muhajirin, seperti terdapat dalam Surah Ali 'Imran:195. 
Ijab-Kabul Pernikahan 
Sitti Fatimah Azzahra r.a. mencapai puncak keremajaannya dan kecantikannya pada saat 
risalah yang dibawakan Nabi Muhammad s.a.w. sudah maju dengan pesat di Madinah dan 
sekitarnya. Ketika itu Sitti Fatimah Azzahra r.a. benar-benar telah menjadi remaja puteri. 
Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pria terhormat yang 
menggantungkan harapan ingin mempersunting puteri Rasul Allah s.a.w. itu. Beberapa orang 
terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar telah berusaha melamarnya. Menanggapi lamaran 
itu, Nabi Muhammad s.a.w. mengemukakan, bahwa beliau sedang menantikan datangnya 
petunjuk dari Allah s.w.t. mengenai puterinya itu. 
Pada suatu hari Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar Ibnul Khatab r.a. dan Sa'ad bin Mu'adz 
bersama-sama Rasul Allah s.a.w. duduk dalam mesjid beliau. Pada kesempatan itu 
diperbincangkan antara lain persoalan puteri Rasul Allah s.a.w. Saat itu beliau bertanya kepada 
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a.: "Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah itu 
kepada Ali bin Abi Thalib?" 
Abu Bakar Ash Shiddiq menyatakan kesediaanya. Ia beranjak untuk menghubungi Imam Ali r.a. 
21
Sewaktu Imam Ali r.a. melihat datangnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. dengan tergopoh-gopoh 
dan terperanjat ia menyambutnya, kemudian bertanya: "Anda datang membawa berita apa?" 
Setelah duduk beristirahat sejenak, Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. segera menjelaskan 
persoalannya: "Hai Ali, engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya 
serta mempunyai keutamaan lebih dibanding dengan orang lain. Semua sifat utama ada pada 
dirimu. Demikian pula engkau adalah kerabat Rasul Allah s.a.w. Beberapa orang sahabat 
terkemuka telah menyampaikan lamaran kepada beliau untuk dapat mempersunting puteri 
beliau. Lamaran itu oleh beliau semuanya ditolak. Beliau mengemukakan, bahwa persoalan 
puterinya diserahkan kepada Allah s.w.t. Akan tetapi, hai Ali, apa sebab hingga sekarang 
engkau belum pernah menyebut-nyebut puteri beliau itu dan mengapa engkau tidak melamar 
untuk dirimu sendiri? Kuharap semoga Allah dan Rasul-Nya akan menahan puteri itu untukmu." 
Mendengar perkataan Abu Bakar r.a. mata Imam Ali r.a. berlinang-linang. Menanggapi kata-kata 
itu, Imam Ali r.a. berkata: "Hai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang 
semulanya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku 
memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah 
karena aku tidak mempunyai apa-apa." 
Abu Bakar r.a. terharu mendengar jawaban Imam Ali yang memelas itu. Untuk membesarkan 
dan menguatkan hati Imam Ali r.a., Abu Bakar r.a. berkata: "Hai Ali, janganlah engkau berkata 
seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu bertaburan 
belaka!" 
Setelah berlangsung dialog seperlunya, Abu Bakar r.a. berhasil mendorong keberanian Imam Ali 
r.a. untuk melamar puteri Rasul Allah s.a.w. 
Beberapa waktu kemudian, Imam Ali r.a. datang menghadap Rasul Allah s.a.w. yang ketika itu 
sedang berada di tempat kediaman Ummu Salmah. Mendengar pintu diketuk orang, Ummu 
Salmah bertanya kepada Rasul Allah s.a.w.: "Siapakah yang mengetuk pintu?" Rasul Allah s.a.w. 
menjawab: "Bangunlah dan bukakan pintu baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, 
dan ia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya!" 
Jawaban Nabi Muhammad s.a.w. itu belum memuaskan Ummu Salmah r.a. Ia bertanya lagi: "Ya, 
tetapi siapakah dia itu?" 
"Dia saudaraku, orang kesayanganku!" jawab Nabi Muhammad s.a.w. 
Tercantum dalam banyak riwayat, bahwa Ummu Salmah di kemudian hari mengisahkan 
pengalamannya sendiri mengenai kunjungan Imam Ali r.a. kepada Nabi Muhammad s.a.w. itu: 
"Aku berdiri cepat-cepat menuju ke pintu, sampai kakiku terantuk-antuk. Setelah pintu kubuka, 
ternyata orang yang datang itu ialah Ali bin Abi Thalib. Aku lalu kembali ke tempat semula. Ia 
masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasul Allah s.a.w. Ia dipersilakan 
duduk di depan beliau. Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala, seolah-olah mempunyai 
maksud, tetapi malu hendak mengutarakannya. 
Rasul Allah mendahului berkata: "Hai Ali nampaknya engkau mempunyai suatu keperluan. 
Katakanlah apa yang ada dalam fikiranmu. Apa saja yang engkau perlukan, akan kauperoleh 
dariku!" 
Mendengar kata-kata Rasul Allah s.a.w. yang demikian itu, lahirlah keberanian Ali bin Abi 
Thalib untuk berkata: "Maafkanlah, ya Rasul Allah. Anda tentu ingat bahwa anda telah 
mengambil aku dari paman anda, Abu Thalib dan bibi anda, Fatimah binti Asad, di kala aku 
masih kanak-kanak dan belum mengerti apa-apa. 
22
Sesungguhnya Allah telah memberi hidayat kepadaku melalui anda juga. Dan anda, ya Rasul 
Allah, adalah tempat aku bernaung dan anda jugalah yang menjadi wasilahku di dunia dan 
akhirat. Setelah Allah membesarkan diriku dan sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah 
tangga; hidup bersama seorang isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri 
anda, Fatimah. Ya Rasul Allah, apakah anda berkenan menyetujui dan menikahkan diriku 
dengan dia?" 
Ummu Salmah melanjutkan kisahnya: "Saat itu kulihat wajah Rasul Allah nampak berseri-seri. 
Sambil tersenyum beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, apakah engkau mempunyai 
suatu bekal maskawin?'' . 
"Demi Allah", jawab Ali bin Abi Thalib dengan terus terang, "Anda sendiri mengetahui 
bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak anda ketahui. Aku tidak 
mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta." 
"Tentang pedangmu itu," kata Rasul Allah s.a.w. menanggapi jawaban Ali bin Abi Thalib, 
"engkau tetap membutuhkannya untuk melanjutkan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu 
engkau juga butuh untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau 
memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu aku hendak menikahkan engkau hanya 
atas dasar maskawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Hai 
Ali engkau wajib bergembira, sebab Allah 'Azza wajalla sebenarnya sudah lebih dahulu 
menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!" Demikian versi riwayat 
yang diceritakan Ummu Salmah r.a. 
Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dengan disaksikan oleh 
para sahabat, Rasul Allah s.a.w. mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya: 
"Bahwasanya Allah s.w.t. memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas dasar 
maskawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal 
itu." 
"Ya, Rasul Allah, itu kuterima dengan baik", jawab Ali bin Abi Thalib r.a. dalam pernikahan itu. 
Rumah Tangga Sederhana 
Maskawin sebesar 400 dirham itu diserahkan kepada Abu Bakar r.a. untuk diatur 
penggunaannya. Dengan persetujuan Rasul Allah s.a.w., Abu Bakar r.a. menyerahkan 66 dirham 
kepada Ummu Salmah untuk "biaya pesta" perkawinan. Sisa uang itu dipergunakan untuk 
membeli perkakas dan peralatan rumah tangga. 
-sehelai baju kasar perempuan; 
-sehelai kudung; 
-selembar kain Qathifah buatan khaibar berwarna hitam; 
-sebuah balai-balai;. 
-dua buah kasur, terbuat dari kain kasar Mesir (yang sebuah berisi ijuk kurma dan yang sebuah 
bulu kambing); 
-empat buah bantal kulit buatan Thaif (berisi daun idzkir); 
-kain tabir tipis terbuat dari bulu; 
-sebuah tikar buatan Hijr; 
-sebuah gilingan tepung; 
-sebuah ember tembaga; 
-kantong kulit tempat air minum; 
-sebuah mangkuk susu; 
-sebuah mangkuk air; 
-sebuah wadah air untuk sesuci; 
-sebuah kendi berwarna hijau; 
-sebuah kuali tembikar; 
23
-beberapa lembar kulit kambing; 
-sehelai 'aba-ah (semacam jubah); 
-dan sebuah kantong kulit tempat menyimpan air. 
Sejalan dengan itu Imam Ali r.a. mempersiapkan tempat kediamannya dengan perkakas yang 
sederhana dan mudah didapat. Lantai rumahnya ditaburi pasir halus. Dari dinding ke dinding 
lain dipancangkan sebatang kayu untuk menggantungkan pakaian. Untuk duduk-duduk 
disediakan beberapa lembar kulit kambing dan sebuah bantal kulit berisi ijuk kurma. Itulah 
rumah kediaman Imam Ali r.a. yang disiapkan guna menanti kedatangan isterinya, Sitti Fatimah 
Azzahra r.a. 
Selama satu bulan sesudah pernikahan, Sitti Fatimah r.a. masih tetap di rumahnya yang lama. 
Imam Ali r.a. merasa malu untuk menyatakan keinginan kepada Rasul Allah s.a.w. supaya 
puterinya itu diperkenankan pindah ke rumah baru. Dengan ditemani oleh salah seorang 
kerabatnya dari Bani Hasyim, Imam Ali r.a. menghadap Rasul Allah s.a.w. Lebih dulu mereka 
menemui Ummu Aiman, pembantu keluarga Nabi Muhammad s.a.w. Kepada Ummu Aiman, 
Imam Ali r.a. menyampaikan keinginannya. 
Setelah itu, Ummu Aiman menemui Ummu Salmah r.a. guna menyampaikan apa yang menjadi 
keinginan Imam Ali r.a. Sesudah Ummu Salmah r.a. mendengar persoalan tersebut, ia terus 
pergi mendatangi isteri-isteri Nabi yang lain. 
Guna membicarakan persoalan yang dibawa Ummu Salmah r.a., para isteri Nabi Muhammad 
s.a.w. berkumpul. Kemudian mereka bersama-sama menghadap Rasul Allah s.a.w. Ternyata 
beliau menyambut gembira keinginan Imam Ali r.a. 
Suami-Isteri Yang Serasi 
Sitti Fatimah r.a. dengan perasaan bahagia pindah ke rumah suaminya yang sangat sederhana 
itu. Selama ini ia telah menerima pelajaran cukup dari ayahandanya tentang apa artinya 
kehidupan ini. Rasul Allah s.a.w. telah mendidiknya, bahwa kemanusiaan itu adalah intisari 
kehidupan yang paling berharga. Ia juga telah .diajar bahwa kebahagiaan rumah-tangga yang 
ditegakkan di atas fondasi akhlaq utama dan nilai-nilai Islam, jauh lebih agung dan lebih mulia 
dibanding dengan perkakas-perkakas rumah yang serba megah dan mewah. 
Imam Ali r.a. bersama isterinya hidup dengan rasa penuh kebanggaan dan kebahagiaan. Dua-duanya 
selalu riang dan tak pernah mengalami ketegangan. Sitti Fatimah r.a. menyadari, 
bahwa dirinya tidak hanya sebagai puteri kesayangan Rasul Allah s.a.w., tetapi juga isteri 
seorang pahlawan Islam, yang senantiasa sanggup berkorban, seorang pemegang panji-panji 
perjuangan Islam yang murni dan agung. Sitti Fatimah berpendirian, dirinya harus dapat 
menjadi tauladan. Terhadap suami ia berusaha bersikap seperti sikap ibunya (Sitti Khadijah 
r.a.) terhadap ayahandanya, Nabi Muhammad s.a.w. 
Dua sejoli suami isteri yang mulia dan bahagia itu selalu bekerja sama dan saling bantu dalam 
mengurus keperluan-keperluan rumah tangga. Mereka sibuk dengan kerja keras. Sitti Fatimah 
r.a. menepung gandum dan memutar gilingan dengan tangan sendiri. Ia membuat roti, 
menyapu lantai dan mencuci. Hampir tak ada pekerjaan rumah-tangga yang tidak ditangani 
dengan tenaga sendiri. 
Rasul Allah s.a.w. sendiri sering menyaksikan puterinya sedang bekerja bercucuran keringat. 
Bahkan tidak jarang beliau bersama Imam Ali r.a. ikut menyingsingkan lengan baju membantu 
pekerjaan Sitti Fatimah r.a. 
Banyak sekali buku-buku sejarah dan riwayat yang melukiskan betapa beratnya kehidupan 
rumah-tangga Imam Ali r.a. Sebuah riwayat mengemukakan: Pada suatu hari Rasul Allah s.a.w. 
berkunjung ke tempat kediaman Sitti Fatimah r.a. Waktu itu puteri beliau sedang menggiling 
24
tepung sambil melinangkan air mata. Baju yang dikenakannya kain kasar. Menyaksikan 
puterinya menangis, Rasul Allah s.a.w. ikut melinangkan air mata. Tak lama kemudian beliau 
menghibur puterinya: "Fatimah, terimalah kepahitan dunia untuk memperoleh kenikmatan di 
akhirat kelak" 
Riwayat lain mengatakan, bahwa pada suatu hari Rasul Allah s.a.w. datang menjenguk Sitti 
Fatimah r.a., tepat: pada saat ia bersama suaminya sedang bekerja menggiling tepung. Beliau 
terus bertanya: "Siapakah di antara kalian berdua yang akan kugantikan?" 
"Fatimah! " Jawab Imam Ali r.a. Sitti Fatimah lalu berhenti diganti oleh ayahandanya 
menggiling tepung bersama Imam Ali r.a. 
Masih banyak catatan sejarah yang melukiskan betapa beratnya penghidupan dan kehidupan 
rumah-tangga Imam Ali r.a. Semuanya itu hanya menggambarkan betapa besarnya kesanggupan 
Sitti Fatimah r.a. dalam menunaikan tugas hidupnya yang penuh bakti kepada suami, taqwa 
kepada Allah dan setia kepada Rasul-Nya. 
Ada sebuah riwayat lain yang menuturkan betapa repotnya Sitti Fatimah r.a. sehari-hari 
mengurus kehidupan rumah-tangganya. Riwayat itu menyatakan sebagai berikut: Pada satu hari 
Rasul Allah s.a.w. bersama sejumlah sahabat berada dalam masjid menunggu kedatangan Bilal 
bin Rabbah, yang akan mengumandangkan adzan sebagaimana biasa dilakukan sehari-hari. 
Ketika Bilal terlambat datang, oleh Rasul Allah s.a.w. ditegor dan ditanya apa sebabnya. Bilal 
menjelaskan: 
"Aku baru saja datang dari rumah Fatimah. Ia sedang menggiling tepung. Al Hasan, puteranya 
yang masih bayi, diletakkan dalam keadaan menangis keras. Kukatakan kepadanya "Manakah 
yang lebih baik, aku menolong anakmu itu, ataukah aku saja yang menggiling tepung". Ia 
menyahut: "Aku kasihan kepada anakku". Gilingan itu segera kuambil lalu aku menggiling 
gandum. Itulah yang membuatku datang terlambat!" 
Mendengar keterangan Bilal itu Rasul Allah s.a.w. berkata: "Engkau mengasihani dia dan Allah 
mengasihani dirimu!" 
Hal-hal tersebut di atas adalah sekelumit gambaran tentang kehidupan suatu keluarga suci di 
tengah-tengah masyarakat Islam. Kehidupan keluarga yang penuh dengan semangat gotong-royong. 
Selain itu kita juga memperoleh gambaran betapa sederhananya kehidupan pemimpin-pemimpin 
Islam pada masa itu. Itu merupakan contoh kehidupan masyarakat yang dibangun 
oleh Islam dengan prinsip ajaran keluhuran akhlaq. Itupun merupakan pencerminan kaidah-kaidah 
agama Islam, yang diletakkan untuk mengatur kehidupan rumah-tangga. 
Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. dan Sitti Fatimah r.a., ketiganya merupakan tauladan bagi 
kehidupan seorang ayah, seorang suami dan seorang isteri di dalam Islam. Hubungan antar 
anggota keluarga memang seharusnya demikian erat dan serasi seperti mereka. 
Tak ada tauladan hidup sederhana yang lebih indah dari tauladan yang diberikan oleh keluarga 
Nubuwwah itu. Padahal jika mereka mau, lebih-lebih jika Rasul Allah s.a.w. sendiri 
mengehendaki, kekayaan dan kemewahan apakah yang tidak akan dapat diperoleh beliau? 
Tetapi sebagai seorang pemimpin yang harus menjadi tauladan, sebagai seorang yang 
menyerukan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan serta persamaan, sebagai orang yang hidup 
menolak kemewahan duniawi, beliau hanya mengehendaki supaya ajaran-ajarannya benar-benar 
terpadu dengan akhlaq dan cara hidup ummatnya. Beliau mengehendaki agar tiap orang, 
tiap pendidik, tiap penguasa dan tiap pemimpin bekerja untuk perbaikan masyarakat. Masing-masing 
supaya mengajar, memimpin dan mendidik diri sendiri dengan akhlaq dan perilaku 
utama, sebelum mengajak orang lain. Sebab akhlaq dan perilaku yang dapat dilihat dengan 
25
nyata, mempunyai pengaruh lebih besar, lebih berkesan dan lebih membekas dari pada sekedar 
ucapan-ucapan dan peringatan-peringatan belaka. Dengan praktek yang nyata, ajakan yang 
baik akan lebih terjamin keberhasilannya. 
Sebuah riwayat lagi yang berasal dari Imam Ali r.a. sendiri mengatakan: Sitti Fatimah pernah 
mengeluh karena tapak-tangannya menebal akibat terus-menerus memutar gilingan tepung. Ia 
keluar hendak bertemu Rasul Allah s.a.w. Karena tidak berhasil, ia menemui Aisyah r.a. 
Kepadanya diceritakan maksud kedatangannya. Ketika Rasul Allah s.a.w. datang, beliau 
diberitahu oleh Aisyah r.a. tentang maksud kedatangan Fatimah yang hendak minta diusahakan 
seorang pembantu rumah-tangga. Rasul Allah s.a.w. kemudian datang ke rumah kami. Waktu 
itu kami sedang siap-siap hendak tidur. Kepada kami beliau berkata: "Kuberitahukan kalian 
tentang sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta kepadaku. Sambil berbaring 
ucapkanlah tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada 
seorang pembantu yang akan melayani kalian." 
Sambutan Nabi Muhammad s.a.w. atas permintaan puterinya agar diberi pembantu, merupakan 
sebuah pelajaran penting tentang rendah-hatinya seorang pemimpin di dalam masyarakat 
Islam. Kepemimpinan seperti itulah yang diajarkan Rasul Allah s.a.w. dan dipraktekan dalam 
kehidupan konkrit oleh keluarga Imam Ali r.a. Mereka hidup setaraf dengan lapisan rakyat yang 
miskin dan menderita. Pemimpin-pemimpin seperti itulah dan yang hanya seperti itulah, yang 
akan sanggup menjadi pelopor dalam melaksanakan prinsip persamaan, kesederhanaan dan 
kebersihan pribadi dalam kehidupan ini. 
Putera-puteri 
Sitti Fatimah r.a. melahirkan dua orang putera dan dua orang puteri. Putera-puteranya 
bernama Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Sedang puteri-puterinya bernama Zainab r.a. dan 
Ummu Kalsum r.a. Rasul Allah s.a.w. dengan gembira sekali menyambut kelahiran cucu-cucunya. 
Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. mempunyai kedudukan tersendiri di dalam hati beliau. Dua 
orang cucunya itu beliau asuh sendiri. Kaum muslimin pada zaman hidupnya Nabi Muhammad 
s.a.w. menyaksikan sendiri betapa besarnya kecintaan beliau kepada Al Hasan r.a. dan Al 
Husein r.a. Beliau menganjurkan supaya orang mencintai dua "putera" beliau itu dan berpegang 
teguh pada pesan itu. 
Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. meninggalkan jejak yang jauh jangkauannya bagi umat Islam. 
Al Husein r.a. gugur sebagai pahlawan syahid menghadapi penindasan dinasti Bani Umayyah. 
Semangatnya terus berkesinambungan, melestarikan dan membangkitkan perjuangan yang 
tegas dan seru di kalangan ummat Islam menghadapi kedzaliman. Semangat Al Husein r.a. 
merupakan kekuatan penggerak yang luar biasa dahsyatnya sepanjang sejarah. 
Puteri beliau yang bernama Zainab r.a. merupakan pahlawan wanita muslim yang sangat 
cemerlang dan menonjol sekali peranannya, dalam pertempuran di Karbala membela Al Husein 
r.a. Di Karbala itulah dinasti Bani Umayyah menciptakan tragedi yang menimpa A1 Husein r.a. 
beserta segenap anggota keluarganya. A1 Husein r.a. gugur dan kepalanya diarak sebagai 
pameran keliling Kufah sampai ke Syam. 
Setelah hidup bersuami isteri selama kurang lebih 10 tahun Sitti Fatimah r.a. meninggal dunia 
dalam usia 28 tahun. Sepeninggal Sitti Fatimah r.a., Imam Ali r.a. beristerikan beberapa orang 
wanita lainnya lagi. Menurut catatan sejarah, hingga wafatnya Imam Ali r.a. menikah sampai 9 
kali. Tentu saja menurut ketentuan-ketentuan yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. 
Dalam satu periode, tidak pernah lebih 4 orang isteri. 
Wanita pertama yang dinikahi Imam Ali r.a. sepeninggal Siti Fatimah r.a. ialah Umamah binti 
Abil 'Ashiy. Ia anak perempuan iparnya sendiri, Zainab binti Muhammad s.a.w., kakak 
perempuan Sitti Fatimah r.a. Pernikahan dengan Umamah r.a. ini mempunyai sejarah 
26
tersendiri, yaitu untuk melaksanakan pesan Sitti Fatimah r.a. kepada suaminya sebelum ia 
wafat. Nampaknya pesan itu didasarkan kasih-sayang yang besar dari Umamah ra. kepada 
putera-puterinya. 
Setelah nikah dengan Umamah r.a., Imam Ali r.a. nikah lagi dengan Khaulah binti Ja'far bin 
Qeis. Berturut-turut kemudian Laila binti Mas'ud bin Khalid, Ummul Banin binti Hazzan bin 
Khalid dan Ummu Walad. Isteri Imam Ali r.a. yang keenam patut disebut secara khusus, karena 
ia tidak lain adalah Asma binti Umais, sahabat terdekat Sitti Fatimah r.a. Asma inilah yang 
mendampingi Sitti Fatimah r.a. dengan setia dan melayaninya dengan penuh kasih-sayang 
hingga detik-detik terakhir hayatnya. 
Isteri-isteri Imam Ali r.a. yang ke-7, ke-8 dan ke-9 ialah As-Shuhba, Ummu Sa'id binti 'Urwah bin 
Mas'ud dan Muhayah binti Imruil Qeis. Dari 9 isteri, di luar Sitti Fatimah r.a., Imam Ali r.a. 
mempunyai banyak anak. Jumlahnya yang pasti masih menjadi perselisihan pendapat di 
kalangan para penulis sejarah. 
Al Mas'udiy dalam bukunya "Murujudz Dzahab" menyebut putera-puteri Imam Ali r.a. semuanya 
berjumlah 25 orang. Sedangkan dalam buku "Almufid Fil Irsyad" dikatakan 27 orang anak. Ibnu 
Sa'ad dalam bukunya yang terkenal, "Thabaqat", menyebutnya 31 orang anak, dengan 
perincian: 14 orang anak lelaki dan 17 orang anak perempuan. Ini termasuk putera-puteri Imam 
Ali r.a. dari isterinya yang pertama. 
Bab IV : PERANAN KEPAHLAWANAN 
Masih ada sementara penulis sejarah yang dengan berbagai dalih dan alasan mengatakan, 
bahwa Imam Ali r.a. bukan orang yang pertama-tama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. 
Sebagai alasan dikatakan, bahwa hukum belum berlaku baginya, karena ketika ia memeluk 
Islam usianya masih sangat muda, malahan dikatakan "masih kanak-kanak". 
Alasan seperti itu tampak sekali dicari-cari. Sebab, seorang remaja yang berusia 13 tahun, 
bukan seorang kanak-kanak lagi. Ia sudah mampu berfikir membedakan mana yang baik dan 
mana yang buruk. Usia 13 tahun pada umumnya bisa dipandang sebagai tahap permulaan masa 
akil baligh. Dalam usia akil baligh itu orang sudah dapat menerima penjelasan-penjelasan dan 
keterangan-keterangan tentang sesuatu dengan baik. Fikiran dan perasaannya pun sudah 
berada dalam tingkatan aktif, dapat membedakan mana hal-hal yang menyenangkan atau 
menyedihkan, mana yang mengagumkan dan mana yang memuakkan, mana yang masuk akal 
dan mana yang tidak. 
Seperti diketahui, sejak Imam Ali r.a. berusia 6 tahun langsung diasuh, dibimbing dan dididik 
oleh Nabi Muhammad s.a.w. Menurut sistem pendidikan modern, tingkat usia 6 tahun itu justru 
yang paling tepat bagi seseorang anak memasuki sekolah dasar, yang akan berlangsung selama 
6 tahun. Dari usia 6 tahun sampai 12 tahun dapatlah dikatakan, bahwa Imam Ali r.a. telah 
mendapat "pendidikan dasar" dari seorang guru yang paling bijaksana. 
Selama periode "pendidikkan dasar" itu, Imam Ali r.a. telah dipersiapkan oleh gurunya untuk 
menyongsong datangnya masa pancaroba yang akan menjadi ciri perobahan zaman. Ketika 
Imam Ali r.a. menginjak usia 13 tahun, terjadilah bi'tsah Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, 
yang akan menjungkir-balikkan masa jahiliyah dan menggantinya dengan kecerahan masa 
hidayah. Masa "pendidikkan dasar" dan persiapan yang sangat tepat waktunya itulah, yang 
kemudian mewarnai sikap hidup dan kepribadian Imam Ali r.a. sebagai orang yang teguh 
imannya kepada Allah dan Rasul-Nya. 
Ketika berlangsung blokade ekonomi dan pemboikotan sosial yang dilancarkan orang-orang kafir 
Qureiys terhadap semua keluarga Bani Hasyim, Imam Ali r.a. ikut langsung menghayati 
kesengsaraan dan penderitaan yang menjadi akibatnya. Dengan mengikuti bimbingan serta 
tauladan Rasul Allah s.a.w. beserta Sitti Khadijah r.a., dengan tangguh, tabah dan sabar, Imam 
Ali r.a. ikut berjuang mempertahankan dan membela da'wah Islam. 
27
Tidak hanya itu saja. Selama hampir empat tahun terkepung dalam Syi'ib, Imam Ali r.a. 
memperoleh kesempatan yang luar biasa besarnya untuk menerima pendidikan tauhid dan ilmu-ilmu 
Ilahiyah, langsung dari Rasul Allah s.a.w. Satu kesempatan yang tidak pernah didapat oleh 
orang mukmin manapun. Dalam keadaan materiil serba kurang, Imam Ali r.a. yang masih 
remaja itu fikirannya terbuka seterang-terangnya guna menerima hidayah llahi, dan dengan 
tuntunan Rasul Allah s.a.w. ia dapat mengenal hakekat kebenaran Allah 'Azza wa Jalla. 
Tentang kedinian Imam Ali r.a. beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad s.a.w. 
sendiri pernah menegaskannya. Penegasan itu disaksikan oleh para sahabat dekat dan 
terkemuka, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar Ibnul Khattab r.a. dan Abu Ubaidah r.a. Hal 
itu tercantum dalam Kitab "Kanzul Ummal", jilid VI, hlm. 393. Riwayatnya berasal dari Ibnu 
Abbas. 
Umar Ibnul Khattab berkata: "....Aku, Abu Bakar dan Abu Ubaidah bersama beberapa orang 
sahabat Nabi lainnya pernah datang ke rumah Ummu Salmah. Setiba disana aku melihat Ali bin 
Abi Thalib sedang berdiri di pintu. Kami katakan kepadanya, bahwa kami hendak bertemu 
dengan Rasul Allah s.a.w. Ia menjawab, sebentar lagi beliau akan keluar. Waktu beliau keluar, 
kami segera berdiri. Kami lihat beliau bertopang pada Ali bin Abi Thalib dan menepuk-nepuk 
bahunya sambil berucap: "Engkau unggul dan akan tetap unggul, orang pertama yang beriman, 
seorang mukmin yang paling banyak mengetahui hari-hari Allah (hari-hari turunnya nikmat dan 
cobaan), paling setia menepati janji, paling adil dalam bertugas melakukan pembagian 
ghanimah, paling bercinta-kasih kepada rakyat, dan paling banyak menderita." 
Membela Kebenaran 
Di samping perjuangannya di bidang aqidah, ilmu dan pemikiran, Imam Ali r.a. juga terkenal 
sebagai seorang muda yang memiliki kesanggupan berkorban yang luar biasa besarnya. Ia 
mempunyai susunan jasmani yang sempurna dan tenaga yang sangat kuat. Sudah tentu, itu saja 
belum menjadi jaminan bagi seseorang untuk siap mempertaruhkan nyawanya membela 
kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Imannya yang teguh laksana gunung raksasa dan kesetiaannya 
yang penuh kepada Allah dan Rasul-Nya, itulah yang menjadi pendorong utama. 
Imam Ali r.a. tidak pernah menghitung-hitung resiko dalam perjuangan suci menegakkan Islam. 
Dengan jasmani yang tegap dan kuat, serta iman yang kokoh dan mantap, Imam Ali r.a. benar-benar 
mempunyai syarat fisik-materiil dan mental-spiritual untuk menghadapi tahap-tahap 
perjuangan yang serba berat. 
Di saat-saat Islam dan kaum muslimin berada dalam situasi yang kritis dan gawat, Imam Ali r.a. 
selalu tampil memainkan peranan menentukan. Selama hidup ia tak pernah mengalami hidup 
santai. Sejak muda remaja sampai akhir hayatnya, ia keluar masuk dari kesulitan ke kesulitan 
lain, dan dari pengorbanan ke pengorbanan yang lain. Namun demikian ia tak pernah menyesali 
nasib, bahkan dengan semangat pengabdian yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya, ia 
senantiasa siap menghadapi segala tantangan. Satu-satunya pamrih yang menjadi pemikirannya 
siang dan malam hanya ingin memperoleh keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Kesenangan hidup 
duniawi baginya bukan apa-apa dibanding dengan kenikmatan ukhrawi yang telah dijanjikan 
Allah s.w.t. bagi hamba-hamba-Nya yang berani hidup di atas kebenaran dan keadilan. 
berkali-kali imannya yang teguh diuji oleh Rasul Allah s.a.w. Tiap kali diuji, tiap kali itu juga 
lulus dengan meraih nilai yang amat tinggi. Ujian pertama yang maha berat ialah yang terjadi 
pada saat Rasul Allah s.a.w. menerima perintah Allah s.w.t. supaya berhijrah ke Madinah. 
Seperti diketahui, di satu malam yang gelap-gulita, komplotan kafir Qureiys mengepung 
kediaman Rasul Allah s.a.w. dengan tujuan hendak membunuh beliau, bilamana beliau 
meninggalkan rumah. Dalam peristiwa ini Imam Ali r.a. memainkan peranan besar: Ia diminta 
oleh Rasul Allah s.a.w. supaya tidur di atas pembaringan beliau menutup tubuhnya dengan 
28
selimut beliau guna mengelabui mata orang-orang Qureiys. Tanpa tawar-menawar Imam Ali r.a. 
menyanggupinya. Ia menangis bukan mencemaskan nyawanya sendiri, melainkan karena ia 
khawatir atas keselamatan Rasul Allah s.a.w. yang saat itu berkemas-kemas hendak hijrah 
meninggalkan kampung halaman. 
Melihat Imam Ali menangis, maka Rasul Allah bertanya: "Apa sebab engkau menangis, Apakah 
engkau takut mati?". 
Imam Ali r.a. dengan tegas menjawab: "Tidak, ya Rasul Allah! Demi Allah yang mengutusmu 
membawa kebenaran! Aku sangat khawatir terhadap diri anda. Apakah anda akan selamat, ya 
R,asul Allah?" 
"Ya," jawab Nabi Muhammad s.a.w. dengan tidak ragu-ragu. 
Mendengar kata-kata yang pasti dari Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. terus berkata: "Baiklah, 
aku patuh dan kutaati perintah anda. Aku rela menebus keselamatan anda dengan nyawaku, ya 
Rasul Allah!" 
Imam Ali r.a. segera menghampiri pembaringan Rasul Allah s.a.w. Kemudian berselunjur 
mengenakan selimut beliau untuk menutupi tubuhnya. Saat itu orang-orang kafir Qureiys sudah 
mulai berdatangan di sekitar rumah Rasul Allah s.a.w. dan mengepungnya dari segala jurusan. 
Dengan perlindungan Allah s.w.t. dan sambil membaca ayat 9 Surah Yaa Sin, beliau keluar 
tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang mengepung dan mengintai. Orang-orang Qureiys 
itu menduga, bahwa orang yang sedang berbaring dan berselimut itu pasti Nabi Muhammad 
s.a.w. Mereka yang mengepung itu mewakili suku-suku qabilah Qureiys yang telah bersepakat 
hendak membunuh Nabi Muhammad s.a.w. dengan pedang secara serentak. Dengan cara 
demikian itu, tidak mungkin Bani Hasyim dapat menuntut balas. 
Imam Ali r.a. mengerti benar kemungkinan apa yang akan diperbuat orang-orang kafir Qureiys 
terhadap dirinya karena ia tidur di pembaringan Rasul Allah s.a.w. Hal itu sama sekali tidak 
membuatnya sedih atau takut. Dengan kesabaran yang luar biasa, ia berserah diri pada Allah 
s.w.t. Ia yakin, bahwa Dia-lah yang menentukan segala-galanya. 
Menjelang subuh, Imam Ali r.a. bangun. Gerombolan Qureiys terus menyerbu ke dalam rumah. 
Dengan suara membentak mereka bertanya: "Mana Muhammad? Mana Muhammad?" 
"Aku tak tahu di mana Muhammad berada!" jawab Imam Ali r.a. dengan tenang. 
Gerombolan Qureiys itu segera mencari-cari ke sudut-sudut rumah. Usaha mereka sia-sia 
belaka. Gerombolan itu kecewa benar. Di dalam hati mereka bertanya-tanya: "Kemana ia 
pergi?" Dalam suasana gaduh Imam Ali r.a. bertanya: "Apa maksud kalian?" 
"Mana, Muhammad? Mana Muhammad?" mereka mengulang-ulang pertanyaan semula. 
"Apakah kalian mengangkatku menjadi pengawasnya?" ujar Imam Ali r.a. dengan nada 
memperolok-olok. "Bukankah kalian sendiri berniat mengeluarkannya dari negeri ini? sekarang 
ia sudah keluar meninggalkan kalian!" 
Ucapan Imam Ali r.a. sungguh-sungguh menggambarkan ketabahan dan keberanian hatinya. 
Cahaya pedang terhunus yang berkilauan, samasekali tidak dihiraukan, bahkan orang-orang 
Qureiys yang kalap itu dicemoohkan. Seandainya ada seorang saja dari gerombolan itu 
mengayunkan pedang ke arah Imam Ali r.a., entahlah apa yang terjadi. Tetapi Allah tidak 
menghendaki hal itu. 
Keesokan harinya, Imam Ali r.a. berkemas-kemas mempersiapkan segala sesuatu untuk 
29
berangkat membawa beberapa orang wanita Bani Hasyim, terutama Sitti Fatimah r.a., 
menyusul perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. dalam hijrahnya ke Madinah. 
Seperti telah diterangkan di muka, rombongan Imam Ali r.a. berangkat secara terang-terangan 
di siang hari. Setibanya di Dhajnan ia membuka babak konfrontasi bersenjata antara kaum 
muslimin dan kaum musyrikin. 
Imam Ali r.a. yang ketika itu berusia 26 tahun, merupakan orang pertama yang menghunus 
pedang untuk mematahkan agresi bersenjata orang-orang kafir Qureiys. Terbelahnya tubuh 
Jenah menjadi dua dan larinya 7 orang pasukan berkuda Qureiys yang semula mengejar 
rombongan, merupakan tonggak sejarah yang menandai akan datangnya masa cerah bagi kaum 
muslimin dan masa suram bagi kaum musyrikin. 
Bab IV-1 : Perang Badr 
Perang Badr merupakan perang pertama yang terpaksa diarungi oleh kaum muslimin 
menghadapi musuh yang jauh lebih besar jumlahnya. Perang ini merupakan demonstrasi 
pertama dari ketangguhan kaum muslimin melawan serangan kaum musyrikin Qureiys. Untuk 
pertama kalinya panji perang Rasul Allah s.a.w. berkibar di medan laga. Dan yang diberi 
kepercayaan memegang panji yang melambangkan tekad perjuangan menegakkan agama Allah 
s.w.t. itu, ialah Imam Ali bin Abi Thalib r.a. 
Tanpa pengalaman perang sama sekali dan dengan kekuatan pasukan yang hanya sepertiga 
kekuatan musuh, pasukan muslimin dengan kebulatan iman yang teguh berhasil menancapkan 
tonggak sejarah yang sangat menentukan perkembangan Islam lebih lanjut. Perlengkapan dan 
persenjataan kaum muslimin waktu itu boleh dibilang nol. Pasukan berkuda dan penunggang 
unta, yaitu pasukan yang dipandang paling ampuh dan "modern" pada masa itu, praktis tidak 
dipunyai oleh kaum muslimin. Demikian langkanya kuda dan unta dibanding dengan jumlah 
pasukan yang ada, sampai-sampai seekor unta dikendarai oleh dua hingga empat orang secara 
bergantian. Hanya ada seekor kuda yang tersedia, yaitu yang dikendarai oleh Al Miqdad bin Al 
Aswad Al Kindiy. Itulah kekuatan "kavaleri" Rasul Allah s.a.w. di dalam perang Badr. 
Dalam perang Badr itu pasukan muslimin tidak sedikit yang menerjang musuh hanya dengan 
senjata-senjata tajam yang sangat sederhana. Sedangkan musuh yang dilawan mempunyai 
persenjataan lengkap dengan kuda-kuda tunggang dan unta-unta. Tetapi sebenarnya kaum 
muslimin mempunyai senjata yang lebih ampuh dibanding dengan lawannya, yaitu 
kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. dan kepercayaan kuat bahwa Allah pasti akan memberikan 
pertolongan-Nya. Allahu Akbar. 
Perang Badr sebenarnya terjadi di luar rencana. Pada mulanya kaum muslimin di bawah 
pimpinan Rasul Allah s.a.w. bermaksud hendak mencegat kafilah Abu Sufyan bin Harb yang 
telah meninggalkan Makkah berangkat menuju negeri Syam, dan akan kembali ke Makkah lewat 
sebuah tempat bernama 'Usyaira. Di tempat itulah kaum muslimin siap menghadang, tetapi 
ternyata kafilah Abu Sufyan sudah lolos lebih dulu. 
Ketika peperangan mulai berkobar, Imam Ali bersama Hamzah bin Abdul Mutthalib dan 
beberapa orang lainnya, berada di barisan terdepan. Pada tangan Imam Ali r.a. berkibar panji 
perang Rasul Allah s.a.w. Ia terjun ke medan laga menerjang pasukan musuh yang jauh lebih 
besar dan kuat. Dalam perang ini untuk pertama kalinya kalimat "Allahu Akbar" berkumandang 
membajakan tekad pasukan muslimin. 
Saat itu terdengar suara musuh menantang: "Hai Muhammad suruhlah orang-orang yang 
berwibawa dari asal Qureiys supaya tampil!" 
Mendengar tantangan itu, laksana singa lapar Imam Ali r.a. meloncat maju ke depan mendekati 
suara yang menantang-nantang. Terjadilah perang tanding (duel) antara Imam Ali r.a. dengan 
Al Walid bin Utbah, saudara Hindun isteri Abu Sufyan. Dalam pertempuran yang seru itu, Al 
30
Walid mati di ujung pedang Imam Ali r.a. 
Dalam perang Badr ini 70 orang pasukan kafir Qureiys mati terbunuh, dan hampir separonya 
mati di ujung pedang Imam Ali r.a. Kecuali itu lebih dari 70 orang pemuka Qureiys berhasil 
ditawan dan digiring ke Madinah. Perang Badr yang berakhir dengan kemenangan kaum 
muslimin itu merupakan fajar pagi yang menandai pesatnya kemajuan agama Allah s.w.t. 
Bab IV-2 : Perang Uhud 
Dalam peperangan yang kedua ini, Rasul Allah s.a.w. menyerahkan panji kaum muhajirin 
kepada Imam Ali r.a. Sedangkan panji kum Anshar diserahkan kepada salah seorang di antara 
mereka sendiri. Peperangan Uhud terkenal dalam sejarah sebagai peperangan yang amat 
gawat. 700 pasukan muslimin harus berhadapan dengan 3.000 pasukan kafir Qureiys yang 
dipersiapkan dengan perbekalan dan persenjataan serba lengkap. Kecuali itu diperkuat pula 
dengan pasukan wanita di bawah pimpinan Hindun binti 'Utbah, isteri Abu Sufyan bin Harb, 
guna memberikan dorongan moril, agar orang-orang kafir Qureiys jangan sampai lari 
meninggalkan medan tempur. 
Untuk menghadapi kaum musyrikin yang sudah memusatkan kekuatan di Uhud, pasukan 
muslimin di bawah pimpinan Rasul Allah s.a.w. menuju ke tempat itu, dengan memotong jalan 
sedemikian rupa, sehingga gunung Uhud berada di belakang mereka. Kemudian Rasul Allah 
s.a.w. mulai mengatur barisan. 50 orang pasukan pemanah ditempatkan pada sebuah lembah di 
antara dua bukit. Kepada mereka diperintahkan supaya menjaga pasukan yang ada di belakang 
mereka. Ditekankan jangan sampai meninggalkan tempat, walau dalam keadaan bagaimanapun 
juga. Sebab hanya dengan senjata panah sajalah serbuan pasukan berkuda musuh dari belakang 
dapat ditahan. 
Perang Uhud mulai berkobar dengan tampilnya Imam Ali r.a. ke depan melayani tantangan 
Thalhah bin Abi Thalhah yang berkoar menantang-nantang: "Siapakah yang akan maju berduel?" 
Seperti api disiram minyak semangat Imam Ali r.a. membara. Dengan ayunan langkah tegap dan 
tenang, serta sambil mengeretakkan gigi, ia maju dengan pedang terhunus. Baru saja Thalhah 
bin Abi Thalhah menggerakan tangan hendak mengayun pedang, secepat kilat pedang Imam Ali 
r.a. "Dzul Fikar" menyambarnya hingga terbelah dua. Betapa bangga Rasul Allah s.a.w. 
menyaksikan ketangkasan putera pamannya itu. Ketika itu kaum muslimin yang menyaksikan 
kesigapan Imam Ali r.a., mengumandangkan takbir berulang-ulang. 
Dengan tewasnya Thalhah bin Ahi Thalhah, pertarungan sengit berkecamuk antara dua pasukan. 
Sekarang Abu Dujanah tampil dengan memakai pita maut di kepala dan pedang terhunus di 
tangan kanan yang baru saja diserahkan oleh Rasul Allah s.a.w. kepadanya. Ia seorang yang 
sangat berani. Laksana harimau keluar dari semak belukar ia maju menyerang musuh dan 
membunuh siapa saja dari kaum musyrikin yang berani mendekatinya. Bersama Abu Dujanah, 
Imam Ali r.a. mengobrak-abrik barisan musuh. 
Dalam pertempuran ini Hamzah bin Abdul Mutthalib tidak kalah semangat dibanding dengan 
putera saudaranya sendiri, Imam Ali r.a., dan Abu Dujanah. Hamzah demikian lincah dan 
tangkas melabrak pasukan musyrikin dan menewaskan tiap orang yang berani mendekat. Ia 
terkenal sebagai pahlawan besar dalam menghadapi musuh. Sama seperti dalam perang Badr, 
dalam perang Uhud ini Hamzah benar-benar menjadi singa dan merupakan pedang Allah yang 
sangat ampuh. Banyak musuh yang mati di ujung pedangnya. 
Dalam pertempuran antara 700 pasukan muslimin melawan 3000 pastikan musyrikin itu, kita 
saksikan kejantanan trio Imam Ali r.a., Hamzah dan Abu Dujanah. Mereka merupakan tauladan 
dan wujud dari kekuatan moril yang sangat tinggi. Suatu kekuatan yang membuat pasukan 
Qureiys menderita kehancuran mental, mundur dan surut. 
Tiap panji mereka lepas dari tangan pemegangnya dan diganti oleh pemegang panji yang lain, 
31
tiap kali itu juga dipangkas habis oleh tiga sejoli pahlawan Islam itu. Thalhah bin Abi Thalhah 
kepalanya dibelah dua oleh Imam Ali r.a. Utsman bin Abi Thalhah dipotong gembungnya oleh 
Hamzah, Abu Saad lolos dari ujung pedang Abu Dujanah dan berusaha merebut panji musyrikin 
Qureiys yang sudah dirobek-robek oleh Abu Dujanah, tetapi keburu dipisahkan kepalanya dari 
batang tubuhnya oleh Imam Ali r.a. Sembilan orang pemegang panji musyrikin Qureiys tewas 
berturut-turut di ujung pedang Imam Ali r.a., Hamzah dan Abu Dujanah. 
Mental pasukan Qureiys sudah patah sama sekali. Pasukan wanita mereka lari terbirit-birit. 
Berhala-berhala yang mereka bawa untuk dimintai restu dalam peperangan, sekarang sudah 
jatuh terpelanting dari punggung unta. Dalam keadaan masing-masing lari untuk 
menyelamatkan diri, semua perbekalan yang mereka bawa dari Makkah ditinggalkan dan 
senjata-senjata di buang di kiri-kanan jalan. 
Alangkah banyaknya barang-barang itu. Hal ini membuat pasukan muslimin lengah dan lupa 
daratan. Fikiran mereka sudah teralih kepada kekayaan duniawi. Pasukan pemanah yang di 
wanti-wanti supaya jangan sampai meninggalkan tempat, walau dalam keadaan bagaimanapun 
juga, sekarang mulai mengarahkan pandangan-mata kepada teman-teman yang sedang sibuk 
mengangkuti barang-barang rampasan. Melihat barang-barang sedemikian banyaknya, mereka 
tak dapat lagi menahan air liur. Bahkan khawatir kalau-kalau tak akan mendapat bagian! 
Sebagian besar pasukan pemanah itu turun meninggalkan lereng gunung untuk ikut ambil 
bagian dalam kesibukan mengumpulkan barang-barang peninggalan musuh. Pesan Rasul Allah 
s.a.w. mereka lupakan. Apalagi yang harus dikerjakan, tokh peperangan sudah kita menangkan? 
Begitulah fikir mereka. Pada saat itulah Khalid bin Al Walid, seorang komandan pasukan 
berkuda Qureiys, mengambil kesempatan untuk menyerbu dari belakang kaum muslimin yang 
sedang memperebutkan barang rampasan. 
Khalid bin Al Walid melancarkan serangan sengit. Bencana berbalik menimpa kaum muslimin. 
Setelah melihat situasi berubah, orang-orang kafir Qureiys yang lari kembali lagi dan melakukan 
serangan dahsyat, hingga pasukan muslimin terpaksa melemparkan barang-barang dan senjata 
rampasan yang baru dikumpulkan. Mau tidak mau kaum muslimin sekarang harus menghunus 
pedang guna menangkis. 
Sayang seribu sayang. Mereka hanya berjuang untuk menyelamatkan diri dari ancaman maut. 
Iman mereka menjadi kendor, barisan tercerai-berai, terpisah dari pimpinan Rasul Allah s.a.w. 
Keadaan mereka sudah sedemikian kacau dirangsek oleh serangan musuh, sehingga tak aneh 
kalau sampai terjadi pedang seorang muslim tanpa disengaja mengenai saudaranya sendiri. 
Di saat-saat yang genting seperti itu, Imam Ali r.a. dan para sahabat lainnya segera melindungi 
Rasul Allah s.a.w. Dengan segenap kekuatan yang ada mereka menangkis tiap serangan yang 
datang, guna menyelamatkan Rasul Allah s.a.w. Semua sudah bertekad hendak mati syahid, 
lebih-lebih setelah melihat Rasul Allah s.a.w. terkena lemparan batu besar yang dicampakkan 
oleh 'Utbah bin Abi Waqqash. Akibat lemparan batu itu geraham Rasul Allah s.a.w. patah, 
wajahnya pecah-pecah, bibirnya luka parah, dan dua buah kepingan rantai topi besi yang 
melindungi wajah beliau menembus pipinya. 
Setelah dapat menguasai diri kembali, Rasul Allah s.a.w. berjalan perlahan-lahan dikelilingi 
oleh sejumlah sahabat. Tiba-tiba beliau terperosok ke dalam sebuah liang yang sengaja digali 
oleh Abu 'Amir untuk menjebak pasukan muslimin. Imam Ali r.a. bersama beberapa orang 
sahabat lainnya cepat-cepat mengangkat beliau. Kemudian dibawa naik ke gunung Uhud untuk 
diselamatkan dari pengejaran musuh. Di celah-celah bukit, Imam Ali r.a. mengambil air untuk 
membasuh wajah Rasul Allah s.a.w. dan menyirami kepala beliau. Dua buah kepingan rantai 
besi yang menancap dan menembus pipi beliau dicabut oleh Abu Ubaidah bin Al Jarrah dengan 
giginya, sampai dua buah gigi-serinya tanggal. 
32
Kaum musyrikin Quxeiys dengan kemenangan itu merasa sudah sungguh-sungguh berhasil 
menebus kekalahan dalam perang Badr. Seperti yang dikatakan oleh Abu Sufyan: "Yang 
sekarang ini untuk menebus peristiwa perang Badr. Sampai jumpa lagi tahun depan!" 
Akan tetapi isterinya yang bernama Hindun binti 'Utbah belum merasa cukup dengan 
kemenangan itu. Dan belum puas kalau hanya mendengar berita tentang tewasnya Hamzah bin 
Abdul Mutthalib, yang telah membunuh seorang saudaranya dalam perang Badr. Bersama 
beberapa orang wanita lain ia mencari-cari mayat kaum muslimin. Mereka memotongi telinga 
dan hidung mayat-mayat itu dan dijadikan barang mainan. Tidak itu saja, mayat Hamzah 
dibedah perutnya, dikeluarkan jantungnya (hatinya), lalu dikunyah-kunyah, tetapi ia tak 
sampai dapat menelannya. Demikian kejam dan sadisnya Hindun itu, yang kemudian ditiru oleh 
teman-temannya, bahkan tidak sedikit pula orang lelaki musyrikin Qureiys meniru sadisme 
Hindun. 
Dari sangat kejinya perbuatan mereka itu, sampai pemimpin mereka, yakni suaminya Hindun, 
yaitu Abu Sufyan tidak mau bertanggung-jawab dan berusaha mencuci-tangan. Meskipun Abu 
Sufyan telah mencuci-tangan, namun kekotoran dirinya tak dapat disembunyikan. Inilah kata-kata 
Abu Sufyan: "Mayat-mayat kalian mengalami penganiayaan. Aku sungguh tidak senang, 
tetapi juga tidak benci. Aku tidak memerintahkan, tetapi juga tidak melarang." 
Perang Uhud benar-benar memberi pelajaran berharga kepada kaum muslimin. Daya tarik 
keduniaan hampir saja menghancurkan kaum muslimin yang masih pada awal pertumbuhannya. 
Bab IV-3 : Perang Ahzab (Kandhaq) 
Perang ini menjadi abadi dan masyhur dalam sejarah Islam, antara lain karena diikuti dengan 
turunnya firman Allah s.w.t. sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an (Surah Al-Ahzab). Untuk 
pertama kalinya dalam usia yang masih muda, kaum muslimin di Madinah dikepung oleh kurang 
lebih 10.000 orang pasukan musyrikin, yang terdiri dari berbagai suku dan qabilah. Pasukan itu 
diperkuat lagi oleh kaum Yahudi Banu Quraidhah, yang mengkhianati perjanjian perdamaian 
dengan Rasul Allah s.a.w. Mereka ini bergabung dengan pasukan musyrikin Qureiys yang 
membeludak dari Makkah guna mengepung kota Madinah. 
Peperangan tersebut dinamakan juga perang Khandaq (Parit), karena untuk menanggulangi 
penyerbuan kaum musyrikin Qureiys atas usul dan prakarsa Salman Al Farisi, dengan 
persetujuan Rasul Allah s.a.w., kaum muslimin menggali parit-parit yang cukup lebar dan 
dalam di sekitar pinggiran kota Madinah 
Di perang Khandaq ini keampuhan dan ketangkasan Imam Ali r.a. juga teruji dalam perang 
tanding melawan seorang pendekar Qureiys yang terkenal ulung, yaitu 'Amr bin Abdu Wudd 
Al'Amiri. 'Amr seorang prajurit berkuda yang gesit dan lincah bermain pedang atau tombak. 
Dengan congkak dan sombong 'Amr bin Abdu Wudd berani maju ke depan menyeberangi parit 
pertahanan kaum muslimin, lewat bagian yang agak dangkal dan sempit. Sambil membanggakan 
kebolehannya mengendalikan kuda, ia berteriak menantang: "Hai . . . Apakah tak seorang pun 
yang berani keluar untuk bertanding?" 
Tantangan dari seorang jagoan yang garang itu tidak ditanggapi oleh pasukan muslimin. Kaum 
muslimin banyak yang mengenal siapa 'Amr bin Abdu Wudd itu dan betapa tenar namanya 
sebagai pendekar yang mahir berperang tanding. 
Setelah melihat kenyataan tak ada seorang pun yang menanggapi tantangan 'Amr, Imam Ali r.a. 
tidak tahan lagi menahan perasaan geramnya. Ia segera berdiri dan berkata kepada Rasul Allah 
s.a.w.: "Ya Rasul Allah, biarlah saya yang menandingi dia!" 
Rasul Allah s.a.w. yang mengetahui benar ' Amr itu seorang pendekar yang kenyang makan 
"garam" perang tanding, beranggapan, bahwa 'Amr bukanlah tandingan bagi saudara misannya 
yang baru berusia kurang dari 30 tahun. Karena itu maka beliau menyahut: "Duduk sajalah 
33
engkau, dia adalah 'Amr!" 
Karena tidak ada juga jawaban dari fihak muslimin, mak 'Amr yang beringas itu berkoar lagi: 
"Mana itu sorga yang akan kalian masuki bila kalian mati terbunuh, hah?!" 
Ejekan itu terasa seperti sembilu yang sangat mengiris-iris hati kaum muslimin, tetapi mereka 
tetap diam. Dengan darah muda yang mendidih laksana lahar yang menyembur dari kepundan, 
Imam Ali r.a. tidak dapat lagi menahan gejolak hatinya mendengar penghinaan yang sangat 
menyakitkan itu. Ia mendesak lagi kepada Rasul Allah s.a.w.: "Biarlah saya yang 
menghadapinya; ya Rasul Allah!" 
Tetapi Rasul Allah s.a.w. kembali memerintahkan supaya Imam Ali r.a. duduk dan tenang, 
sebab yang akan dihadapinya bukan sembarang orang. Dengan perasaan yang sudah terbakar 
dan dengan nada gemas, Imam Ali r.a. berusaha meyakinkan Rasul Allah s.a.w. bahwa ia 
sanggup melawan dedengkot kaum musyrikin itu: "Biar 'Amr sekalipun ya Rasul Allah!" 
Mengingat tekad Imam Ali r.a. yang begitu bulat, dan mengingat pula perlu membangkitkan 
keberanian kaum muslimin, akhirnya Rasul Allah s.a.w. memberi izin dan restu kepada Imam 
Ali r.a. untuk tampil ke depan. Imam Ali r.a. dengan hangat menyambut persetujuan dan idzin 
Rasul Allah s.a.w. Ia segera meloncat ke depan menyongsong tantangan seorang lawan yang 
bukan sembarangan. Dengan mengenakan baju besi dan menghunus pedangnya yang tersohor 
dengan nama "Dzul Fiqar", Imam Ali r.a. maju dengan ayunan langkah yang tegap dan diiringi 
doa Rasul Allah s.a.w.: "Ya Allah, dia adalah saudaraku dan putera pamanku. Janganlah 
Kaubiarkan aku seorang diri tanpa dia. Sesungguhnya Engkau tempat aku berserah diri yang 
sebaik-baiknya." 
Setelah berhadap-hadapan dengan 'Amr, tanpa perasaan gentar sedikit pun Imam Ali r.a. 
bertanya kepada 'Amr: "Hai 'Amr, bukankah engkau pernah berjanji, bahwa engkau akan 
menerima ajakan seorang dari Qureiys untuk menempuh salah satu di antara dua jalan hidup?" 
"Ya!" jawab 'Amr dengan singkat dan angkuh. 
"Engkau kuajak. ke jalan Allah dan Rasul-Nya, ke jalan Islam", kata Imam Ali r.a. melanjutkan. 
Kata-kata Imam Ali r.a. ini diucapkan dengan suara lantang yang memecahkan kesunyian garis 
pertempuran. Hampir semua mata dua pasukan yang siap tempur tertuju kepada dua sosok 
tubuh yang sedang berhadap-hadapan. 
'Amr bin Abdu Wudd yang sudah cukup usia, garang dan banyak pengalaman menghadapi perang 
tanding kini bertatap muka dengan seorang anak muda yang berdiri tegak di hadapannya. 
Pemuda pemberani, jantan dan perkasa, berbaju besi dengan pedang terhunus di tangan. 
Sungguh anggun kelihatannya. Konfrontasi antara dua orang itu melambangkan konfrontasi dari 
dua kekuatan yang berlawanan. Kekuatan lama yang sudah lapuk dan kekuatan baru yang 
sedang tumbuh, yaitu kekuatan jahiliyah dan kekuatan lslam. 
Mendengar pertanyaan yang bernada desakan itu, dengan cepat 'Amr menyahut: "Aku tidak 
membutuhkan itu!" 
"Kalau begitu, mari kita mulai bertanding!" tantang Imam Ali r.a. sambil siaga menghadapi 
gerakan 'Amr. Akan tetapi tantangan Imam Ali r.a. yang serius itu diremehkan saja oleh 'Amr: 
"Aku tak suka menumpahkan darahmu. Ayahmu kan teman karibku!" 
Tanpa memperdulikan ucapan 'Amr, Imam Ali r.a. dengan perasaan tak sabar lagi berucap: 
"Tetapi, demi Allah, aku justru ingin membunuhmu!" 
Ucapan seorang muda yang dianggap ketus oleh 'Amr itu, ternyata membangkitkan amarah dan 
34
meluapkan emosinya. Cepat saja darah perang yang mengalir dalam tubuh 'Amr mendidih. 
Naluri keprajuritannya secara cepat menyentakkan gerak refleksi dan langsung seketika itu 
juga Imam Ali r.a. diserang. Demikian gesit dan tangkasnya 'Amr mengayunkan pedang dengan 
dorongan tenaga yang luar biasa. Tetapi Imam Ali r.a. tidak kalah tinggi nalurinya dan gerak 
refleksinya. 
'Amr yang sejak semula meremehkan lawan, ternyata sia-sia belaka dalam mengerahkan segala 
kekuatan ototnya untuk menebas leher Imam Ali r.a. Kesempatan yang meleset itu 
dipergunakan sebaik-baiknya oleh Imam Ali r.a. Ia mengelak, menangkis dan menyerang dalam 
gerak beruntun secara kilat. Pada saat 'Amr kehilangan keseimbangan badan, Pedang Dzul Fiqar 
yang diayun kuat-kuat oleh Imam Ali r.a. menyambar bahu kanan 'Amr sampai terbelah dua. 
Pendekar kebanggaan Qureiys itu jatuh dari atas kuda menggelepar di tanah mandi darah dan 
debu. 
Perang tanding berlangsung demikian cepat dan selesai jauh lebih cepat dari yang diperkirakan 
orang. Pada mulanya banyak yang menduga bahwa Imam Ali r.a. yang "masih hijau" itu akan 
"dibelah dua" oleh pedang 'Amr. Oleh karena itu ketika jagoan Qureiys itu tersungkur tidak 
bangkit kembali, banyak orang dari kedua pasukan terkesima. Hampir saja mereka, tidak 
mempercayai apa yang sudah terjadi. Baru setelah Imam Ali r.a. menyerukan takbir, kaum 
muslimin menyambutnya dengan mengumandangkan kebesaran Allah: Allaahu Akbar ...Allaahu 
Akbar.... ! 
Tanpa perasaan sombong dan tinggi hati Imam Ali r.a. kemudian menuju ke tempat Rasul Allah 
s.a.w. Dengan perasaan haru dan syukur ke hadirat Allah s.w.t., Rasul Allah s.a.w. 
mengeluarkan pernyataan singkat: "Perang tanding yang dilaksanakan oleh Ali bin Abi Thalib 
melawan 'Amr bin Abdu Wudd itu merupakan perbuatan paling mulia yang dilakukan umatku 
sampai hari kiyamat." 
Akan tetapi terbunuhnya jagoan Qureiys belum menyelesaikan jalannya perang Khandaq. 
Namun terbunuhnya tokoh Qureiys itu menimbulkan kegoncangan yang hebat di kalangan 
pasukan penyerbu. Semangat pasukan penyerbu makin merosot, setelah harapan mereka untuk 
dapat menerobos parit makin tipis. 
Dalam keadaan seperti itu terjadilah angin ribut dan hujan deras diiringi suara petir sambar-menyambar. 
Kemah-kemah dan perkakas-perkakas masak kaum musyrikin beterbangan dilanda 
angin kencang. Kubu pertahanan mereka menjadi porak poranda dan banyak sekali diantara 
mereka yang tak tahan menghadapi tekanan udara dingin. 
Di tengah-tengah hembusan angin puyuh seribut itu, Abu Sufyan yang dalam perang Khandaq ini 
bertindak selaku rimpinan pasukan penyerbu, berkata kepada anak buahnya: "Saudara-saudara, 
kita tak perlu lama lagi tinggal di tempat ini. Banyak kuda dan unta kita yang sudah binasa. 
Bani Quraidah sudah tak menepati janjinya lagi dengan kita. Bahkan kita mendengar hal-hal 
dari mereka yang tidak menyenangkan hati. Tambah lagi kita menghadapi angin kencang begini 
ributnya. Maka itu lebih baik kita pulang saja. Aku sendiri akan berangkat pulang!" 
Di tengah-tengah angin puyuh yang begitu kencangnya, Abu Sufyan dan rombongan secara 
bergelombang meninggalkan tempat dan kembali ke Makkah. Keesokan harinya sudah tak ada 
lagi seorang Qureiys atau Yahudi yang masih tinggal. Semuanya sudah jauh meninggalkan parit. 
Rasul Allah bersama kaum muslimin lainnya dengan tenang kembali ke tempat kediaman 
masing-masing. Semuanya memanjatkan syukur sedalam-dalamnya kepada Allah s.w.t. yang 
telah menghindarkan mereka dari marabahaya. 
Perjanjian Hudaibiyah 
Beberapa waktu sesudah perang Ahzab (Khandaq), Rasul Allah s.a.w. berangkat membawa 
kaum muslimin kurang lebih 1500 orang. Beliau berangkat ke Makkah bukan dengan maksud 
35
untuk berperang, melainkan untuk menunaikan ibadah haji. Tak ada sebilah pedang yang 
terhunus. 
Berita tentang keberangkatan Rasul Allah s.a.w. ini sampai juga kepada kaum Qureiys. 
Mendengar berita itu kaum Qureiys segera membikin persiapan. Mereka khawatir kalau-kalau 
keberangkatan Rasul Allah s.a.w. itu hanya merupakan tipu muslihat untuk menyerbu Makkah. 
Khalid bin Al Walid dan pasukannya menghadang kaum muslimin di tempat beberapa mil 
jauhnya di luar kota Makkah. 
Rasul Allah s.a.w. setelah mendengar berita gerak-gerik pasukan Qureiys itu tetap melanjutkan 
perjalanan. Untuk menghindari konflik senjata beliau dengan sejumlah sahabat menempuh 
jalan lain, meskipun jalan itu agak sulit dilewati. Akhirnya beliau tiba di sebuah tempat 
bernama Hudaibiyah. 
Mengetahui perkembangan baru yang ditempuh oleh rombongan Rasul Allah s.a.w. Khalid bin 
A1 Walid dan pasukannya segera kembali ke Makkah untuk mempertahankan kota. Ketika itu 
semua orang Qureiys sudah dihinggapi kegelisahan dan khawatir menghadapi kaum muslimin. 
Walaupun begitu mereka tetap bertekad hendak mencegah masuknya rombongan Rasul Allah 
s.a.w. dengan cara apa saja. 
Selang beberapa hari, fihak Qureiys mengirim utusan kepada Nabi Muhammad s.a.w. guna 
mengetahui benar-benar apa yang sesungguhnya menjadi maksud kedatangan beliau dan 
rombongan. Setelah melakukan dialog seperlunya, perutusan itupun kembali. Mereka percaya, 
bahwa kedatangan kaum muslimin benar-benar hendak menunaikan ibadah haji. Sewaktu hal 
itu dilaporkan, kaum musyrikin Qureiys tak mempercayainya. Malahan perutusan itu dituduh 
berkhianat hendak membantu Rasul Allah s.a.w. 
Kaum musyrikin mengirim utusan lagi dipimpin seorang gembong terkemuka. Hasilnya sama 
saja dengan perutusan yang pertama: Kaum musyrikin Qureiys masih tak percaya. Kini dikirim 
utusan seorang saja, yaitu 'Urwah bin Mas'ud Ats Tsaqafiy. Sekembalinya dari perundingan 
dengan Nabi Muhammad s.a.w., 'Urwah mengemukakan kepada kaum musyrikin Qureiys, bahwa 
"Rasul Allah s.a.w. menawarkan satu rencana yang baik, oleh sebab itu terimalah!" 
Sejalan dengan itu Rasul Allah sendiri kemudian mengirim seorang utusan, yaitu Kharrasiy Al 
Khuza'iy guna menemui orang Qureiys. Musyrikin Qureiys tidak mau menerima utusan itu. 
Bahkan unta kendaraannya dibantai dan hampir saja ia dibunuh, kalau tidak dicegah oleh salah 
seorang gembong Qureiys. 
Rasul Allah s.a.w. berusaha terus. Kali ini yang dikirim Utsman bin Affan r.a. Ia baru masuk 
Makkah setelah ada jaminan dari anak pamannya, Aban bin Sa'id Al Ash. Dalam pertemuannya 
dengan orang-orang Qureiys, Utsman bin Affan menjelaskan maksud kedatangan Rasul Allah 
s.a.w. dan rombongan tidak lain hanya ingin menunaikan ibadah haji. 
Kaum musyrikin Qureiys memang kepala batu. Utsman bin Affan mereka tahan selama 3 hari. Di 
kalangan kaum muslimin terdengar desas-desus bahwa Utsman bin Affan telah mati dibunuh. 
Untuk menghadapi kemungkinan Utsman bin Affan r.a. benar-benar dibunuh oleh orang-orang 
Qureiys, Nabi Muhammad berseru kepada para sahabatnya supaya menyatakan janji setia 
(bai'at) guna melancarkan serangan menuntut bela melawan penghianatan Qureiys. Kaum 
muslimin berlomba-lomba menyambut seruan beliau. Mereka siap memanggul senjata untuk 
berperang melawan Qureiys. 
Janji setia kaum muslimin kepada Rasul Allah s.a.w. yang bersejarah itu dilakukan oleh mereka 
di bawah sebatang pohon. Peristiwa itu dikenal dengan nama "Bai'atur Ridhwan" (janji setia 
yang diridhoi Allah). Satu peristiwa yang dipuji Allah s.w.t., seperti yang termuat dalam S. Al 
Fath:l8 (A1 Qur'an). 
36
Mendengarkan kebulatan tekad kaum muslimin di bawah pimpinan Rasul Allah s.a.w. itu, kaum 
musyrikin Qureiys merasa gentar. Mereka sudah mengenal betapa gigihnya kaum muslimin 
berperang, seperti yang telah dibuktikan pada masa-masa yang lalu. Musyrikin Qureiys 
mengirim utusan yang dipimpin oleh Suhail bin Amr. Setelah perutusan itu mengadakan 
perundingan dengan Rasul Allah s.a.w., dua belah fihak sepakat untuk menanda-tangani sebuah 
perjanjian gencatan senjata. 
Nabi Muhammad s.a.w. memerintahkan Imam Ali r.a. supaya menuliskan nashah perjanjian 
yang akan ditanda-tangani oleh kedua belah fihak. Sedangkan beliau sendiri mendiktekan 
syaratsyarat yang telah disetujui bersama. Pertama-tama beliau berkata: "Tulislah: "Bismillaahi 
ar-Rahman ar-Rahim . . ." 
Mendengar kalimat itu Suhail menukas: "Berhenti dulu. Aku tidak mengerti apa ar-Rahman ar- 
Rahim" itu! Tulis saja "Dengan nama-Mu, ya Allah. . ." 
Tanpa menyangkal lagi Rasul Allah s.a.w. memerintahkan Imam Ali r.a. supaya menulis apa 
yang diminta oleh Suhail. Kemudian beliau meneruskan, "Tulislah: 'Inilah perjanjian yang 
diadakan oleh Muhammad Rasul Allah dengan Suhail bin 'Amr'…" 
Suhail memotong "Berhenti dulu. Kalau aku percaya engkau Rasul Allah, tentu aku tidak akan 
memerangimu. Tuliskan saja namamu dan nama ayahmu...!" 
Rasul Allah menuruti apa yang diminta oleh Suhail. Beliau memerintahkan Imam Ali r.a. supaya 
menuliskan kalimat: "Inilah perjanjian yang telah disepakati Muhammad bin Abdullah..." dst. 
Kemudian dilanjutkan dengan penulisan teks syarat-syarat perjanjian yang terdiri dari empat 
pokok: 
1. Perjanjian gencatan senjata antara kedua belah fihak berlaku selama masa 10 tahun. 
2. Jika ada orang dari fihak Qureiys memeluk Islam kemudian bergabung dengan Rasul Allah 
s.a.w. tanpa seizin Qureiys, orang itu akan dikembalikan oleh Rasul Allah kepada Qureiys. 
Sebaliknya jika ada orang dari fihak Rasul Allah yang murtad dan kembali ke fihak Qureiys, 
orang itu oleh Qureiys tidak akan dikembalikan kepada Rasul Allah. 
3. Jika ada orang Arab ingin bersekutu dengan Rasul Allah, dibolehkan. Dan apabila ada orang-orang 
Arab lain ingin bersekutu dengan kaum Qureiys, ia bebas berbuat demikian. 
4. Rasul Allah dengan para pengikutnya harus pulang meninggalkan Makkah. Mereka berhak 
untuk kembali lagi ke Makkah pada musim haji yang akan datang untuk berziarah ke Baitul 
Haram, dengan syarat: mereka hanya akan tinggal di Makkah selama 3 hari, dan tidak akan 
mengeluarkan pedang dari sarungnya. 
Tidak lama setelah "Perjanjian Hudaibiyah" itu ditandatangani, Banu Khuza'ah segera 
menyatakan bersekutu dengan Rasul Allah s.a.w. Sedangkan Banu Bakr menyatakan bersekutu 
dengan fihak Qureiys. 
Dengan perjanjian tersebut kaum muslimin memperoleh kesempatan leluasa untuk menyiarkan 
agama Islam kepada orang-orang Arab di luar kaum musyrikin Qureiys, dan memperoleh waktu 
yang cukup untuk membangun dan memperkuat negeri. 
Bab IV-4 : Perang Khaibar 
Walaupun Rasul Allah s.a.w. telah mengadakan perjanjian perdamaian dengan musyrikin 
Qureiys (Perjanjian Hudaibiyah), namun beliau berfikir, bahwa keamanan dan keselamatan 
kaum muslimin belum terjamin, selama masih ada kekuatan-kekuatan anti Islam yang bercokol 
di utara Madinah. Kekuatan itu ialah kaum Yahudi yang mempunyai beberapa benteng di 
37
Khaibar. 
Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, orang-orang Yahudi memang tidak dapat dipercaya 
kejujurannya dalam melaksanakan perjanjian perdamaian. Peristiwa pengkhianatan itu telah 
terjadi beberapa kali dilakukan oleh orang-orang Yahudi dari Banu Quraidah, Bani Qainuqa' dan 
Bani Nadhir. 
Sekarang tibalah saatnya untuk mematahkan kekuatan terakhir kaum Yahudi, yang selama ini 
dirasakan sebagai duri di dalam daging. Tanpa membuang-buang waktu, Rasul Allah 
mempersiapkan pasukan sebanyak 1600 orang dan 100 pasukan berkuda guna diberangkatkan ke 
Khaibar. Setelah berjalan tiga hari tibalah pasukan muslimin di depan perbentengan Khaibar. 
Mereka telah berada di depan benteng Natat. 
Esok paginya pertempuran mati-matian mulai berkobar. 50 orang dari pasukan muslimin gugur 
dan dari fihak Yahudi lebih banyak lagi, termasuk pemimpin Yahudi Khaibar, yaitu Salam bin 
Misykam. Setelah Salam terbunuh pimpinan Yahudi dipegang oleh Harits bin Abi Zainab. Ia 
keluar dari benteng Na'im bersama sejumlah pasukan dengan maksud hendak menggempur 
kaum muslimin. 
Pasukan Muslimin yang terdiri dari orang-orang Khazraj berhasil memukul mundur pasukan 
Harits sampai mereka masuk ke dalam benteng. Pasukan muslimin makin memperketat 
pengepungan atas beberapa benteng Khaibar. Pihak Yahudi bertahan mati-matian. Bagi 
mereka, jika kali ini kalah, berarti penumpasan terakhir Bani Israil di negeri Arab. 
Pengepungan itu berlangsung selama beberapa hari. Untuk melancarkan serangan, Rasul Allah 
s.a.w. menyerahkan panji peperangan kepada Abu Bakar As Shiddiq r.a. Dengan tugas supaya 
menyerbu dan merebut benteng Na'im. Setelah terjadi pertempuran, Abu bakar r.a. kembali 
tanpa berhasil mendobrak benteng tersebut. Keesokan harinya, Rasul Allah s.a.w. menugaskan 
Umar Ibnul Khattab r.a. Iapun mengalami nasib yang sama seperti Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. 
Sekarang Imam Ali r.a. dipanggil oleh Rasul Allah s.a.w. seraya berkata: "Pegang panji ini dan 
bawa terus sampai Allah memberikan kemenangan kepadamu!" 
Imam Ali r.a. berangkat membawa panji Rasul Allah s.a.w. Setibanya dekat benteng, penghuni 
benteng itu keluar serentak menghadapinya. Ketika itu juga terjadi pertempuran. Salah 
seorang Yahudi berhasil memukul Imam Ali r.a. sampai perisai yang ada di tangannya terpental. 
Tetapi dengan gerakan kilat Imam Ali r.a. segera menjebol salah sebuah daun pintu yang ada di 
benteng dan dengan berperisaikan daun pintu itu terus menerjang dan menggempur. Akhirnya 
benteng itu dapat didobrak, dan daun pintu yang dipegangnya dijadikan jembatan. Dengan 
jembatan itu kaum muslimin menyeberang serentak dan menyerbu ke dalam benteng. 
Kaum Yahudi bertahan mati-matian. Benteng Na'im itu baru jatuh sepenuhnya, setelah 
komandan pasukan Yahudi, Harits bin Abi Zainab mati terbunuh. 
Peristiwa pertempuran itu menunjukkan betapa uletnya kaum Yahudi bertahan, dan 
menunjukan pula tingginya semangat juang kaum muslimin dalam perang Khaibar. Dengan 
jatuhnva benteng Na'im, praktis tidak banyak lagi kesukaran bagi kaum muslimin untuk 
menjebol dan mengobrak-abrik benteng-benteng Khaibar lainnya yang masih tinggal, seperti 
benteng Qamus, benteng Sha'b dan lain-lain yang tidak seberapa kokoh. 
Dengan jatuhnya semua benteng Yahudi di Khaibar, perasaan putus asa merayap di dalam hati 
mereka, kemudian mereka minta damai. Semua harta benda yang ada di dalam perbentengan 
diserahkan kepada Rasul Allah s.a.w. sebagai barang ghanimah, dengan syarat mereka 
diselamatkan. Rasul Allah s.a.w. menerima usul dan menyetujui permintaan mereka itu. 
Mereka dibiarkan tetap tinggal di kampung-halaman mereka, mengerjakan tanah yang kini 
menjadi milik kaum muslimin. Sebagai imbalan mereka mendapat upah separuh dari hasil 
38
tanaman. 
Jatuhnya Makkah 
Belum sampai setahun Perjanjian Hudaibiyah berlaku, terjadi bentrokan senjata antara Bani 
Khuza'ah yang bersekutu dengan Rasul Allah s.a.w. dan Banu Bakr yang bersekutu dengan fihak 
Qureiys. Bentrokan itu terjadi akibat adanya seorang dari Banu Bakr yang mengejek-ejek Rasul 
Allah s.a.w. di depan seorang dari Banu Khuza'ah. Oleh orang dari Banu Khuza'ah, orang dari 
Banu Bakr itu dipukul. Gara-gara pemukulan itu, bergeraklah orang-orang Banu Bakr menyerang 
orang-orang Banu Khuza'ah. Permusuhan lama di antara dua qabilah itu memang sudah ada. 
Dalam serangan itu, Banu Bakr dibantu langsung oleh musyrikin Qureiys, hingga jatuh korban 
tidak sedikit di kalangan Banu Khuza'ah. 
Untuk menanggulangi serangan Banu Bakr yang mendapat bantuan Qureiys, Banu Khuza'ah 
minta bantuan Rasul Allah s.a.w. Beliau menyatakan kesediaannya untuk membantu Banu 
Khuza'ah. 
Mendengar ketegasan sikap Rasul Allah s.a.w. yang akan membantu Banu Khuza'ah, orang-orang 
Qureiys di Makkah cemas dan takut. Mereka mengirim Abu Sufyan ke Madinah untuk menghadap 
Rasul Allah s.a.w. Tujuan Abu Sufyan ialah untuk memperbaiki keadaan dan mengokohkan 
perjanjian Hudaibiyah. 
Waktu Abu Sufyan menyampaikan permintaan untuk memperkokoh dan memperpanjang waktu 
berlaku perjanjian, Rasul Allah s.a.w. menolak. Abu Sufyan belum putus harapan. Ia menemui 
Abu Bakar r.a., kemudian Umar r.a. Dua-duanya juga menolak untuk membantu Abu Sufyan. 
Abu Sufyan mencoba membujuk anak perempuannya sendiri, yang sudah menjadi isteri Nabi 
Muhammad s.a.w. Baru saja Abu Sufyan masuk dan belum sempat duduk, tikar segera digulung 
oleh Ummu Habibah, sambil berkata: "Ini tikar kepunyaan Rasul Allah. Ayah tidak boleh duduk 
di atasnya, sebab ayah orang musyrik dan kotor…" 
Abu Sufyan belum putus asa. Dicobanya menemui Sitti Fatimah r.a., isteri Imam Ali r.a. Sitti 
Fatimah r.a. juga menolak untuk membantu Abu Sufyan. Persoalan datangnya Abu Sufyan itu 
disampaikan Sitti Fatimah r.a. kepada suaminya. Waktu bertemu dengan Abu Sufyan, Imam Ali 
r.a. berkata: "Mengenai persoalan itu Rasul Allah sudah mengambil pendirian tegas. Kami tidak 
dapat mengajaknya berbicara tentang itu..." 
Sekarang habislah harapan Abu Sufyan. Ia pulang ke Makkah dengan tangan kosong. 
Di Madinah, Rasul Allah s.a.w. mempersiapkan kaum muslimin untuk siaga menghadapi 
peperangan. Setelah semua persiapan selesai, beliau berangkat memimpin pasukan muslimin 
berkekuatan 10.000 orang. Setibanya dekat Makkah kaum muslimin diperintahkan supaya setiap 
orang menyalakan obor, sehingga waktu malam di tengah gurun pasir terang benderang seperti 
siang. 
Pada malam itu juga Abu Sufyan bersama sejumlah orang Qureiys berangkat ke luar kota 
Makkah untuk mencari informasi tentang keadaan kaum muslimin. Sejak beberapa waktu yang 
lalu ia tidak mendengarnya lagi, karena Rasul Allah s.a.w. dan para sahabatnya benar-benar 
merahasiakan rencana keberangkatan, agar jangan sampai diketahui oleh Qureiys sebelum tiba 
di Makkah. 
Melihat ribuan obor menyala-nyala dari kejauhan, Abu Sufyan ketakutan. Ia berniat hendak 
kembali masuk kota sambil mempercakapkan ribuan obor dengan teman-temannya. Mereka 
sama sekali tidak mengerti maksudnya. 
Pada malam hari itu juga Abbas bin Abdul Mutthalib keluar dari pemusatan pasukan muslimin 
mencari orang-orang dari kaum musyrikin Qureiys, untuk diberi tahu tentang kedatangan kaum 
39
muslimin dengan kekuatan yang besar. Dengan cara itu Abbas bermaksud hendak menekan 
kaum musyrikin Qureiys supaya menyerah sebelum kaum muslimin masuk ke dalam kota 
Makkah. 
Waktu itu dari kejauhan Abbas mendengar sayup-sayup suara Abu Sufyan sedang bercakap-cakap 
dengan teman-temannya tentang obor yang ribuan jumlahnya. Ia mengenal baik suara 
Abu Sufyan. Dengan teriakan keras sekali Abbas memanggil-manggil: "Hai Abu Handhalah !" 
Terdengar suara Abu Sufyan menyahut dengan teriakan bertanya: "Abu Fadhl…?" 
"Ya," jawab Abbas. 
"Demi ayah dan ibuku...., ada kabar apa? Tanya Abu Sufyan yang tampak agak terkejut 
bercampur takut. 
"Inilah Rasul Allah datang membawa pasukan yang tak mungkin dapat kalian hadapi!" Jawab 
Abbas menakut-nakuti Abu Sufyan. 
"Lantas apa yang kau perintahkan kepadaku ...?" Abu Sufyan bertanya untuk mencari tahu apa 
yang diinginkan kaum muslimin. "Ayolah turut naik untaku!" teriak Abbas menghimbau. 
Terdorong oleh ketakutannya, tanpa banyak berfikir lagi Abu Sufyan segera mendekati Abbas, 
lalu naik ke atas unta, duduk di belakang Abbas. Setibanya di depan Rasul Allah s.a.w., Abbas 
minta supaya beliau memberi jaminan keselamatan Abu Sufyan. Nabi Muhammad menjawab: 
"Pergilah. Dia kujamin keselamatannya sampai datang lagi besok pagi!" 
Pagi-pagi Abbas datang rnembawa Abu Sufyan menghadap Rasul Allah. Kepada Abu Sufyan 
beliau bertanya setengah menegor dengan tandas: "Celakalah engkau, hai Abu Sufyan! Apakah 
belum juga engkau mengerti bahwa tidak ada tuhan selain Allah!" 
"Demi ayah-ibuku", jawab Abu Sufyan. " Itu samasekali tidak ada dalam fikiranku!" 
Mendengar jawaban seperti itu Abbas membentak Abu Sufyan: "Celaka sekali engkau! Ucapkan 
syahadat sebelum lehermu dipenggal!" 
Melihat sikap Abbas sekeras itu barulah Abu Sufyan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia 
mengucapkan dua kalimat syahadat pada saat kaum musyrikin Qureiys tidak berdaya lagi 
melawan kaum muslimin. Ucapan yang keluar dari hati yang tidak tulus. 
Meskipun begitu Rasul Allah s.a.w. tetap bijaksana. Beliau memerintahkan Abbas pergi 
membawa Abu Sufyan, dan ditahan di sebuah lembah yang akan dilalui pasukan muslimin dalam 
gerakan memasuki kota Makkah. 
Gelombang demi gelombang, kelompok demi kelompok pasukan muslimin bergerak masuk ke 
Makkah. Dengan suara gemuruh mereka mengumandangkan takbir, bertahlil dan bersyukur ke 
hadirat Allah Tabaraka wa Ta'ala. Waktu Abu Sufyan melihat pasukan yang langsung dipimpin 
Nabi Muhammad s.a.w. lewat, yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, ia bertanya kepada 
Abbas tentang kelompok itu. Abbas menjelaskan: "Itu kelompok pasukan Rasul Allah..... Itulah 
beliau, Rasul Allah s.a.w… dan itulah mereka kaum Muhajirin dan Anshar…!" 
"Hai Abu Fadl", kata Abu Sufyan yang nampak kagum terhadap kelompok pasukan itu, "putera 
saudaramu sudah menjadi raja yang hebat sekali!" 
"Itu kenabian ....bukan kerajaan!" bentak Abbas menjelaskan. 
40
"Oh . . . ya", sahut Abu Sufyan. 
Pada saat itu ada dua orang dari kaum musyrikin Qureiys, Hakim bin Hizam dan Badil bin 
Warqa, datang menjumpai Rasul Allah s.a.w. untuk menyatakan diri masuk Islam. Kemudian 
mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. 
Pada saat mulai masuk kota Makkah, Rasul Allah s.a.w. mengeluarkan pernyataan yang berisi 
jaminan keselamatan bagi kaum Qureiys. Antara lain dikatakan: "Barang siapa masuk ke rumah 
Abu Sufyan (terletak di bagian atas kota Makkah), ia terjamin keselamatannya! Barang siapa 
masuk ke rumah Hakim bin Hizam (terletak di bagian bawah kota Makkah), ia terjamin 
keselamatannya. Barang siapa menutup pintu rumahnya dan tidak mengangkat senjata, ia 
terjamin keselamatannya…!" 
Untuk menyebar-luaskan pernyataan itu kepada orang-orang Qureiys, Rasul Allah mengutus Abu 
Sufyan dan Hakim. 
Setelah itu Rasul Allah s.a.w. masuk ke dalam kota Makkah. Semua pasukan muslimin yang 
datang melalui berbagai jurusan dipusatkan dalam kota, guna menghindari terjadinya konflik 
senjata dengan kelompok-kelompok musyrikin. Rasul Allah s.a.w. bertekad keras untuk jangan 
sampai ada setetes darah pun yang mengalir. Oleh karena itu beliau cepat-cepat 
memberhentikan Sa'ad bin Ubadah dari jabatannya sebagai komandan pasukan karena diketahui 
Sa'ad telah mengeluarkan pernyataan hendak menumpas orang-orang Qureiys; "Hari ini hari 
pertarungan. Hari ini wanita-wanita Qureiys boleh dirampas dan diperbudak!" 
Sebagai gantinya, Rasul Allah s.a.w. mengangkat Imam Ali r.a. menjadi komandan pasukan. 
Setibanya dekat Ka'bah Rasul Allah s.a.w. berdiri di depan pintu sambil berseru kepada orang 
orang Qureiys: 
"Tiada Tuhan selain Allah tanpa sekutu apa pun juga. Dia telah memenuhi janji-Nya. Dia telah 
memenangkan hamba-Nya, dan Dia sendirilah yang telah mengalahkan pasukan Ahzab. 
Ketahuilah, bahwa kemuliaan keturunan dan kekayaan terletak di bawah telapak kakiku. 
Demikian pula pengurusan Ka'bah dan penyediaan air untuk jema'ah haji!" 
"Hai orang Qureiys", kata Nabi Muhammad s.a.w. selanjutnya, "sesungguhnya Allah hendak 
menghapuskan adat jahiliyah dari kalian termasuk kebiasaan mengagung-agungkan nenek-moyang. 
Semua manusia berasal dari Adam dan Adam terbuat dari tanah." 
"Hai manusia, Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang wanita, kemudian 
kalian Kami jadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling kenal-mengenal. 
Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa di antara kalian. 
Sesungguhnya bahwa Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal…" (S. Alhujurat: 13). 
Selesai mengucapkan ayat tersebut, Rasul Allah s.a.w. bertanya: "Hai orang-orang Qureiys, 
apakah yang hendak kalian katakan? Apa yang kalian duga akan kuperbuat?" 
Mereka menjawab serentak: "Kami harap kebaikan akan diperbuat oleh saudara yang mulia, 
putera dari saudara yang mulia." 
Menanggapi jawaban mereka, Rasul Allah s.a.w. berkata lagi: "Yang kukatakan sama seperti 
yang dikatakan oleh saudaraku, Yusuf a.s.: Tak ada marabahaya menimpa kalian. Semoga Allah 
megampuni kalian, karena Dia adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Pergilah, kalian semua 
bebas merdeka!" 
Dengan kebijaksanaan seperti itu Rasul Allah s.a.w. mengetuk hati manusia untuk berbondong-bondong 
41 
memeluk agama Islam.
Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. menghancurkan berhala-berhala, dan menghapuskan dua 
buah gambar yang ada pada dinding Ka'bah dengan baju beliau sendiri. Kepada orang-orang 
Qureiys yang ada di sekitar tempat itu, beliau memerintahkan supaya menghancurkan berhala 
mereka masing-masing. Saat itu beliau mengucapkan sebuah ayat Al Qur'an, yang artinya: 
"Bilamana kebenaran telah tiba, musnahlah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti 
musnah." (S. Al Isra:81). 
Dalam pekerjaan menghancurkan berhala-berhala itu, Imam Ali r.a. menyertai beliau. Ketika 
melihat sebuah berhala milik Banu Khuza'ah masih terletak di atas Ka'bah, Rasul Allah s.a.w. 
memerintahkan Imam Ali r.a. supaya menghancurkannya. Untuk 
dapat naik ke atas, Imam Ali r.a. beliau angkat. Kemudian berhala tersebut oleh Imam Ali r.a. 
dijebol dan dibanting ke tanah sampai hancur berkeping-keping. 
Tengah hari berbondong-bondong kaum pria dan wanita Qureiys menghadap Rasul Allah s.a.w. 
untuk menyatakan diri memeluk Islam, dan berjanji akan taat dan setia kepada Allah dan 
Rasul-Nya. 
Dengan jatuhnya kota Makkah ke tangan Rasul Allah s.a.w., berarti hancurlah sudah benteng 
terkuat kaum musyrikin. Benteng yang paling keras dan paling gigih melancarkan 
seranganserangan terhadap Islam dan kaum Muslimin. Dengan jatuhnya Makkah, kini kota itu 
telah masuk ke dalam pangkuan kaum muslimin. 
Di Makkah, Rasul Ailah s.a.w. tinggal selama 15 hari untuk mengatur urusan pemerintahan 
setempat. Beliau mengangkat Hubairah bin Asy Syibl sebagai kepala daerah Makkah. Sedangkan 
Mu'adz bin Jabal ditugaskan mengajarkan A1 Qur'an dan hukumhukum Islam. Setelah selesai 
semuanya, beliau bersama pasukan menuju ke Taif untuk menghabisi kantong terakhir 
pertahanan kaum Musyrikin. 
Bab IV-5 : Perang Hunain 
Perang ini merupakan salah satu peperangan terbesar dan terpenting bagi kaum muslimin. 
Setelah berhasil menguasai kota Makkah, pasukan muslimin yang sekarang sudah menjadi 
sangat kuat, masih harus menyelesaikan tugas besar. Yaitu menghancurkan pasukan Malik bin 
Auf yang terdiri dari qabilah Hawazin dan Tsaqif. 
Untuk menumpas perlawanan Malik dan kawan-kawannya, Rasul Allah s.a.w. memimpin 
pasukan terdiri dari 12.000 orang. 2000 diantaranya adalah orang-orang Qureiys yang baru 
masuk Islam setelah jatuhnya kota Makkah. Pasukan ini merupakan pasukan terbesar yang 
pernah dikerahkan oleh Rasul Allah s.a.w. ke medan perang. Di antara komandan-komandan 
pasukan banyak yang baru saja memeluk agama lslam, termasuk Khalid bin Al-Walid. 
Untuk menghadapi serangan kaum muslimin, Malik bin Auf menempatkan pasukannya pada 
posisi yang sangat strategis, yaitu di lambung kiri dan kanan lembah Hunain yang merupakan 
jalur lalu lintas sempit. Pada waktu pasukan Muslimin lewat lembah tersebut pasukan Malik 
akan menghujani mereka dengan anak panah. Siasat itu nampak berhasil baik. 
Di kala fajar mulai menyingsing, pasukan Islam yang berada di baris depan, di bawah komando 
Khalid bin Al-Walid, benar-benar masuk perangkap Malik bin Auf. Dengan gencar dan tak henti-hentinya 
pasukan Malik menghujani pasukan muslimin dengan anak panah dan tombak. Karena 
kalah posisi dan diserang secara mendadak dan besar-besaran, pasukan muslimin menjadi 
kacau balau. Mereka lari terbirit-birit dan mundur tanpa teratur. 
Rasul Allah s.a.w. sendiri yang waktu itu masih berada di barisan belakang tidak dapat 
mencegah pasukan yang panik dan berusaha menyelamatkan diri. Jerih payah Rasul Allah s.a.w. 
yang selama ini dicurahkan untuk membina pasukan muslimin, hampir saja hancur berantakan 
di lembah Hunain ini. Orang-orang munafik sejenis Abu Sufyan bin Harb, yang secara resmi 
42
sudaah memeluk Islam dan bergabung dalam pasukan Rasul Allah s.a.w. bersorak-sorai 
kegirangan menyaksikan pasukan muslimin kocar-kacir. Demikian juga Syaibah bin Utsman. 
Pasukan Malik bergerak terus mengejar pasukan muslimin yang lari mundur dalam keadaan 
kacau dan berpencar-pencar. Keadaan menjadi gawat dan mengkhawatirkan. Rasul Allah s.a.w. 
merasa sukar sekali mengendalikan pasukan yang sudah kehilangan pamor sama sekali. Namun 
beliau tetap tenang dan tabah mengenderai kuda baghalnya yang berwarna putih. Orang-orang 
yang tetap mantap menyertai beliau antara lain terdapat Imam Ali r.a., Abbas bin Abdul 
Mutthalib r.a., Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. 
Berkat kegigihan dan ketangguhan para sahabat, berkat keberanian Imam Ali r.a. dan para 
sahabat lainnya dalam memukul tiap serangan yang ditujukan terhadap Rasul Allah s.a.w., 
akhirnya kaum muslimin dapat dikendalikan dan diarahkan untuk melancarkan serangan 
balasan. Berangsur-angsur situasi berubah dan berbalik, sehingga kemenangan yang sangat 
mengesankan akhirnya dapat diraih oleh kaum muslimin. 
Dari peristiwa-peristiwa di atas dapat dilihat dengan jelas peranan kepahlawanan Imam Ali r.a. 
Tiap keadaan gawat dan genting ia selalu berada di samping Rasul Allah s.a.w. 
Bab V : WAFATNYA RASUL ALLAH S.A.W. 
Pada hari-hari terakhir hayatnya Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. telah sampai pada puncak 
kematangannya, baik secara fisik, mental maupun pemikiran. Ketaqwaan dan imannya yang 
kuat telah teruji dalam pengalaman membela kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Ilmu-ilmu 
Ilahiyah yang diterimanya langsung dari Nabi Muhammad s.a.w. telah cukup untuk menghadapi 
dan menanggulangi berbagai problem yang akan muncul di kalangan umat Islam. Tentang hal 
itu Nabi Muhammad s.a.w. sendiri telah menegaskan: "Aku ini adalah kotanya ilmu, sedang Ali 
adalah pintunya." 
Penegasan Nabi Muhammad s.a.w. tentang kecerdasan dan kematangan fikiran Imam Ali r.a. 
kiranya cukup menjadi ukuran sejauh mana ilmu-ilmu pengetahuan yang telah dituangkan 
beliau kepada putera pamannya itu. 
Pandangan Nubuwwah 
Adalah wajar bila Rasul Allah s.a.w. bangga mempunyai seorang keluarga yang telah dibekali 
syarat-syarat untuk dapat meneruskan kepemimpinannya atas kaum muslimin. Berkat 
ketajaman pandangan nubuwwahnya, Nabi Muhammad s.a.w. telah melihat akan terjadinya 
hal-hal yang tidak menggembirakan sepeninggal beliau di masa mendatang. 
Mengenai hal yang terakhir ini, Ibnu Abil Hadid dalam bukunya Syarh Nahjil Balaghah, jilid X 
halaman 182-183 mengatakan: "Pada malam hari setelah mempersiapkan pasukan untuk 
menghadapi rongrongan Romawi di Balqa --di bawah pimpinan Usamah bin Zaid-- Nabi 
Muhammad s.a.w. berziarah ke makam Buqai'. Setibanya di makam itu beliau mengucapkan: 
'Assalamu 'alaikum, ya ahlal-qubur'. Semoga tempat di mana kalian berada ini lebih tenang 
daripada yang akan dialami oleh orang-orang yang masih hidup. Suatu malapetaka bakal terjadi 
seperti datangnya malam yang gelap-gulita dari permulaan sampai akhir." 
Setelah memohon pengampunan bagi para ahlil-qubur, beliau memberitahu para sahabat: 
"Biasanya Jibril menghadapkan Al Qur'an kepadaku tiap tahun satu kali, tetapi tahun ini 
menghadapkan kepadaku sampai dua kali, kukira itu karena ajalku sudah dekat." 
Keesokan harinya Rasul Allah s.a.w. mengucapkan khutbah di hadapan jema'ah para sahabat. 
Beliau berkata: " Hai orang-orang, sudah tiba saatnya aku akan pergi dari tengah-tengah kalian. 
Barang siapa mempunyai titipan padaku hendaknya datang kepadaku untuk kuserahkan kembali 
kepadanya. Barang siapa mempunyai penagihan kepadaku hendaknya ia datang untuk segera 
kulunasi. Hai orang-orang, antara Allah dan seorang hamba, tidak ada keturunan atau urusan 
apa pun yang dapat mendatangkan kebajikan atau menolak keburukan, selain amal perbuatan. 
43
Janganlah ada orang yang mengaku-aku dan janganlah ada orang yang mengharap-harap. Demi 
Allah yang mengutusku membawa kebenaran, tidak ada apa pun yang dapat menyelamatkan 
selain amal perbuatan disertai cinta-kasih. Seandainya aku berbuat durhaka aku pun pasti 
tergelincir. Ya Allah ..., amanat-Mu telah kusampaikan!" 
Dari ucapan-ucapan Rasul Allah s.a.w. malam hari di makam Buqai' dan dari khutbah beliau 
yang diucapkan keesokan harinya, jelaslah bagi kaum muslimin kesukaran-kesukaran yang bakal 
dihadapi sepeninggal Rasul Allah s.a.w. Kesukaran-kesukaran yang hanya dapat ditanggulangi 
dengan amal perbuatan yang disertai cinta-kasih, sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. 
Secara tidak langsung pun beliau memperingatkan, bahwa barang siapa berbuat durhaka, ia 
pasti akan tergelincir ke jalan yang tidak diridhoi Allah s.w.t. 
Jatuh sakit 
Canang dan peringatan Rasul Allah s.a.w. kepada ummatnya itu diucapkan di kala kaum 
muslimin di seluruh jazirah Arab sudah dalam keadaan mantap. Hanya dalam waktu 10 tahun, 
jazirah yang seluas itu telah bernaung di bawah kibaran panji-panji agama Allah. Untuk 
pertama kalinya dalam sejarah, jazirah yang dihuni oleh qabilah-qabilah, suku-suku dan puak-puak 
yang saling bertentangan, bersaingan dan bercerai-berai itu, kini telah berhasil 
dipersatukan dalam satu agama, satu aqidah dan satu pimpinan. Agama Islam aqidahnya ialah 
tauhid dan pimpinannya ialah Rasul Allah s.a.w. 
Atas kehendak Allah s.w.t. dan rakhmat-Nya serta berkat kebijaksanaan Rasul-Nya, perjuangan 
mengakhiri paganisme (agama keberhalaan) telah mencapai prestasi yang luar biasa besarnya. 
Missi suci menyebarkan agama Islam, praktis telah diselesaikan dengan sukses oleh Nabi 
Muhammad s.a.w. 
Sekembalinya dari ibadah haji wada', Rasul Allah s.a.w. mengangkat Usamah bin Zaid bin 
Haritsah sebagai panglima pasukan muslimin untuk menghadapi rongrongan Romawi di Balqa, 
sebelah utara jazirah Arab. Pengangkatan Usamah yang baru berusia 22 tahun itu, 
menimbulkan kekhawatiran di kalangan para sahabat terkemuka. Sebab, selain Usamah masih 
terdapat panglima-panglima yang telah banyak makan garam peperangan dan pantas untuk 
jabatan itu. Namun Rasul Allah s.a.w. tetap berpegang teguh pada kebijaksanaan yang telah 
ditetapkan. 
Secara psikologis pengangkatan Usamah bin Zaid adalah tepat. Ia seorang tokoh muda yang 
cerdas dan penuh inisiatif. Lagi pula ayahnya, Zaid bin Haritsah, bukan nama yang kecil dalam 
jajaran pahlawan-pahlawan Islam. Ia gugur di Mu'tah sebagai pahlawan syahid dalam 
pertempuran melawan pasukan Romawi. Karena itu diharapkan Usamah akan mendapat 
kesempatan baik untuk menuntut balas atas kematian ayahnya. 
Pada waktu Usamah bin Zaid dan pasukannya yang besar itu sudah dalam keadaan siaga, tiba-tiba 
Rasul Allah s.a.w. jatuh sakit. Baru kali ini beliau mengeluh tentang penyakitnya. Beliau 
menderita penyakit demam tinggi. Tubuh yang selama hayatnya diabdikan kepada perjuangan 
di jalan Allah s.w.t., kini tiba-tiba hampir tak bertenaga. Kaum muslimin sangat resah melihat 
penyakit beliau yang tampak gawat. 
Meskipun demikian, banyak juga para sahabat yang tidak percaya, bahwa jasmani seorang 
manusia utusan Allah yang kekar dan kuat itu bisa dibuat tidak berdaya oleh penyakit. Lebih-lebih 
karena di masa sakit itu, beliau masih sibuk mengatasi keresahan fikiran sementara 
sahabat yang kurang bisa menerima pengangkatan Usamah. 
Mengenai Usamah ini, Nabi Muhammad s.a.w. cukup tegas. Putusan yang telah beliau ambil tak 
dapat ditawar-tawar lagi. Usamah beliau perintahkan agar bertindak sebagai pemimpin 
ekspedisi ke utara. Ketetapan yang beliau ambil itu besar artinya bagi kaum muda. Muhammad 
Husein Haikal dalam bukunya "Hayat Muhammad" tentang hal itu mengatakan: "Timbul 
44
keyakinan di kalangan kaum muda bahwa mereka pun mampu mengemban tugas berat. 
Kebijaksanaan beliau itu juga merupakan pendidikan bagi mereka agar membiasakan diri 
memikul beban tanggung jawab yang besar dan berat." 
Makin hari penyakit yang diderita-Rasul Allah s.a.w. makin gawat. Semula beliau tetap 
berusaha agar dapat melaksanakan tugas sehari-hari, seperti mengimami shalat jama'ah. Akan 
tetapi ketika dirasa penyakitnya bertambah berat, beliau memerintahkan Abu Bakar Ash 
Shiddiq r.a. menggantikan beliau melaksanakan tugas yang amat mulia itu. Perintah Nabi 
Muhammad s.a.w. kepada Abu Bakar Ash Shiddiq ra. itulah yang kemudian diartikan orang 
sebagai petunjuk, bahwa Abu Bakar r.a. adalah orang yang layak menduduki kepemimpinan 
ummat Islam sepeninggal Rasul Allah s.a.w. 
Wasiyat 
Dalam keadaan menderita sakit yang sedang gawat-gawatnya, Rasul Allah s.a.w. menyampaikan 
pesan kepada para sahabatnya kaum Muhajirin, agar memelihara persaudaraan dan menjaga 
hubungan baik dengan kaum Anshar. "Mereka itu", yakni kaum Anshar, kata Nabi Muhammad 
s.a.w., "adalah orang-orang tempat aku menyimpan rahasiaku dan yang telah memberi 
perlindungan kepadaku. Hendaknya kalian berbuat baik atas kebaikan mereka itu dan 
memaafkan mereka bila ada yang berbuat salah." 
Imam Al Bukhari dalam shahihnya mengetengahkan sebuah hadits, dengan sanad Ubaidillah bin 
Abdullah bin Utbah dan berasal dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasul Allah s.a.w. sedang 
mendekati ajal, berkata kepada para sahabat yang berada di sekelilingnya. Di antara mereka 
itu terdapat Umar Ibnul Khattab r.a. Nabi Muhammad s.a.w. berkata: 
"Marilah…, akan kutuliskan untuk kalian suatu kitab (secarik surat wasyiat) dengan mana kalian 
tidak akan sesat sepeninggalku." 
Mendengar itu Umar bin Ibnul Khattab r.a. berkata kepada sahabat-sahabat lainnya: "Nabi 
dalam keadaan sangat payah dan kalian telah mempunyai Al-Qur'an. Cukuplah Kitab Allah itu 
bagi kita." 
Menanggapi perkataan Umar r.a. itu para sahabat berselisih pendapat. Ada yang minta supaya 
segera disediakan alat tulis agar Rasul Allah s.a.w. menuliskan wasiyatnya yang terakhir. Ada 
pula yang sependapat dengan Umar r.a. Terjadilah pertengkaran mulut, sehingga Rasul Allah 
s.a.w. akhirnya menghardik: "Nyahlah kalian!" 
Hadits itu tidak perlu lagi dipersoalkan kebenarannya. Sebab Al-Bukhari sendiri meriwayatkan 
hadits tersebut di berbagai tempat dalam Shaihnya. Juga Muslim dalam Shahihnya pada bagian 
"Wasiyat terakhir" meriwayatkan hadits tersebut dari Sa'ad bin Zubair yang berasal dari Ibnu 
Abbas pula. 
At-Thabrani dalam "Al-Ausath" mengemukakan: "Pada waktu Rasul Allah s.a.w. menghadapi 
ajal, beliau berkata: "Bawalah kepadaku lembaran dan tinta. Akan kutuliskan untuk kalian yang 
dengan itu kalian tidak akan sesat selama-lamanya." 
Mendengar ucapan Nabi Muhammd s.a.w. itu, para wanita yang menunggu di belakang tabir 
(hijab) berkata kepada para sahabat Nabi yang berada di tempat itu: "Tidakkah kalian 
mendengar apa yang dikatakan oleh Rasul Allah ?" 
Umar Ibnul Khattab r.a. segera menyahut: "Kukatakan, kalian itu sama dengan wanita-wanita 
yang mengelilingi Nabi Yusuf. Jika Rasul Allah sakit kalian mencucurkan air mata dan jika 
beliau sehat kalian menunggangi lehernya!" 
Mendengar ucapan Umar r.a. itu Rasul Allah s.a.w. kemudian berkata mengingatkan: "Biarkan 
45
mereka itu, mereka itu lebih baik daripada kalian." 
Hadist yang diketengahkan oleh At-Thabrani itu terdapat dalam "Kanzul 'Ummal", jilid III, hlm 
138. 
Penyakit Rasul Allah s.a.w. mencapai puncaknya ketika beliau berada di kediaman Sitti 
Maimunah r.a., salah seorang isteri beliau. Atas kesepakatan semua isterinya beliau meminta 
supaya dibawa ke tempat kediaman Sitti Aisyah r.a. Dengan berikat kepala, beliau keluar dan 
berjalan sambil bertopang pada Imam Ali r.a. dan pamannya, Abbas. Beliau tiba di tempat 
kediaman Sitti Aisyah r.a. dalam keadaan lemah sekali. 
Beberapa hari kemudian, di saat banyak orang sedang menunaikan shalat jama'ah yang diimami 
oleh Abu Bakar r.a., tiba-tiba Nabi Muhammad s.a.w. muncul di tengah-tengah mereka dengan 
bertopang pada Imam Ali r.a. serta Al Fadhl bin Abbas. Shalat subuh berjama'ah itu hampir saja 
tertunda karena hal yang mengejutkan itu. Hal itu tak sampai terjadi, karena Rasul Allah s.a.w. 
memerintahkan supaya shalat dilanjutkan. 
Abu Bakar r.a. sendiri merasa rikuh, berniat mundur dan hendak menyerahkan imam shalat 
kepada beliau, tetapi Nabi Muhammad s.a.w. mendorongnya dari belakang sambil berucap 
setengah berbisik: "Teruskan mengimami shalat". Beliau kemudian mengambil tempat di 
samping kanan Abu Bakar r.a. dan menunaikan shalat sambil duduk. 
Seusai shalat Nabi Muhammad s.a.w. berbalik menghadap kebelakang dan bertatap-muka 
dengan jama'ah yang memenuhi masjid. Semua bergembira melihat Rasul Allah s.a.w. 
berangsur sehat. Lebih tertegun lagi tatkala beliau berkata: " Hai kaum muslimin, api neraka 
sudah bertiup dan fitnahpun akan datang seperti malam gelap-gulita. Demi Allah, aku tidak 
akan menghalalkan sesuatu selain yang dihalalkan oleh Al Qur'an. Aku pun tidak akan 
mengharamkan sesuatu selain yang diharamkan oleh Al Qur'an. Terkutuklah orang yang 
menggunakan pekuburan sebagai tempat bersujud (Masjid)." 
Kesehatan Rasul Allah s.a.w. yang secara tiba-tiba tampak pulih kembali dengan cepat tersiar 
luas dan disambut gembira sekali oleh seluruh kaum muslimin. Usamah bin Zaid, yang semula 
sudah siap untuk membubarkan pasukan, karena Rasul Allah s.a.w. sakit keras, kemudian 
menghadap beliau untuk minta izin menggerakkan pasukannya ke Syam. Bahkan Abu Bakar r.a. 
sendiri pun yakin benar bahwa beliau sudah bisa kembali menjalankan tugas sehari-hari. Begitu 
pula Umar Ibnul Khattab r.a. dan para sahabat dekat lainnya, sekarang sudah beranjak 
meninggalkan masjid guna menyelesaikan keperluan masing-masing. 
Wafat 
Akan tetapi kondisi kesehatan beliau yang seperti itu ternyata hanya semu belaka. Beberapa 
saat kemudian penyakitnya berubah menjadi gawat kembali. Detik-detik terakhir hayatnya tiba 
dikala beliau berbaring di pangkuan isterinya, Sitti Aisyah r.a. 
Agak lain dari itu, menurut Imam Ahmad bin Hanbal dalam Masnadnya jilid II, halaman 300, dan 
menurut At-Thabariy dalam Dzakha'irul'Uqba' halaman 73, beliau wafat di atas pangkuan Imam 
Ali r.a. Ucapan terakhir yang keluar pada detik kemangkatan beliau ialah "Ar Rafiqul A'laa. 
minal jannah…" 
Ada yang mengatakan beliau wafat pada bagian akhir bulan shafar tahun 11 hijriyah. Ada pula 
sejarawan yang menyebut permulaan Rabi'ul Awwal sebagai hari wafat beliau. Kaum Syi'ah, 
misalnya, mengatakan bahwa beliau wafat dua hari terakhir bulan shafar. Tetapi banyak 
penulis sejarah lainnya mengatakan pada permulaan bulan Rabi'ul Awwal tahun 11 Hijriyah, 
atau tanggal 8 Juni tahun 632 Masehi. 
Tentang hari dan tanggal wafatnya Rasul Allah s.a.w. bukanlah suatu masalah yang perlu 
46
dipersoalkan. Yang penting dan yang sangat perlu ditekankan, bahwa pada saat-saat terakhir 
hayatnya, beliau tidak mengatakan siapa yang akan meneruskan kepemimpinan atas 
ummatnya. Hal ini di belakang hari akan menjadi titik perbedaan pendapat tentang 
kepemimpinan ummat di kalangan kaum muslimin. 
Rasul Allah s.a.w pulang keharibaan Allah Rabbul'alamin hanya meninggalkan Kitab Allah yang 
berisi firman-firman-Nya, dan ajaran serta tauladan beliau yang kemudian dikenal sebagai 
Sunnah Rasul Allah s.a.w. Beliau mangkat meninggalkan Islam sebagai buah risalah suci dalam 
keadaan lengkap dan sempurna, yang kehadirannya di permukaan bumi akan melahirkan 
peradaban baru dalam kehidupan manusia. 
Nabi Muhammad s.a.w. wafat meninggalkan keluarga dan para sahabat, yang ketangguhan Iman 
dan kesetiaannya kepada Islam bisa diandalkan untuk menjamin kelestarian agama Allah dan 
mengembang-luaskan manusia pemeluknya. Kebenaran telah tiba dan kebatilan pasti lenyap. 
Itulah motto perjuangan ummat Islam yang mau tidak mau harus diperhitungkan oleh kekuatan-kekuatan 
kuffar di Barat dan kekuatan-kekuatan musyrikin di Timur. 
Kemangkatan Rasul Allah s.a.w. merupakan peristiwa yang tidak diduga akan secepat itu. 
Kejadian yang terasa sangat mengejutkan itu, mengakibatkan banyak kaum muslimin 
terombang-ambing antara percaya dan tidak. Bahkan sahabat terdekat beliau sendiri, yaitu 
Umar Ibnul Khattab r.a. masih juga tidak mau percaya mendengar berita tentang wafatnya 
Rasul Allah s.a.w. Hingga saat ia sendiri menyaksikan jenazah suci terbaring di rumah Sitti 
Aisyah r.a., masih tetap berseru kepada semua orang: "Rasul Allah tidak wafat! Beliau hanya 
menghilang dan akan kembali lagi!" 
Umar Ibnul Khattab r.a. tetap membantah, bahkan mengancam-ancam setiap orang yang 
mengatakan bahwa Rasul Allah telah wafat. Apa yang diperlihatkan oleh Umar Ibnul Khattab 
r.a. itu hanya menunjukkan betapa hebatnya goncangan kaum muslimin mendengar berita 
tentang wafatnya Nabi Muhammad s.a.w. 
Seorang sahabat lainnya, Al-Mughirah, berusaha meyakinkan Umar r.a. bahwa Rasul Allah 
s.a.w. benar-benar wafat. Dengan geram Umar r.a. menuduhnya sebagai pembohong. Umar 
r.a. menjawab: "Beliau hanya pergi menghadap Allah, sama seperti Musa bin Imran yang 
menghilang dari tengah-tengah kaumnya selama 40 hari dan akhirnya kembali lagi kepada 
mereka." 
Banyak orang yang dituduh oleh Umar r.a. sebagai munafik, hanya karena memberitakan 
kemangkatan Rasul Allah s.a:w. Kepada orang-orang yang sedang berkerumun di masjid 
Nabawi, Umar r.a. meneriakkan ancaman: "Barang siapa berani mengatakan Rasul Allah telah 
wafat, akan kupotong kaki dan tangannya!" Ancaman Umar r.a. yang seperti itu cukup 
menambah bingungnya kaum muslimnin yang sedang dirundung duka cita. 
Abu Bakar r.a. yang baru saja datang dari Sunh, ketika mendengar Umar r.a. melontarkan kata-kata 
sekeras itu, berusaha meyakinkan dengan mensitir ayat 144 Surah Ali Imran, yang dalam 
bahasa Indonesianya: "Muhammad itu tiada lain hanya seorang Rasul, sesungguhnya telah 
berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh kamu berbalik 
ke belakang? Barangsiapa yang berbalik ke belakang ia tak dapat mendatangkan mudharat 
kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang 
bersyukur." 
Mendengar itu sadarlah Umar Ibnul Khattab atas kekhilafannya. 
Pemakaman 
Pada saat wafatnya Rasul Allah s.a.w. Imam Ali r.a. adalah orang pertama yang segera turun 
tangan untuk merawat dan mempersiapkan pemakaman jenazah manusia terbesar di dunia, 
47
yang paling dicintai dan dikaguminya. Untuk pertama kali kaum muslimin menghadapi cara 
pemakaman jenazah orang yang paling mereka hormati dan mereka cintai sebagai pemimpin 
agung. 
Seorang manusia pilihan Allah, Nabi dan Rasul-Nya. Seorang besar yang tak akan pernah ada 
bandingannya dalam sejarah. Seorang arif bijaksana yang telah berhasil mengubah tata-kehidupan 
bangsanya. Seorang yang telah menunjukkan kesanggupan merombak secara 
menyeluruh nilai-nilai lama dan menggantinya dengan nilai-nilai baru yang mulia dan luhur, 
yaitu Islam. Seorang manusia agung yang jauh lebih mulia dibanding dengan kepala-kepala 
qabilah, pemimpin-pemimpin golongan, bahkan raja-raja sekalipun. Seorang yang hanya dalam 
waktu kurang lebih dua dasawarsa sanggup mengubah wajah dunia Arab dan mengangkat 
derajat satu bangsa yang tadinya dipandang rendah menjadi sangat disegani oleh kekutan-kekuatan 
raksasa seperti Romawi dan Persia. Jauh lebih besar lagi, karena Nabi Muhammad 
s.a.w. datang ke tengah-tengah ummat manusia membawa agama besar untuk menegakkan 
kebenaran dan keadilan di permukaan bumi. 
Tata-cara yang direncanakan untuk memakamkan jenazah suci itu ternyata banyak 
menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin, terutama mengenai problema: 
siapa yang berhak memandikan, siapa yang berhak menurunkan ke liang lahad dan lain 
sebagainya. 
Tentang di mana jenazah suci akan dikebumikan juga menimbulkan perbedaan pendapat di 
kalangan para sahabat. Sebagian menuntut supaya jenazah Rasul Allah s.a.w. dimakamkan di 
Makkah. Sebagai alasan dikatakan, di kota itulah beliau dilahirkan. Sebagian lain menuntut 
supaya jenazah beliau dimakamkan di Madinah, di pemakaman Buqai', dengan alasan agar 
beliau bersemayam bersama-sama pahlawan syahid yang gugur dalam perang Uhud. Akhirnya 
perbedaan pendapat ini dapat disudahi, setelah Abu Bakar r.a. mengumumkan, bahwa ia 
mendengar sendiri penegasan Rasul Allah s.a.w.: "Semua Nabi dimakamkan di tempat mereka 
wafat". Berdasarkan itu bulatlah mereka memakamkan jenazah Nabi Muhammad s.a.w. di 
rumah beliau di Madinah. 
Tentang masalah siapa yang akan mengimami shalat jenazah secara berjama'ah juga terdapat 
pertikaian. Pertikaian itu terjadi karena hal itu dipandang suatu kehormatan yang sangat tinggi 
bagi seorang yang bertindak selaku Imam shalat jenazah bagi manusia agung seperti Nabi 
Muhammad s.a.w. Karena tidak tercapai kesepakatan, akhirnya tiap orang melakukan shalat 
jenazah sendiri-sendiri. Sementara itu terdapat riwayat lain yang mengatakan, bahwa di kala 
itu Imam Ali r.a. mengusulkan shalat jenazah secara berjema'ah. Usul tersebut diterima oleh 
kaum muslimin, bahkan disepakati ia bertindak sebagai imam. 
Begitu pula, tentang siapa yang akan mendapat kehormatan menurunkan jenazah suci ke liang 
lahad. Abbas bin Abdul Mutthalib, paman Rasul Allah s.a.w. mengusulkan supaya Abu Ubaidah 
bin Al Jarrah saja yang menurunkan ke liang lahad. Sebagai alasan dikemukakan, bahwa dia 
sudah biasa menggali lahad dan mengembumikan orang-orang Makkah. Imam Ali r.a. 
berpendirian lain. Ia mengusulkan agar Abu Thalhah Al-Anshariy saja yang turun ke liang lahad. 
Alasannya senada dengan paman Rasul Allah s.a.w. di atas, hanya kotanya lain: "Ia sudah biasa 
menggali lahad dan memakamkan orang-orang Madinah." 
Setelah melalui pertukaran pendapat beberapa lamanya, akhirnya terdapat saling pengertian 
dan Abu Thalhah mendapat kehormatan menggali liang lahad. Kemudian timbul pula problema 
baru. Siapa yang akan menyertai Abu Thalhah dalam melaksanakan tugas terhormat itu? 
Problema-problema seperti di atas timbul, karena tidak ada seorang pun yang diakui 
otoritasnya untuk mengatur dan menentukan tata-cara pemakaman. Juga karena tidak ada 
wasiyat apa pun dari Rasul Allah s.a.w. tentang sesuatu yang perlu dilakukan kaum muslimin 
pada saat beliau wafat. Soal-soal yang bagi orang zaman sekarang dianggap kurang penting, 
48
pada masa itu benar-benar dipandang sebagai satu soal yang besar. Lebih-lebih karena yang 
dihadapi kaum muslimin ialah jenazah Rasul Allah s.a.w. Hal itu wajar. Rasanya tidak ada 
kehormatan yang lebih tinggi dari pada memperoleh kesempatan memberikan pelayanan 
terakhir kepada jenazah suci itu. 
Akhirnya Imam Ali r.a. dengan terus terang dan tegas berkata: "Tidak ada orang yang boleh 
turun ke liang lahad bersama Abu Thalhah selain aku sendiri dan Abbas." 
Sungguh pun sudah ada ketegasan seperti itu dari Imam Ali r.a., namun dalam praktek ia 
membolehkan juga Al-Fadhl bin Abbas dan Usamah bin Zaid turun ke liang lahad. Hal itu 
menimbulkan rasa kurang enak di kalangan kaum Anshar. Mereka menuntut agar ada seorang 
dari kaum Anshar yang ikut. Tuntutan yang adil itu akhirnya disepakati dan ditunjuklah 
orangnya, Aus bin Khauliy. Aus dulu pernah ikut aktif dalam perang Badr melawan kaum 
musyrikin Qureiys. 
Dalam semua kegiatan membenahi pemakaman jenazah Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. benar-benar 
memainkan peranan yang sangat dominan. Bahkan waktu memandikan jenazah beliau, 
Imam Ali r.a.lah satu-satunya orang yang menjamah jasad manusia agung itu. Hal itu 
dimungkinkan karena sebelumnya banyak orang yang sudah mendengar, bahwa Rasul Allah 
s.a.w. sendiri pernah menyatakan, hanya Imam Ali r.a. saja yang boleh melihat aurat beliau. 
Kesan Imam Ali r.a. yang sangat mendalam dan selalu terkenang dari peristiwa memandikan 
jenazah suci itu ialah: "…kubalikkan sedikit saja, jasad beliau sudah menurut. Sama sekali tidak 
kurasakan berat. Seolah-olah ada tangan lain yang membantuku, bukan lain pasti tangan 
Malaikat." 
Riwayat lain mengatakan, bahwa yang memandikan jenazah Rasul Allah s.a.w. bukan hanya 
Imam Ali r.a., tetapi juga Abbas bin Abdul Mutthalib serta dibantu oleh dua orang puteranya 
yang bernama Al-Fadhl dan Qutsam, di samping Usamah bin Zaid. Usamah bin Zaid dan Syukran, 
yang sampai saat terakhir menjadi pembantu Rasul Allah s.a.w., dua-duanya menuangkan air. 
Jasad jenazah suci dimandikan tetap dalam mengenakan pakaian. Di saat memandikan Imam 
Ali r.a. tertegun oleh keharuman bau semerbak dan sambil bergumam mengucapkan: "Demi 
Allah, alangkah harumnya engka.u di waktu hidup dan setelah meninggal!" 
Sementara riwayat mengatakan pula, hahwa pemakaman jenazah suci itu dilakukan pada 
malam hari di bawah cahaya gemerlapan bintang-bintang di langit hening. Di tengah 
keheningan malam itu terdengar detak-denting suara orang menggali lahad, bercampur suara 
saling berbisik, seolah-olah jangan sampai mengusik ketenangan jenazah agung yang sedang 
menuju ke pembaringan terakhir. Tidak jauh dari tempat pamakaman terdengar suara haru 
para wanita tertahan mengendap-endap rintihan duka. Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun… 
Bab VI : KHALIFAH ABU BAKAR ASH SHIDDIQ 
Di saat kaum muslimin sedang resah mendengar berita tentang wafatnya Rasul Allah s.a.w., 
sejumlah kaum Anshar menyelenggarakan pertemuan di Saqifah Bani Sa'idah untuk 
memperbincangkan masalah penerus kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. Ikut serta bersama 
mereka seorang tokoh Anshar, Sa'ad bin Ubadah. 
Di dalam bukunya yang berjudul As Saqifah, Abu Bakar Ahmad bin Abdul Azis Al-Jauhary 
mengetengahkan riwayat tentang terjadinya peristiwa penting di Saqifah (tempat pertemuan) 
Bani Sa'idah. Antara lain dikemukakan, bahwa tokoh terkemuka Anshar, Sa'ad bin 'Ubadah, 
dalam keadaan menderita sakit lumpuh sengaja digotong untuk menghadiri pertemuan 
tersebut. 
Karena tidak sanggup berbicara dengan suara keras, ia minta kepada anaknya, Qeis bin Sa'ad, 
supaya meneruskan kata-katanya yang ditujukan kepada semua hadirin. Dengan suara lantang 
Qeis meneruskan kata-kata ayahnya: 
49
"Kalian termasuk orang yang paling dini memeluk agama Islam, dan Islam tidak hanya dimiliki 
oleh satu qabilah Arab. Sesungguhnya ketika masih berada di Makkah, selama 13 tahun di 
tengah-tengah kaumnya, Rasul Allah mengajak mereka supaya menyembah Allah Maha Pemurah 
dan meninggalkan berhala-berhala. Tetapi hanya sedikit saja dari mereka itu yang beriman 
kepada beliau. Demi Allah mereka tidak sanggup melindungi Rasul Allah s.a.w. Mereka tidak 
mampu memperkokoh agama Allah . Tidak mampu membela beliau dari serangan musuh-musuhnya. 
"Kemudian Allah melimpahkan keutamaan yang terbaik kepada kalian dan mengaruniakan 
kemuliaan kepada kalian, serta mengistimewakan kalian pada agama-Nya. Allah telah 
melimpahkan nikmat kepada kalian berupa iman kepada-Nya, dan kesanggupan berjuang 
melawan musuh-musuh-Nya. Kalian adalah orang-orang yang paling teguh dalam menghadapi 
siapa pun juga yang menentang Rasul Allah s.a.w. Kalian juga merupakan orang-orang yang 
lebih ditakuti oleh musuh-musuh beliau, sampai akhirnya mereka tunduk kepada pimpinan 
Allah, suka atau tidak suka. 
"Dan orang-orang yang jauh pun akhirnya bersedia tunduk kepada pimpinan Islam, sampai tiba 
saatnya Allah menepati janji-Nya kepada Nabi kalian, yaitu tunduknya semua orang Arab di 
bawah pedang kalian. Kemudian Allah memanggil pulang Nabi Muhammad s.a.w. keharibaan- 
Nya dalam keadaan beliau puas dan ridho terhadap kalian. Karena itu pegang teguhlah 
kepemimpinan di tangan kalian. Kalian adalah orang-orang yang paling berhak dan paling 
afdhal untuk memegang urusan itu!" 
Kata-kata Sa'ad bin 'Ubadah itu disambut hangat oleh pemuka-pemuka Anshar yang hadir 
memenuhi Saqifah Bani Sa'idah. Apa yang dikemukakan oleh tokoh terkemuka kaum Anshar itu 
memperoleh dukungan mutlak. "Kami tidak akan menyimpang dari perintahmu!" teriak mereka 
hampir serentak. Engkau kami angkat untuk memegang kepemimpinan itu, karena kami merasa 
puas terhadapmu dan demi kebaikan kaum muslimin, kami rela!" 
Setelah menyatakan dukungan kepada Sa'ad bin 'Ubadah hadirin menyampaikan pendapat-pendapat 
tentang kemungkinan apa yang bakal terjadi. Ada yang mengatakan, sikap apakah 
yang harus diambil jika kaum Muhajirin berpendirian, bahwa mereka itulah yang berhak atas 
kepemimpinan ummat? Sebab mereka itu pasti akan mengatakan: Kami inilah sahabat Rasul 
Allah dan lebih dini memeluk Islam. Mereka tentu juga akan menyatakan diri sebagai kerabat 
Nabi dan pelindung beliau. Mereka pasti akan menggugat: atas dasar apakah kalian menentang 
kami memegang kepemimpinan sepeninggal Rasul Allah? Bagaimana kalau timbul problema 
seperti itu? 
Pertanyaan itu kemudian dijawab sendiri oleh sebagian hadirin: "Kalau timbul pertanyaan-pertanyaan 
seperti itu kita bisa mengemukakan usul kompromi kepada mereka, dengan 
menyarankan: Dari kami seorang pemimpin dari kalian seorang pemimpin. Kalau mereka bangga 
dan merasa turut berhijrah, kami pun dapat membanggakan diri karena kami inilah yang 
melindungi dan membela Rasul Allah s.a.w. Kami juga sama seperti mereka. Sama-sama 
bernaung di bawah Kitab Allah. Jika mereka mau menghitung-hitung jasa, kami pun dapat 
menghitung-hitung jasa yang sama. Apa yang menjadi pendapat kami ini bukan untuk 
mengungkit-ungkit mereka. Karenanya lebih baik kami mempunyai pemimpin sendiri dan 
mereka pun mempunyai pemimpin sendiri!" 
"Inilah awal kelemahan," Ujar Sa'ad bin 'Ubadah sambil menarik nafas, setelah mendengar usul 
kompromi dari kaumnya. 
Nyata sekali pertemuan itu mengarah kepada keputusan yang hendak mengangkat Sa'ad bin 
'Ubadah sebagai pemimpin kaum muslimin, yang bertugas meneruskan kepemimpinan Rasul 
Allah s.a.w. Kesimpulan seperti itu segera terdengar oleh Umar Ibnul Khattab r.a. Konon yang 
50
menyampaikan berita tentang hal itu kepada Umar r.a. ialah seorang yang bernama Ma'an bin 
'Addiy. Ketika itu Umar r.a. sedang berada di rumah Rasul Allah s.a.w. 
Pada mulanya Umar r.a. menolak ajakan Ma'an bin Adiy untuk menyingkir sebentar dari orang 
banyak yang sedang berkerumun di sekitar rumah Rasul Allah s.a.w. Tetapi karena Ma'an terus 
mendesak, akhirnya Umar r.a. menuruti ajakannya. Kepada Umar Ibnul Khattab r.a. Ma'an 
memberitahukan segala yang sedang terjadi di Saqifah Bani Sa'idah. Dengan penuh kegelisahan 
dan kekhawatiran Ma'an menyampaikan informasi kepada Umar r.a. Akhirnya ia bertanya: 
"Coba, bagaimana pendapat anda?" 
Tanpa menunggu jawaban Umar r.a. yang sedang berfikir itu, Ma'an berkata lebih lanjut: 
"Sampaikan saja berita ini kepada saudara-saudara kita kaum Muhajirin. Sebaiknya kalian pilih 
sendiri siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin kalian. Kulihat sekarang pintu fitnah sudah 
ternganga. Semoga Allah akan segera menutupnya." 
Umar r.a. sendiri ternyata tidak dapat menyembunyikan keresahan fikirannya mendengar berita 
itu. Ia belum tahu apa yang harus diperbuat. Oleh karena itu ia segera menjumpai Abu Bakar 
Ash Shiddiq r.a. yang sedang turut membantu membenahi persiapan pemakaman jenazah Rasul 
Allah s.a.w. Menanggapi ajakan Umar r.a Abu Bakar r.a. menjawab: "Aku sedang sibuk. Rasul 
Allah belum lagi dimakamkan. Aku hendak kauajak kemana?" 
Umar r.a. terus mendesak, dan sambil menarik tangan Abu Bakar r.a. ia berkata: "Tidak boleh 
tidak, engkau harus ikut. Insyaa Allah kita akan segera kembali!" Abu Bakar r.a tidak dapat 
mengelak dan menuruti ajakan Umar r.a. 
Abu Bakar r.a. & Umar r.a. ke Saqifah 
Sambil berjalan Umar Ibnul Khattab r.a. menceritakan semua yang didengar tentang pertemuan 
yang sedang berlangsung di Saqifah Bani Sa'idah. Abu Bakar r.a. merasa cemas dengan 
terjadinya perkembangan mendadak, di saat orang sedang sibuk mempersiapkan pemakaman 
jenazah Rasul Allah s.a.w. Dua orang itu kemudian mengambil keputusan untuk bersama-sama 
berangkat menuju Saqifah Bani Sa'idah. 
Setibanya di Naqifah, mereka lihat tempat itu penuh sesak dengan orang-orang Anshar. Di 
tengah-tengah mereka terlentang tokoh terkemuka mereka, Sa'ad bin 'Ubadah, yang sedang 
sakit. Setelah mengucapkan salam dan masuk ke dalam Saqifah, Umar r.a. 
yang terkenal bertabiat keras itu ingin cepat-cepat berbicara. Abu Bakar r.a. yang sudah 
mengenal tabiat Umar r.a, segera mencegah: "Boleh kau bicara panjang lebar nanti. Dengarkan 
dulu apa yang akan kukatakan. Sesudah aku, bicaralah sesukamu, ujar Abu Bakar r.a. Umar r.a. 
diam, tak jadi bicara. 
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. dengan penampilannya yang tenang dan berwibawa mulai berbicara. 
Setelah mengucapkan salam, syahadat dan shalawat, dengan semangat keakraban ia berkata 
dengan tegas dan lemah lembut. 
"...Allah Maha Terpuji telah mengutus Muhammad membawakan hidayat dan agama yang 
benar. Beliau berseru kepada ummat manusia supaya memeluk agama Islam. Kemudian Allah 
membukakan hati dan fikiran kita untuk menyambut baik dan menerima seruan beliau. Kita 
semua, kaum Muhajirin dan Anshar, adalah orang-orang yang pertama memeluk agama Islam. 
Barulah kemudian orang-orang lain mengikuti jejak kita. 
"Kami orang-orang Qureiys adalah kerabat Rasul Allah s.a.w. Kami adalah orang-orang Arab dari 
keturunan yang tidak berat sebelah. 
"Kalian (kaum Anshar) adalah para pembela kebenaran Allah. Kalian sekutu kami dalam agama 
dan selalu bersama kami dalam berbuat kebajikan. Kalian merupakan orang-orang yang paling 
51
kami cintai dan kami hormati. Kalian merupakan orang-orang yang paling rela menerima takdir 
Allah, dan bersedia menerima apa yang telah dilimpahkan kepada saudara-saudara kalian kaum 
Muhajirin. Juga kalian adalah orang-orang yang paling sanggup membuang rasa iri-hati terhadap 
mereka. Kalian orang-orang yang sangat berkesan di hati mereka, terutama di kala mereka 
dalam keadaan menderita. Kalian juga merupakan orang-orang yang berhak menjaga agar Islam 
tidak sampai mengalami kerusakan." 
Demikian Abu Bakar r.a. menurut catatan Ibnu Abil Hadid, yang diketengahkannya dalam buku 
Syarh Nahjil Balaghah, jilid VI, halaman 5 - 12. 
Orang-orang Anshar kemudian menyambut: "Demi Allah kami sama sekali tidak merasa iri hati 
terhadap kebajikan yang di limpahkan Allah kepada kalian (kaum Muhajirin). Tidak ada orang 
yang lebih kami cintai dan kami sukai selain kalian. Jika kalian sekarang hendak mengangkat 
seorang pemimpin dari kalangan kalian sendiri, kami rela dan akan kami bai'at. Tetapi dengan 
syarat, apa bila ia sudah tiada lagi --karena meninggal dunia atau lainnya-- tiba giliran kami 
untuk memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan kami, kaum Anshar. Bila ia 
sudah tiada lagi, tibalah kembali giliran kalian untuk mengangkat seorang pemimpin dari kaum 
Muhajirin. Demikianlah seterusnya selama ummat ini masih ada. 
"Itu merupakan cara yang paling kena untuk memelihara keadilan di kalangan ummat 
Muhammad. Dengan demikian setiap orang Anshar akan menjaga diri jangan sampai 
menyeleweng sehingga akan ditangkap oleh orang Qureiys. Sebaliknya orang Qureiys pun akan 
menjaga diri untuk tidak sampai menyeleweng agar jangan sampai ditangkap oleh orang 
Anshar." 
Mendengar pendapat orang Anshar itu, Abu Bakar r.a. tampil lagi berbicara: "Pada waktu Rasul 
Allah s.a.w. datang membawa risalah, orang-orang Arab bersikeras untuk tidak meninggalkan 
agama nenek-moyang mereka. Mereka membangkang dan memusuhi beliau. Kemudian Allah 
mentakdirkan kaum Muhajirin menjadi orang-orang yang terdahulu membenarkan risalah dan 
beriman kepada beliau. Mereka tolong-menolong dalam membantu Rasul Allah dan bersama 
beliau dengan tabah menghadapi gangguan-gangguan hebat yang dilancarkan oleh kaumnya 
sendiri. 
"Mereka tetap tangguh menghadapi musuh yang tidak sedikit jumlahnya. Mereka adalah 
manusia-manusia pertama di permukaan bumi ini yang bersembah sujud kepada Allah. 
Merekapun orang-orang pertama yang beriman kepada Rasul Allah. Mereka adalah orang-orang 
kepercayaan dan sanak famili beliau. Mereka lebih berhak memegang kepemimpinan 
sepeninggal beliau. Dalam hal itu tidak akan ada orang yang menentang kecuali orang yang 
dzalim." 
"Sesudah kaum Muhajirin, tak ada orang yang mempunyai kelebihan dan kedinian memeluk 
Islam selain kalian. Oleh karena itu patutlah kalau kami ini menjadi pemimpin-pemimpin dan 
kalian menjadi pembantu-pembantu kami. Dalam musyawarah kami tidak akan 
mengistimewakan orang lain kecuali kalian, dan kami tidak akan mengambil tindakan tanpa 
kalian." 
Mendengar penjelasan Abu Bakar r.a. tersebut, seorang Anshar bernama Hubab bin Al Mundzir 
bersitegang-leher. Ia berseru kepada kaumnya: Hai Orang-orang Anshar! Pegang teguhlah apa 
yang ada di tangan kalian. Mereka itu (kaum Muhajirin) bukan lain hanyalah orang-orang yang 
berada di bawah perlindungan kalian. Orang-orang Anshar tidak akan bersedia menjalankan 
sesuatu, selain perintah yang kalian keluarkan sendiri. Kalianlah yang melindungi dan membela 
Rasul Allah s.a.w. Kepada kalian mereka berhijrah. Kalian adalah tuan rumah lslam dan Iman. 
Demi Allah, Allah tidak disembah secara terang-terangan selain di tengah-tengah kalian dan di 
negeri kalian. Shalat pun belum pernah diadakan secara berjama'ah selain di masjid-masjid 
kalian. Iman pun tidak dikenal orang di negeri Arab selain melalui pedang-pedang kalian. Oleh 
52
karena itu peganglah teguh-teguh kepemimpinan kalian. Jika mereka menolak, biarlah dari kita 
seorang pemimpin dan dari mereka seorang pemimpin!" 
Sekarang tibalah saatnya Umar Ibnul Khattab r.a. berbicara. Dengan nada keras tertahan-tahan 
ia berkata: "Alangkah jauhnya fikiran itu. Dua bilah pedang tak mungkin berada dalam satu 
sarung! Orang-orang Arab tak mungkin rela menerima pimpinan kalian. Sebab, Nabi mereka 
bukan berasal dari kalian. Orang-orang Arab tidak akan menolak jika kepemimpinan diserahkan 
kepada golongan Qureiys. Sebab, baik kenabian maupun kekuasaan berasal dari mereka. 
"Itulah alasan kami," kata Umar r.a. selanjutnya, "yang sangat jelas bagi orang-orang yang tidak 
sependapat dengan kami. Dan itu pulalah alasan yang sangat gamblang bagi orang-orang yang 
menentang pendapat kami. Tidak akan ada orang yang menentang pendapat kami mengenai 
kepemimpinan Muhammad dan ahli warisnya. Tidak akan ada orang yang dapat membantah 
bahwa kami ini adalah orang-orang kepercayaan dan sanak famili beliau. Hanyalah orang-orang 
yang hendak menghidupkan kebatilan sajalah yang mau berbuat dosa, atau mereka sajalah 
orang-orang yang celaka!" 
Hubab bin Al-Mundzir berdiri lagi seraya berteriak: "Hai orang-orang Anshar, jangan kalian 
dengarkan perkataan orang itu dan rekan-rekannya! Mereka akan merampas hak kalian. Jika 
mereka tetap menolak apa yang telah kalian katakan, keluarkanlah mereka itu dari negeri 
kalian, dan peganglah sendiri kepemimpinan atas kaum muslimin. Kalian adalah orang-orang 
yang paling tepat untuk urusan itu. Hanya pedang kalian sajalah yang sanggup menyelesaikan 
persoalan ini dan dapat menundukkan orang-orang yang tak mau tunduk. Biasanya pendapatku 
sering berhasil menyelesaikan persoalan rumit seperti ini. Aku mempunyai cukup pengalaman 
dan pengetahuan tentang asal mula terjadinya persoalan seperti ini. Demi Allah, jika masih ada 
orang yang membantah apa yang kukatakan, akan kuhancurkan batang hidungnya dengan 
pedang ini!" Hubab berkata demikian, sambil menghunus pedang dari sarungnya. 
Abu Bakar r.a. di Bai'at 
Ibnu Abil Hadid dalam bukunya mengemukakan lebih lanjut tentang peristiwa debat di Saqifah 
Bani Sa'idah itu sebagai berikut: 
"Pada waktu Basyir bin Sa'ad Al-Khazrajiy melihat orang Anshar hendak bersepakat mengangkat 
Sa'ad bin 'Ubadah sebagai Amirul Mukminin, ia segera berdiri. Basyir sendiri adalah orang dari 
qabilah Khazraj. Ia merasa tidak setuju jika Sa'ad bin Ubadah terpilih sebagai Khalifah. 
Berkatalah Basyir: "Hai orang-orang Anshar! Walaupun kita ini termasuk orang-orang yang dini 
memeluk agama Islam, tetapi perjuangan menegakkan agama tidak bertujuan selain untuk 
memperoleh keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Kita tidak boleh membuat orang banyak bertele-tele, 
dan kita tidak ingin keridhoan Allah dan Rasul-Nya diganti dengan urusan duniawi. 
Muhammad Rasul Allah s.a.w. adalah orang dari Qureiys dan kaumnya tentu lebih berhak 
mewarisi kepemimpinannya. Demi Allah, Allah s.w.t. tidak memperlihatkan alasan kepadaku 
untuk menentang mereka memegang kepemimpinan ummat. Bertaqwalah kalian kepada Allah. 
Janganlah kalian menentang atau membelakangkan mereka!" 
Mendengar suara orang Anshar memberi dukungan kepada kaum Muhajirin, Abu Bakar r.a. 
berkata lagi: "Inilah Umar dan Abu Ubaidah! Bai'atlah salah seorang, mana yang kalian sukai!" 
Tetapi dua orang yang ditunjuk oleh Abu Bakar r.a. menyahut dengan tegas: "Demi Allah, kami 
berdua tidak bersedia memegang kepemimpinan mendahuluimu. Engkaulah orang yang paling 
afdhal di kalangan kaum Muhajirin. Engkaulah yang mendampingi Rasul Allah di dalam gua, dan 
engkau jugalah yang mewakili beliau mengimami shalat-shalat jama'ah selama beliau sakit. 
Shalat adalah sendi agama yang paling utama. Ulurkanlah tanganmu, engkau kubai'at." 
Tanpa berbicara lagi, Abu Bakar r.a. segera mengulurkan tangan dan kedua orang itu -- yakni 
Umar r.a. dan Abu Ubaidah-- segera menyambut tangan Abu Bakar r.a. sebagai tanda 
53
membai'at. Kemudian menyusul Basyir bin Sa'ad mengikuti jejak Umar r.a. dan Aba Ubaidah. 
Pada saat itu Hubab bin Al-Mundzir berkata kepada Basyir: "Hai Basyir, engkau memecah belah! 
Engkau berbuat seperti itu hanya didorong oleh rasa iri hati terhadap anak pamanmu," yakni 
Sa'ad bin 'Ubadah. 
Begitu melihat ada seorang pemimpin qabilah Khazraj membai'at Abu Bakar r.a., seorang 
terkemuka dari qabilah Aus, bernama Usaid bin Udhair, segera pula berdiri dan turut 
menyatakan bai'atnya kepada Abu Bakar r.a. Dengan langkah Usaid ini, maka semua orang dari 
qabilah Aus akhirnya menyatakan bai'atnya masing-masing kepada Abu Bakar r.a. dan Sa'ad bin 
Ubadah terbaring tak mereka hiraukan. 
Sampai hari-hari selanjutnya, Sa'ad bin 'Ubadah tetap tidak mau menyatakan bai'at kepada Abu 
Bakar r.a. Hal itu sangat menimbulkan kemarahan Umar Ibnul Khattab r.a. Umar r.a. berusaha 
hendak menekan Sa'ad, tetapi banyak orang mencegahnya. Mereka memperingatkan Umar r.a. 
bahwa usahanya akan sia-sia belaka. Bagaimana pun juga Sa'ad tidak akan mau menyatakan 
bai'atnya. Walau sampai mati dibunuh sekalipun. Ia seorang yang mempunyai pendirian keras 
dan bersikap teguh. Kata mereka kepada Umar r.a.: "Kalau sampai Sa'ad mati terbunuh, 
anggota-anggota keluarganya tidak akan tinggal diam sebelum semuanya mati terbunuh atau 
gugur. Dan kalau sampai mereka mati terbunuh, maka semua orang Khazraj tidak akan 
berpangku tangan sebelum mereka semua mati terbunuh. Dan kalau sampai orang Khazraj 
diperangi, maka semua orang Aus akan bangkit ikut berperang bersama-sama orang Khazraj." 
Pendapat Imam Ali r.a. 
Ketika berlangsung proses pembai'atan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. sebagai Khalifah untuk 
meneruskan kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. atas ummat Islam, Imam Ali r.a. tidak ikut 
terlibat di dalamnya. Ia masih sibuk mempersiapkan pemakaman jenazah Rasul Allah s.a.w. 
Hampir tidak ada ungkapan sejarah yang mengemukakan bagaimana sikap Imam Ali r.a. pada 
waktu mendengar berita tentang terbai'atnya Abu Bakar r.a. secara mendadak sebagai 
Khalifah. Tetapi isteri Imam Ali r.a., puteri Rasul Allah s.a.w. yang selalu bersikap terus terang, 
sukar menerima kenyataan terbai'atnya Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah. Sitti Fatimah Azzahra 
r.a. berpendirian, bahwa yang patut memikul tugas sebagai Khalifah dan penerus 
kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. hanyalah suaminya. 
Pendirian Sitti Fatimah r.a. didasarkan pada kenyataan bahwa Imam Ali r.a. adalah satu-satunya 
kerabat terdekat beliau. Bahwa seorang anggota ahlul-bait Rasul Allah s.a.w. lebih 
berhak ketimbang orang lain untuk menduduki jabatan Khalifah. Selain itu Imam Ali r.a. juga 
sangat dekat hubungannya dengan Rasul Allah s.a.w., baik dilihat dari sudut hubungan 
kekeluargaan maupun dari sudut prestasi besar yang telah diperbuat dalam perjuangan 
menegakkan agama Allah. Demikian pula ilmu pengetahuannya yang sangat kaya berkat ajaran 
dan pendidikan yang diberikan langsung oleh Rasul Allah s.a.w. kepadanya. Itu merupakan 
syarat-syarat terpenting bagi seseorang untuk dapat di bai'at sebagai penerus kepemimpinan 
Rasul Allah s.a.w. atas ummatnya. 
Dengan gigih Sitti Fatimah r.a. memperjuangkan keyakinan dan pendiriannya itu. Pada suatu 
malam dengan menunggang unta ia mendatangi sejumlah kaum Anshar yang telah membai'at 
Abu Bakar r.a. guna menuntut hak suaminya. Kaum Anshar yang didatanginya itu menanggapi 
tuntutan Sitti Fatimah r.a. dengan mengatakan: "Wahai puteri Rasul Allah s.a.w., pembai'atan 
Abu Bakar sudah terjadi. Kami telah memberikan suara kepadanya. Kalau saja ia (Imam Ali r.a.) 
datang kepada kami sebelum terjadi pembai'atan itu, pasti kami tidak akan memilih orang 
lain." 
Imam Ali r.a: sendiri dalam menanggapi pembai'atan Abu Bakar r.a. hanya mengatakan: 
"Patutkah aku meninggalkan Rasul Allah s.a.w. sebelum jenazah beliau selesai dimakamkan…, 
54
hanya untuk mendapat kekuasaan?" 
Pembicaraan dan perdebatan mengenai masalah kekhilafan banyak dilakukan orang, termasuk 
antara Imam Ali r.a. dan orang-orang Bani Hasyim di satu fihak, dengan Abu Bakar r.a. dan 
Umar r.a. di lain fihak. Semuanya itu tidak mengubah keadaan yang sudah terjadi. Sebagai 
akibatnya hubungan antara Sitti Fatimah r.a. dan Abu Bakar r.a. tidak lagi pernah berlangsung 
secara baik. 
Sebagai orang yang merasa dirinya mustahak memangku jabatan khalifah, Imam Ali r.a. tidak 
meyakini tepatnya pembai'atan yang diberikan oleh kaum Muhajirin dan Anshar kepada Abu 
Bakar r.a. Selama 6 bulan ia mengasingkan diri dan menekuni ilmu-ilmu agama yang 
diterimanya dari Rasul Allah s.a.w. 
Dalam masa 6 bulan ini muncullah berbagai macam peristiwa berbahaya yang mengancam 
kelestarian dan kesentosaan ummat. 
Demi untuk memelihara kesentosaan Islam dan menjaga keutuhan ummat dari bahaya 
perpecahan, akhirnya Imam Ali r.a. secara ikhlas menyatakan kesediaan mengadakan kerja-sama 
dengan khalifah Abu Bakar r.a. Terutama mengenai hal-hal yang olehnya dipandang 
menjadi kepentingan Islam dan kaum muslimin. Sikap Imam Ali r.a. yang seperti itu tercermin 
dengan jelas sekali dalam sepucuk suratnya yang antara lain: 
"Aku tetap berpangku-tangan sampai saat aku melihat banyak orang-orang yang meninggalkan 
Islam dan kembali kepada agama mereka semula. Mereka berseru untuk menghapuskan agama 
Muhammad s.a.w. Aku khawatir, jika tidak membela Islam dan pemeluknya, akan kusaksikan 
terjadinya perpecahan dan kehancuran. Bagiku hal itu merupakan bencana yang lebih besar 
dibanding dengan hilangnya kekuasaan. Kekuasaan yang ada di tangan kalian, tidak lain 
hanyalah suatu kenikmatan sementara dan hanya selama beberapa waktu saja. Apa yang sudah 
ada pada kalian akan lenyap seperti lenyapnya bayangan fatamorgana atau seperti lenyapnya 
awan. Oleh karena itu, aku bangkit menghadagi kejadian itu, sampai semua kebatilan tersingkir 
musnah, dan sampai agama berada dalam suasana tenteram…" 
Sejak saat itu suara Imam Ali r.a. berkumandang kembali di tengah-tengah kaum muslimin, 
terutama pada saat-saat ia dimintai pendapat-pendapat oleh Khalifah Abu Bakar r.a. 
Kesempatan-kesempatan semacam itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberi pengarahan 
kepada kehidupan Islam dan kaum muslimin, agar jangan sampai menyimpang dari ketentuan-ketentuan 
Allah dan Rasul-Nya, baik di bidang legislatif (tasyri'iyyah), eksekutif (tanfidziyyah), 
maupun judikatif (qadha'iyyah). 
Dialog Abu Bakar r.a. dengan Abbas r.a. 
Dalam buku Syarh Nahjil Balaghah, jilid I, halaman 97-100. Ibnu Abil Hadid mengetengahkan 
suatu keterangan tentang situasi pada saat terbai'atnya Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah. 
Keterangan itu dikutipnya dari penuturan Al-Barra' bin Azib, seorang yang sangat besar 
simpatinya kepada Bani Hasyim. 
"Aku adalah orang yang tetap mencintai Bani Hasyim," kata Al-Barra' bin Azib. "Pada waktu 
Rasul Allah s.a.w. mangkat, aku sangat khawatir kalau-kalau orang Qureiys sudah punya 
rencana hendak menjauhkan orang-orang Bani Hasyim dari masalah itu, yakni masalah 
kekhalifahan. Aku bingung sekali, seperti bingungnya seorang ibu yang kehilangan anak kecil. 
Padahal waktu itu aku masih sedih disebabkan oleh wafatnya Rasul Allah s.a.w. Aku ragu-ragu 
menemui orang-orang Bani Hasyim, yang ketika itu sedang berkumpul di kamar Rasul Allah 
s.a.w. Wajah mereka kuamat-amati dengan penuh perhatian. Demikian juga air muka orang-orang 
55 
Qureiys." 
"Demikian itulah keadaanku ketika aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak berada di tempat itu.
Sementara itu ada orang mengatakan bahwa sejumlah orang sedang berkumpul di Saqifah Bani 
Sa'idah. Orang lain lagi mengatakan bahwa Abu Bakar telah dibai'at sebagai Khalifah." 
"Tak lama kemudian kulihat Abu Bakar bersama-sama Umar Ibnul Khattab, Abu Ubaidah bin Al- 
Jarrah dan sejumlah orang lainnya. Mereka itu tampaknya habis menghadiri pertemuan yang 
baru saja diadakan di Saqifah Bani Sa'idah. Kulihat juga hampir semua orang yang berpapasan 
dengan mereka ditarik; dihadapkan dan dipegangkan tangannya kepada tangan Abu Bakar 
sebagai tanda pernyataan bai'at. Saat itu hatiku benar-benar terasa berat. 
"Kemudian malam harinya kulihat Al-Miqdad, Salman, Abu Dzar, Ubadah bin Shamit, Abul 
Haitsam bin At Taihan, Hudzaifah dan 'Ammar bin Yasir. Mereka ini ingin supaya diadakan 
musyawarah kembali di kalangan kaum Muhajirin. Berita tentang hal ini kemudian didengar 
oleh Abu Bakar dan Umar." 
"Berangkatlah Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan Al-Mughirah untuk menjumpai Abbas bin 
Abdul Mutthalib di rumahnya, Setelah mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah s.w.t., Abu 
Bakar berkata kepada Abbas:"Allah telah berkenan mengutus Muhammad s.a.w. sebagai Nabi 
kepada kalian. Allah pun telah mengaruniakan rahmat-Nya kepada ummat dengan adanya Rasul 
Allah di tengah-tengah mereka, sampai Dia menetapkan sendiri apa yang menjadi kehendak- 
Nya." 
"Rasul Allah s.a.w. meninggalkan ummatnya supaya mereka menyelesaikan sendiri siapa yang 
akan diangkat sebagai waliy (pemimpin) mereka. Kemudian kaum muslimin memilih diriku 
untuk melaksanakan tugas memelihara dan menjaga kepentingan-kepentingan mereka. Pilihan 
mereka itu kuterima dan aku akan bertindak sebagai waliy mereka. Dengan pertolongan Allah 
dan bimbingan-Nya, aku tidak akan merasa khawatir, lemah, bingung ataupun takut. Bagiku tak 
ada taufiq dan pertolongan selain dari Allah. Hanya kepada Allah sajalah aku bertawakkal, 
kepada-Nya jualah aku akan kembali." 
"Tetapi, belum lama berselang aku mendengar ada orang yang menentang dan mengucapkan 
kata-kata yang berlainan dari yang telah dinyatakan oleh kaum muslimin pada umumnya. Orang 
itu hendak menjadikan kalian sebagai tempat berlindung dan benteng. Sekarang terserahlah 
kepada kalian, apakah kalian hendak mengambil sikap seperti yang telah diambil oleh orang 
banyak, ataukah hendak mengubah sikap mereka dari apa yang sudah menjadi kehendak 
mereka." 
"Kami datang kepada anda, karena kami ingin agar kalian ambil bagian dalam masalah itu. Kami 
tahu bahwa anda adalah paman Rasul Allah s.a.w. Demikian juga semua kaum muslimin 
mengetahui kedudukan anda dan keluarga anda di sisi Rasul Allah s.a.w. Oleh karena itu 
mereka pasti bersedia meluruskan persoalan bersama-sama anda. Terserahlah kalian, orang-orang 
Bani Hasyim, sebab Rasul Allah dari kami dan dari kalian juga." 
Menurut Al-Barra', sampai di situ Umar Ibnul Khattab menukas perkataan Abu Bakar r.a. dengan 
cara-caranya sendiri yang keras. Kemudian Umar r.a berkata kepada Abbas: "Kami datang 
bukan kerena butuh kepada kalian, tetapi kami tidak suka ada orang-orang muslimin dari kalian 
yang turut menentang. Sebab dengan cara demikian kalian akan lebih banyak menumpuk kayu 
bakar di atas pundak kaum muslimin. Lihatlah nanti apa yang akan kalian saksikan bersama-sama 
56 
kaum muslimin." 
Menanggapi ucapan Abu Bakar r.a. serta Umar r.a. tadi, menurut catatan Al-Barra', waktu itu 
Abbas menjawab: 
"…Sebagaimana anda katakan tadi, benarlah bahwa Allah telah mengutus Muhammad s.a.w. 
sebagai Nabi dan sebagai pemimpin kaum msulimin. Dengan itu Allah telah melimpahkan 
karunia kepada ummat Muhammad sampai Allah menetapkan sendiri apa yang menjadi
kehendak-Nya. Rasul Allah s.a.w. telah meninggalkan ummatnya supaya mereka menyelesaikan 
sendiri urusan mereka dan memilih sendiri siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin 
mereka.Mereka tetap berada di dalam kebenaran dan telah menjauhkan diri dari bujukan hawa 
nafsu. 
"Jika atas nama Rasul Allah s.a.w. anda minta kepadaku supaya aku turut ambil bagian, 
sebenarnya hak kami sudah anda ambil lebih dulu. Tetapi jika anda mengatas-namakan kaum 
muslimin, kami ini pun sebenarnya adalah bagian dari mereka." 
"Dalam persoalan kalian itu, kami tidak mengemukakan hal yang berlebih-lebihan. Kami tidak 
mencari pemecahan melalui jalan tengah dan tidak pula hendak menambah ruwetnya 
persoalan. Jika sekiranya persoalan itu sudah menjadi kewajiban anda terhadap kaum 
muslimin, kewajiban itu tidak ada artinya jika kami tidak menyukainya." 
"Alangkah jauhnya apa yang telah anda katakan tadi, bahwa di antara kaum muslimin ada yang 
menentang, di samping ada lain-lainnya lagi yang condong kepada anda. Apa yang anda katakan 
kepada kami, kalau hal itu memang benar sudah menjadi hak anda kemudian hak itu hendak 
anda berikan kepada kami, sebaiknya hal itu janganlah anda lakukan. Tetapi jika memang 
menjadi hak kaum muslimin, anda tidak mempunyai wewenang untuk menetapkan sendiri. 
Namun jika hal itu menjadi hak kami, 
kami tidak rela menyerahkan sebagian pun kepada anda. Apa yang kami katakan itu sama sekali 
bukan berarti bahwa kami ingin menyingkirkan anda dari urusan kekhalifahan yang sudah anda 
terima. Kami katakan hal itu semata-mata karena tiap hujjah memerlukan penjelasan." 
"Adapun ucapan anda yang mengatakan 'Rasul Allah dari kami dan dari kalian juga', maka beliau 
sesungguhnya berasal dari sebuah pohon dan kami adalah cabang-cabangnya, sedangkan kalian 
adalah tetangga-tetangganya." 
"Mengenai yang anda katakan, hai Umar, tampaknya anda khawatir terhadap apa yang akan 
diperbuat oleh orang banyak terhadap kami. Sebenarnya itulah yang sejak semula hendak 
kalian katakan kepada kami. Tetapi hanya kepada Allah sajalah kami mohon pertolongan." 
Kekhalifahan Abu Bakar r.a. 
Masa kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. kurang lebih hanya dua tahun. Dalam waktu yang 
singkat itu terjadi beberapa kali krisis yang mengancam kehidupan Islam dan 
perkembangannya. Perpecahan dari dalam, maupun rongrongan dari luar cukup gawat. Di 
utara, pasukan Byzantium (Romawi Timur) yang menguasai wilayah Syam melancarkan berbagai 
macam provokasi yang serius, guna menghancurkan kaum muslimin Arab, yang baru saja 
kehilangan pemimpin agungnya. 
Dekat menjelang wafatnya, Rasul Allah s.a.w. merencanakan sebuah pasukan ekspedisi untuk 
melawan bahaya dari utara itu, dengan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima. Tetapi 
belum sempat pasukan itu berangkat ke medan juang, Rasul Allah wafat. 
Setelah Abu Bakar r.a. menjadi Khalifah dan pemimpin ummat, amanat Rasul Allah dilanjutkan. 
Pada mulanya banyak orang yang meributkan dan meragukan kemampuan Usamah, dan 
pengangkatannya sebagai Panglima pasukan dipandang kurang tepat. Usamah dianggap masih 
ingusan. Lebih-lebih karena pasukan Byzantium jauh lebih besar, lebih kuat persenjataannya 
dan lebih banyak pengalaman. Apa lagi pasukan Romawi itu baru saja mengalahkan pasukan 
Persia dan berhasil menduduki Yerusalem. Di kota suci ini, pasukan Romawi berhasil pula 
merebut kembali "salib agung" kebanggaan kaum Nasrani, yang semulanya sudah jatuh ke 
tangan orang-orang Persia. 
Dengan dukungan sahabat-sahabat utamanya, Khalifah Abu Bakar r.a. berpegang teguh pada 
amanat Rasul Allah s.a.w. Dalam usaha meyakinkan orang-orang tentang benar dan tepatnya 
57
kebijaksanaan Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. memainkan peranan yang tidak kecil. Akhirnya 
Usamah bin Zaid tetap diserahi pucuk pimpinan atas sebuah pasukan yang bertugas ke utara. 
Pengangkatan Usamah sebagai Panglima ternyata tepat. Usamah berhasil dalam ekspedisinya 
dan kembali ke Madinah membawa kemenangan gemilang. 
Bahaya desintegrasi atau perpecahan dalam tubuh kaum muslimin mengancam pula 
keselamatan ummat. Muncul oknum-oknum yang mengaku dirinya sebagai "nabi-nabi". Muncul 
pula kaum munafik menelanjangi diri masing-masing. Beberapa Qabilah membelot secara 
terang-terangan menolak wajib zakat. Selain itu ada qabilah-qabilah yang dengan serta merta 
berbalik haluan meninggalkan Islam dan kembali ke agama jahiliyah. Pada waktu Rasul Allah 
masih segar bubar, mereka itu ikut menjadi "muslimin". Setelah beliau wafat, mereka 
memperlihatkan belangnya masing-masing. Seolah-olah kepergian beliau untuk selama-lamanya 
itu dianggap sebagai pertanda berakhirnya Islam. 
Demikian pula kaum Yahudi. Mereka mencoba hendak menggunakan situasi krisis sebagai 
peluang untuk membangun kekuatan perlawanan balas dendam terhadap kaum muslimin. 
Tidak kalah berbahayanya ialah gerak-gerik bekas tokoh-tokoh Qureiys, yang kehilangan 
kedudukan setelah jatuhnya Makkah ke tangan kaum muslimin. Mereka itu giat berusaha 
merebut kembali kedudukan sosial dan ekonomi yang telah lepas dari tangan. Tentang mereka 
ini Khalifah Abu Bakar r.a. sendiri pernah berkata kepada para sahabat: "Hati-hatilah kalian 
terhadap sekelompok orang dari kalangan 'sahabat' yang perutnya sudah mengembang, matanya 
mengincar-incar dan sudah tidak bisa menyukai siapa pun juga selain diri mereka sendiri. 
Awaslah kalian jika ada salah seorang dari mereka itu yang tergelincir. Janganlah kalian sampai 
seperti dia. Ketahuilah, bahwa mereka akan tetap takut kepada kalian, selama kalian tetap 
takut kepada Allah…" 
Berkat kepemimpinan Abu Bakar r.a., serta berkat bantuan para sahabat Rasul Allah s.a.w., 
seperti Umar Ibnul Khattab r.a., Imam Ali r.a., Ubaidah bin Al-Jarrah dan lain-lain, krisis-krisis 
tersebut di atas berhasil ditanggulangi dengan baik. Watak Abu Bakar r.a. yang demokratis,dan 
kearifannya yang selalu meminta nasehat dan pertimbangan para tokoh terkemuka, seperti 
Imam Ali r.a., merupakan, modal penting dalam tugas menyelamatkan ummat yang baru saja 
kehilangan Pemimpin Agung, Nabi Muhammad s.a.w. 
Dengan masa jabatan yang singkat, Khalifah Abu Bakar r.a. berhasil mengkonsolidasi persatuan 
ummat, menciptakan stabilitas negara dan pemerintahan yang dipimpinnya dan menjamin 
keamanan dan ketertiban di seluruh jazirah Arab. 
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. memang seorang tokoh yang lemah jasmaninya, akan tetapi ramah 
dan lembut perangainya, lapang dada dan sabar.Sesungguhpun demikian, jika sudah 
menghadapi masalah yang membahayakan keselamatan Islam dan kaum muslimin, ia tidak 
segan-segan mengambil tindakan tegas, bahkan kekerasan ditempuhnya bila dipandang perlu. 
Konon ia wafat akibat serangan penyakit demam tinggi yang datang secara tiba-tiba. 
Menurut buku Abqariyyatu Abu Bakar, yang di tulis Abbas Muhammad Al 'Aqqad", sebenarnya 
Abu Bakar r.a. sudah sejak lama terserang penyakit malaria. Yaitu beberapa waktu setelah 
hijrah ke Madinah. Penyakit yang dideritanya itu dalam waktu relatif lama tampak sembuh, 
tetapi tiba-tiba kambuh kembali dalam usianya yang sudah lanjut. Abu Bakar r.a. wafat pada 
usia 63 tahun. 
Bab VII : KHALIFAH UMAR IBNUL KHATTAB R.A. 
Di samping ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, Umar Ibnul Khattab r.a. terkenal sebagai 
orang yang bertabiat keras, tegas, terus terang dan jujur. Sama halnya seperti Abu Bakar Ash 
Shiddiq r.a., sejak memeluk Islam ia menyerahkan seluruh hidupnya untuk kepentingan Islam 
dan muslimin. Baginya tak ada kepentingan yang lebih tinggi dan harus dilaksanakan selain 
perintah Allah dan Rasul-Nya. 
58
Kekuatan fisik dan mentalnya, ketegasan sikap dan keadilannya, ditambah lagi dengan 
keberaniannya bertindak, membuatnya menjadi seorang tokoh dan pemimpin yang sangat 
dihormati dan disegani, baik oleh lawan maupun kawan. Sesuai dengan tauladan yang diberikan 
Rasul Allah s.a.w., ia hidup sederhana dan sangat besar perhatiannya kepada kaum sengsara, 
terutama mereka yang diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain. 
Bila Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. menjadi Khalifah melalui pemilihan kaum muslimin, maka Umar 
Ibnul Khattab r.a. dibai'at sebagai Khalifah berdasarkan pencalonan yang diajukan oleh Abu 
Bakar r.a. beberapa saat sebelum wafat. Masa kekhalifahan Umar Ibnul Khattab r.a. 
berlangsung selama kurang lebih 10 tahun. 
Sukses dan Tantangan 
Di bawah pemerintahannya wilayah kaum muslimin bertambah luas dengan kecepatan luar 
biasa. Seluruh Persia jatuh ke tangan kaum muslimin. Sedangkan daerah-daerah kekuasaan 
Byzantium, seluruh daerah Syam dan Mesir, satu persatu bernaung di bawah bendera tauhid. 
Penduduk di daerah-daerah luar Semenanjung Arabia berbondong-bondong memeluk agama 
Islam. Dengan demikian lslam bukan lagi hanya dipeluk bangsa Arab saja, tetapi sudah rnenjadi 
agama berbagai bangsa. 
Sukses gilang-gemilang yang tercapai tak dapat dipisahkan dari peranan Khalifah Umar Ibnul 
Khattab r.a. sebagai pemimpin. Ia banyak mengambil prakarsa dalam mengatur administrasi 
pemerintahan sesuai dengan tuntutan keadaan yang sudah berkembang. Demikian pula di 
bidang hukum. Dengan berpegang teguh kepada prinsip-prinsip ajaran Islam, dan dengan 
memanfaatkan ilmu-ilmu yang dimiliki para sahabat Nabi Muhammad s.a.w., khususnya Imam 
Ali r.a., sebagai Khalifah ia berhasil menfatwakan bermacam-macam jenis hukum pidana dan 
perdata, disamping hukum-hukum yang bersangkutan dengan pelaksanaan peribadatan. 
Tetapi bersamaan dengan datangnya berbagai sukses, sekarang kaum rnuslimin sendiri mulai 
dihadapkan kepada kehidupan baru yang penuh dengan tantangan-tantangan. Dengan adanya 
wilayah Islam yang bertambah luas, dengan banyaknya daerah-daerah subur yang kini menjadi 
daerah kaum muslimin, serta dengan kekayaan yang ditinggalkan oleh bekas-bekas penguasa 
lama (Byzantium dan Persia), kaum muslimin Arab mulai berkenalan dengan kenikmatan hidup 
keduniawian. 
Hanya mata orang yang teguh iman sajalah yang tidak silau melihat istana-istana indah, kota-kota 
gemerlapan, ladang-ladang subur menghijau dan emas perak intan-berlian berkilauan. 
Kaum muslimin Arab sudah biasa menghadapi tantangan fisik dari musuh-musuh Islam yang 
hendak mencoba menghancurkan mereka, tetapi kali ini tantangan yang harus dihadapi jauh 
lebih berat, yaitu tantangan nafsu syaitan, yang tiap saat menggelitik dari kiri-kanan, muka-belakang. 
Tantangan berat itulah yang mau tidak mau harus ditanggulangi oleh Khalifah Umar Ibnul 
Khattab r.a. Berkat ketegasan sikap, kejujuran dan keadilannya, dan dengan dukungan para 
sahabat Rasul Allah s.a.w. yang tetap patuh pada tauladan beliau, Khalifah Umar r.a. berhasil 
menekan dan membatasi sekecil-kecilnya penyelewengan yang dilakukan oleh sementara tokoh 
kaum muslimin. Pintu-pintu korupsi ditutup sedemikian rapat dan kuatnya. Tindakan tegas dan 
keras, cepat pula diambil terhadap oknum-oknum yang bertindak tidak jujur terhadap 
kekayaan negara. Sudah tentu ia memperoleh dukungan yang kuat dari semua kaum muslimin 
yang jujur, sedangkan oknum-oknum yang berusaha keras memperkaya diri sendiri, keluarga 
dan golongannya, pasti melawan dan memusuhinya. 
Selama berada di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a., musuh-musuh kaum 
muslimin memang tidak dapat berkutik. Namun bahaya latent yang berupa rayuan kesenangan 
hidup duniawi, tetap tumbuh dari sela-sela ketatnya pengawasan Khalifah. 
59
Dalam menghadapi tantangan yang sangat berat itu, Khalifah Umar r.a. tidak sedikit menerima 
bantuan dari Imam Ali r.a. Dalam masa yang penuh dengan tantangan mental dan spiritual itu, 
Imam Ali r.a. menunjukkan perhatiannya yang dalam. 
Dengan segenap kemampuan dan kekuatannya, Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. bersama para 
sahabat-sahabat Rasul Allah s.a.w., berusaha keras mengendalikan situasi yang hampir 
meluncur ke arah negatif. 
Umar r.a. sering berkeliling tanpa diketahui orang untuk mengetahui kehidupan rakyat, 
terutama mereka yang hidup sengsara. Dengan pundaknya sendiri, ia memikul gandum yang 
hendak diberikan sebagai bantuan kepada seorang janda yang sedang ditangisi oleh anak-anaknya 
60 
yang kelaparan. 
Jika Umar r.a. mengeluarkan peraturan baru, anggota-anggota keluarganya justru yang 
dikumpulkannya lebih dulu. Ia minta supaya semua anggota keluarganya menjadi contoh dalam 
melaksanakan peraturan baru itu. Apabila di antara mereka ada yang melakukan pelanggaran, 
maka hukuman yang dijatuhkan kepada mereka pasti lebih berat daripada kalau pelanggaran 
itu dilakukan oleh orang lain. 
Dengan kekhalifahannya. itu, Umar Ibnul Khattab r.a. telah menanamkan kesan yang sangat 
mendalam di kalangan kaum muslimin. Ia dikenang sebagai seorang pemimpin yang patut 
dicontoh dalam mengembangkan keadilan. Ia sanggup dan rela menempuh cara hidup yang tak 
ada bedanya dengan cara hidup rakyat jelata. Waktu terjadi paceklik berat, sehingga rakyat 
hanya makan roti kering, ia menolak diberi samin oleh seorang yang tidak tega melihatnya 
makan roti tanpa disertai apa-apa. Ketika itu ia mengatakan: "Kalau rakyat hanya bisa makan 
roti kering saja, aku yang bertanggung jawab atas nasib mereka pun harus berbuat seperti itu 
juga." 
Memanggil calon pengganti 
Kepemimpinan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. atas ummat Islam benar-benar memberikan 
ciri khusus kepada pertumbuhan Islam. Sumbangan yang diberikan bagi kemantapan hidup 
kenegaraan dan kemasyarakatan ummat, sungguh tidak kecil. 
Umar Ibnul Khattab r.a. wafat, setelah menderita sakit parah akibat luka-luka tikaman senjata 
tajam yang dilakukan secara gelap oleh seorang majusi bernama Abu Lu'lu-ah. Dalam keadaan 
kritis di atas pembaringan pemimpin ummat Islam ini masih sempat meletakkan dasar prosedur 
bagi pemilihan Khalifah penggantinya. Rasa tanggung jawabnya yang besar atas kesinambungan 
kepemimpinan ummat Islam masih tetap merisaukan hatinya, walaupun maut sudah berada di 
ambang kehidupannya. 
Dalam saat yang gawat itulah ia meminta pendapat para penasehatnya yang dalam catatan 
sejarah terkenal dengan sebutan "Ahlu Syuro", tentang siapa yang layak menduduki atau 
memegang pimpinan tertinggi ummat Islam. 
Umar Ibnul Khattab r.a. memang terkenal sebagai tokoh besar yang memiliki jiwa kerakyatan. 
Sehingga ketika di antara penasehatnya ada yang mengusulkan supaya Abdullah bin Umar, 
putera sulungnya, ditetapkan sebagai Khalifah pengganti, dengan cepat Umar r.a menolak. Ia 
mengatakan: "Tak seorang pun dari dua orang anak lelakiku yang bakal meneruskan tugas itu. 
Cukuplah sudah apa yang sudah dibebankan kepadaku. Cukup Umar saja yang menanggung 
resiko. Tidak. Aku tidak sanggup lagi memikul tugas itu, baik hidup ataupun mati!" Demikian 
kata Umar r.a. dengan suara berpacu mengejar tarikan nafas yang berat. 
Sehabis mengucapkan kata-kata seperti di atas, Umar r.a. lalu mengungkapkan, bahwa sebelum 
wafat, Rasul Allah s.a.w. telah merestui 6 orang sahabat dari kalangan Qureiys. Yaitu Ali bin
Abi Thalib, 'Utsman bin Affan, Thalhah bin 'Ubaidillah, Zubair bin Al 'Awwam, Sa'ad bin Abi 
Waqqash dan Abdurrahman bin 'Auf. "Aku berpendapat", kata Umar r.a. lebih jauh, "sebaiknya 
kuserahkan kepada mereka sendiri supaya berunding, siapa di antara mereka yang akan dipilih." 
Kemudian seperti berkata kepada diri sendiri, ia berucap: "Jika aku menunjuk siapa orangnya 
yang akan menggantikan aku, hal seperti itu pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari 
aku, yakni Abu Bakar Ash Shiddiq. Kalau aku tidak menunjuk siapa pun, hal itu pun pernah 
dilakukan oleh orang yang lebih afdhal daripada diriku, yakni Nabi Muhammad s.a.w." 
Tanpa menunggu tanggapan orang yang ada disekitarnya, Khalifah Umar r.a. kemudian 
memerintahkan supaya ke-enam orang (Ahlu Syuro) tersebut di atas segera dipanggil. 
Kondisi fisik Khalifah Umar r.a. yang terbaring tak berdaya itu, tampak bertambah gawat pada 
saat keenam orang yang dipanggil itu tiba. Ketika ia melihat ke-enam orang itu sudah penuh 
harap menantikan apa yang bakal diamanatkan, dengan sisa-sisa 
tenaganya Khalifah Umar r.a. berusaha memperlihatkan ketenangan. Tiba-tiba ia melontarkan 
suatu pertanyaan yang sukar dijawab oleh enam orang sahabatnya. "Apakah kalian ingin 
menggantikan aku setelah aku meninggal?" 
Tentu saja pertanyaan yang dilontarkan secara tiba-tiba dan sukar dijawab itu sangat 
mengejutkan semua yang hadir. Mula-mula mereka diam, tertegun. Dan ketika Khalifah Umar 
r.a. menatap wajah mereka satu persatu, masing-masing menunduk tercekam berbagai 
perasaan. Di satu fihak tentunya mereka itu sangat sedih melihat pemimpin mereka dalam 
kondisi fisik yang begitu merosot. Tetapi di fihak lain, mereka bingung tidak tahu kemana arah 
pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang yang arif dan bijaksana itu. Karena tak ada yang 
menjawab, Khalifah Umar r.a. mengulangi lagi pertanyaannya. 
Setelah itu barulah Zubair bin Al-'Awwam menanggapi. Ia menjawab: "Anda telah menduduki 
jabatan itu dan telah melaksanakan kewajiban dengan baik. Dalam qabilah Qureiys sebenarnya 
kami ini menempati kedudukan yang tidak lebih rendah dibanding dengan anda. Sedangkan dari 
segi keislaman dan hubungan kekerabatan dengan Rasul Allah s.a.w., kami pun tidak berada di 
bawah anda. Lalu, apa yang menghalangi kami untuk memikul tugas itu?" 
Tampaknya kata-kata yang ketus itu dilontarkan Zubair karena menyadari bahwa tokoh yang 
berbaring di hadapannya itu sudah dalam keadaan sangat gawat. Hal itu dapat kita ketahui dari 
komentar sejarah yang dikemukakan oleh seorang penulis terkenal, Syeikh Abu Utsman Al 
Jahidz. Ia mengatakan: "Jika Zubair tahu bahwa Khalifah Umar r.a. akan segera wafat di depan 
matanya, pasti ia tidak akan melontarkan kata-kata seperti itu, dan bahkan tidak akan berani 
mengucapkan sepatah kata pun." 
Kata-kata Zubair bin Al 'Awwam itu tidak langsung ditanggapi oleh Khalifah Umar r.a. Seakan-akan 
kata-kata itu tak pernah didengarnya. Dengan tersendat-sendat Khalifah Umar r.a. 
melanjutkan perkataannya: "Bisakah kuajukan kepada kalian penilaianku tentang diri kalian?" 
Kembali Zubair menukas dengan nada sinis: "Katakan saja. Tokh kalau kami minta supaya kami 
dibiarkan, anda akan tetap tidak membiarkan kami!" 
Penilaian 
Kata-kata Zubair ini tampaknya sangat menyakitkan telinga Khalifah Umar r.a. yang sabar itu. 
Sambil memandang tajam ke arah Zubair, Umar r.a. berkata: "Tentang dirimu, Zubair…, kau itu 
adalah orang yang lancang mulut, kasar dan tidak mempunyai pendirian tetap. Yang kausukai 
hanyalah hal-hal yang menyenangkan dirimu sendiri, dan engkau membenci apa saja yang tidak 
kausukai. Pada suatu ketika engkau benar-benar seorang manusia, tetapi pada ketika yang lain 
engkau adalah syaitan! Bisa jadi kalau kekhalifahan kuserahkan kepadamu, pada suatu ketika 
engkau akan menampar muka orang hanya gara-gara gandum segantang." 
61
Khalifah Umar menghentikan perkataannya sebentar, seolaholah mengambil nafas untuk 
mengumpulkan kekuatan dan mengendalikan emosinya. Kemudian ia meneruskan: "Tahukah 
engkau, jika kekuasaan kuserahkan kepadamu? Lalu siapa yang akan melindungi orang-orang 
pada saat engkau sedang menjadi syaitan? Yaitu pada saat engkau sedang dirangsang 
kemarahan?" 
Tanpa menunggu jawaban Zubair, Khalifah Umar r.a. menoleh kearah Thalhah bin Ubaidillah, 
yang segera menundukkan kepala setelah melihat sorot mata pemimpin yang berwibawa itu. 
Bukan rahasia lagi di kalangan kaum muslimin pada masa itu, bahwa sudah beberapa waktu 
lamanya Khalifah Umar r.a. memendam rasa jengkel terhadap tokoh yang satu ini. Peristiwanya 
bermula pada waktu Khalifah Abu Bakar r.a. masih hidup. Ketika itu Thalhah mengucapkan 
suatu kata kepada Abu Bakar r.a yang sangat tidak mengenakkan perasaan Umar Ibnul Khattab 
r.a 
Setelah memandang Thalhah sejenak, Khalifah Umar r.a. bertanya: "Sebaiknya aku bicara atau 
diam saja?" 
"Bicaralah!" sahut Thalhah dengan nada acuh tak acuh. "Tokh anda tidak akan berkata baik 
mengenai diriku!" 
"Aku mengenalmu sejak jari-jarimu luka pada waktu perang Uhud," kata Khalifah Umar r.a. 
kepada Thalhah. "Dan aku juga mengenal kecongkakan yang pernah muncul pada dirimu. Rasul 
Allah wafat dalam keadaan beliau tidak senang kepadamu. Itu akibat kata-kata yang 
kauucapkan ketika ayat Al-Hijab turun." 
Menurut catatan yang dibuat oleh Syeikh Abu Utsman Al Jahidz, perkataan Thalhah yang 
dimaksud ialah ucapan kepada salah seorang sahabat. Kata-kata Thalhah itu akhirnya sampai 
juga ke telinga Rasul Allah s.a.w.: "Apa arti larangan itu baginya (yakni bagi Rasul Allah s.a.w.) 
sekarang ini? Dia bakal mati. Lalu kita bakal menikahi permpuan-perempuan itu!" 
Habis berbicara tentang pribadi Thalhah, Khalifah Umar r.a. melihat kepada Sa'ad bin Abi 
Waqqash. Kepadanya Umar r.a. berkata: "Engkau seorang yang mempunyai banyak kuda 
perang. Dengan kuda-kuda itu engkau telah berjuang dan berperang. Banyak sekali senjata 
yang kau miliki, busur dan anak panahnya. Tetapi qabilah Zuhrah (asal Saad), kurang tepat 
untuk memangku jabatan Khalifah dan memimpin urusan kaum muslimin." 
Tibalah sekarang giliran Khalifah Umar r.a. menilai pribadi Abdurrahman bin 'Auf, yang rupanya 
sudah siap mendengarkan penilaiannya. "Jika separoh kaum muslimin imannya ditimbang 
dengan imanmu," kata Khalifah Umar r.a., "maka imanmulah yang lebih berat. Tetapi 
kekhalifahan tidak tepat kalau dipegang oleh seorang yang lemah seperti engkau. Qabilah 
Zuhrah (asal Abdurrahman bin 'Auf juga) kurang kena untuk urusan itu." 
Abdurrahman tidak sepatah kata pun menanggapi penilaian Khalifah Umar r.a. atas dirinya. Ia 
membiarkan Khalifah berbicara lebih lanjut mengenai diri Iman Ali r.a. "Ya Allah, alangkah 
tepat dan baiknya kalau anda tidak suka bergurau!" kata Khalifah Umar r.a. dengan nada suara 
yang agak meninggi. Kemudian dengan suara merendah dikatakan: "Seandainya anda nanti yang 
akan memimpin ummat, anda pasti akan membawa mereka menuju kebenaran yang terang 
benderang." 
Imam Ali r.a. tampak terjengah dan tersipu-sipu mendengar ucapan orang yang sangat 
dikaguminya. Juga ia tidak memberikan tanggapan terhadap penilaian yang positif atas dirinya. 
Khalifah Umar r.a. akhirnya dengan serius menoleh kearah Utsman bin Affan r.a. Tangannya 
sudah makin melemah dan tenaganya sudah sangat berkurang. Tetapi ia memaksakan diri untuk 
menilai orang keenam yang ada di hadapannya itu. "Aku merasa seakan-akan orang Qureiys 
62
telah mempercayakan kekhalifahan kepada anda," kata Khalifah dengan suara lembut, "karena 
besarnya rasa kecintaan mereka kepada anda." 
Wajah Khalifah Umar r.a. mendadak kelihatan sendu, seolah-olah sedang menahan perasaan 
getir yang menyelinap ke dalam kalbu. "Tetapi aku melihat nantinya anda akan mengangkat 
orang-orang Bani Umayyah dan Bani Mu'aith di atas orangorang lain. Kepada mereka anda akan 
menghamburkan harta ghanimah yang tidak sedikit." Suara Khalifah meninggi pula: "Akhirnya 
akan ada segerombolan 'serigala' Arab datang menghampiri anda, lalu mereka akan membantai 
anda di atas pembaringan." 
Dengan nada peringatan yang sungguh-sungguh, Khalifah Umar r.a. mengakhiri kata-katanya: 
"Demi Allah, jika anda sampai melakukan apa yang kubayangkan itu, gerombolan 'srigala' itu 
pasti akan berbuat seperti yang kukatakan. Dan kalau yang demikian itu benar-benar terjadi, 
ingatlah kepada kata-kataku ini! Semua itu akan terjadi" 
Cara Pemilihan 
Berbicara tentag wasyiat Khalifah Umar r.a. menjelang wafat nya, Syeikh Abu Utsman Al Jahidz 
juga mengungkapkan keterangan Mu'ammar bin Sulaiman At Taimiy, yang diperol~h dari Ibnu 
Abbas. Yang tersebut belakangan ini diketahui pernah mendengar apa yang pernah dikatakan 
Umar Ibnul Khattab r.a. kepada para Ahlu Syuro menjelang wafatnya: "Jika kalian saling 
membantu, saling percaya dan saling menasehati, maka kupercayakan kepemimpinan ummat 
kepada kalian, bahkan sampai kepada anak cucu kalian. Tetapi kalau kalian saling dengki, 
saling membenci , saling menyalahkan dan saling bertentangan, kepemimpinan itu akhirnya 
akan jauth ke tangan Muawiyah bin Abu Sufyan!". 
Perlu diketahui, bahwa ketika Khalifah Umar r.a. masih hidup, Muawiyah bin Abu Sufyan sudah 
beberapa tahun lamanya menjabat sebagai kepala daerah Syam. Ia diangkat sebagai kepala 
daerah oleh Umar Ibnul Khattab r.a. Sejarah kemudian mencatat, bahwa yang diperkirakan 
oleh Khalifah Umax r.a. menjelang akhir hayatnya menjadi kenyataan. 
Klimaks dari penyampaian wasyiat oleh Khalifah Umar r.a. ialah memerintahkan supaya Abu 
Thalhah A1 Anshariy datang menghadap. Waktu orang yang dipanggil itu sudah berada didekat 
pembaringannya, berkatalah Khalifah Umar r.a. dengan tegas dan jelas, seolah-olah sedang 
melepaskan sisa tenaganya yang terakhir: 
"Abu Thalhah, camkan baik-baik! Kalau kalian sudah selesai memakamkan aku, panggillah 50 
orang Anshar. Jangan lupa, supaya masing-masing membawa pedang. Lalu desaklah mereka (6 
orang Ahlu Syuro) supaya segera menyelesaikan urusan mereka (untuk memilih siapa di antara 
mereka itu yang akan ditetapkan sebagai Khalifah). Kumpulkan mereka itu dalam sebuah 
rumah. Engkau bersama-sama teman-i;emanmu berjaga jaga di pintu. Biarkan mereka 
bermusyawarah untuk memilih salah seorang di antara mereka. 
"Jika yang Iima setuju dan ada satu yang menentang, penggallah leher orang yang menentang 
itu! J'ika empat orang setuju dan ada dua yang menentang, penggallah leher dua orang itu! Jika 
tiga orang setuju dan tiga orang lainnya menentang, tunggu dan lihat dulu kepada tiga orang 
yang diantaranya termasuk Abdurrahman bin 'Auf. Kalian harus mendukung kesepakatan tiga 
orang ini. Kalau yang tiga orang lainnya masih bersikeras menentang,penggal saja leher tiga 
orang yang bersikeras itu!. 
"Jika sampai tiga hari, enam orang itu belum juga mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan 
urusan mereka, penggal saja leher enam orang itu semuanya. Biarlah kaum muslimin sendiri 
memilih siapa yang mereka sukai untuk dijadikan pemimpin mereka !". 
Dari sekelumit informasi sejarah tersebut di atas, kita mengetahui, betapa tingginya rasa 
tanggung-jawab dan jiwa kerakyatan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. Secara tertib dan 
63
terperinci, sampai detik-detik menjelang ajalnya, ia masih memikirkan caracara pengangkatan 
seorang Khalifah yang akan mengantikannya. Sambil menahan rasa sakit akibat luka-luka 
tikaman sejata tajam, ia masih sempat berusaha menyinambungkan kepemimpinan ummat 
Islam sebaik-baiknya. 
Bab VIII : KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN R.A. 
Setelah jenazah Umar Ibnul Khattab r.a. dimakamkan, Abu Thalhah Al Anshariy segera 
mengumpulkan 6 orang Ahlu Syuro yang ditunjuk Umar r.a., di sebuah rumah. Sesuai dengan 
wasiyat Khalifah Umar r.a. maka 50 orang Anshar lengkap dengan pedangnya rnasing-masing, 
ditugaskan menjaga pintu-pintu rumah. Kepada 6 orang itu dipersilakan berunding untuk 
memilih siapa di antara mereka yang akan ditetapkan sebagai Khalifah pengganti Umar Ibnul 
Khattab r.a. 
Pelaksanaan Pemilihan 
Tentang pelaksanaan pemilihan Khalifah pengganti Umar r.a. terdapat beberapa riwayat. 
Menurut Abu Utsman Al-Jahidz, pelaksanaannya sebagai berikut: 
Keenam Ahlu Syuro itu mulai bermusyawarah dan berdebat. Thalhah bin Ubaidillah tampil 
sebagai pembicara pertama. Ia langsung saja mengatakan mendukung Utsman bin Affan sebagai 
calon Khalifah. Alasan yang diajukannya untuk bersikap demikian, karena ia yakin tidak akan 
ada seorang pun yang akan mencalonkan dirinya (Thalhah) sebagai Khalifah, selama Imam Ali 
r.a. dan Utsman bin Affan r.a. masih ada. 
Kemudian tampil Zubair bin Al 'Awwam. Ia menentang pencalonan Utsman bin Affan r.a., 
seperti yang diajukan Thalhah. Ia memberikan dukungan kepada Imam Ali r.a. Orang 
memperkirakan bahwa Zubair mencalonkan Imam Ali r.a. karena hubungan kekeluargaan. 
Seperti diketahui Zubair adalah anak lelaki bibi Imam Ali Shafiyyah binti Abdul Mutthalib, dan 
ayah Imam Ali r.a. sendiri adalah saudara ibu Zubair. 
Setelah ini muncul usul ketiga, yang datangnya dari Sa'ad bin Abi Waqqash. Ia mengajukan 
misanannya sendiri, anak pamannya, yaitu Abdurrahman bin 'Auf sebagai Khalifah. Usul Sa'ad ini 
pun masih berbau fikiran kekerabatan. Kedua-duanya berasal dari qabilah Bani Zuhrah. Selain 
itu Sa'ad sendiri pun sudah merasa kecil kemungkinannya untuk terpilih sebagai Khalifah. 
Sekarang tinggal 3 orang yang belum mengajukan usul pencalonan. Abdurrahman kemudian 
bertanya kepada Imam Ali r.a. dan Utsman bin Affan r.a.: "Siapa di antara kalian berdua yang 
bersedia mengundurkan diri sebagai calon? Sebab, masalah pemilihan sekarang ini hanya 
bergantung kepada kalian berdua." 
Ternyata tak seorang pun di antara dua tokoh itu yang menanggapi pertanyaan Abdurahman bin 
Auf. Setelah beberapa saat lamanya tidak ada jawaban dan semua mata tertuju kepada Imam 
Ali r.a. dan Utsman bin Affan r.a. Abdurrahman bin Auf berkata lagi: "Sekarang aku menyatakan 
menarik diri dari pencalonan." Seterusnya ditambahkan: "Dengan demikian aku dapat memilih 
salah seorang di antara kalian berdua." 
Pernyataan Abdurrahman ini pun tidak ditanggapi, baik oleh kedua orang calon, maupun orang 
lainnya. Abdurrahman bin Auf kembali mengambil prakarsa untuk melancarkan jalannya 
pemilihan. Kepada Imam Ali r.a. ia bertanya: "Bagaimana kalau aku membai'at anda untuk 
bekerja berdasarkan Kitab Allah, Sunnah Rasul s.a.w. dan mengikuti jejak dua orang Khalifah 
yang lalu?" 
Menghadapi pertanyaan yang agak mendadak itu, dengan cepat Imam Ali r.a. menjawab: 
"Tidak! Aku menerima (pembai'atan itu) jika didasarkan kepada Kitab Allah, Sunnah Rasul 
s.a.w. dan ijtihadku sendiri." 
Tanpa mengajukan pertanyaan lebih lanjut kepada Imam Ali r.a., Abdurrahman bin Auf 
64
mengajukan pertanyaan yang sama kepada Utsman bin Affan r.a. Dengan singkat dan tegas 
Utsman bin Affan r.a. menjawab: "ya!" 
Mendengar jawaban Utsman bin Affan r.a. itu, Abdurrahman masih tiga kali lagi mengajukan 
pertanyaan yang sama kepada Imam Ali r.a. Imam Ali r.a. tetap pada jawaban semula. Akhirnya 
Abdurrahman bin Auf mendekati Utsman bin Affan r.a. kemudian memegang tangannya. Ini 
sebagai tanda pembai'atan yang diberikannya kepada Utsman bin Affan r.a. Prakarsa 
Abdurrahman bin Auf ternyata berhasil menyelesaikan pembai'atan Khalifah baru, untuk 
menggantikan Khalifah Tlmar r.a. yang telah wafat. 
Di samping versi Abu Utsman Al Jahidz ini, ada pula versi lain tentang pemilihan Khalifah 
Utsman r.a. Di dalam versi lain itu dikatakan, bahwa setelah beberapa hari melakukan 
penjajagan, akhirnya pada suatu hari Abdurrahman bin Auf, meminta kepada kaum muslimin 
supaya berkumpul di masjid Rasul Allah s.a.w. Dengan menggunakan sorban yang dahulu pernah 
dipakai oleh Rasul Allah s.a.w., dan dengan berdiri di atas mimbar pada jenjang tempat Rasul 
Allah s.a.w. dulu selalu berdiri, Abdurrahman bin Auf mengucapkan do'a dengan suara lirih. 
Sebenarnya perbuatan Abdurrahman seperti di atas menimbulkan keheranan di kalangan 
hadirin. Sebab, baik Khalifah Abu Bakar r.a. maupun Khalifah Umar r.a. sendiri, belum pernah 
berbuat demikian. 
Sambil memandang ke tempat Imam Ali r.a. duduk, Abdurrahman berseru dengan gaya penuh 
wibawa: "Hai Ali, majulah engkau!" 
Imam Ali r.a. segera memenuhi permintaan Abdurrahman bin Auf. Sebelum Imam Ali r.a. 
mengetahui benar apa yang menjadi maksud sahabatnya itu, tiba-tiba Abdurrahman memegang 
tangannya sambil mengucapkan kata-kata dengan suara keras. Isi kata-katanya sama dengan 
apa yang telah dikemukakan oleh Abu Utsman Al-Jahidz di dalam bukunya. Begitu pula proses 
seterusnya. 
Hanya dalam versi ini ditambahkan, bahwa Abdurraman bin Auf menyambut kesanggupan 
Utsman bin Affan r.a. yang sudah berusia lanjut itu dengan berkata : "Ya Allah, saksikanlah! Ya 
Allah, saksikanlah!" 
Imam Ali r.a., para sababat Rasul Allah s.a.w. lainnya, dan semua yang hadir dalam masjid itu 
tanpa ragu-ragu menerima Usman bin Affan r.a. yang sudah berusia lanjut itu sebagai 
pemimpin tertinggi mereka yang baru. 
Pembai'atan seorang Khalifah melalui pemilihan salah satu di antara 6 orang Ahlu Syuro, 
merupakan kejadian pertama dalam sejarah kekhalifahan ummat Islam. Khalifah Abu Bakar r.a. 
dibai'at langsung oleh kaum muslimin. Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. ditetapkan berdasarkan 
wasiyat Kahlifah Abu Bakar r.a. 
Akan tetapi sejalan dengan pembai'atan Utsman bin Affan r.a. sebagai Khalifah, banyak sekali 
orang bertanya-tanya tentang jawaban yang diberikan Imam Ali r.a. kepada Abdurrahman bin 
Auf. Mengapa ia mengatakan "Tidak?" 
Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan jawaban pasti. Imam Ali r.a. sendiri tidak 
pernah mengemukakan secara terbuka alasan apa yang melandasi jawabannya. Yang pasti, 
Imam Ali r.a. tidak pernah menyesal karena ia gagal menjadi Khalifah disebabkan jawabannya 
itu. Dengan ikhlas ia menerima Utsman bin Affan r.a. sebagai Amirul Mukminin. 
Sementara itu ada yang menafsirkan, bahwa perkataan "Tidak!" itu bukan ditujukan kepada 
pertanyaan Abdurrahman bin Auf yang berkaitan dengan keharusan berpegang kepada Kitab 
Allah dan Sunnah Rasul Allah, melainkan tertuju kepada keharusan mengikuti jejak Khalifah 
65
Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. 
Imam Ali r.a. tidak dapat membenarkan kebijaksanaan Khalifah Abu Bakar r.a. dalam 
mengambil keputusan tentang tanah Fadak. Yaitu tanah hak-guna Rasul Allah s.a.w. yang 
dicabut oleh Khalifah Abu Bakar r.a. sepeninggal beliau dan dijadikan hak milik kaum muslimin 
(Baitul Mal). Demikian juga terhadap kebijaksanaan Khalifah Umar r.a. yang mengadakan 
penggolongan-penggolongan dalam membagi-bagikan kekayaan Baitul Mal kepada kaum 
muslimin. 
Terbuka Kesempatan 
Peristiwa yang berlangsung secara wajar menurut norma kaum muslimin pada masa itu, 
ternyata ditanggapi secara lain oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah. Peristiwa terbai'atnya Utsman 
bin Affan r.a. sebagai Khalifah, diartikan oleh mereka, sebagai awal kemenangan Bani Umayyah 
atas orang-orang Bani Hasyim. 
Padahal Rasul Allah s.a.w. sendiri tidak pernah memandang ummatnya dari kaum apa atau dari 
keturunan mana. Semua kaum muslimin adalah saudara. Prinsip yang mulia itu nampaknya 
tidak mudah direalisasi, karena adat istiadat dan tradisi kuat yang berabad-abad bercokol di 
kalangan orang-orang Arab. 
Waktu Utsman bin Affan r.a. terpilih sebagai Khalifah, penyakit sukuisme dan keqabilahan 
muncul kembali dan malah dibesar-besarkan oleh orang-orang Bani Umayyah. Imam Ali r.a. dan 
orang-orang dari Bani Hasyim lainnya, mereka nilai sebagai mengalami kekalahan dalam 
persaingan melawan Utsman bin Affan r.a.; yang berasal dari Bani Umayyah. 
Padahal Utsman bin Affan r.a. sendiri pada saat terbai'at sebagai Khalifah, sama sekali tidak 
menyimpan fikiran seperti yang diteriakkan oleh kaum kerabatnya. Utsman bin Affan r.a. 
seorang sahabat terdekat Rasul Allah s.a.w., bahkan sampai dua kali ia 
menjadi menantu Nabi. Pertama kali ia nikah dengan Roqayah binti Muhammad Rasul Allah 
s.a.w. Kemudian setelah Roqayah r.a. meninggal, ia nikah lagi dengan Ummu Kaltsum binti 
Muhammad Rasul Allah s.a.w. Oleh karena itu Utsman bin Affan r.a. terkenal dengan sebutan 
"Dzun Nurain" (pemilik dua cahaya). Ia memeluk Islam di tangan Abu Bakar r.a. dan setelah 
menjadi orang beriman, ia sangat besar taqwanya kepada Allah dan setia kepada Rasul-Nya. 
Dalam perjuangan untuk kepentingan agama Allah dan perjuangan Rasul-Nya, Utsman bin Affan 
r.a. tidak pernah menghitung-hitung untung rugi. Hampir semua kekayaannya, harta benda dan 
jiwanya diserahkan untuk kepentingan menegakkan agama Allah. Ia terkenal pula dengan amal 
perbuatannya, yang dengan uang dari kantong sendiri membeli sumber air jernih "Bir Romah" 
untuk kepentingan semua kaum muslimin. 
Utsman bin Affan r.a. jugalah yang dengan uangnya sendiri membayar harga tanah sekitar 
masjid Rasul Allah s.a.w., ketika masjid itu sudah terlampau sempit untuk menampung jemaah 
yang bertambah membeludak. Pada waktu kaum muslimin menghadapi paceklik hebat, pada 
saat mana Rasul Allah s.a.w. telah mengambil keputusan untuk memberangkatkan pasukan 
guna menghantam perlawanan Romawi, Utsman bin Affan r.a. lah yang mengeluarkan uang dari 
koceknya untuk membeli senjata dan perlengkapan perang lainnya. Ia memang seorang 
hartawan dan hartanya dihabiskan untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. 
Pada saat menerima tugas dan tanggung jawab sebagai Khalifah, Utsman bin Affan sudah lanjut 
usia. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah yang ada di 
sekelilingnya. Dalam hal ini yang paling menonjol peranannya ialah Marwan bin Al Hakam, 
misanannya, yang menjadi pembantu utama paling dipercaya. Demikian juga Muawiyyah bin Abi 
Sufyan, seorang Gubernur atau Kepala Daerah Syam, daerah yang sangat makmur dan subur di 
sebelah utara jazirah Arab. Kedua tokoh Bani Umayyah itu mempergunakan peluang secara 
maksimal ketika usia Khalifah Utsman r.a. makin lanjut dan tidak lagi aktif sepenuhnya 
66
mengatur kehidupan negara, pemerintahan dan ummat. Secara pandai orang-orang itu merebut 
hati Khalifah, menanamkan pengaruh dan memperkuat posisi mereka di bidang kekuasaan. 
Gejala individualisme, mementingkan diri sendiri dan golongan, yang pada masa Khalifah Umar 
r.a. berhasil dipangkas tunas-tunasnya, ternyata tumbuh kembali dengan suburnya, terutama 
pada masa-masa terakhir Khalifah Utsman r.a. Sistem pemerintahan yang sangat demokratis 
yang telah dirintis oleh Rasul Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. 
setapak demi setapak digantikan dengan sistem oligarki (pemerintahan keluarga) oleh para 
pembantu Khalifah Utsman r.a. Harta Baitul Mal yang seharusnya digunakan untuk 
kemaslahatan ummat Islam, mulai banyak disalahgunakan. Muncullah penguasa-penguasa 
hartawan yang mempunyai ratusan ekor unta, kuda dan hamba sahaya, serta rumah-rumah 
indah di Bashrah, Kufah dan Iskandariyah. 
Melihat perkembangan ummat meluncur ke bawah ini, Imam Ali r.a. tidak dapat berdiam diri. 
Sebagai sahabat baik, dengan tulus ikhlas, diminta atau tidak diminta, ia menyampaikan saran-saran, 
nasehat-nasehat serta gagasan-gagasan kepada Khalifah Utsman r.a. Tentu saja sikap 
dan tindakan yang diambil Imam Ali r.a. menimbulkan rasa tidak senang, bahkan sikap 
permusuhan, dari mereka-mereka yang sedang menikmati hasil perjuangan ummat Islam untuk 
kepentingan diri mereka sendiri. 
Cara hidup yang mementingkan kesenangan duniawi di kalangan para penguasa pemerintahan 
Khalifah, dan sistem kekuasaan yang berdasarkan kerabat dan keluarga, telah membangkitkan 
rasa tidak puas yang semakin merata di kalangan ummat Islam, khususnya di kalangan qabilah-qabilah 
67 
tertentu yang hidup merana. 
Khalifah Utsman r.a. sendiri dalam batas kemampuan yang ada pada dirinya, telah berusaha 
untuk mengatasi keadaan yang semakin kritis itu, karena ia menyadari bahayanya bilamana 
dibiarkan begitu saja. Akan tetapi karena usianya yang telah lanjut 
ia tidak berdaya menghadapi "permainan" Marwan bin Al-Hakam dan Muawiyah bin Abi Sufyan. 
Khalifah Utsman praktis sudah tidak dapat lagi mengendalikan aparaturnya. 
Dikorbankan 
Apa yang di ramalkan oleh Khalifah Umar r.a. pada saat menjelang ajalnya, ternyata memang 
benar-benar terjadi. Beberapa waktu setelah terbai'at sebagai Khalifah, Utsman bin Affan r.a. 
mengangkat orang-orang dari kalangan Bani Umayyah dan di tempatkan pada kedudukan-kedudukan 
penting atau lebih penting dibanding dengan orang-orang dari qabilah lain. Posisi-posisi 
penting dalam kekuasaan negara dibagi-bagikan kepada mereka. Kalau tidak sebagai 
Kepala Daerah atau Gubernur, mereka diangkat sebagai panglima-panglima pasukan, atau 
diserahi tanah-tanah yang sangat luas. 
Salah satu prestasi besar selama kakhalifahan Utsman r.a., ummat lslam berhasil membebaskan 
Afrika Utara dari kekuasaan Byzantium. Sayangnya, seperlima dari hasil harta jarahan 
(ghanimah) yang didapat oleh kaum muslimin dari daerah-daerah Afrika Utara, banyak yang 
dihadiahkan oleh Khalifah Utsman r.a. kepada para pembantunya, terutama Marwan bin Al 
Hakam. Marwan ini adalah kerabatnya dan kemudian dipungut sebagai menantu. 
Ibnu Abil Hadid dalam bukunya Syarh Nahjil Balaghah, jilid I, halaman 97-152 telah 
mengungkapkan kebijaksanaan Khalifah Utsman r.a. yang dikendalikan oleh Marwan dan kawan-kawannya, 
yang sangat meresahkan kaum muslimin. 
Diantara tindakan-tindakan itu disebut pemberian uang sebanyak 400.000 dirham kepada 
Abdullah bin Khalid bin Asid. Khalifah Utsman r.a. juga merehabilitasi dan membolehkan Al- 
Hakam bin Al-Ash kembali bermukim di Madinah. Padahal Al-Hakam ini dahulu telah diusir oleh 
Rasul Allah s.a.w. dari kota suci itu, karena penghianatannya terhadap kaum muslimin. Bahkan 
oleh Khalifah ia diberi modal hidup berupa uang sebesar 100.000 dirham. Sedangkan Khalifah-
khalifah yang terdahulu tidak ada yang berani melanggar keputusan yang telah diambil oleh 
Rasul Allah s.a.w. mengenai pengusiran Al-Hakam. 
Masih ada lagi serentetan tindakan atau kebijaksanaan yang dilakukan oleh Khalifah Utsman 
r.a. atas desakan para penasehat dan pembantunya. Yaitu tindakan atau kebijaksanaan yang 
menyuburkan benih-benih ke-tidak-puasan di kalangan kaum muslimin. Sebuah tempat pusat 
perdagangan di kota Madinah, yang waktu itu terkenal dengan nama "Mazhur", oleh Khalifah 
Utsman dikuasakan kepada Al-Harits bin Al-Hakam, saudara Marwan bin Al-Hakam. Padahal 
tempat itu dahulunya oleh Rasul Allah s.a.w. telah diserahkan kepada kaum muslimin sebagai 
milik umum. 
Begitu pula daerah Fadak, yang dahulunya berupa tanah hak-guna Rasul Allah s.a.w.; oleh 
Khalifah diserahkan kepada pembantu dekatnya. Padahal tanah Fadak ini menurut hukum di 
bawah kekuasaan pribadi Rasul Allah s.a.w. 
Dalam sejarah Islam, daerah Fadak ini menjadi sangat terkenal, karena tuntutan dan gugatan 
yang diajukan oleh Sitti Fatimah r.a. kepada Khalifah Abu Bakar r.a., untuk memperoleh hak 
atas tanah yang dahulu berada di bawah kekuasaan ayahandanya. 
Khalifah Utsman r.a. juga mengeluarkan sebuah peraturan yang menggelisahkan penduduk 
Madinah. Di dalam peraturan itu ditetapkan, bahwa padang ilalang sekitar kota, yang secara 
tradisional sudah menjadi padang penggembalaan umum, dinyatakan tertutup kecuali bagi 
ternak milik orang-orang Bani Umayyah. 
Lebih dari itu, daerah Afrika Barat bagian utara, yang sekarang dikenal dengan wilayah-wilayah 
Marokko, Aljazair, Tunisia, Libya dan terus ke timur sampai Mesir, dikuasakan seluruhnya 
kepada Abdullah bin Abi Sarah dengan wewenang penuh. Abdullah adalah saudara sesusuan 
dengan Khalifah. Dengan kekuasaan penuh itu Abdullah mempunyai posisi penguasa mutlak di 
daerah itu, seolah-olah seorang penguasa negara di dalam negara. 
Kepada Abu Sufyan bin Harb, yang dahulu terkenal peranannya sebagai salah seorang tokoh 
paling getol memerangi Rasul Allah s.a.w., dan baru terpaksa masuk Islam setelah jatuhnya 
kota Makkah ke tangan kaum muslimin, oleh Khalifah Utsman r.a. diberi hadiah sebesar 200.000 
dirham. Uang itu diambil dari Baitul Mal. Sedangkan ketika Marwan bin Al-Hakam dipungut 
sebagai menantu untuk dinikahkan dengan puterinya yang bernama Aban, Khalifah Utsman r.a. 
membekalinya lagi dengan uang sebesar 100.000 dirham, juga diambil dari Baitul Mal. 
Sebenarnya semua kebijaksanaan yang dilakukan Khalifah Utsman r.a. merupakan pelaksanaan 
imla (dikte) yang disodorkan para pembantu yang diberi kepercayaan penuh. Khalifah Utsman 
r.a. menyadari bahwa pribadinya ditunggangi sedemikian rupa dan sedang digiring ke 
marabahaya yang sangat fatal oleh orang-orang kepercayaannya. Seorang Khalifah yang kurang 
lebih berusia 80 tahun itu, oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah dikorbankan untuk kepentingan 
pribadi-pribadi, golongan dan qabilah. 
Penyalahgunaan harta Baitul Mal seperti tersebut di atas, sudah tentu menimbulkan 
kegelisahan masyarakat muslimin pada masa itu. Sebuah riwayat mengisahkan, ketika Khalifah 
Utsman r.a. mengambil uang 100.000 dirham dari Baitul Mal untuk diserahkan kepada 
menantunya, Marwan bin Al Hakam, datanglah pengurus Baitul Mal bernama Zaid bin Arqam, 
menghadap Khalifah. Ia datang sambil menangis untuk menyerahkan kunci Baitul Mal. 
Dengan keheran-heranan. Khalifah bertanya kepada Zaid bin Arqam: "Mengapa engkau 
menangis? Apakah karena aku hendak memungut Marwan bin Al-Hakam jadi menantu?" 
"Tidak", jawab Zaid sambil menundukkan kepala dan mengusap air mata. "Aku menangis karena 
aku menduga anda mengambil harta Baitul Mal itu sebagai pengganti kekayaan anda yang 
68
dahulu anda infakkan di jalan Allah, yaitu pada masa Rasul Allah 
s.a.w. masih hidup. Demi Allah, uang 100.000 dirham yang anda berikan kepada Marwan itu 
sungguh terlampau banyak." 
"Hai Ibnu Arqam, letakkan kunci itu!" hardik Khalifah dengan wajah merah padam. "Kami bisa 
mendapatkan orang lain yang tidak seperti engkau." 
Pada masa itu kaum muslimin benar-benar merasakan adanya perbedaan yang sangat menyolok 
antara kebijaksanaan yang dilakukan Khalifah-khalifah terdahulu dengan penerusnya yang 
sekarang ini. Aparatur pemerintahan Khalifah tidak mau menanggulangi, sehingga keamanan 
dan ketertiban sangat terganggu. Ini menambah keresahan dan kecemasan penduduk. 
Banyak para sahabat Rasul Allah s.a.w. yang heran menyaksikan tindakan-tindakan Khalifah 
Utsman r.a. Sebab mereka tahu, ia terkenal sebagai seorang sahabat terdekat Nabi Muhammad. 
Seorang mukmin yang taqwa dan shaleh, tidak pernah mementingkan diri sendiri atau 
golongannya. Dermawan besar yang tak pernah menghitung-hitung untung-rugi dan resiko 
dalam berjuang untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin. 
Abu Dzar dibuang 
Abu Dzar Al-Ghifari adalah salah seorang sahabat Rasul Allah s.a.w. yang paling tidak disukai 
oleh oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi pemerintahan Khalifah Utsman r.a., 
seperti Marwan bin Al-Hakam, Muawiyyah bin Abu Sufyan dan lain-lain. 
Ia berasal dari qabilah Bani Ghifar. Suatu qabilah yang pada masa pra-Islam terkenal amat liar, 
kasar dan pemberani. Tidak sedikit kafilah Arab yang lewat daerah pemukiman mereka menjadi 
sasaran penghadangan, pencegatan dan perampasan. Abu Dzar sendiri seorang pemimpin 
terkemuka di kalangan mereka. 
Ia mempunyai sifat-sifat pemberani, terus terang dan jujur. Ia tidak menyembunyikan sesuatu 
yang menjadi pemikiran dan pendiriannya. 
Ia mendapat hidayat Allah s.w.t. dan memeluk Islam di kala Rasul Allah s.a.w. menyebarkan 
da'wah risalahnya secara rahasia dan diam-diam. Ketika itu Islam baru dipeluk kurang lebih 
oleh 10 orang. Akan tetapi Abu Dzar tanpa menghitung-hitung resiko mengumumkan secara 
terang-terangan keislamannya di hadapan orang-orang kafir Qureiys. Sekembalinya ke daerah 
pemukimannya dari Makkah, Abu Dzar berhasil mengajak semua anggota qabilahnya memeluk 
agama Islam. Bahkan qabilah lain yang berdekatan, yaitu qabilah Aslam, berhasil pula di 
Islamkan. 
Demikian gigih, berani dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam, sehingga Rasul 
Allah s.a.w. sendiri merasa kagum dan menyatakan pujiannya. Terhadap Bani Ghifar dan Bani 
Aslam, Nabi Muhammad s.a.w. dengan bangga mengucapkan: "Ghifar…, Allah telah 
mengampuni dosa mereka! Aslam…, Allah menyelamatkan kehidupan mereka!" 
Sejak menjadi orang muslim, Abu Dzar benar-benar telah menghias sejarah hidupnya dengan 
bintang kehormatan tertinggi. Dengan berani ia selalu siap berkorban untuk menegakkan 
kebenaran Allah dan Rasul-Nya.Tanpa tedeng aling-aling ia bangkit memberontak terhadap 
penyembahan berhala dan kebatilan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Kejujuran dan 
kesetiaan Abu Dzar dinilai oleh Rasul Allah s.a.w. sebagai "cahaya terang benderang." 
Pada pribadi Abu Dzar tidak terdapat perbedaan antara lahir dan batin. Ia satu dalam ucapan 
dan perbuatan. Satu dalam fikiran dan pendirian. Ia tidak pernah menyesali diri sendiri atau 
orang lain, namun ia pun tidak mau disesali orang lain. 
Kesetiaan pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya terpadu erat degan keberaniannya dan 
69
ketinggian daya-juangnya. Dalam berjuang melaksanakan perintah Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, 
Abu Dzar benar-benar serius, keras dan tulus. Namun demikian ia tidak meninggalkan prinsip 
sabar dan hati-hati. 
Pada suatu hari ia pernah ditanya oleh Rasul Allah s.a.w. tentang tindakan apa kira-kira yang 
akan diambil olehnya jika di kemudian hari ia melihat ada para penguasa yang mengangkangi 
harta ghanimah milik kaum muslimin. Dengan tandas Abu Dzar menjawab: "Demi Allah, yang 
mengutusmu membawa kebenaran, mereka akan kuhantam dengan pedangku!" 
Menanggapi sikap yang tandas dari Abu Dzar ini, Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemimpin yang 
bijaksana memberi pengarahan yang tepat. Beliau berkata: "Kutunjukkan cara yang lebih baik 
dari itu. Sabarlah sampai engkau berjumpa dengan aku di hari kiyamat kelak!" Rasul Allah 
s.a.w. mencegah Abu Dzar menghunus pedang. Ia dinasehati berjuang dengan senjata lisan. 
Sampai pada masa sepeninggal Rasul Allah s.a.w., Abu Dzar tetap berpegang teguh pada 
nasehat beliau. Di masa Khalifah Abu Bakar r.a. gejala-gejala sosial ekonomi yang dicanangkan 
oleh Rasul Allah s.a.w. belum muncul. Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a., berkat 
ketegasan dan keketatannya dalam bertindak mengawasi para pejabat pemerintahan dan kaum 
muslimin, penyakit berlomba mengejar kekayaan tidak sempat berkembang di kalangan 
masyarakat. Tetapi pada masa-masa terakhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan r.a., 
penyakit yang membahayakan kesentosaan ummat itu bermunculan laksana cendawan di musim 
hujan. Khalifah Utsman bin Affan r.a. sendiri tidak berdaya menanggulanginya. Nampaknya 
karena usia Khalifah Utsman r.a. sudah lanjut, serta pemerintahannya didominasi sepenuhnya 
oleh para pembantunya sendiri yang terdiri dari golongan Bani Umayyah. 
Pada waktu itu tidak sedikit sahabat Rasul Allah s.a.w. yang hidup serba kekurangan, hanya 
karena mereka jujur dan setia kepada ajaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Sampai ada salah 
seorang di antara mereka yang menggadai, hanya sekedar untuk dapat membeli beberapa 
potong roti. Padahal para penguasa dan orang-orang yang dekat dengan pemerintahan makin 
bertambah kaya dan hidup bermewah-mewah. Harta ghanimah dan Baitul Mal milik kaum 
muslimin banyak disalah-gunakan untuk 
kepentingan pribadi, keluarga dan golongan. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, para 
sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslimin pada umumnya dapat diibaratkan seperti 
ayam mati kelaparan di dalam lumbung padi. 
Melihat gejala sosial dan ekonomi yang bertentangan dengan ajaran Islam, Abu Dzar Al-Ghifari 
sangat resah. Ia tidak dapat berpangku tangan membiarkan kebatilan merajalela. Ia tidak 
betah lagi diam di rumah, walaupun usia sudah menua. Dengan pedang terhunus ia berangkat 
menuju Damsyik. Di tengah jalan ia teringat kepada nasihat Rasul Allah s.a.w.: jangan 
menghunus pedang. Berjuang sajalah dengan lisan! Bisikan suara seperti itu terngiang-ngiang 
terus di telinganya. Cepat-cepat pedang dikembalikan kesarungnya. 
Mulai saat itu Abu Dzar dengan senjata lidah berjuang memperingatkan para penguasa dan 
orang-orang yang sudah tenggelam dalam perebutan harta kekayaan. Ia berseru supaya mereka 
kembali kepada kebenaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Pada waktu Abu Dzar bermukim di 
Syam, ia selalu memperingatkan orang: "Barang siapa yang menimbun emas dan perak dan 
tidak menginfaqkannya di jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan 
mendapat siksa yang Pedih. Pada hari kiamat 
Di Syam Abu Dzar memperoleh banyak pendukung. Umumnya terdiri dari fakir miskin dan 
orang-orang yang hidup sengsara. Makin hari pengaruh kampanyenya makin meluas. Kampanye 
Abu Dzar ini merupakan suatu gerakan sosial yang menuntut ditegakkannya kembali prinsip-prinsip 
kebenaran dan keadilan, sesuai dengan perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya. 
Muawiyah bin Abi Sufyan, yang menjabat kedudukan sebagai penguasa daerah Syam, 
70
memandang kegiatan Abu Dzar sebagai bahaya yang dapat mengancam kedudukannya. Untuk 
membendung kegiatan Abu Dzar, Muawiyyah menempuh berbagai cara guna mengurangi 
pengaruh kampanyenya. Tindakan Muawiyyah itu tidak mengendorkan atau mengecilkan hati 
Abu Dzar. Ia tetap berkeliling kemana-mana, sambil berseru kepada setiap orang: "Aku sungguh 
heran melihat orang yang di rurnahnya tidak mempunyai makanan, tetapi ia tidak mau keluar 
menghunus pedang!" 
Seruan Abu Dzar yang mengancam itu menyebabkan makin banyak lagi jumlah kaum muslimin 
yang menjadi pendukungnya. Bersama dengan itu para penguasa dan kaum hartawan yang telah 
memperkaya diri dengan cara yang tidak jujur, sangat cemas. 
Keberanian Abu Dzar dalam berjuang tidak hanya dapat dibuktikan dengan pedang, tetapi 
lidahnya pun dipergunakan untuk membela kebenaran. Di mana-mana ia menyerukan ajaran-ajaran 
kemasyarakatan yang pernah didengarnya sendiri dari Rasul Allah s.a.w.: "Semua 
manusia adalah sama hak dan sama derajat laksana gigi sisir…," "Tak ada manusia yang lebih 
afdhal selain yang lebih besar taqwanya…", "Penguasa adalah abdi masyarakat," "Tiap orang 
dari kalian adalah penggembala, dan tiap penggembala bertanggung jawab atas 
kegembalaannya...." dan lain sebagainya. 
Para penguasa Bani Umayyah dan orang-orang yang bergelimang dalam kehidupan mewah 
sangat kecut menyaksikan kegiatan Abu Dzar. Hati nuraninya mengakui kebenaran Abu Dzar, 
tetapi lidah dan tangan mereka bergerak di luar bisikan hati nurani. Abu Dzar dimusuhi dan 
kepadanya dilancarkan berbagai tuduhan. Tuduhan-tuduhan mereka itu tidak dihiraukan oleh 
Abu Dzar. Ia makin bertambah berani. 
Pada suatu hari dengan sengaja ia menghadap Muawiyah, penguasa daerah Syam. Dengan 
tandas ia menanyakan tentang kekayaan dan rumah milik Muawiyyah yang ditinggalkan di 
Makkah sejak ia menjadi penguasa Syam. Kemudian dengan tanpa rasa takut sedikit pun 
ditanyakan pula asal-usul kekayaan Muawiyyah yang sekarang! Sambil menuding Abu Dzar 
berkata: "Bukankah kalian itu yang oleh Al-Qur'an disebut sebagai penumpuk emas dan perak, 
dan yang akan dibakar tubuh dan mukanya pada hari kiyamat dengan api neraka?!" 
Betapa pengapnya Muawiyah mendengar kata-kata Abu Dzar yang terus terang itu! Muaw iyah 
bin Abu Sufyan memang bukan orang biasa. Ia penguasa. Dengan kekuasaan di tangan ia dapat 
berbuat apa saja. Abu Dzar dianggap sangat berbahaya. Ia harus disingkirkan. Segera ditulis 
sepucuk surat kepada Khalifah Utsman r.a. di Madinah. Dalam surat itu Muawiyah melaporkan 
tentang Abu Dzar menghasut orang banyak di Syam. Disarankan supaya Khalifah mengambil 
salah satu tindakan. Berikan kekayaan atau kedudukan kepada Abu Dzar. Jika Abu Dzar 
menolak dan tetap hendak meneruskan kampanyenya, kucilkan saja di pembuangan. 
Khalifah Utsman r.a. melaksanakan surat Muawiyah itu. Abu Dzar dipanggil menghadap. Kepada 
Abu Dzar diajukan dua pilihan: kekayaan atau kedudukan. Menanggapi tawaran Khalifah itu, 
Abu Dzar dengan singkat dan jelas berkata: "Aku tidak membutuhkan duniamu!" 
Khalifah Utsman r.a. masih terus menghimbau Abu Dzar. Dikemukakannya: "Tinggal sajalah di 
sampingku!" 
Sekali lagi Abu Dzar mengulangi kata-katanya: "Aku tidak membutuhkan duniamu!" 
Sebagai orang yang hidup zuhud dan taqwa, Abu Dzar berjuang semata-mata untuk menegakkan 
kebenaran dan keadilan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Abu Dzar hanya menghendaki 
supaya kebenaran dan keadilan Allah ditegakkan, seperti yang dulu telah dilaksanakan oleh 
Rasul Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. Memang justru itulah yang 
sangat sukar dilaksanakan oleh Khalifah Utsman r.a., sebab ia harus memotong urat nadi para 
pembantu dan para penguasa bawahannya. 
71
Abu Dzar tidak bergeser sedikit pun dari pendiriannya. Akhirnya, atas desakan dan tekanan 
para pembantu dan para penguasa Bani Umayyah,Khalifah Utsman r.a. mengambil keputusan: 
Abu Dzar harus dikucilkan dalam pembuangan di Rabadzah. Tak boleh ada seorang pun 
mengajaknya berbicara dan tak boleh ada seorang pun yang mengucapkan selamat jalan atau 
mengantarkannya dalam perjalanan. 
Bagi Abu Dzar pembuangan bukan apa-apa. Sekuku-hitam pun ia tidak syak, bahwa Allah s.w.t. 
selalu bersama dia. Kapan saja dan di mana saja. Menanggapi keputusan Khalifah Utsman r.a. 
ia berkata: "Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalibku di kayu salib yang tinggi atau di 
atas bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lebih baik 
bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus berjalan dari kutub ke kutub lain, aku 
akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik bagiku. Dan 
seandainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar dan 
berserah diri kepada Allah. Kupandang hal itu lebih baik bagiku." 
Itulah Abu Dzar Ghifari, pejuang muslim tanpa pamrih duniawi, yang semata-mata berjuang 
untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, demi keridhoan Al Khalik. Ia seorang pahlawan 
yang dengan gigih dan setia mengikuti tauladan Nabi Muhammad s.a.w. Ia seorang zahid yang 
penuh taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berpangku tangan membiarkan kebatilan 
melanda ummat. 
Peristiwa dibuangnya Abu Dzar Al Ghifari ke Rabadzah sangat mengejutkan kaum muslimin, 
khususnya para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Imam Ali r.a. sangat tertusuk perasaannya. 
Bersama segenap anggota keluarga ia menyatakan rasa sedih dan simpatinya yang mendalam 
kepada Abu Dzar. 
Abu Bakar Ahmad bin Abdul Aziz Al Jauhariy dalam bukunya As Saqifah, berdasarkan riwayat 
yang bersumber pada Ibnu Abbas, menuturkan antara lain tentang pelaksanaan keputusan 
Khalifah Utsman r.a. di atas: 
Khalifah Utsman r.a. memerintahkan Marwan bin Al Hakam membawa Abu Dzar berangkat dan 
mengantarnya sampai di tengah perjalanan. Tak ada seorang pun dari penduduk yang berani 
mendekati Abu Dzar, kecuali Imam Ali r.a., Aqil bin Abi Thalib dan dua orang putera Imam Ali 
r.a., yaitu Al-Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beserta mereka ikut pula Ammar bin Yasir. 
Menjelang saat keberangkatannya, Al Hasan mengajak Abu Dzar bercakap-cakap. Mendengar itu 
Marwan bin Al-Hakam dengan bengis menegor: "Hai Hasan, apakah engkau tidak mengerti 
bahwa Amirul Mukminin melarang bercakap-cakap dengan orang ini? Kalau belum mengerti, 
ketahuilah sekarang!" 
Melihat sikap Marwan yang kasar itu, Imam Ali r.a. tak dapat menahan letupan emosinya. 
Sambil membentak ia mencambuk kepala unta yang dikendarai oleh Marwan: "Pergilah engkau 
dari sini! Allah akan menggiringmu ke neraka." 
Sudah tentu unta yang dicambuk kepalanya itu meronta-ronta kesakitan. Marwan sangat marah, 
tetapi ia tidak punya keberanian melawan Imam Ali r.a. Cepat-cepat Marwan kembali 
menghadap Khalifah untuk mengadukan perbuatan Imam Ali r.a. Khalifah Utsman meluap 
karena merasa perintahnya tidak dihiraukan oleh Imam Ali r.a. dan anggota-anggota 
keluarganya. 
Tindakan Imam Ali r.a. terhadap Marwan itu ternyata mendorong orang lain berani mendekati 
Abu Dzar guna mengucapkan selamat jalan. Di antara mereka itu terdapat seorang bernama 
Dzakwan maula Ummi Hani binti Abu Thalib. 
72
Dzakwan di kemudian hari Menceritakan pengalamannya sebagai berikut: Aku ingat benar apa 
yang dikatakan oleh mereka. Kepada Abu Dzar, Ali bin Abi Thalib mengatakan: "Hai Abu Dzar 
engkau marah demi karena Allah! Orang-orang itu, yakni para penguasa Bani Umayyah, takut 
kepadamu, sebab mereka takut kehilangan dunianya. Oleh karena itu mereka mengusir dan 
membuangmu. Demi Allah, seandainya langit dan bumi tertutup rapat bagi hamba Allah, tetapi 
hamba itu kemudian penuh taqwa kepada Allah, pasti ia akan dibukakan jalan keluar. Hai Abu 
Dzar, tidak ada yang menggembirakan hatimu selain kebenaran, dan tidak ada yang 
menjengkelkan hatimu selain kebatilan!" 
Atas dorongan Imam Ali r.a., Aqil berkata kepada Abu Dzar: "Hai Abu Dzar, apa lagi yang 
hendak kukatakan kepadamu! Engkau tahu bahwa kami ini semua mencintaimu, dan kami pun 
tahu bahwa engkau sangat mencintai kami juga. Bertaqwa sajalah sepenuhnya kepada Allah, 
sebab taqwa berarti selamat. Dan bersabarlah, karena sabar sama dengan berbesar hati. 
Ketahuilah, tidak sabar sama artinya dengan takut, dan mengharapkan maaf dari orang lain 
sama artinya dengan putus asa. Oleh karena itu buanglah rasa takut dan putus asa." 
Kemudian Al-Hasan berkata kepada Abu Dzar: "Jika seorang yang hendak mengucapkan selamat 
jalan diharuskan diam, dan orang yang mengantarkan saudara yang berpergian harus segera 
pulang, tentu percakapan akan menjadi sangat sedikit, sedangkan sesal dan iba akan terus 
berkepanjangan. Engkau menyaksikan sendiri, banyak orang sudah datang menjumpaimu. 
Buang sajalah ingatan tentang kepahitan dunia, dan ingat saja kenangan manisnya. Buanglah 
perasaan sedih mengingat kesukaran di masa silam, dan gantikan saja dengan harapan masa 
mendatang. Sabarkan hati sampai kelak berjumpa dengan Nabi-mu, dan beliau itu benar-benar 
ridho kepadamu." 
Setelah Al Hasan, kini berkatalah Al Husein: "Hai paman, sesungguhnya Allah s.w.t. berkuasa 
mengubah semua yang paman alami. Tidak ada sesuatu yang lepas dari pengawasan dan 
kekuasaan-Nya. Mereka berusaha agar paman tidak mengganggu dunia mereka. Betapa 
butuhnya mereka itu kepada sesuatu yang hendak paman cegah! Berlindunglah kepada Allah 
s.w.t. dari keserakahan dan kecemasan. Sabar merupakan bagian dari ajaran agama dan sama 
artinya dengan sifat pemurah. Keserakahan tidak akan mempercepat datangnya rizki dan 
kebatilan tidak akan menunda datangnya ajal!" 
Dengan nada marah Ammar bin Yasir menyambung: "Allah tidak akan membuat senang orang 
yang telah membuatmu sedih, dan tidak akan menyelamatkan orang yang menakut-nakutimu. 
Seandainya engkau puas melihat perbuatan mereka, tentu mereka akan menyukaimu. Yang 
mencegah orang supaya tidak mengatakan seperti yang kaukatakan, hanyalah orang-orang yang 
merasa puas dengan dunia. Orang-orang seperti itu takut menghadapi maut dan condong 
kepada kelompok yang berkuasa. Kekuasaan hanyalah ada pada orang-orang yang menang. Oleh 
karena itu banyak orang "menghadiahkan" agamanya masing-masing kepada mereka, dan 
sebagai imbalan, mereka memberi kesenangan duniawi kepada orang-orang itu. Dengan 
berbuat seperti itu, sebenarnya mereka menderita kerugian dunia dan akhirat. Bukankah itu 
suatu kerugian yang senyata-nyatanya?!" 
Sambil berlinangan air mata Abu Dzar berkata: "Semoga Allah merahmati kalian, wahai Ahlu 
Baitur Rahman! Bila melihat kalian aku teringat kepada Rasul Allah s.a.w. Suka-dukaku di 
Madinah selalu bersama kalian. Di Hijaz aku merasa berat karena Utsman, dan di Syam aku 
merasa berat karena Muawiyah. Mereka tidak suka melihatku berada di tengah-tengah saudara-saudaraku 
di kedua tempat itu. Mereka memburuk-burukkan diriku, lalu aku diusir dan dibuang 
ke satu daerah, di mana aku tidak akan mempunyai penolong dan pelindung selain Allah s.w.t. 
Demi Allah, aku tidak menginginkan teman selain Allah s.w.t. dan bersama-Nya aku tidak takut 
menghadapi kesulitan…" 
Tutur Dzakwan lebih lanjut: Setelah semua orang yang mengantarkan pulang, Imam Ali r.a. 
segera datang menghadap Khalifah Utsman bin Affan r.a. Kepada Imam Ali r.a. Khalifah 
73
bertanya dengan hati gusar: "Mengapa engkau berani mengusir pulang petugasku --yakni 
Marwan-- dan meremehkan perintahku?" 
"Tentang petugasmu," jawab Imam Ali r.a. dengan tenang "ia mencoba menghalang-halangi 
niatku. Oleh karena itu ia kubalas. Adapun tentang perintahmu, aku tidak meremehhannya." 
"Apakah engkau tidak mendengar perintahku yang melarang orang bercakap-cakap dengan Abu 
Dzar?" ujar Khalifah dengan marah. 
"Apakah setiap engkau mengeluarkan larangan yang bersifat kedurhakaan harus kuturut?" 
tanggap Imam Ali r.a. terhadap kata-kata Khalifah tadi dalam bentuk pertanyaan. 
"Kendalikan dirimu terhadap Marwan!" ujar Khalifah memperingatkan Imam Ali r.a. 
"Mengapa?" tanya Imam Ali r.a. 
"Engkau telah memaki dia dan mencambuk unta yang dikendarainya" jawab Khalifah. 
"Mengenai untanya yang kucambuk," Imam Ali menjelaskan sebagai tanggapan atas keterangan 
Khalifah Utsman r.a., "bolehlah ia membalas mencambuk untaku. Tetapi kalau dia sampal 
memaki diriku, tiap satu kali dia memaki, engkau sendiri akan kumaki dengan makian yang 
sama. Sungguh aku tidak berkata bohong kepadamu!" 
"Mengapa dia tidak boleh memakimu?" tanya Khalifah Utsman r.a. dengan mencemooh. "Apakah 
engkau lebih baik dari dia?!" 
"Demi Allah, bahkan aku lebih baik daripada engkau!" sahut Imam Ali r.a. dengan tandas. Habis 
mengucapkan kata-kata itu Imam Ali r.a. cepat-cepat keluar meninggalkan tempat. 
Beberapa waktu setelah terjadi insiden itu, Khalifah Utsman r.a. memanggil tokoh-tokoh kaum 
Muhajirin dan Anshar termasuk tokoh-tokoh Bani Umayyah. Di hadapan mereka itu ia 
menyatakan keluhannya terhadap sikap Imam Ali r.a. 
Menanggapi keluhan Khalifah Utsman bin Affan r.a., para pemuka yang beliau ajak berbicara 
menasehatkan: "Anda adalah pemimpin dia. Jika anda mengajak berdamai, itu lebih baik." 
"Aku memang menghendaki itu," jawab Khalifah Utsman r.a. Sesudah ini beberapa orang dari 
pemuka muslimin itu mengambil prakarsa untuk menghapuskan ketegangan antara Imam Ali 
r.a. dan Khalifah Utsman r.a. Mereka menghubungi Imam Ali r.a. di rumahnya. Kepada Imam Ali 
r.a. mereka bertanya: "Bagaimana kalau anda datang kepada Khalifah dan Marwan untuk 
meminta maaf?" 
"Tidak," jawab Imam Ali r.a. dengan cepat. "Aku tidak akan datang kepada Marwan dan tidak 
akan meminta maaf kepadanya. Aku hanya mau minta maaf kepada Utsman dan aku mau 
datang kepadanya." 
Tak lama kemudian datanglah panggilan dari Khalifah Utsman r.a. Imam Ali r.a. datang 
bersama beberapa orang Bani Hasyim. Sehabis memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah 
s.w.t., Imam Ali r.a. berkata: "Yang kauketahui tentang percakapanku dengan Abu Dzar, waktu 
aku mengantar keberangkatannya, demi Allah, tidak bermaksud mempersulit atau menentang 
keputusanmu. Yang kumaksud semata-mata hanyalah memenuhi hak Abu Dzar. Ketika itu 
Marwan menghalang-halangi dan hendak mencegah supaya aku tidak dapat memenuhi hak yang 
telah diberikan Allah 'Azza wa Jalla kepada Abu Dzar. Karena itu aku terpaksa menghalang-halangi 
Marwan, sama seperti dia menghalang-halangi maksudku. Adapun tentang ucapanku 
kepadamu, itu dikarenakan engkau sangat menjengkelkan aku, sehingga keluarlah marahku, 
74
yang sebenarnya aku sendiri tidak menyukainya." 
Sebagai tanggapan atas keterangan Imam Ali r.a. tersebut, Khalifah Utsman r.a. berkata 
dengan nada lemah lembut: "Apa yang telah kau ucapkan kepadaku, sudah kuikhlaskan. Dan 
apa yang telah kaulakukan terhadap Marwan, Allah sudah memaafkan perbuatanmu. Adapun 
mengenai apa yang tadi engkau sampai bersumpah, jelas bahwa engkau memang bersungguh-sungguh 
dan tidak berdusta. Oleh karena itu ulurkanlah tanganmu....!" 
Imam Ali r.a. segera mengulurkan tangan, kemudian ditarik oleh Khalifah Utsman r.a. dan 
dilekatkan pada dadanya. 
Bagaimana keadaan Abu Dzar Al Ghifari di tempat pembuangannya? Ia mati kelaparan bersama 
isteri dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan sangat menyedihkan, sehingga batu pun bisa 
turut menangis sedih! 
Menurut riwayat tentang penderitaannya dan kesengsaraannya di tempat pembuangan, 
dituturkan sebagai berikut: 
Setelah ditinggal mati oleh anak-anaknya, ia bersama isteri hidup sangat sengsara. Berhari-hari 
sebelum akhir hayatnya, ia bersama isteri tidak menemukan makanan sama sekali. Ia mengajak 
isterinya pergi ke sebuah bukit pasir untuk mencari tetumbuhan. Keberangkatan mereka berdua 
diiringi tiupan angin kencang menderu-deru. Setibanya di tempat tujuan mereka tidak 
menemukan apa pun juga. Abu Dzar sangat pilu. Ia menyeka cucuran keringat, padahal udara 
sangat dingin. Ketika isterinya melihat kepadanya, mata Abu Dzar kelihatan sudah membalik. 
Isterinya menangis, kemudian ditanya oleh Abu Dzar: "Mengapa engkau menangis?" 
"Bagaimana aku tidak menangis," jawab isterinya yang setia itu, "kalau menyaksikan engkau 
mati di tengah padang pasir seluas ini? Sedangkan aku tidak mempunyai baju yang cukup untuk 
dijadikan kain kafan bagimu dan bagiku! Bagaimana pun juga akulah yang akan mengurus 
pemakamanmu!'' 
Betapa hancurnya hati Abu Dzar melihat keadaan isterinya. Dengan perasaan amat sedih ia 
berkata: "Cobalah lihat ke jalan di gurun pasir itu, barangkali ada seorang dari kaum muslimin 
yang lewat!" 
"Bagaimana mungkin?" jawab isterinya. "Rombongan haji sudah lewat dan jalan itu sekarang 
sudah lenyap!" 
"Pergilah kesana, nanti engkau akan melihat," kata Abu Dzar menirukan beberapa perkataan 
yang dahulu pernah diucapkan oleh Rasul Allah s.a.w. "Jika engkau melihat ada orang lewat, 
berarti Allah telah menenteramkan hatimu dari perasaan tersiksa. Tetapi jika engkau tidak 
melihat seorang pun, tutup sajalah mukaku dengan baju dan letakkan aku di tengah jalan. Bila 
kaulihat ada seorang lewat, katakan kepadanya: Inilah Abu Dzar, sahabat Rasul Allah. Ia sudah 
hampir menemui ajal untuk menghadap Allah, Tuhannya. Bantulah aku mengurusnya!" 
Dengan tergopoh-gopoh isterinya berangkat sekali lagi ke bukit pasir. Setelah melihat ke sana-ke 
mari dan tidak menemukan apa pun juga, ia kembali menjenguk suaminya. Di saat ia sedang 
mengarahkan pandangan mata ke ufuk timur nan jauh di sana, tiba-tiba melihat bayang-bayang 
kafilah lewat, tampak benda-benda muatan bergerak-gerak di punggung unta. Cepat-cepat 
isteri Abu Dzar melambai-lambaikan baju memberi tanda. Dari kejauhan rombongan kafilah itu 
melihat, lalu menuju ke arah isteri Abu Dzar berdiri. Akhirnya mereka tiba di dekatnya, 
kemudian bertanya: "Hai wanita hamba Allah, mengapa engkau di sini?" 
"Apakah kalian orang muslimin?" isteri Abu Dzar balik bertanya. "Bisakah kalian menolong kami 
dengan kain kafan?" 
75
"Siapa dia?" mereka bertanya sambil menoleh kepada Abu Dzar. 
"Abu Dzar Al-Ghifari!" jawab wanita tua itu. 
Mereka saling bertanya di antara sesama teman. Pada mulanya mereka tidak percaya, bahwa 
seorang sahabat Nabi yang mulia itu mati di gurun sahara seorang diri. "Sahabat Rasul Allah?" 
tanya mereka untuk memperoleh kepastian. 
"Ya, benar!" sahut isteri Abu Dzar. 
Dengan serentak mereka berkata: "Ya Allah...! Dengan ini Allah memberi kehormatan kepada 
kita!" 
Mereka meletakkan cambuk untanya masing-masing, lalu segera menghampiri Abu Dzar. 
Orangtua yang sudah dalam keadaan payah itu menatapkan pendangannya yang kabur kepada 
orang-orang yang mengerumuninya. Dengan suara lirih ia berkata: 
"Demi Allah…, aku tidak berdusta…, seandainya aku mempunyai baju bakal kain kafan untuk 
membungkus jenazahku dan jenazah isteriku, aku tidak akan minta dibungkus selain dengan 
bajuku sendiri atau baju isteriku.....Aku minta kepada kalian, jangan ada seorang pun dari 
kalian yang memberi kain kafan kepadaku, jika ia seorang penguasa atau pegawai." 
Mendengar pesan Abu Dzar itu mereka kebingungan dan saling pandang-memandang. Di antara 
mereka ternyata ada seorang muslim dari kaum Anshar. Ia menjawab: "Hai paman, akulah yang 
akan membungkus jenazahmu dengan bajuku sendiri yang kubeli dengan uang hasil jerih-payahku. 
Aku mempunyai dua lembar kain yang telah ditenun oleh ibuku sendiri untuk 
kupergunakan sebagai pakaian ihram…" 
"Engkaukah yang akan membungkus jenazahku? Kainmu itu sungguh suci dan halal….!" Sahut 
Abu Dzar. 
Sambil mengucapkan kata-kata itu Abu Dzar kelihatan lega dan tentram. Tak lama kemudian ia 
memejamkan mata, lalu secara perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan 
tenang berserah diri ke hadirat Allah s.w.t. Awan di langit berarak-arak tebal teriring tiupan 
angin gurun sahara yang amat kencang menghempaskan pasir dan debu ke semua penjuru. Saat 
itu Rabadzah seolah-olah berubah menjadi samudera luas yang sedang dilanda tofan. 
Selesai di makamkan, orang dari Anshar itu berdiri di atas kuburan Abu Dzar sambil berdoa: "Ya 
Allah, inilah Abu Dzar sahabat Rasul Allah s.a.w., hamba-Mu yang selalu bersembah sujud 
kepada-Mu, berjuang demi keagungan-Mu melawan kaum musyrikin, tidak pernah merusak atau 
mengubah agama-Mu. Ia melihat kemungkaran lalu berusaha memperbaiki keadaan dengan 
lidah dan hatinya, sampai akhirnya ia dibuang, disengsarakan dan di hinakan sekarang ia mati 
dalam keadaan terpencil. Ya Allah, hancurkanlah orang yang menyengsarakan dan yang 
membuangnya jauh dari tempat kediamannya dan dari tempat suci Rasul Allah!" 
Mereka mengangkat tangan bersama-sama sambil mengucapkan "Aamiin" dengan khusyu'. 
Orang mulia yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari telah wafat, semasa hidupnya ia pernah 
berkata: "Kebenaran tidak meninggalkan pembela bagiku..." 
Krisis politik dan pemberontakan 
Krisis politik yang menggoncangkan pemerintahan Khalifah Utsman r.a. di Madinah prosesnya di 
mulai dari Mesir. Dalam bukunya 'Aisyah was Siyasah, halaman 48, Said Al-Afghani, sejarawan 
Islam terkemuka, menuturkan proses terjadinya pemberontakan terhadap Khalifah Utsman r.a. 
76
sebagai berikut: 
Abdullah bin Abi Sarah, yang dalam periode kekhalifahan Utsman r.a. menjadi Gubernur atau 
Kepala Daerah Mesir dengan kekuasaan penuh, banyak rnelakukan tindakan yang menimbulkan 
rasa tidak puas dan jengkel di kalangan penduduk. Keluhan penduduk Mesir itu mendapat 
tanggapan baik dari Khalifah Utsman r.a. Tetapi Khalifah sendiri tidak dapat bertindak tegas. 
Bahkan orang-orang Mesir yang mengadu kepada Khalifah, sekembalinya dari Madinah dibunuh 
oleh Abdullah bin Abi Sarah. 
Peristiwa semacam itu mengugah kemarahan rakyat yang semakin memuncak. Hampir 700 
orang bersenjata meninggalkan Mesir. Mereka menuju Madinah untuk menghadap Khalifah. 
Khalifah didesak supaya bertindak terhadap Abdullah bin Abi Sarah dan memecatnya dari 
kedudukan sebagai Kepala Daerah. 
Semua sahabat Rasul Allah s.a.w., termasuk Imam Ali r.a. dan Sitti 'Aisyah r.a. turut mendesak 
Khalifah Utsman r.a. agar memenuhi tuntutan rakyat Mesir. Bagaimana pun juga alasannya 
tindakan Abdullah bin Abi Sarah itu bertentangan dengan hukum Islam dan tidak dapat 
dipertanggung jawabkan oleh Khalifah. Khalifah Utsman. r.a. menyatakan persetujuannya dan 
akan bertindak memecat Abdullah bin Abi Sarah. 
Sejalan dengan pengangkatan Kepala Daerah baru (yang berangkat langsung dari Madinah ke 
Mesir), berangkat juga kurir khusus membawa surat rahasia untuk diserahkan kepada Abdullah 
bin Abi Sarah. Dalam surat rahasia itu terdapat tanda-tangan Khalifah Utsman r.a. Isinya 
memerintahkan Abdullah bin Abi Sarah supaya segera membunuh Kepala Daerah baru setibanya 
di Mesir. Kepala Daerah baru itu ialah Muhammad bin Abu Bakar Ash shiddiq. 
Celakanya, kurir yang membawa surat rahasia itu dipergoki di tengah jalan oleh iring-iringan 
Kepala Daerah yang baru diangkat dan yang akan melakukan timbang terima jabatan dari 
Kepala Daerah yang lama. Terbongkarlah permainan politik yang sangat curang dan kotor itu. 
Kemarahan rakyat Mesir tambah meningkat dan mendidih. 
Penduduk Mesir menuding bahwa Marwan Al-Hakam-lah biang keladi permainan politik yang 
sangat berbahaya itu. Mereka menuntut agar Khalifah Utsman r.a. menyerahkan Marwan 
kepada mereka atau menyingkirkan Marwan dari kekuasaan. Tetapi Khalifah bertahan. Banyak 
yang memberi nasehat kepada Khalifah supaya Marwan dikeluarkan saja dari pemerintahan. 
Nasehat para sahabat ini tidak dapat mengubah pendirian Khalifah yang tetap mempertahankan 
Marwan. Ia mengakui, bahwa Marwan memang membikin kesalahan, tetapi tidak usah diambil 
tindakan sejauh itu. Inilah yang mendorong timbulnya krisis politik yang dengan hebat akan 
melanda kota Madinah. 
Sikap Khalifah Utsman r.a. itu seolah-olah katup-lemah dari suasana tertekan yang siap 
meledak. Dan benarlah, rasa tidak puas rakyat terhadap kepemimpinan Khalifah Utsman bin 
Affan r.a. akhirnya menggelegar dalam bentuk pemberontakan. 
Peristiwa penggantian Kepala Daerah Mesir sebenarnya hanya merupakan sinyal saja bagai 
pecahnya pemberontakan terhadap Khalifah Utsman r.a. Api dalam sekam sudah lama 
membara, menunggu hembusan angin yang bertiup dari kantong seorang kurir yang membawa 
surat rahasia ke Mesir. 
700 orang dari Mesir, berhasil memperoleh dukungan dari sebagian besar penduduk Madinah. 
Dengan senjata di tangan masing-masing, mereka berbondong-bondong menuju tempat 
kediaman Khalifah dan dengan ketat mengepungnya. Tindakan pengepungan ini pada mulanya 
dimaksud untuk menekan Khalifah supaya cepat-cepat mengambil langkah yang tegas terhadap 
orang-orang kepercayaannya, yang selalu menjadi biang keladi timbulnya keresahan dalam 
masyarakat. 
77
Pengepungan total dan ketat itu ternyata menimbulkan akibat yang dari hari ke hari makin 
buruk bagi kehidupan keluarga Khalifah. Yang paling cepat terasa ialah kekurangan air minum. 
Pada suatu hari dalam suasana kepungan rakyat itu masih berlangsung dan tambah keras, 
Khalifah Utsman r.a. dari anjungan berteriak kepada kerumunan orang yang sedang gaduh dan 
hirukpikuk: "Adakah Ali di antara kalian?" 
"Tidak!" dijawab dengan singkat dan dengan nada kesal oleh kerumunan orang yang berada di 
bawah anjungan. 
"Apakah ada di antara kalian yang mau menyampaikan kepada Ali supaya kami bisa mendapat 
air minum?" teriak Khalifah Utsman r.a. pula. 
Teriakan Khalifah Utsman r.a. itu bermaksud hendak memberitahu kepada rakyat yang 
memberontak, bahwa persediaan air minum bagi keluarganya. sudah habis. Teriakan terakhir 
dari Khalifah ini tidak disahuti sama sekali. 
Setelah Imam Ali r.a. diberi tahu oleh seseorang, bahwa Khalifah dan keluarganya sangat 
membutuhkan air, tanpa ragu-ragu ia memerintahkan supaya kepada keluarga Khalifah yang 
sedang terkepung itu dikirim air 3 qirbah (kantong wadah air terbuat dari kulit kambing atau 
unta). Guna melaksanakan perintah itu, putera-putera Imam Ali r.a. sendiri, yaitu Al-Hasan dan 
Al-Husein membawa air ke rumah Khalifah. Berkat kewibawaan Imam Ali r.a., tidak ada orang 
yang berani menghalang-halangi pengiriman air itu. 
Suasana yang tegang itu memang sangat menyulitkan kedudukan Imam Ali r.a. Di satu fihak ia 
menghormati Khalifah Utsman r.a. sebagai pemimpin ummat yang telah dibai'at secara sah. 
Khalifah Utsman r.a. adalah sahabat karibnya dan kawan seperjuangan dalam menegakkan 
Islam, dalam waktu yang panjang mereka terikat oleh tali persaudaraan, karena masing-masing 
pernah menjadi menantu Rasul Allah s.a.w. Tetapi di fihak lain, Khalifah yang telah lanjut usia 
itu tidak berdaya mengendalikan pembantu-pembantunya. Bahkan kepada pembantu-pembantunya 
ia memberikan kepercayaan penuh. 
Berfihak kepada Khalifah berarti membela Marwan dan kawan-kawannya yang terang dibenci 
oleh kaum muslimin. Berfihak kepada kaum muslimin yang memberontak, berarti melawan 
Khalifah yang sah. Usahanya untuk menyadarkan Khalifah tentang gawatnya akibat perbuatan 
pembantu-pembantunya, tidak pernah berhasil. Khalifah Utsman r.a. memang terkenal sejak 
dulu sebagai orang yang keras dalam berpegang pada pendiriannya. 
Pertentangan batin benar-benar bergolak dalam hati Imam Ali r.a. Ia merasa wajib 
menyelamatkan keadaan dari bencana fitnah, tetapi apa daya jika fihak yang bersangkutan 
sendiri tidak menghiraukan nasehat-nasehat. Bahkan dalam keadaan yang sangat kritis itu 
Khalifah Utsman r.a. lebih dekat kepada pembantu-pembantunya. Sementara itu kaum 
pemberontak makin hari makin hilang kesabarannya. Blokade terhadap rumah kediaman 
Khalifah tidak berhasil mengubah pendirian pemimpin yang sudah lanjut usia itu. 
Para sahabat Rasul Allah s.a.w. yang lain, seperti Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Al-'Awwam 
dan Sa'ad bin Abi Waqqash, posisi mereka hampir sama dengan posisi Imam Ali r.a. Nasehat-nasehat 
mereka sudah tidak mempan bagi Khalifah. Padahal tuntutan kaum muslimin yang 
berontak benar-benar adil dan masuk akal. 
Setelah pengepungan makin hari makin berlarut dan Khalifah juga tidak bersedia memenuhi 
tuntutan kaum pemberontak, akhirnya kaum pemberontak mengambil jalan pintas. Mereka 
merencanakan pembunuhan diam-diam terhadap Khalifah Utsman r.a. 
Rencana kaum pemberontak ini cepat tercium oleh Imam Ali r.a. Ia segera memerintahkan dua 
78
orang puteranya, guna melindungi keselamatan Khalifah: "Berangkatlah kalian ke rumah 
Utsman. Bawa pedang dan berjaga-jagalah di ambang pintu rumahnya. Jaga, jangan sampai 
terjadi suatu bencana menimpa Utsman! 
Tindakan pencegahan yang dilakukan oleh Imam Ali r.a. diikuti oleh para sahabat Nabi 
Muhammad s.a.w. yang lain. Thalhah dan Zubair juga memerintahkan puteranya masing-masing 
untuk bersama-sama Al-Hasan r.a. dan Al-Husein r.a. melindungi Khalifah Utsman r.a. 
Langkah-langkah pencegahan yang diambil oleh Imam Ali r.a. itu ditulis. oleh Said Al-Afghaniy 
dalam bukunya Aisyah was Siyasah. Bahkan kata penulis ini, ketika kaum pemberontak makin 
gusar dan menghujani rumah Khalifah dengan anak panah, beberapa putera sahabat Rasul Allah 
s.a.w. yang berjaga-jaga itu ada yang terluka, antara lain Al-Hasan bin Ali dan Muhammad bin 
Thalhah. Terlukanya putera-putera para tokoh Islam itu menimbulkan kekhawatiran kaum 
pemberontak, yang nampaknya di pimpin oleh Muhammad bin Abu Bakar Ash shiddiq. 
"Kalau orang-orang Bani Hasyim datang," kata Muhammad bin Abu Bakar , "dan melihat darah 
mengalir dari tubuh Al-Hasan dan Al-Husein, mereka pasti akan bertindak terhadap kita. 
Rencana kita akhirnya akan gagal." Berdasarkan jalan fikiran yang demikian, diusulkan kepada 
teman-temannya agar Khalifah Utsman dibunuh saja secara diam-diam. 
Gugur di tangan pemberontak 
Proses terjadinya pembunuhan atas diri Khalifah Utsman r.a. ternyata banyak diteliti oleh para 
sejarawan, terutama para penulis sejarah Islam. Ada beberapa versi yang muncul mengenai 
siapa sebenarnya yang membunuh Khalifah Utsman r.a. Said Al-Afghaniy, yang bukunya 
dianggap autentik oleh para sejarawan menunjuk bahwa Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq-lah 
yang merencanakan pembunuhan itu, tetapi yang melaksanakan rencana dua orang 
temannya. 
Menurut Said Al-Afghaniy, Muhammad bin Abu Bakar bersama dua orang temannya memanjat 
dinding belakang kamar Khalifah. Ketika itu Khalifah sedang membaca Al-Qur'an dan hanya 
ditemani oleh isterinya yang bernama Na'ilah. Setelah berhasil memasuki kamar Khalifah, 
Muhammad langsung menyerbu Khalifah. Lalu janggutnya yang sudah memutih dipegangnya 
keras-keras. Khalifah dengan nada sedih berkata: "Lepaskan janggutku, hai putera saudaraku! 
Jika ayahmu melihat perbuatan yang kau lakukan ini… aah, alangkah kecewanya dia!" 
Hati Muhammad bin Abu Bakar justru terharu, cair dan luluh. Tanpa disadari, tangan yang 
sedang memegang erat janggut memutih itu mengendor perlahan-lahan dan lepaslah. Tetapi 
malang, dua orang teman Muhammad yang turut masuk menyerbu tidak dapat menguasai 
hatinya masing-masing. Tombak pendek yang mereka pegang segera dihunjamkan ke lambung 
Khalifah Utsman r.a. Seketika itu juga Khalifah gugur. Na'ilah yang menyaksikan adegan itu 
melolong dan menjerit-jerit histeris bersamaan dengan melesatnya tiga orang pemuda itu lari 
melompat jendela. Na'ilah terus menerus menjerit: "Amirul Mukminin terbunuh! Amirul 
Mukminin terbunuh!" 
Dalam versi yang sama, tetapi dengan pendekatan yang sedikit berbeda, buku yang berjudul Al- 
Iqdul Farid, jilid III, halaman 78-82, juga mengungkapkan proses pembunuhan atas diri Khalifah 
Utsman r.a. Segera setelah mendengar berita tentang terbunuhnya Khalifah Utsman r.a., Imam 
Ali r.a. termasuk orang pertama yang menuju ke kamar maut. Duka hatinya yang mendalam 
terpancar terang sekali pada wajahnya ketika menyaksikan sahabatnya gugur secara 
menyedihkan. Tetapi wajah sendu itu kemudian berubah merah padam waktu ia menoleh 
kepada dua orang puteranya. "Bagaimana ia bisa terbunuh? Bukankah kalian berdua sudah 
kuperintahkan supaya berjaga-jaga di depan pintu rumahnya?" tegor Imam Ali r.a. kepada dua 
orang puteranya dengan suara membentak. 
Tampaknya kemarahan Imam Ali r.a. demikian hebatnya, sampai kedua orang puteranya itu 
79
dipukulnya sendiri. Kemudian kepada Na'ilah, janda Khalifah Utsman r.a. yang sedang 
dirundung malang ia bertanya tentang siapa sebenarnya yang membunuh Khalifah. 
"Aku tak tahu," jawab Na'ilah. "Yang kulihat ada dua orang tak kukenal masuk bersama 
Muhammad bin Abu Bakar…" ujarnya sambil menangis. Lalu diceritakan oleh Na'ilah apa yang 
telah dilakukan oleh Muhammad bin Abu Bakar. 
Ketika Imam Ali r.a. mengecek keterangan Na'ilah kepada Muhammad bin Abu Bakar, putera 
Khalifah pertama itu hanya mengatakan: "Wanita itu tidak berdusta. Aku memang masuk ke 
kamar itu dengan rencana hendak membunuh Utsman. Tetapi pada saat ia mengingatkan aku 
tentang ayahku, aku sadar kembali dan bertaubat." 
Dengan nada sungguh-sungguh dan penuh penyesalan, putera Khalifah Abu Bakar r.a itu 
kemudian melanjutkan kata-katanya: "Demi Allah, aku tidak membunuhnya!" 
Menanggapi keterangan Muhammad bin Abu Bakar itu, Na'ilah pada lain kesempatan berkata 
kepada Imam Ali r.a.: "Bahwa apa yang dikatakan oleh Muhammad itu benar. Tetapi dialah 
yang membawa masuk dua orang pembunuh itu." 
Agak berbeda dengan dua riwayat tersebut di atas, versi lain lagi yang ditulis oleh sejarawan 
terkemuka juga, At-Thabariy, dalam bukunya Tarikh, jilid III, mengatakan pada halaman 421 
sebagai berikut: 
Seorang demi seorang memasuki kamar Khalifah yang sedang membaca Al-Qur'an. Tapi orang-orang 
itu mundur kembali karena ragu-ragu hendak membunuh Khalifah yang sudah lanjut usia. 
Kemudian masuklah Qutairah dan Saudan bin Hamran bersama seorang lagi yang dipanggil 
dengan nama Al-Gafhiqiy. Dengan sebatang besi yang dibawanya, Al-Gafhiqiy menghantam 
Khalifah Utsman. Qur'an yang sedang dibaca oleh Khalifah ditendang sampai jatuh di depan 
orangtua itu, kemudian memerah dibasahi cucuran darah yang mengalir dari luka-luka Khalifah. 
Saudan segera maju untuk menebas leher Khalifah, tetapi isterinya yang menyaksikan kejadian 
itu cepat-cepat bergerak maju untuk menahan pedang yang sedang diayun, sehingga putuslah 
jari-jarinya. 
Habis melakukan pembunuhan kejam itu, tidak lupa mereka merampas benda-benda berharga 
yang ada dalam ruangan. Bahkan mereka mencoba melucuti perhiasan yang sedang dipakai oleh 
anak-anak dan isteri Khalifah Utsman. Tetapi ketika mereka mendengar pekik dan jerit para 
wanita, terpaksa mereka buru-buru lari keluar. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 18 
bulan Dzulhijjah, tahun 35 Hijriyah, yaitu waktu Khalifah Utsman genap berusia 82 tahun. 
Terbunuhnya Khalifah ketiga ini merupakan alamat buruk yang menandai akan terjadinya krisis 
baru yang lebih hebat lagi di kalangan ummat Islam masa itu. Bagi Imam Ali r.a. sendiri, 
peristiwa itu menempatkan dirinya pada kedudukan yang serba sulit. Sebab terbunuhnya 
Khalifah berarti terjadinya kekosongan pimpinan yang serius dan tak mudah diatasi. Sedang 
wilayah Islam sudah sedemikian luasnya membentang dari barat sampai ke timur. 
Tokoh-tokoh seperti Abu Sufyan bin Harb, Muawiyah bin Abi Sufyan, Marwan bin Al-Hakam, 
Abdullah bin Abi Sarah dan lain-lain, itulah pada hakekatnya yang menggali liang kubur bagi 
Khalifah Utsman r.a. Mereka itulah sebenarnya yang harus bertanggung jawab atas terjadinya 
malapetaka yang menimpa diri Khalifah itu. Tetapi rasa tanggung jawab itu tidak ada pada 
mereka. Malahan setelah pemberontakan terjadi dan Khalifah mati terbunuh, mereka cepat-cepat 
membersihkan diri dan cuci tangan, serta menjadikan Imam Ali r.a. sebagai kambing 
80 
hitam. 
Bab IX : DELAPAN HARI TANPA KHALIFAH 
Dengan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan r.a. tidaklah terselesaikan persoalan-persoalan 
gawat yang dihadapi oleh kaum muslimin. Malahan muncul krisis politik yang sifatnya lebih
gawat, yang menuntut penanggulangan secara tepat dan bijaksana. Beberapa waktu lamanya 
kehidupan kaum muslimin tanpa pimpinan tertinggi dan situasi pemerintahan menjadi kosong. 
Duniawi kontra Zuhud 
Dalam situasi mengandung berbagai kemungkinan buruk itu, tokoh-tokoh Bani Umayyah yang 
selama ini memperoleh kepercayaan penuh dari Khalifah Utsman r.a., justru tidak mengambil 
tindakan apa pun juga. Marwan bin Al-Hakam dan kawan-kawannya lari meninggalkan Madinah. 
Amr bin Al-Ash, pada saat-saat Khalifah Utsman r.a. dikepung kaum muslimin yang 
memberontak, cepat-cepat pergi ke Palestina. Sedangkan Muawiyah bin Abi Sufyan sendiri, 
tidak juga mengambil inisiatif apa pun. Begitu pula Abdullah bin Abi Sarah yang sedang menjadi 
penguasa daerah Mesir. Semuanya diam, seolah-olah tak pernah terjadi suatu peristiwa politik 
yang besar dan gawat. 
Orang bertanya-tanya: Mengapa para penguasa Bani Umayyah yang berkuasa di Mesir dan di 
Syam tidak segera memberi pertolongan kepada Khalifah Utsman r.a.? Kemudian setelah 
Khalifah Utsman r.a. terbunuh, mengapa mereka tak segera mengirimkan pasukan untuk 
bertindak tegas terhadap kaum pemberontak dan menangkap oknum-oknum yang 
merencanakan dan melaksanakan pembunuhan atas diri Khalifah itu? Kenapa mereka berpangku 
tangan, padahal mereka mempunyai kekuatan cukup untuk melakukan tindakan hukum, 
sebelum Khalifah yang baru di angkat? 
Pertanyaan-pertanyaan serupa itu adalah wajar. Sebab, para penguasa Bani Umayyah dan 
tokoh-tokohnya bukan orang-orang yang baru dilahirkan kemarin. Mereka cukup makan garam 
politik, terutama pada waktu mereka dulu mengorganisasi dan memimpin orang-orang kafir 
Qureiys melancarkan perlawanan bersenjata terhadap Rasul Allah s.a.w. dan kaum muslimin. 
Nampaknya mereka bukan tidak bertindak, tetapi ada perhitungan lain. 
Pada masa itu tokoh Bani Umayyah yang paling terkemuka ialah Muawiyah bin Abi Sufyan. Akan 
tetapi sejarah keislamannya tidak memungkinkan dirinya dapat dipilih sebagai Khalifah 
pengganti Khalifah Utsman bin Affan r.a. Ia memeluk Islam setelah tidak ada jalan lain untuk 
menyelamatkan diri dengan jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum muslimin. Ia masuk Islam 
kurang lebih dua tahun sebelum wafatnya Rasul Allah s.a.w. Sebelum itu ia sangat gencar 
memerangi kaum muslimin dalam usaha memukul Islam. 
Dengan kata lain, selama masih ada sahabat-sahabat Rasul Allah s.a.w. yang sejak dulu sampai 
sekarang masih gigih membela kebenaran agama Allah, seperti Imam Ali r.a. dan lain-lain, 
harapan bagi Muawiyah untuk dapat dibai'at sebagai Khalifah penerus Utsman r.a. tidak 
mungkin dapat terlaksana. 
Usaha merebut atau mewarisi kekhalifahan Utsman r.a. lebih dipersulit lagi oleh dua 
kenyataan: 
1. Khalifah Utsman r.a. wafat akibat terjadinya konflik politik yang gawat dengan rakyatnya 
sendiri. 
2. Ia wafat meninggalkan warisan situasi pemerintahan yang sudah tidak disukai oleh kaum 
muslimin. 
Konflik politik dan warisan situasi yang tidak menguntung kan orang-orang, Bani Umayyah itu 
perlu "dibenahi" lebih dulu untuk dapat meraih kedudukan sebagai pengganti Khalifah Utsman 
r.a. 
Muawiyah harus dapat menciptakan situasi baru, di mana konflik politik yang sedang panas itu 
bisa dialihkan kepada sasaran baru. Untuk ini harus pula dicari "kambing hitam" yang "tepat". 
Dalam hal ini ialah orang yang mempunyai kemungkinan paling besar akan dibai'at oleh kaum 
muslimin sebagai Khalifah. Imam Ali r.a. merupakan seorang tokoh yang paling banyak 
81
mempunyai syarat untuk dibai'at. Ia bukan hanya anggota Ahlu-Bait Rasul Allah s.a.w., 
melainkan juga ia seorang genial, ilmuwan dan pahlawan perang. 
Sudah sejak dulu, tokoh-tokoh Bani Umayyah selain Utsman r.a. memandang Imam Ali r.a. 
dengan perasaan benci dan murka. Mereka tidak bisa melupakan betapa banyaknya korban kafir 
Qureiys, termasuk sanak famili mereka, yang mati di ujung pedang Imam Ali r.a. dalam 
pertempuran-pertempuran antara kaum musyrikin dan kaum muslimin di masa lalu. 
Mereka juga tahu, bahwa di masa Khalifah Utsman r.a. masih hidup, Imam Ali r.a. satu-satunya 
orang yang selalu mengingatkan Khalifah tentang besarnva bahaya yang akan timbul akibat 
permainan para pembantunya yang terdiri dari orang-orang Bani Umayyah. Imam Ali r.a. 
jugalah yang selalu menasehati Khalifah Utsman r.a. supaya mencegah berlarut-larutnya 
pacuan memperebutkan harta kekayaan secara tidak sah, yang sedang terjadi di kalangan 
sementara lapisan ummat lslam. Bahkan Imam Ali r.a. jugalah yang bila perlu melancarkan 
kritik-kritik secara terbuka dan jujur terhadap kebijaksanaan Khalifah Utsman r.a. 
Tokoh-tokoh Bani Umayyah tahu benar, bahwa Imam Ali r.a. adalah juru bicara yang paling 
mustahak mewakili jeritan sebagian besar kaum muslimin, yang ingin dipulihkan kembali 
suasana kehidupan seperti yang pernah terjadi pada zaman hidupnya Rasul Allah s.a.w. 
Golongan Bani Umayyah memandang Imam Ali r.a. sebagai penghambat dan selalu menjadi 
perintang bagi mereka dalam usaha meraih kedudukan dan keuntungan-keuntungan materil. 
Seandainya Khalifah Utsman r.a. sebelum wafatnya berwasyiat supaya Imam Ali r.a. dibai'at 
sebagai Khalifah penggantinya, golongan Bani Umayyah sudah pasti tidak akan 
melaksanakannya. 
Pertentangan antara Muawiyah dan pendukung-pendukungnya dengan Imam Ali r.a. dan 
pendukung-pendukungnya, pada hakekatnya bukanlah pertentangan antar-golongan, melainkan 
pertentangan antara kehidupan yang terangsang oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi dengan 
kehidupan zuhud. Hal ini akan terbukti kebenarannya pada babak-babak terakhir dari proses 
pertentangan antara keduabelah fihak. 
Mencari Calon Pengganti 
Dalam situasi tidak menentu, kaum pemberontak dan penduduk Madinah berpendapat, bahwa 
hanya salah seorang di antara 5 orang sahabat dekat Rasul Allah s.a.w. yang patut dibai'at 
sebagai Khalifah pengganti. Mereka itu ialah yang dulu bersama-sama Utsman bin Affan r.a. 
pernah dicalonkan oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. sebelum wafatnya. Namun dari yang 5 
orang itu, hanya 4 orang saja yang masih hidup. Abdurrahman bin A'uf sudah tiada. 
Tragedi pembunuhan Khalifah Utsman r.a. sangat menggoncangkan dan memilukan Sa'ad bin 
Abi Waqqash. Karena sebelum itu, Khalifah Umar r.a. juga mati terbunuh, sungguhpun 
pembunuhnya bukan seorang muslim (tetapi majusi) dan terjadinya bukan akibat konflik politik 
di antara sesama kaum muslimin. Oleh karena itu Sa'ad bin Abi Waqqash mengambil keputusan 
untuk menjauhkan diri sama sekali dari kegiatan politik kenegaraan dan kemasyarakatan. Ia 
tidak mau melibatkan diri atau dilibatkan dalam proses pembai'atan seorang Khalifah baru. 
Dengan demikian dari 4 orang sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang masih hidup, kini hanya 
tinggal 3 orang saja yang dapat dicalonkan. 
Jalan mennuju terbai'atnya Khalifah ke 4 ternyata tidak selicin seperti yang diperkirakan orang. 
Dalam proses permulaan saja sudah menghadapi kesukaran berat. Karena ketiga orang calon 
tersebut sudah tidak ada yang bersedia dibai'at sebagai Khalifah. Usaha pendekatan yang 
dilakukan oleh kaum muslimin yang memberontak terhadap Khalifah Utsman r.a. sukar diterima 
oleh tiga orang sahabat Rasul Allah s.a.w. itu. Kemacetan berlangsung selama 8 hari. 
Sedangkan kaum muslimin, baik yang tinggal di kota Madinah maupun yang di daerah-daerah, 
cemas-cemas gelisah menantikan adanya pimpinan yang baru. 
82
Tragedi pembunuhan kejam terhadap Khalifah Utsman r.a., dikuasainya ibukota oleh kaum 
pemberontak, macetnya pemilihan Khalifah baru, semuanya merupakan kerawanan yang amat 
berbahaya. Pasukan-pasukan muslimin yang sedang bertugas di luar daerah dengan gelisah 
menunggu adanya instruksi-instruksi baru. Jika krisis itu berlarut-larut, mereka sangat khawatir 
kalau-kalau musuh Islam akan memanfaatkan krisis kepemimpinan itu sebagai peluang yang 
baik untuk melancarkan serangan-serangan. 
Di Mesir, seorang Kepala Daerah yang tidak disukai oleh penduduk dan dituntut 
pemberhentiannya (Abdullah bin Abi Sarah) masih tetap berkuasa. bersama dengan itu, seorang 
Kepala Daerah yang terkenal cakap dan erat hubungannya dengan Khalifah Utsman r.a., yakni 
Muawiyah, hanya sibuk dalam kegiatan meningkatkan kedudukannya. 
Kaum pemberontak menyadari, tanpa kerjasama dan bantuan aktif kaum Muhajirin dan Anshar, 
mereka tidak akan berhasil menentukan pengganti Khalifah Utsman r.a. Setelah mengadakan 
pembahasan secara mendalam tentang situasi gawat yang akan timbul akibat tidak adanya 
pemerintahan pusat, dan dengan dukungan kaum Muhajirin dan Anshar, para sahabat Rasul 
Allah s.a.w., sepakat untuk secepat mungkin mengadakan pemilihan seorang calon, yang akan 
dibai'at sebagai Khalifah baru. Calon itu ialah Imam Ali r.a. 
Imam Ali r.a. di Bai`at 
Menurut penuturan Abu Mihnaf, sebagaimana tercantum dalam Syarh Nahjil Balaghah, jilid IV, 
halaman 8, dikatakan, bahwa ketika itu kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul di masjid Rasul 
Allah s.a.w. Dengan harap-harap cemas mereka menunggu berita tentang siapa yang akan 
menjadi Khalifah baru. Masjid yang menurut ukuran masa itu sudah cukup besar, penuh sesak 
dibanjiri orang. Di antara tokoh-tokoh muslimin yang menonjol tampak hadir Ammar bin Yasir, 
Abul Haitsam bin At Thaihan, Malik bin 'Ijlan dan Abu Ayub bin Yazid. Mereka bulat 
berpendapat, bahwa hanya Ali bin Abi Thalib r.a. lah tokoh yang paling mustahak dibai'at. 
Diantara mereka yang paling gigih berjuang agar Imam Ali r.a. dibai'at ialah Ammar bin Yasir. 
Dalam mengutarakan usulnya, pertama-tama Ammar mengemukakan rasa syukur karena kaum 
Muhajirin tidak terlibat dalam pembunuhan Khalifah Utsman r.a. 
Kepada kaum Anshar, Ammar menyatakan, jika kaum Anshar hendak mengkesampingkan 
kepentingan mereka sendiri, maka yang paling baik ialah membai'at Ali bin Abi Thalib sebagai 
Khalifah. Ali bin Abi Thalib, kata Ammar, mempunyai keutamaan dan ia pun orang yang paling 
dini memeluk Islam. 
Kepada kaum Muhajirin, Ammar mengatakan: kalian sudah mengenal betul siapa Ali bin Abi 
Thalib. Oleh karena itu aku tak perlu menguraikan kelebihan-kelebihannya lebih panjang lebar 
lagi. Kita tidak melihat ada orang lain yang lebih tepat dan lebih baik untuk diserahi tugas itu! 
Usul Ammar secara spontan disambut hangat dan didukung oleh yang hadir. Malahan kaum 
Muhajirin mengatakan: "Bagi kami, ia memang satu-satunya orang yang paling afdhal!" 
Setelah tercapai kata sepakat, semua yang hadir berdiri serentak, kemudian berangkat 
bersama-sama ke rumah Imam Ali r.a. Di depan rumahnya mereka beramai-ramai minta dan 
mendesak agar Imam Ali r.a. keluar. Setelah Imam Ali r.a. keluar, semua orang berteriak agar 
ia bersedia mengulurkan tangan sebagai tanda persetujuan dibai'at menjadi Amirul Mukminin. 
Pada mulanya Imam Ali r.a. menolak dibai'at sebagai Khalifah. Dengan terus terang ia 
menyatakan : "Aku lebih baik menjadi wazir yang membantu daripada menjadi seorang Amir 
yang berkuasa. Siapa pun yang kalian bai'at sebagai Khalifah, akan kuterima dengan rela. 
Ingatlah, kita akan menghadapi banyak hal yang menggoncangkan hati dan fikiran." 
83
Jawaban Imam Ali r.a. yang seperti itu tak dapat diterima sebagai alasan oleh banyak kaum 
muslimin yang waktu itu datang berkerumun di rumahnya. Mereka tetap mendesak atau 
setengah memaksa, supaya Imam Ali r.a. bersedia dibai'at oleh mereka sebagai Khalifah. 
Dengan mantap mereka menegaskan pendirian: "Tidak ada orang lain yang dapat menegakkan 
pemerintahan dan hukum-hukum Islam selain anda. Kami khawatir terhadap ummat Islam, jika 
kekhalifahan jatuh ketangan orang lain…" 
Beberapa saat lamanya terjadi saling-tolak dan saling tukar pendapat antara Imam Ali r.a. 
dengan mereka. Para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan para pemuka kaum Muhajirin dan 
Anshar mengemukakan alasannya masing-masing tentang apa sebabnya mereka mempercayakan 
kepemimpinan tertinggi kepada Imam Ali r.a. Betapapun kuat dan benarnya alasan yang 
mereka ajukan Imam Ali r.a. tetap menyadari, jika ia menerima pembai'atan mereka pasti akan 
menghadapi berbagai macam tantangan dan kesulitan gawat. 
Baru setelah Imam Ali r.a. yakin benar, bahwa kaum muslimin memang sangat menginginkan 
pimpinannya, dengan perasaaan berat ia menyatakan kesediaannya untuk menerima 
pembai'atan mereka. Satu-satunya alasan yang mendorong Imam Ali r.a. bersedia dibai'at, ialah 
demi kejayaan Islam, keutuhan persatuan dan kepentingan kaum muslimin. Rasa tanggung 
jawabnya yang besar atas terpeliharanya nilai-nilai peninggalan Rasul Allah s.a.w., 
membuatnya siap menerima tanggung jawab berat di atas pundaknya. Sungguh pun demikian, 
ia tidak pernah lengah, bahwa situasi yang ditinggalkan oleh Khalifah Utsman r.a. benar-benar 
merupakan tantangan besar yang harus ditanggulangi. 
Keputusan Imam Ali r.a. untuk bersedia dibai'at sebagai Amirul Mukminin disambut dengan 
perasaan lega dan gembira oleh sebagian besar kaum muslimin. 
Kepada mereka Imam Ali r.a. meminta supaya pembai'atan dilakukan di masjid agar dapat 
disaksikan oleh umum. Kemudian Imam Ali r.a. juga memperingatkan, jika sampai ada seorang 
saja yang menyatakan terus terang tidak menyukai dirinya, maka ia tidak akan bersedia 
dibai'at. Mereka dapat menyetujui permintaan Imam Ali r.a., lalu ramai-ramai pergi menuju 
masjid. 
Setibanya di Masjid, ternyata orang pertama yang menyatakan bai'atnya ialah Thalhah bin 
Ubaidillah. Menyaksikan kesigapan Thalhah itu, seorang bernama Qubaisah bin Dzuaib Al Asadiy 
menanggapi: "Aku Khawatir, jangan-jangan pembai'atan Thalhah itu tidak sempurna!" Ia 
mengucapkan tanggapannya itu karena tangan Thalhah memang lumpuh sebelah. Orang lain 
membiarkan komentar itu lewat begitu saja. 
Zubair bin Al-'Awwam segera mengikuti jejak Thalhah menyatakan bai'at kepada Imam Ali r.a. 
Sesudah itu barulah kaum Muhajirin dan Anshar menyatakan bai'atnya masing-masing. Yang 
tidak ikut menyatakan bai'at ialah Muhammad bin Maslamah, Hasan bin Tsabit, Abdullah bin 
Salam, Abdullah bin Umar, Usamah bin Zaid, Saad bin Abi Waqqash, dan Ka'ab bin Malik. 
Tata cara pembai'atan dilakukan menurut prosedur sebagaimana yang lazim berlaku atas diri 
Khalifah-khalifah sebelumnya. Sesuai dengan tradisi pada masa itu, sesaat setelah dibai'at 
Amirul Mukminin Imam Ali r.a. menyampaikan amanatnya yang pertama. Antara lain 
mengatakan: 
"Sebenarnya aku ini adalah seorang yang sama saja seperti kalian. Tidak ada perbedaan dengan 
kalian dalam masalah hak dan kewajiban. Hendaknya kalian menyadari, bahwa ujian telah 
datang dari Allah s.w.t. Berbagai cobaan dan fitnah telah datang mendekati kita seperti 
datangnya malam yang gelap-gulita. Tidak ada seorang pun yang sanggup mengelak dan 
menahan datangnya cobaan dan fitnah itu, kecuali mereka yang sabar dan berpandangan jauh. 
Semoga Allah memberikan bantuan dan perlindungan. 
84
"Hati-hatilah kalian sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah s.w.t. kepada kalian, dan 
berhentilah pada apa yang menjadi larangan-Nya. Dalam hal itu janganlah kalian bertindak 
tergesa-gesa, sebelum kalian menerima penjelasan yang akan kuberikan. 
"Ketahuilah bahwa Allah s.w.t. di atas 'Arsy-Nya Maha Mengetahui, bahwa sebenarnya aku ini 
tidak merasa senang dengan kedudukan yang kalian berikan kepadaku. Sebab aku pernah 
mendengar sendiri Rasul Allah s.a.w. berkata: "Setiap waliy (penguasa atau pimpinan) 
sesudahku, yang diserahi pimpinan atas kaum muslimin, pada hari kiyamat kelak akan 
diberdirikan pada ujung jembatan dan para Malaikat akan membawa lembaran riwayat 
hidupnya. Jika waliy itu seorang yang adil, Allah akan menyelamatkannya karena keadilannya. 
Jika waliy itu seorang yang dzalim, jembatan itu akan goncang, lemah dan kemudian lenyaplah 
kekuatannya. Akhirnya orang itu akan jatuh ke dalam api neraka…" 
Demikianlah tutur Abu Mihnaf yang uraian riwayatnya tidak berbeda jauh dari versi sejarah 
yang ditulis oleh beberapa penulis lain. Lebih jauh Abu Mihnaf mengatakan, bahwa orang-orang 
yang tidak ikut serta menyatakan bai'at, diminta oleh Imam Ali r.a. supaya menemuinya secara 
langsung pada lain kesempatan. 
Pada suatu hari ketika Abdullah bin Umar diminta pernyataan bai'atnya, ia menolak. Ia baru 
bersedia membai'at Imam Ali r.a., kalau semua orang sudah menyatakan bai'atnya. Melihat 
sikap Abdullah yang sedemikian itu, Al Asytar, seorang sahabat setia Imam Ali r.a. dan terkenal 
sebagai pahlawan perang, tidak dapat menahan kemarahannya. Kepada Imam Ali r.a., Al-Asytar 
berkata: "Ya Amiral Mukminin, pedangku sudah lama menganggur. Biar kupenggal saja 
lehernya!" 
"Aku tidak ingin ia menyatakan bai'at secara terpaksa," ujar Imam Ali r.a. dengan tenang 
menanggapi ucapan Al-Asytar. "Biarkanlah!" 
Setelah Abdullah, datanglah Sa'ad bin Abi Waqqash atas panggilan Imam Ali r.a. Ketika diminta 
pernyataan bai'atnya, ia menjawab supaya dirinya jangan diganggu dulu. "Kalau sudah tidak ada 
orang lain kecuali aku sendiri, barulah aku akan membai'at anda." 
Mendengar keterangan Sa'ad itu, Imam Ali r.a. berkata kepada seorang sahabatnya: "Sa'ad bin 
Abi Waqqash memang tidak berdusta. Biarkan saja dia!" Imam Ali r.a. kemudian 
memperbolehkan Sa'ad meninggalkan tempat. 
Waktu tiba giliran Usamah bin Zaid, ia mengatakan: "Aku ini kan maula anda. Aku sama sekali 
tidak mempunyai persoalan atau niat hendak menentang anda. Pada saat semua orang sudah 
menjadi tenang kembali aku pasti akan menyatakan bai'at kepada anda." 
Usamah lalu diperbolehkan meninggalkan tempat. Tampaknya Usamah bin Zaid merupakan 
orang terakhir yang dipanggil untuk menyatakan bai'at. Sebab, setelah itu tidak ada orang lain 
lagi yang dipanggil untuk diminta bai'atnya. 
Delapan hari sepeninggal Khalifah Utsman bin Affan r.a., kini kaum muslimin telah mempunyai 
Khalifah baru. Menurut catatan sejarah, jangka waktu 8 hari itu merupakan waktu terpanjang 
dalam usaha penetapan seorang Khalifah. Satu keadaan yang cukup menggambarkan betapa 
resahnya fikiran kaum muslimin pada saat itu. Delapan hari lamanya kaum muslimin hidup 
tanpa pimpinan. 
Kota Madinah yang sejak masa hidupnya Rasul Allah s.a.w. menjadi pusat kepemimpinan agama 
dan pemerintahan, selama delapan hari itu berada dalam keadaan serba tak menentu. Tidak 
ada kemantapan dan tidak ada ketertiban hukum. Kaum pembangkang yang datang dari luar 
Madinah, banyak yang berusaha mengadakan kegiatan pengacauan di kota tersebut. Beberapa 
kelompok kaum Muhajirin dan Anshar mengalami berbagai hambatan dalam menentukan sikap. 
85
Sedangkan pemuka-pemuka Bani Umayyah, secara diam-diam mulai "mengkambing-hitamkan" 
Imam Ali r.a. Mereka melancarkan tuduhan, bahwa Imam Ali r.a. lah yang "membunuh Utsman" 
atau "melindungi kaum pemberontak". Dengan tuduhan itu mereka mengharap Imam Ali r.a. 
akan ditinggalkan oleh para pendukungnya dan dengan demikian ia bisa terguling dari 
kedudukannya sebagai Amirul Mukminin. 
Bab X : BENIH-BENIH PEPERANGAN SAUDARA 
Tidak berapa lama sesudah Imam Ali r.a. mengucapkan amanatnya yang pertama, muncullah 
persoalan baru. Waktu itu hanyak orang sedang berkerumun untuk menerima pembagian harta 
ghanimah dari Baitul Mal. 
Kepada seorang jurutulis, Ubaidillah bin Abi Rafi', Amirul Mukminin memerintahkan supaya 
pembagian dimulai dari kaum Muhajirin, dengan masing-masing diberi 3 dinar. Kemudian 
menyusul kaum Anshar. Semuanya mendapat jumlah yang sama, yaitu 3 dinar. 
Waktu itu, seorang bernama Sahl bin Hanif bertanya: apakah dua budaknya yang baru 
dimerdekakan hari itu, juga akan menerima jumlah yang sama? Dengan tegas Imam Ali r.a. 
mengatakan, bahwa semua orang menerima hak yang sama yaitu 3 dinar. 
Ketika pembagian ghanimah berlangsung, beberapa orang tokoh penting tidak hadir. Di antara 
yang tidak hadir itu ialah Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Al-'Awwam, Abdullah bin Umar, 
Said bin Al-Ash. 
Perobahan Drastis 
Beberapa waktu setelah pembagian ghanimah dilaksanakan, timbullah ketegangan antara Imam 
Ali r.a. dengan sekelompok orang-orang Qureiys. Peristiwanya terjadi di masjid Madinah, 
sehabis shalat subuh. Selesai mengimami shalat, Amirul Mukminin duduk seorang diri. 
Kemudian ia didekati oleh Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu'aith. 
Atas nama teman-temannya (termasuk yang tidak hadir pada saat pembagian ghanimah) ia 
mengatakan kepada Imam Ali: "Ya Abal Hasan (nama panggilan Imam Ali ra.), hati kami semua 
sudah pernah anda sakiti. Tentang aku sendiri, ayahku telah anda tewaskan dalam perang Badr, 
tetapi aku tetap dapat bersabar. Lalu dalam peristiwa lain, anda tidak mau menolong 
saudaraku. Tentaug Sa'id, dalam perang Badr juga ayahnya telah anda tewaskan. Sedang 
mengenai Marwan, anda juga pernah menghina ayahnya di depan Khalifah Utsman bin Affan, 
yaitu ketika Marwan diangkat sebagai pembantunya." 
Setelah berhenti sejenak untuk mengubah gaya duduknya, Al-Walid melanjutkan: "Mereka itu 
semuanya adalah kaum kerabat anda sendiri dan di antara mereka itu bahkan terdapat 
beberapa orang terkemuka dari Bani Abdi Manaf. Sekarang kami telah membai'at anda, tetapi 
kami mengajukan syarat. Yaitu agar anda tetap memberikan kepada kami jumlah pembagian 
ghanimah yang selama ini sudah diberikan oleh Khalifah Utsman kepada kami." 
Setelah berfikir sejenak, Al-Walid meneruskan: "Selain itu, anda harus dapat menjatuhkan 
hukuman mati kepada orang yang telah membunuh Utsman bin Affan. Ketahuilah, jika kami ini 
merasa takut kepada anda, tentu anda sudah kami tinggalkan dan kami bergabung dengan 
Muawiyah di Syam." 
Kalimat yang terakhir ini jelas merupakan intimidasi politik yang dapat dikaitkan dengan 
rencana gelap Muawiyah bin Abi Sofyan di Syam. 
Tanpa ragu-ragu Imam Ali r.a. secara terus terang menjawab intimidasi politik Al-Walid itu. Ia 
berkata: "Tentang tindakan-tindakan yang kalian sebut sebagai menyakiti hati kalian, 
sebenarnya kebenaran Allah-lah yang menyakiti hati kalian. Tentang jumlah pembagian harta 
yang selama ini kalian terima dari Khalifah Utsman, kutegaskan, bahwa aku tidak akan 
86
mengurangi atau menambah hak yang telah ditetapkan Allah bagi kalian dan bagi orang-orang 
lain. Adapun mengenai keinginan kalian supaya aku menjatuhkan hukuman mati kepada orang 
yang membunuh Utsman, jika aku memang wajib membunuhnya, tentu sudah kubunuh sejak 
kemarin-kemarin. Jika kalian takut kepadaku, akulah yang akan menjamin keselamatan kalian. 
Tetapi jika aku yang takut kepada kalian, kalian akan kusuruh pergi!" 
Mendengar jawaban Imam Ali r.a. yang begitu tegas, Al-Walid beranjak meninggalkan tempat, 
kemudian mendekati teman-temannya yang sedang bergerombol di sudut lain dalam masjid. 
Kepada mereka Al-Walid menyampaikan apa yang baru didengarnya sendiri dari Amirul 
Mukminin. Tampaknya mereka tidak mempunyai persamaan pendapat tentang bagaimana cara 
menunjukkan sikap menentang Imam Ali r.a. dan bagaimana cara menyebarkan rasa 
permusuhan terhadapnya. 
Perbedaan pendapat di antara kelompok Al-Walid itu didengar oleh Ammar bin Yasir, yang 
kemudian segera menyampaikannya kepada teman-temannya. Ammar mengajak beberapa 
orang temannya untuk menentukan tindakan sendiri terhadap kelompok Al-Walid, guna 
membuktikan kesetiaannya kepada Imam Ali r.a. Akan tetapi setelah dipertimbangkan masak-masak, 
akhirnya mereka berpendapat lebih baik melaporkan kejadian itu kepada Amirul 
Mukminin. 
Bersama-sama dengan Abul Haitsam, Abu Ayub bin Hanif dan beberapa orang lainnya lagi, 
Ammar bin Yasir mendatangi Imam Ali r.a. Setelah melaporkan apa yang didengarnya, ia 
mendorong agar Imam Ali r.a. cepat bertindak untuk memperkokoh kepemimpinannya. Kata 
Ammar kepada Imam Ali r.a. 
"Marahilah kaum anda itu. Mereka itu ialah orang-orang Qureiys yang telah menciderai janji 
setia kepada anda. Secara diam-diam mereka membisikkan supaya kami melawan anda. Mereka 
tidak menyukai anda, hanya karena anda menjalankan kebijaksanaan sesuai dengan tauladan 
yang telah diberikan Rasul Allah s.a.w. Mereka merasa kehilangan sesuatu yang selama ini 
dirasakan enak dan menguntungkan mereka. Pada saat anda memperlakukan mereka sama 
dengan orang-orang lain, mereka menentang. Kemudian mereka mengadakan hubungan-hubungan 
dengan musuh-musuhmu dan memuji-mujinya. Secara terang-terangan mereka telah 
mengambil sikap yang berlainan dengan orang banyak. Mereka ikut-ikut menuntut balas atas 
kematian Utsman bin Affan. Mereka bersekongkol dengan orang-orang sesat. Sekarang 
bagaimana sikap anda?" 
Mendengar apa yang dikatakan Ammar dan kawan-kawannya, Imam Ali r.a. langsung keluar 
menuju masjid. Dengan menyandang pedang dan bertongkat busur, ia naik ke mimbar 
menghadapi orang banyak yang sedang berkumpul. Setelah mengucap syukur atas nikmat yang 
dilimpahkan Allah s.w.t., Amirul Mukminin memperingatkan kepada semua yang hadir, bahwa 
nikmat yang diterima oleh manusia dari Al Khalik sekaligus juga merupakan ujian: apakah kita 
bersyukur atau berkufur. 
Barang siapa bersyukur, kata Imam Ali r.a., akan memperoleh tambahan nikmat lebih banyak 
lagi. Sedang siapa yang berkufur, ia pasti akan mendapat siksa berat. Orang yang paling mulia 
di sisi Allah dan yang terdekat hubungannya dengan Dia, ialah orang yang paling taqwa dan 
patuh kepada perintah dan larangan-Nya, yang paling setia kepada-Nya, yang paling ikhlas 
mengikuti Sunnah Rasul-Nya dan yang paling teguh melaksanakan Kitab-Nya. 
Di antara kita, kata Imam Ali r.a. seterusnya, tidak ada orang yang memperoleh kelebihan dan 
keutamaan, kecuali mereka yang paling taat kepada Allah dan Rasul-Nya. 
Untuk memperkuat kata-katanya itu Imam Ali r.a. memperingatkan hadirin kepada bunyi Surah 
Al-Hujurat ayat 13, yang artinya: "Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari 
seorang pria dan seorang wanita, kemudian menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku- 
87
suku agar kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di 
sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu." 
Selanjutnya dengan nada keras Amirul Mukminin memperingatkan kelompok-kelompok kaum 
Muhajirin dan Anshar yang sudah tergiur oleh harta kekayaan dan kesenangan-kesenangan 
duniawi lainnya. Ia menegaskan, bahwa masalah pembagian harta ghanimah, kepada seorang 
tidak akan diberikan lebih banyak dari yang lain. Dikatakannya juga: "Allah telah mengizinkan 
harta tersebut dibagi-bagi. Harta itu adalah milik Allah, sedang kalian adalah hamba-hamba- 
Nya yang berserah diri kepada-Nya." 
Seusai menjelaskan prinsip kebijaksanaannya, Amirul Mukminin memerintahkan Ammar bin 
Yasir dan Abdurrahrnan bin Hazal Al-Qureysiy supaya memanggil Thalhah dan Zubair yang 
waktu itu duduk agak jauh. Sambil memandang tajam kepada kedua orang tersebut, setelah 
berada dekatnya, Imam Ali r.a. berkata: "Katakan terus terang, bukankah kalian telah 
membai'atku dan berjanji setia kepadaku? Bukankah kalian telah minta kepadaku agar aku 
bersedia dibai'at, padahal waktu itu aku sendiri tidak berminat?" 
"Ya, benar," jawab kedua orang itu. 
"Benarkah waktu itu kalian tidak dipaksa oleh siapa pun? Bukankah dengan pernyataan bai'at 
kalian itu, kalian telah menyatakan janji setia dan taat kepadaku?" tanya Imam Ali r.a. lagi. 
"Ya, benar," jawab kedua orang itu pula. 
"Lantas, sesudah semuanya itu apakah yang membuat kalian sampai bersikap seperti yang 
kuketahui itu?" tanya Imam Ali r.a. lagi untuk mendapat jawaban pasti. 
"Kami membai'atmu dengan syarat," jawab kedua orang itu. "Bahwa anda tidak akan mengambil 
keputusan atau tindakan tanpa persetujuan kami, dan anda akan selalu mengajak kami 
bermusyawarah, serta tidak akan memaksakan sesuatu kepada kami. Sebab sebagaimana anda 
ketahui, kami ini mempunyai kelebihan dibanding dengan orang lain. Tetapi anda 
melaksanakan pembagian harta ghanimah berdasarkan keputusan sendiri tanpa bermusyawarah 
dan tanpa sepengetahuan kami." 
"Kalian sebenarnya dendam karena soal yang amat kecil dan mengharapkan sesuatu yang sangat 
besar," kata Amirul Mukminin sambil menekan perasaan, menanggapi jawaban Thalhah dan 
Zubair tadi. "Mohonlah pengampunan kepada Allah, Dia akan mengampuni kalian! Bukankah 
dengan ucapan itu kalian bermaksud hendak mengatakan, bahwa aku ini telah menghapus hak 
kalian dan aku berlaku dzalim terhadap kalian mengenai hal itu? Apakah aku meremehkan atau 
menutup muka terhadap hukum atau terhadap sesuatu yang sudah menjadi hak kaum 
muslimin?" 
"Na'udzubillah," sela Thalhah dan Zubair. 
"Lantas, apa sebab kalian tidak menyukai perintahku dan mempunyai pendirian lain?" tanya 
Imam Ali r.a. pula sebelum meneruskan penjelasannya. 
"Kami tidak sependapat dengan anda," ujar kedua orang itu, "karena anda tidak melaksanakan 
pembagian seperti yang telah dilakukan oleh Utsman bin Affan.Hak kami anda samakan saja 
dengan hak orang lain. Kami ini anda sama-ratakan dengan orangorang yang tidak seperti kami, 
sedang kami ini adalah orang-orang yang sudah berjuang dengan pedang, tombak dan senjata-senjata 
lainnya. Kami telah berjuang sampai da'wah risalah berhasil ditegakkan dan 
dimenangkan. Kami telah berhasil pula menundukkan mereka yang tidak menyukai Islam…" 
Demikian tangkisan dua orang itu, terhadap desakan pertanyaan bertubi-tubi yang diajukan 
88
Imam Ali r.a. Dengan tidak menanggapi secara langsung pembicaraan tentang jasa-jasa 
mereka, Imam Ali r.a. berkata lebih jauh: 
"Setelah kepemimpinan itu kuterima, aku selalu berpegang dan tidak pernah berpaling dari 
Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Kujalankan dan kuikuti apa saja yang ditunjukkan oleh 
kedua-duanya. Apa yang sudah ditunjukkan oleh Allah dan Rasul-Nya, aku tidak memerlukan 
pendapat kalian. Jika ada masalah hukum yang tidak kutemui penjelasannya, baik di dalam 
Kitab Allah maupun dalam Sunnah Rasul-Nya, dan hal itu memang perlu dimusyawarahkan, 
kalian tentu kuajak bermusyawarah. 
"Tentang pembagian harta ghanimah secara merata, bukan aku yang mula-mula menetapkan 
hukumnya. Aku dan kalian berdua sama-sama menyaksikan bahwa Rasul Allah s.a.w. sendirilah 
yang menetapkannya. Kitab Allah juga menyebutkan hal itu, yaitu Kitab Suci yang tidak 
mengandung kebatilan sedikitpun, baik secara terang maupun samar. 
"Adapun pernyataan kalian yang mengatakan kalian berhak menerima pembagian lebih banyak 
dari orang lain, karena kalian telah berjuang dengan pedang dan tombak, ketahuilah…, bahwa 
sebelum kalian sudah ada orang-orang yang memeluk Islam lebih dahulu. Mereka pun berjuang 
membela Islam dengan pedang dan tombak. Walaupun demikian, Rasul Allah s.a.w. tidak 
memberi kepada mereka jumlah yang lebih banyak daripada orang lain. Rasul Allah s.a.w. tidak 
memberi keistimewaan kepada mereka hanya karena memeluk Islam lebih dini. Allah sendirilah 
pada hari kiyamat kelak akan melimpahkan pahala kepada mereka." 
Penjelasan Imam Ali r.a. yang dramatis itu didengarkan oleh semua yang berada di dalam 
masjid. Mengakhiri penjelasannya, Imam Ali r.a. berkata: "Kalian berdua dan juga orang lain, 
dari aku tidak akan memperoleh lebih dari yang sudah menjadi hak masing-masing. Semoga 
Allah s.w.t. berkenan membuka hatiku dan hati kalian untuk dapat menerima kebenaran. 
Semoga pula Ia melimpahkan kesabaran kepadaku dan kepada kalian. Allah akan memberikan 
rahmat-Nya kepada setiap orang yang setelah mengetahui kebenaran lalu bersedia 
membelanya, dan yang setelah mengetahui kedzaliman lalu bersedia menolaknya…" 
Dialog tersebut kami kutip dari tulisan salah seorang tokoh kaum Mu'tazilah, Abu Ja'far Al- 
Iskafiy, yang berasal dari Bagdad. Dalam tanggapannya, Al-Iskafiy mengungkapkan, bahwa 
pembagian harta ghanimah yang dilakukan oleh Imam Ali r.a. itu sama seperti yang dahulu 
dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar r.a. Al-Iskafiy bertanya: Mengapa Thalhah dan kawan-kawannya 
itu dulu tidak pernah menolak? Perbedaan apakah yang mereka tentang sekarang ini? 
Al-Iskafiy kemudian menjawab pertanyaan sendiri: 
"Apa yang dulu dilakukan oleh Abu Bakar r.a. sepenuhnya sesuai dengan kebijaksanaan yang 
telah ditempuh oleh Rasul Allah s.a.w. semasa hidupnya. Tetapi pada masa Khalifah Umar Ibnul 
Khattab, ia melaksanakan pembagian yang berbeda. Yaitu memberi kepada segolongan orang 
lebih banyak daripada yang diberikan kepada golongan lain. Dengan demikian mereka yang 
menerima lebih banyak itu menjadi terbiasa dimanjakan, sampai lupa kepada cara pembagian 
sebelumnya. 
"Masa pemerintahan Umar r.a. relatif lama, sehingga fikiran orang-orang itu cukup terpengaruh 
oleh kesenangan akan harta yang mendatangkan kenikmatan duniawi. Sementara itu orang lain 
yang menerima lebih sedikit, menjadi terbiasa pula menerima apa adanya. Tidak ada di antara 
dua golongan itu yang menduga bakal dikembalikannya sistim pembagian seperti yang dulu 
dilakukan oleh Rasul Allah s.a.w. dan Abu Bakar r.a. Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman 
bin Affan, ia melaksanakan sistim pembagian sama seperti yang dilaksanakan Khalifah Umar. 
Oleh karena itu kaum muslimin bertambah yakin tentang benarnya sistim pembagian yang 
dilaksanakan oleh Umar dan Utsman r.a. 
"Dengan mengembalikan sistim pembagian seperti yang berlaku pada masa Rasul Allah s.a.w. 
89
dan Abu Bakar, sama artinya Imam Ali telah menghapuskan sistim pembagian yang dilakukan 
Khalifah Umar dan Khalifah Utsman. Sebagaimanan diketahui, kurun waktu yang memisahkan 
antara kekhalifahan Abu Bakar dan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib ialah 22 tahun. Jadi hampir 
satu generasi! Itulah sebabnya mengapa perubahan drastis yang dilakukan oleh Imam Ali r.a. 
sangat menyentak hati mereka yang sudah terbiasa menerima pembagian lebih banyak selama 
22 tahun." 
Masalah pembagian harta ghanimah tersebut, ternyata telah mencuramkan jurang 
pertentangan antara Imam Ali r.a. di satu fihak dengan Thalhah Zubair dan kawan-kawannya di 
fihak lain. Perselisihan mengenai hal itu kemudian berkembang menjadi pertentangan politik, 
sehingga meningkat sedemikian rupa tajamnya, sampai membahayakan keutuhan persatuan 
ummat Islam. Terutama setelah perselisihan itu ditunggangi oleh Muawiyah bin Abu Sufvan dari 
Syam, yang berhasil mengalihkan persoalan dari masalah sistim pembagian harta ghanimah, 
menjadi menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman r.a. 
Pertentangan terbuka 
Kehidupan kenegaraan dan tata kemasyarakatan yang ditinggalkan Khalifah Utsman bin Affan 
r.a. memang berada dalam situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan Imam Ali r.a. sebagai 
Khalifah. Sejak sebelum dibai'at Imam Ali r.a. sudah membayangkan adanya kesulitan-kesulitan 
besar yang bakal dihadapi. Berbagai macam problema sosial, politik dan ekonomi ternyata 
muncul dalam waktu yang bersamaan. 
Langkah pertama untuk membenahi keadaan yang serba tak mantap, tentu saja memulihkan 
ketertiban, khususnya di ibukota, Madinah. Ribuan kaum pemberontak yang bertebaran di 
ibukota berhasil dihimbau dan dijinakkan sampai mereka berhasil dipulihkan kembali ke dalam 
kehidupan normal. Bagi Imam Ali r.a. tidak ada kemungkinan untuk bertindak terhadap ribuan 
kaum pemberontak yang telah mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman r.a. Bertindak 
terhadap mereka, berarti menyulut api perang saudara. 
Bagi Imam Ali r.a. memang tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Daripada bermusuhan dengan 
kaum muslimin yang menuntut terlaksananya kebenaran dan keadilan, lebih baik berhadap 
hadapan dengan tokoh-tokoh Bani Umayyah, betapa pun besarnya resiko yang akan dipikul. 
Dan ternyata, tidak bertindaknya Imam Ali r.a. terhadap kaum mulimin yang memberontak 
terhadap Khalifah Utsman r.a., dijadikan alasan dan dalih oleh lawan-lawan politiknya untuk 
menggerakan kekuatan oposisi dan perlawanan. Kemungkinan itu pun telah diperhitungkan oleh 
Imam Ali r.a. 
Ada lagi tindakan dan langkah Imam Ali r.a: yang sangat menjengkelkan lawan-lawan 
politiknya. Yaitu tindakan menertibkan aparatur pemerintahan. Penguasa-penguasa daerah 
yang selama 6 tahun terakhir masa pemerintahan Khalifah Utsman r.a. terbukti telah 
menyalah-gunakan wewenang untuk kepentingan pribadi dan golongan, digeser seorang demi 
seorang. Banyak pejabat tinggi yang tidak dipakai lagi. Di antara mereka ialah Marwan bin Al 
Hakam, seorang pembantu Khalifah Utsman r.a. yang sangat dominan kekuasaannya, yang 
kemudian lari meninggalkan Madinah. Juga Abdullah bin Abi Sarah digeser dari kedudukkannya 
sebagai penguasa daerah Mesir. Imam Ali r.a. juga berniat hendak mengganti penguasa daerah 
Syam yang berpengaruh itu, Muawiyah bin Abi Sufyan. 
Sebelum bertindak melaksanakan penertiban, Imam Ali r.a. telah mengadakan pertukaran 
pendapat dengan para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar. Ia yakin, bahwa hanya dengan 
aparatur yang bersih dan sepenuhnya mengabdi kepentingan agama dan ummat saja, 
pemerintahnya akan dapat berjalan dengan lancar dan kebenaran serta keadilan dapat 
ditegakkan. Imam Ali r.a. tidak tanggung-tanggung dalam bertindak menjalankan penertiban. 
Siapa saja yang terbukti tidak mengabdikan amalnya kepada agama Allah dan ummat Islam, 
digeser tanpa tawar-menawar. Satu persatu tokoh-tokoh yang tidak atau kurang jujur tersingkir 
90
tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk membela diri. 
Tetapi ada seorang tokoh dan pejabat teras yang pantang menyerah. Ia adalah Muawiyah bin 
Abi Sufyan, yang dalam waktu relatif panjang menjadi seorang penguasa di daerah Syam. Ia 
bukan hanya membangkang, bahkan menentang kekhalifahan Imam Ali r.a. secara terang-terangan. 
Sejak mendengar Imam Ali r.a. terbai'at sebagai Amirul Mukminin, Muawiyah telah memasang 
kuda-kuda untuk menjegal kepemimpinan Imam Ali r.a. Apa yang disiapkan oleh Muawiyah 
bukannya tidak dimengerti oleh Amirul Mukminin, dan justru itulah motivasinya hendak 
menggeser Muawiyah. 
Banyak sahabat Imam Ali r.a. yang mengemukakan kekhawatiran bila Imam Ali r.a. 
melaksanakan niatnya. Mereka menasehatkan agar Imam Ali r.a. tidak cepat-cepat mengambil 
tindakan terhadap Muawiyah. Mereka mengatakan: "Kami yakin Muawiyah tidak akan tinggal 
diam bila dia disingkirkan dari kedudukannya. Sebaliknya, ada kemungkinan ia merasa cukup 
puas jika sementara dibiarkan memegang jabatan itu." 
Tetapi Imam Ali r.a. sebagai seorang pemimpin yang selalu bersikap prinsipal, tak mau mundur 
sejengkal pun. Ia menegaskan pendiriannya: "Aku tidak dapat lagi memakai Muawiyah, 
sekalipun hanya untuk dua hari! Aku tidak akan mempergunakannya dalam tugas apa pun juga. 
Bahkan ia tidak akan kuperbolehkan menghadiri peristiwa upacara penting. Ia juga tidak akan 
mendapat kedudukan dalam pasukan muslimin!" 
Pendirian Imam Ali r.a. sudah tidak dapat ditawar lagi, Keputusan diambil: mengganti 
Muawiyah dengan Sahl bin Hunaif, seorang dari kaum Anshar. 
Tindakan yang diambil Imam Ali r.a. ini mengawali pertentangan terbuka dengan Muawiyah bin 
Abi Sufyan. Pada waktu Sahl bin Hunaif tiba di Damsyik, Muawiyah secara terang-terangan 
menolaknya. Malahan ia berani memerintahkan agar Sahl cepat kembali ke Madinah. Peristiwa 
ini membuat para sahabat Imam Ali r.a. bertambah khawatir. 
Penolakan dan pembangkangan Muawiyah ternyata sama sekali tidak menggetarkan fikiran 
Imam Ali r.a. Ia berpegang teguh pada firman Allah yang menegaskan, bahwa tiap muslim wajib 
taat kepada Waliyyul Amri (pemegang kekuasaan) selama Waliyyul Amri tidak berlaku durhaka 
terhadap Allah dan Rasul-Nya. Bagi Imam Ali r.a., perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya adalah di 
atas segala-galanya. 
Untuk melaksanakan dan membela perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya ia tidak menghitung 
untung rugi. Di saat banyak sekali orang yang merasa gelisah, ia tetap tenang menghadapi 
pembangkangan Muawiyah. Ia mengirim utusan ke Damsyik, membawa surat perintah, agar 
seterimanya surat itu Muawiyah datang ke Madinah untuk menyatakan bai'atnya kepada Amirul 
Mukminin. 
Kampanye keji 
Menyadari kekuatannya sendiri, Muawiyah tidak gugup menerima surat perintah Amirul 
Mukminin. Selesai dibaca, dengan sengaja surat itu dibiarkan begitu saja. Utusan Imam Ali r.a. 
dibiarkan menunggu sampai tidak tentu batas waktunya. Tiga bulan kemudian barulah 
Muawiyah membalas surat Imam Ali r.a. 
Seorang dari Bani 'Absy diperintahkan berangkat membawa surat jawaban untuk Imam Ali r.a. 
di Madinah. Untuk memperlihatkan sikapnya yang tidak mengakui Imam Ali r.a. sebagai 
Khalifah dan Amirul Mukminin, pada sampul surat jawaban itu ditulis: "Dari Muawiyah bin Abi 
Sufyan kepada Ali bin Abi Thalib." 
91
Sebelum utusan itu berangkat ke Madinah, Muawiyah berpesan agar setibanya di kota tujuan, 
sampul surat itu diperlihatkan dulu kepada orang banyak, sebagai pemberitahuan bahwa ia 
tidak mengakui Imam Ali r.a. sebagai Amirul Mukminin. 
Pesan Muawiyah itu dilaksanakan sebagaimana mestinya oleh orang dari Bani 'Absy. Secara 
demonstratif sampul surat Muawiyah diperlihatkan kepada orang banyak. Semua orang ingin 
tahu apa yang terjadi akibat pembangkangan Muawiyah. Orang beramai-ramai mengikuti 
perjalanan kurir itu menuju ke tempat kediaman Imam Ali r.a. Mereka juga ingin tahu apa 
sesungguhnya isi surat tersebut. Kedatangan kurir Muawiyah disambut dengan tenang oleh 
Imam Ali r.a. Setelah dibuka, ternyata dalam sampul itu hanya terdapat secarik kertas yang 
bertuliskan "Bismillaahhir Rahamanir Rahim". 
"Apa maksud ini?" tanya Amirul Mukminin kepada kurir dengan heran. "Selain ini apakah ada 
berita lain?" 
Setelah didesak beberapa kali, akhirnya kurir mengatakan, bahwa ia ingin memperoleh jaminan 
atas keamanan dan keselamatannya lebih dulu, sebelum memberikan keterangan. Permintaan 
itu dikabulkan oleh Amirul Mukminin. 
Setelah itu barulah kurir menceritakan apa yang sedang terjadi di Syam. Katanya: "Penduduk 
Syam telah bersepakat hendak menuntut balas atas kematian Utsman bin Affan… Mereka telah 
mengeluarkan jubah Khalifah Utsman yang berlumuran darah dan jari isterinya, Na'ilah, yang 
terpotong pada saat berusaha menahan ayunan pedang. Semuanya itu dipertontonkan kepada 
penduduk Syam. Melihat kenyataan ini penduduk di sana menangisi kematian Khalifah Utsman 
sambil mengelilingi jubahnya." 
Dari keterangan kurir itu dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa atas usaha Muawiyah, penduduk 
Syam sekarang telah menuduh Imam Ali r.a. sebagai pelaku makar terhadap Khalifah Utsman 
r.a. dan mereka tidak akan membiarkan peristiwa terbunuhnya Khalifah Utsman r.a. 
Apa yang dikatakan kurir Muawiyah benar-benar membangkitkan kemarahan semua orang yang 
hadir. Hanya karena kebijaksanaan Imam Ali r.a. saja kurir itu terjamin keselamatannya. 
Orang-orang Madinah sangat gusar mendengar fitnah yang dilancarkan Muawiyah terhadap 
Amirul Mukminin. Lebih-lebih mereka yang dulu memberontak terhadap Khalifah Utsman r.a. 
Semua yang dilakukan Muawiyah di Damsyik merupakan muslihat politik yang dirajut bersama 
seorang penasehatnya yang terkenal kaya dengan tipu-daya: Amr bin Al-Ash. Sejak Imam Ali 
r.a. terbai'at sebagai Khalifah, dua sejoli itu telah bertekad hendak menempuh segala cara 
guna menggagalkan usaha Imam Ali r.a. memantapkan kedudukannya sebagai Amirul Mukminin. 
Sebab Muawiyah yakin benar, bahwa Imam Ali r.a. tidak akan memberi kesempatan sedikit pun 
kepadanya untuk terus berkuasa di daerah. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan satu dalih 
yang dapat menjatuhkan martabat Imam Ali r.a. 
Guna keperluan itu Muawiyah dengan sengaja mendatangkan jubah Khalifah Utsman r.a. dan 
kepingan-kepingan jari Na'ilah dari Madinah ke Damsyik. Hanya sekedar untuk dipertontonkan 
kepada khalayak ramai. Jubah Khalifah yang berlumuran darah itu digantungkan dalam masjid 
Damsyik, sebagai bukti kematian Khalifah yang sangat mengerikan. Sedangkan kepingan-kepingan 
jari Na'ilah, isteri Khalifah Utsman r.a., diletakkan dekat jubah sebagai saksi bisu. 
Bersamaan dengan itu dikampanyekan secara besar-besaran kepada penduduk, bahwa orang 
yang membunuh Khalifah Utsman r.a. bukan lain hanyalah Imam Ali r.a. sendiri! Muslihat politik 
yang dijalankan oleh Muawiyah dan Amr bin Al-Ash itu ternyata berhasil mengelabui fikiran 
penduduk yang tidak memahami seluk beluk politik. Dengan cepat Syam dilanda suasana anti 
Imam Ali r.a. Ini merupakan awal persiapan pemberontakan bersenjata yang tak lama lagi akan 
dicetuskan Muawiyah. 
92
Untuk menanggulangi fitnah sekeji itu, Imam Ali r.a. segera mengambil langkah-langkah 
seperlunya. Ia segera mengumpulkan kaum Muhajirin dan Anshar. Diantara mereka itu hadir 
dua orang tokoh terkemuka yang sedang beroposisi, yaitu Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin 
Al-'Awwam. Setelah menjelaskan kegiatan fitnah yang dilakukan Muawiyah di Syam, Imam Ali 
r.a. mengemukakan gagasan untuk mencegah meluasnya fitnah yang berbahaya itu. 
Gagasan yang dikemukakan Imam Ali r.a. ternyata mendapat sambutan dingin. Bahkan Thalhah 
dan Zubair, yang merupakan tokoh-tokoh terdini membai'at Imam Ali r.a., dengan alasan 
hendak berangkat umrah ke Makkah, menyatakan tak dapat memenuhi ajakan Imam Ali r.a. 
Persiapan Thalhah & Zubair 
Penolakan terselubung yang dikemukakan Thalhah dan Zubair ternyata mempunyai ekor yang 
panjang dan tambah merawankan kedudukan Imam Ali r.a. sebagai Amirul Mukminin. 
Sejak terbai'atnya Imam Ali r.a. kini kota Makkah menjadi tempat berkumpulnya tokoh-tokoh 
yang terkena tindakan penertiban Amirul Mukminin, terutama mereka yang berasal dari 
kalangan Bani Umayyah. Di antara mereka termasuk Marwan bin Al-Hakam yang cepat-cepat 
meninggalkan Madinah. Kini Thalhah dan Zubair berangkat pula ke Makkah. 
Ketika itu, Sitti Aisyah r.a. juga berada di Makkah setelah menunaikan ibadah haji. Beberapa 
waktu sesudah terbunuhnya Khalifah Utsman ia mendengar desas-desus, bahwa Thalhah bin 
Ubaidillah terbai'at sebagai Khalifah pengganti Utsman r.a. Mendengar selentingan itu ia segera 
mengambil putusan untuk cepat-cepat kembali ke Madinah.Tetapi di tengah perjalanan, ia 
menerima kabar pasti, bahwa yang terbai'at sebagai Khalifah bukannya Thalhah, melainkan Ali 
bin Abi Thalib r.a. Begitu mendengar kepastian demikian; ia membatalkan rencana pulang ke 
Madinah. Ia kembali ke Makkah. Hatinya sangat masgul mendengar berita itu. 
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sejak terjadinya peristiwa yang dalam sejarah dikenal 
dengan nama Haditsul ifk, Sitti Aisyah sukar berbaik-baik kembali dengan Imam Ali r.a. 
Peristiwa itu terjadi ketika Rasul Allah s.a.w. melancarkan ekspedisi terhadap kaum kafir dari 
Banu Musthaliq. Dalam ekspedisi itu beliau mengajak isterinya, Sitti Aisyah. Dalam perjalanan 
pulang ke Madinah, Sitti Aisyah ketinggalan dari rombongan, gara-gara mencari barang 
perhiasannya yang hilang di perjalanan. 
Untunglah ketika itu ia dijumpai oleh Shafwan bin Mu'atthal, yang berangkat pulang lebih 
belakangan. Bukan main terkejutnya Shafwan melihat Ummul Mukminin seorang diri di tengah-tengah 
padang pasir. Isteri Rasul Allah s.a.w. itu dipersilakan naik ke atas unta, sedangkan 
Shafwan sendiri berjalan kaki sambil menuntun. Siang hari mereka berdua baru memasuki kota 
Madinah dengan disaksikan oleh orang banyak. Semuanya heran mengapa Ummul Mukminin 
mengendarai unta seorang pemuda yang tampan itu. 
Mengenai kejadian itu Rasul Allah s.a.w. pada mulanya tidak pernah berfikir lebih jauh. Akan 
tetapi secara diam-diam peristiwa itu menjadi pembicaraan orang ramai dan menjadi buah 
bibir yang dibisik-bisikkan orang dalam tiap kesempatan. Sumber utama yang menyiarkan 
desas-desus tuduhan Sitti Aisyah berbuat serong ialah seorang munafik bernama Abdullah bin 
Ubaiy. Desas-desus itu akhirnya sampai ke telinga Rasul Allah s.a.w. Berita santer tentang hal 
itu sangat menggelisahkan hati beliau. Kemudian beliau minta pendapat para sahabat mengenai 
hal itu. 
Konon Usamah bin Zaid sama sekali tidak dapat mempercayai benarnya desas-desus itu. Sedang 
Imam Ali r.a. waktu itu mengatakan: Ya Rasul Allah, masih banyak wanita lain! Imam Ali r.a. 
mengucapkan kata-kata itu hanya sekedar untuk berusaha menenangkan perasaan Rasul Allah 
s.a.w. yang tampak gelisah. 
93
Ucapan itulah yang kemudian menjadi sebab retaknya hubungan baik antara Sitti Aisyah dengan 
Imam Ali r.a. Ucapan tersebut oleh Sitti Aisyah r.a. dirasakan sangat menusuk hati, sedang 
Imam Ali r.a. sendiri selama itu tidak pernah berubah sikap terhadap Sitti Aisyah r.a. Ia 
senantiasa hormat kepada Ummul Mukminin. Lebih-lebih setelah peristiwa Ifk itu terselesaikan 
dengan tuntas berdasarkan turunnya firman Allah s.w.t. yang menegaskan, bahwa Sitti Aisyah 
bersih dari perbuatan nista seperti yang dituduhkan orang. 
Gara-gara Haditsul Ifk itulah, Sitti Aisyah r.a. sangat kecewa mendengar Ali bin Abi Thalib r.a. 
dibai'at sebagai Khalifah oleh penduduk Madinah. Setibanya di Makkah ia berniat hendak 
menentang pembai'atan Ali bin Abi Thalib r.a. Ia berkata: "Utsman mati terbunuh secara 
madzlum. Oleh karena itu adalah kewajiban kaum muslimin untuk menuntut balas atas 
kematiannya." 
Menurut Ummul Mukminin itu, Khalifah pengganti Utsman r.a. harus dilakukan pembai'atannya 
dalam suasana tertib dan damai. Ini sama artinya dengan mengatakan, bahwa Imam Ali r.a. 
dipilih hanya oleh kaum pemberontak yang telah membunuh Khalifah. 
Pendirian Sitti Aisyah ini lebih diperkuat lagi oleh kedatangan Thalhah dan Zubair. Dua orang 
itu di Makkah mengadakan kampanye menentang pembai'atan Imam Ali r.a. Pada mulanya 
banyak orang bertanya-tanya tentang pendirian aneh kedua orang itu. Bukankah mereka telah 
menyatakan bai'atnya kepada Imam Ali r.a.? Tanda-tanya di hati orang-orang itu mereka jawab 
dengan mengatakan, bahwa bai'atnya dilakukan karena terpaksa. Dipaksa oleh kekuatan 
bersenjata kaum pemberontak. 
Bagaimana pun juga kini di Makkah telah tersusun kekuatan penentang Imam Ali r.a. Kekuatan 
ini makin hari makin bertambah. Mereka bertekad hendak memaksa Imam Ali r.a. melepaskan 
kekhalifahannya. Dengan bantuan bekas-bekas pejabat yang terkena penggeseran dan 
penertiban; dengan dukungan orang-orang Qureiys yang masih menyimpan rasa sakit hati; di 
perkuat lagi oleh kehadiran Ummul Mukminin, sekarang Thalhah dan Zubair berhasil 
mengorganisasi pasukan bersenjata kurang lebih berkekuatan 3.000 orang. 
Kekuatan anti Imam Ali r.a. ini mempunyai tujuan ganda: menuntut balas atas kematian 
Khalifah Utsman r.a. dan menggulingkan Imam Ali r.a. dari kedudukannya sebagai Amirul 
Mukminin. Mereka berpendirian, setelah dua tujuan itu tercapai barulah diadakan pemilihan 
Khalifah baru dalam suasana bebas dari tekanan dan paksaan. 
Dua tantangan besar yang sedang dihadapi Imam Ali r.a. mewarnai kehidupan kaum muslimin 
pada tahun empat-puluhan Hijriyah. Damsyik dan Makkah menuduh Imam Ali r.a. sebagai orang 
yang setidak-tidaknya ikut bertanggungjawab atas terbunuhnya Khalifah Utsman r.a. Dalam 
periode itu praktis ummat Islam terpecah dalam tiga kelompok besar: 
1. Kelompok Madinah di bawah pimpinan Imam Ali r.a. 
2. Kelompok Damsyik di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan. 
3. Kelompok Makkah di bawah pimpinan trio Thalhah, Zubair dan Sitti Aisyah r.a. 
Masing-masing kelompok ditunjang oleh kekuatan bersenjata yang cukup tangguh dan 
berpengalaman. 
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, terjadi satu krisis politik sangat gawat yang 
mengarah kepada peperangan besar antara sesama kaum muslimin. Inilah gejala nyata dari apa 
yang pernah dikemukakan Rasul Allah s.a.w. semasa hidupnya, bahwa pada satu ketika akan 
terjadi fitnah besar di kalangan ummatnya, laksana datangnya malam gelap-gulita yang 
berlangsung dari awal sampai akhir. 
Dalam menghadapi kelompok Madinah, tampaknya seakan-akan kelompok Damsyik berdiri di 
94
belakang kelompok Makkah. Mengenai hal ini kitab Ali wa'Ashruhu, halaman 970-971, 
mengemukakan sebuah fakta sejarah. Fakta itu berupa sepucuk surat Muawiyah yang 
dikirimkan kepada Zubair melalui seorang dari Bani 'Amir. Dalam surat itu Muawiyah antara lain 
menulis: 
"Bismillaahir Rahmanir Rahim. Kepada hamba Allah Zubair Amirul Mukminin, dari Muawiyah bin 
Abi Sufyan. Salamun' alaika, ammaa ba' du: penduduk Syam telah kuajak bersama-sama 
membait'at anda. Mereka menyambut baik dan semuanya taat. Begitu taatnya seperti ternak. 
Sekarang hanya tinggal Kufah dan Bashrah saja yang belum anda dapatkan. Hendaknya anda 
jangan sampai kedahuluan Ali bin Abi Thalib. Sesudah kedua kota itu berada di tangan anda, Ali 
tidak akan mempunyai apa-apa lagi. Aku juga sudah membai'at Thalhah bin Ubaidillah sebagai 
pengganti anda di kemudian hari. Oleh karena itu hendaknya kalian supaya terang-terangan 
menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman, dan kerahkanlah semua orang ke arah itu. 
Kalian supaya sungguh-sungguh giat dan cepat bergerak. Allah akan memenangkan kalian dan 
tidak akan membantu musuh-musuh kalian." 
Surat tersebut oleh Zubair diperlihatkan kepada Thalhah, bahkan dengan dibacakan sekaligus. 
Tanpa disadari dua orang itu sudah masuk perangkap Muawiyah. Dengan siasat itu Muawiyah 
hendak melemahkan posisi Imam Ali r.a. dan menghabiskan kekuatan orang-orang lain yang 
mengincar kursi kekhalifahan. 
Ke Bashrah 
Untuk melaksanakan rencana kelompok Makkah, yaitu menuntut balas atas kematian Khalifah 
Utsman r.a. dan menggulingkan Imam Ali r.a. dari kedudukannya sebagai Khalifah, Thalhah, 
Zubair dan Sitti Aisyah r.a. berangkat ke Bashrah. 
Pada saat Sitti Aisyah r.a. hendak berangkat, orang-orang mencarikan seekor unta yang kuat 
guna mengangkut haudaj-nya Ya'laa bin Ummayyah menyerahkan unta kepunyaannya yang 
sangat besar, bernama "Askar". Sitti Aisyah r.a. kagum sekali melihat unta itu. Akan tetapi 
ketika serati memanggil-manggil untanya dengan berulang-ulang menyebut "Askar", ia mundur 
dan berkata kepada serati unta itu: "Kempalikan dia. Aku tidak membutuhkan unta itu!" 
Sewaktu ditanya apakah sebabnya Ummul Mukminin menyuruh unta "Askar" dikembalikan, Sitti 
Aisyah r.a. menjawab, bahwa Rasul Allah s.a.w. pernah menyebut-nyebut nama unta itu dan ia 
dilarang mengendarainya. Ummul Mukminin minta dicarikan unta lain. Orang tak berhasil 
mencarikan unta seperti "Askar". Agar jangan diketahui oleh Ummul Mukminin, bahwa unta 
yang akan dikendarainya adalah tetap unta "Askar", maka jilal-nya "Askar" diganti dengan jilal 
lain, tanpa sepengetahuan Sitti A.isyah r.a. Ummul Mukminin merasa puas dengan unta yang 
dikatakan bukan "Askar" itu. 
Sementara itu Al-Asytar dari Madinah mengirim sepucuk surat kepada Sitti A.isyah r.a. Tulis Al- 
Asytar: "Ibu adalah isteri Rasul A.llah s.a.w. Beliau telah memerintahkan Ibu supaya tetap 
tinggal di rumah. Jika Ibu menuruti perintah beliau, bagi Ibu itu lebib baik. Tetapi jika Ibu 
tetap tidak mau selain hendak memegang pentung, menanggalkan baju kerudung dan 
menampakkan kesucian diri di depan mata orang banyak, Ibu akan kami perangi, sampai kami 
dapat memulangkan Ibu kembali ke rumah, tempat yang sudah diridhoi Allah bagi Ibu." 
Sebagai jawaban atas surat Al-Asytar itu, Sitti Aisyah r.a. menulis: "Engkau adalah orang Arab 
pertama yang melancarkan fitnah, menganjurkan perpecahan dan membelakangi para Imam, 
yakni para Khalifah. Engkau mengerti bahwa dirimu tidak akan dapat melemahkan Allah. 
Engkau akan menerima pembalasan dari Allah atas perbuatanmu yang dzalim terhadap seorang 
Khalifah, yakni Utsman bin Affan. Suratmu sudah kuterima dan aku sudah memahami apa yang 
ada di dalamnya. Allah sajalah yang akan melindungi diriku dari perbuatanmu. Akan lumpuhlah 
semua orang yang sesat dan durhaka seperti engkau itu, insyaa Allah!" 
95
Waktu perjalanan Sitti Aisyah r.a. sampai di Hau'ab, yaitu tempat sumber air kepunyaan Bani 
Amir Sha'sha'ah, ia digonggong banyak anjing, sampai unta yang dikendarainya lari kencang 
sukar dikendalikan. Waktu itu terdengarlah suara orang berteriak: "Hai, tahukah kalian, betapa 
banyaknya anjing di Hau'ab ini dan alangkah keras gonggongannya!" 
Mendengar teriakan itu, Sitti Aisyah r.a. menarik tali kekang sekeras-kerasnya sambil berteriak 
kuat: "Itu anjing-anjing Hau'ab! Kembalikan aku! Aku mendengar sendiri Rasul Allah pernah 
mengatakan...," ia menyebut apa yang pernah dikatakan oleh Rasul Allah s.a.w. kepadanya. 
Saat itu Sitti Aisyah mendengar suara orang lain mengatakan: "Pelan-pelan! Kita sudah 
melewati Hau'ab!" 
"Apakah ada saksi yang membenarkan perkataanmu?" tanya Sitti Aisyah r.a. mengejar suara 
tadi. 
Kemudian beberapa orang Badui yang menjadi pengawal meneriakkan sumpah, bahwa benar-benar 
tempat itu sudah bukan Hau'ab lagi. Oleh karena itu Sitti Aisyah r.a. lalu melanjutkan 
perjalanan. 
Ketika Sitti Aisyah r.a. tiba di Harf Abi Musa, dekat Bashrah, penguasa daerah Bashrah yang 
diangkat oleh Khalifah Imam Ali r.a., bernama Utsman bin Hanif, mengirim Abul Aswad Ad 
Dualiy guna menemui rombongan. Abul Aswad bertemu dengan Sitti Aisyah r.a. dan 
menanyakan maksud perjalanannya. Kepada Abul Aswad, Sitti Aisyah r.a. menjelaskan, bahwa 
ia datang untuk menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman bin Affan. 
Menanggapi keterangan Sitti Aisyah r.a. itu, Abul Aswad mengatakan, bahwa di Bashrah tidak 
ada seorang pun yang ikut ambil bagian dalam peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan. 
Engkau benar, kata Sitti Aisyah r.a. menukas. Tetapi ada orang-orang yang bersama-sama Ali 
bin Abi Thalib di Madinah. Aku datang untuk mengerahkan penduduk Bashrah supaya bangkit 
memerangi dia. Kalau kami bisa marah karena kalian dicambuk oleh Utsman, mengapa kami tak 
bisa marah terhadap mereka yang mengangkat pedang terhadap Utsman? 
Menjawab pernyataan Sitti Aisyah r.a. tadi, Abul Aswad berkata: Ibu adalah wanita pingitan 
Rasul Allah s.a.w. Beliau memerintahkan Ibu supaya tetap tinggal di rumah dan membaca Kitab 
Allah. Tidak ada kewajiban perang bagi wanita. Wanita juga tidak layak menuntut balas atas 
terbunuhnya seseorang. Bagi Utsman, Ali sebenarnya lebih baik dari pada Ibu. Ia lebih dekat 
hubungan silaturahminya, karena dua-duanya sama-sama putera keturunan Abdi Manaf. 
Sitti Aisyah r.a. tak memperdulikan kata-kata Abul Aswad itu. Ia tetap menyatakan kebulatan 
tekadnya: Aku tidak akan pergi sebelum melaksanakan maksudku. Hai Abul Aswad, tanya Sitti 
Aisyah r.a., apakah engkau mengira akan ada orang di Bashrah ini yang hendak memerangi aku? 
Demi Allah, kata Abul Aswad, perang yang hendak Ibu cetuskan itu akan sangat hebat. 
Waktu Abul Aswad beranjak hendak meninggalkan tempat, datanglah Zubair bin Al-'Awwam. 
Kepadanya Abul Aswad berkata: "Hai Abu Abdullah --nama panggilan Zubair-- banyak orang 
yang menyaksikan, waktu Abu Bakar dahulu dibai'at sebagai Khalifah engkau mengangkat 
pedangmu sambil berkata: "Tidak ada orang yang lebih afdhal untuk memegang kepempimpinan 
ummat selain Ali bin Abi Thalib. Bagaimana keadaanmu sekarang dengan pernyataanmu itu?" 
"Datanglah engkau menemui Thalhah dan dengarkan sendiri apa yang dikatakan olehnya!" kata 
Zubair, menanggapi pertanyaan Abul Aswad tadi. 
Abul Aswad terus pergi menemui Thalhah. Dari dialog yang berlangsung antara dia dengan 
96
Thalhah, Abul Aswad mengetahui, bahwa Thalhah sudah bertekad bulat melancarkan 
pemberontakan bersenjata. 
Waktu Sitti Aisyah r.a. mendengar, bahwa pasukan Imam Ali r.a. sudah tiba dekat Bashrah, dari 
jurusan lain, ia segera menulis surat kepada Zaid bin Shuhan Al-Abdiy: "Dari Aisyah binti Abu 
Bakar Ash Shiddiq, isteri Nabi s.a.w., kepada ananda yang setia Zaid bin Shuhan. Hendaknya 
engkau tetap tinggal di rumah. Cegahlah orang-orang jangan sampai membantu Ali. Kuharap 
dapat segera menerima kabar tentang yang kuinginkan darimu. Bagiku, engkau adalah seorang 
kerabat yang paling dapat dipercaya. Wassalam." 
Menjawab surat Sitti Aisyah r.a. di atas, Zaid bin Shuhan menulis: "Dari Zaid bin Shuhan kepada 
Aisyah binti Abu Bakar. Sesungguhnya Allah telah memberi perintah kepada Ibu dan kepadaku. 
Ibu diperintahkan supaya tetap tinggal di rumah, dan aku diperintahkan supaya berjuang. Surat 
Ibu sudah kuterima. Ibu memerintahkan supaya aku menjalankan sesuatu yang berlainan dari 
pada apa yang diperintahkan Allah kepadaku. Aku akan berbuat seperti apa yang diperintahkan 
Allah kepadaku dan hendaknya Ibu pun berbuat seperti yang diperintahkan Allah kepada Ibu. 
Perintah Ibu tidak dapat kupatuhi, dan surat Ibu tidak akan terjawab lagi. Wassalam." 
Menurut Abu Bikrah, ketika Asy Syi'biy menceritakan pengalamannya dalam perang "Jamal" 
(Unta) mengatakan, bahwa waktu Thalhah dan Zubair datang menjumpai Sitti Aisyah, kulihat 
semua perintah dan larangan berada di tangannya. Waktu itu aku segera teringat kepada 
sebuah hadits yang kudengar berasal dari Rasul Allah s.a.w. yang mengatakan: "Sesuatu kaum 
tidak akan berhasil jika urusannya dipimpin oleh seorang wanita." 
Teringat itu aku cepat-cepat menjauhkan diri. Dalam peperangan tersebut, unta yang bernama 
"Askar" (yang dikendarai Siti Aisyah r.a.) merupakan lambang satu-satunya bagi pasukan 
Thalhah. 
Waktu pasukan Thalhah dan pasukan Imam Ali r.a. masing-masing telah siaga untuk bertempur, 
Sitti Aisyah r.a. mengucapkan pidato. Pidatonya juga ditujukan kepada pengikut-pengikut Imam 
Ali r.a.: "…Kita telah bertekad hendak menuntut balas atas kematian Utsman melalui jalan 
kekerasan. Ia adalah seorang Amirul Mukminin, tempat bernaung dan tempat berlindung yang 
terbaik. Bukankah dulu kalian minta kepadanya supaya ia bersedia memenuhi keinginan kalian? 
Hal itu sudah ia penuhi. Tetapi setelah kalian memandangnya sebagai orang yang suci bersih 
seperti baju yang baru dicuci, kemudian kalian memusuhinya. Lantas kalian berdosa dengan 
menumpahkan darahnya secara haram. Demi Allah, ia adalah orang yang jauh lebih bersih dan 
lebih bertaqwa kepada Allah dibanding kalian…!" 
Hampir dalam waktu yang bersamaan, Imam Ali r.a. selaku Amirul Mukminin, juga 
mengucapkan pidato, sambil memberi instruksi-instruksi: "…Janganlah kalian memerangi 
mereka sebelum mereka menyerang lebih dulu. Alhamdulillah, kalian berada di atas hujjah 
(alasan) yang benar. Kalian harus berhenti memerangi mereka jika mereka mengajukan hujjah 
lain kepada kalian. Tetapi jika kalian terpaksa harus berperang, janganlah kalian menganiaya 
orang-orang yang luka parah. 
"Jika kalian berhasil mengalahkan mereka, janganlah kalian mengejar mereka dengan cara-cara 
yang licik. Janganlah membuka hal-hal yang memalukan mereka dan janganlah sampai 
mencincang orang yang sudah tewas." 
"Jika kalian tiba di tempat pemukiman mereka, janganlah kalian melanggar kesopanan, 
janganlah kalian memasuki rumah, janganlah kalian mengambil hak milik mereka walau sedikit, 
jangan sekali-sekali menggelisahkan dan mengganggu wanita, walau mereka itu mencaci-maki 
kalian atau mencerca pemimpin-pemimpin dan orang-orang shaleh yang ada di tengah-tengah 
kalian. Sebab mereka itu adalah manusia-manusia yang lemah jasmani, jiwa dan fikiran. Kita 
semua telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya supaya membiarkan kaum wanita, sekalipun 
97
mereka itu orang-orang musyrik. Jika sampai ada lelaki yang memukul mereka dengan tongkat 
atau dengan pelepah kurma, lelaki itu sungguh amat tercela dan akan menerima hukuman di 
kemudian hari…" 
Sebelum salah satu fihak menyulut api peperangan, Ali bin Abi Thalib r.a. menulis sepucuk 
surat kepada Thalhah dan Zubair. Isinya sebagai berikut: 
"Kalian maklum bahwa aku tidak pernah minta dibai'at oleh mereka, tetapi mereka sendirilah 
yang membai'at diriku. Kalian berdua termasuk orang-orang yang memilih dan membai'a't 
diriku. Orang tidak membai'at diriku untuk suatu kekuasaan istimewa. Jika kalian membai'atku 
karena terpaksa, aku mempunyai alasan untuk bertindak terhadap kalian, sebab kalian 
berpura-pura taat, tetapi sebenarnya menyembunyikan rasa permusuhan. Namun jika kalian 
membai'atku benar-benar karena taat, hendaklah kalian segera kembali ke jalan Allah." 
"Hai Zubair, engkau dahulu adalah seorang pasukan berkuda Rasul Allah s.a.w. dan pembela 
beliau. Dan engkau hai Thalhah, engkau adalah salah seorang kami-tua kaum Muhajirin. 
Seandainya dulu kalian tidak mau membai'atku, itu akan lebih mudah bagi kalian untuk keluar 
dari bai'at yang sudah kalian ikrarkan sendiri. 
"Kalian menuduh aku telah membunuh Utsman. Padahal aku, kalian dan penduduk Madinah 
semua mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Kalian menuduh aku melindungi para 
pembunuh Utsman. Padahal anak-anak Utsman sendiri semuanya menyatakan taat kepadaku 
dan mengadukan orang-orang yang membunuh ayah mereka kepadaku. Tetapi kalau ternyata 
Utsman memang mati terbunuh karena madzlum atau dzalim, misalnya, lantas kalian berdua 
mau apa?! Kalian berdua telah mengikrarkan bai'at kepadaku, tetapi sekarang kalian melakukan 
dua perbuatan yang amat tercela: menciderai bai'at kalian sendiri dan menghasut Ummul 
Mukminin hingga meninggalkan rumah." 
Sedang kepada Ummul Mukminin, Sitti Aisyah r.a., Imam Ali r.a. mengirim sepucuk surat. Isinya 
antara lain: 
"Bunda telah keluar meninggalkan rumah dengan perasaan marah demi Allah dan Rasul-Nya. 
Bunda menuntut suatu persoalan yang bukan menjadi urusan Bunda. Apa urusan kaum wanita 
dengan peperangan atau pertempuran? Bunda menuntut balas atas kematian Utsman, demi 
Allah, orang-orang yang menghadapkan Bunda kepada marabahaya serta menghasut Bunda 
supaya berbuat pelanggaran, jauh lebih besar dosanya terhadap diri Bunda dibanding dengan 
pembunuh-pembunuh Utsman bin Affan. Aku tidak marah jika Bunda tidak marah, dan aku 
tidak membuat kegoncangan jika Bunda tidak membuat kegoncangan. Kuharap supaya Bunda 
tetap bertaqwa kepada Allah dan pulang kembali ke rumah Bunda." 
Sebagai jawaban terhadap surat Imam Ali r.a., Thalhah dan Zubair menulis: "Engkau telah 
menempuh jalan seperti yang kau tempuh sepeninggal Utsman sekarang ini; dan engkau tidak 
akan kembali lagi selama engkau merasa perlu menempuh jalan yang sedang kautempuh. 
Jalankanlah apa yang menjadi kemauanmu. Engkau tidak akan merasa puas selama kami belum 
taat, dan kami tidak akan taat kepadamu untuk selama-lamanya. Lakukanlah apa saja yang 
hendak kau perbuat." 
Sedangkan Ummul Mukminin, Sitti Aisyah r.a. hanya menulis jawaban singkat: "Persoalannya 
sudah jelas. Engkau tidak perlu menyalahkan lagi. Wassalam." 
Perang Unta 
Sekalipun sebenarnya peperangan sudah tak dapat dihindarkan lagi, namun Imam Ali r.a. masih 
tetap berusaha untuk dapat mencegah berkobarnya peperangan sesama muslimin. Ia teringat 
kenangan lama yang indah, ketika bersama Thalhah dan Zubair berjuang bahu membahu 
menegakkan Islam di bawah pimpinan Rasul Allah s.a.w. 
98
Imam Ali r.a. berusaha bertemu muka dengan dua tokoh bekas sahabatnya, yang saat itu telah 
mengangkat senjata untuk menentangnya. Pada pertemuan muka dengan Thalhah, Imam Ali 
r.a. berkata: "Sahabatku Thalhah! Engkau menyimpan isterimu sendiri di rumahmu, tetapi 
engkau datang ke tempat ini membawa isteri Rasul Allah s.a.w. Dengan mempergunakan diakah 
engkau berperang?" 
Pertanyaan Imam Ali r.a. ini nampaknya sangat mengenai hati Thalhah. Ia tak bisa 
menjawabnya sama sekali dan hanya dapat menundukkan kepala untuk kemudian pelan-pelan 
menarik diri dari barisan yang dipimpinnya. 
Ketika Marwan bin Al-Hakam melihat Thalhah memisahkan diri dari pasukan dan meninggalkan 
medan pertempuran (ia tergabung dalam pasukan Thalhah), segera mengikuti sambil berkata: 
"Demi Allah, aku tak akan melepaskan tekadku untuk menebus darah Utsman. Aku tidak akan 
membiarkan dia (Thalhah) lolos. Akan kubunuh dia, karena dia juga turut membunuh Utsman!" 
Beberapa saat kemudian ia membidikkan anak panahnya ke arah Thalhah. Ketika anak panah 
itu lepas dari busurnya, lambung Thalhah menjadi sasaran. Gugurlah salah seorang sahabat 
Rasul Allah s.a.w. tertembus panah yang dilepaskan oleh anggota pasukannya sendiri. 
Sementara itu ketika Imam Ali r.a. berhasil bertemu muka dengan Zubair, ia bertanya: "Hai 
Abdullah, apakah yang mendorongmu sampai datang ke tempat ini?" 
"Untuk menuntut balas atas kematian Utsman," jawab Zubair dengan terus terang. 
"Engkau menuntut balas atas kematian Utsman?" tanya Imam Ali r.a. menanggapi jawaban 
Zubair tadi. "Allah mengutuk orang yang membunuhnya! Hai Zubair, engkau kuingatkan. 
Ingatkah dahulu ketika engkau berjalan bersama Rasul Allah s.a.w. waktu itu beliau bertopang 
pada tanganmu, melewati aku, kemudian beliau tersenyum padaku, lalu menoleh kepadamu 
sambil berkata: "Hai Zubair, engkau kelak akan memerangi Ali secara dzalim!" 
"Oh, ya," jawab Zubair, setelah beberapa saat mengingat-ingat. 
"Mengapa engkau sekarang memerangi aku?" tanya Imam Ali r.a. pula. 
"Demi Allah," sahut Zubair, "aku lupa. Seandainya aku ingat aku tidak akan keluar untuk 
memerangimu." 
Selesai mengucapkan kata-kata itu, Zubair cepat-cepat keluar meninggalkan pasukan dengan 
air mata membasahi pipi. Tetapi malang bagi Zubair. Salah seorang anggota pasukan Imam Ali 
yang bernama Ammar bin Jarmuz ketika melihat Zubair terpisah dari pasukannya, segera diikuti 
dan kemudian dibunuh. 
Perang Unta, atau Waq'atul Jamal, antara sesama kaum muslimin, sudah tak dapat dihindarkan 
lagi. Dalam tulisannya tentang Waq'atul Jamal, Al-Madainiy dan Al-Waqidiy antara lain 
mengatakan, bahwa dua pasukan saling berhadapan, pasukan Thalhah dan penduduk Bashrah, 
terus menerus dibakar semangatnya dengan syair-syair agitasi. Mereka dikerahkan untuk 
mengarungi pertempuran sengit melawan Imam Ali r.a. dan pasukannya. 
Di tengah-tengah pertempuran sedang berlangsung sengit, muncul Auf bin Qhatan Adh Dhabiy. 
Ia berteriak: "Tidak ada fihak yang harus dituntut atas kematian Utsman selain Ali bin Abi 
Thalib dan anak-anaknya!" Sejalan dengan itu ia menarik tali kekang unta yang dikendarai Sitti 
Aisyah r.a. sambil bersyair: 
Hai ibu…, hai ibu, tanah air telah lepas dariku 
99
Aku tak ingin kuburan dan tak ingin kain kafan 
Disinilah medan laga bagi Auf bin Qhatan 
Jika Ali lepas dari tangan, matilah aku 
Atau jika dua anaknya, Hasan dan Husein, lepas... 
Baiklah aku mati merintih bagaikan pahlawan! 
Dengan pedang teracung di tangan ia maju menerjang. Belum sempat pedangnya menjatuhkan 
korban di fihak lawan, ia sendiri sudah tersungkur terbelah setengah badan dan menggelepar 
bergumul dengan pasir. Tali kekang yang lepas dari tangannya, segera diambil oleh Abdullah 
bin Abza. Ketika itu barang siapa yang benar-benar berani bertempur sampai mati, ia pasti 
maju mendekati unta Sitti Aisyah r.a. dan memegang tali kekangnya. Sambil mendendangkan 
syair Abdullah bin Abza tampil menghunus pedang dan mulai menyerang pasukan Imam Ali r.a. 
Dengan syair juga ia menantang Imam Ali r.a. : 
Mereka kuserang, tetapi tak kulihat ayah si Hasan 
Aduhai....itu merupakan kesedihan di atas kesedihan 
Mendengar tantangan Abdullah bin Abza, Imam Ali r.a. segera keluar dari barisan untuk 
melakukan serangan dengan tombak. Beberapa saat perang tanding berlangsung. Setelah 
beberapa kali ayunan pedang Abdullah bin Abza gagal menyentuh tubuh Imam Ali r.a., tiba-tiba 
ujung tombak yang runcing mengkilat sudah menancap di tengah-tengah dada Abdullah bin 
Abza. Ia jatuh tersungkur. Beberapa detik sebelum Abdullah menarik nafas terakhir, Imam Ali 
r.a. menghampirinya sambil bertanya: "Sudahkah engkau melihat ayah si Hasan? Bagaimana 
engkau lihat dia?" Habis mengucapkan pertanyaan itu Imam Ali r.a. kembali ke pasukan. 
Sementara pasukan kedua belah fihak sedang bergulat mengadu senjata, banyak kepala dan 
tangan berjatuhan terpisah dari batang tubuhnya, Sitti Aisyah r.a. turun dari unta. Ia 
mengambil segenggam kerikil, lalu dicampakkan kepada pengikut-pengikut Imam Ali r.a. seraya 
berteriak: "Hancurlah muka kalian!" Hal semacam itu dilakukan Sitti Aisyah r.a., meniru 
perbuatan Rasul Allah s.a.w. dalam perang Hunain. 
Melihat peperangan semakin dahsyat, bersama regu pasukan yang mengenakan serban hijau, 
terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, Imam Ali r.a. maju memimpin serangan. Ia diapit oleh 
tiga orang puteranya: Al Hasan, Al Husein dan Muhammad Al Hanafiyah. Sebelum tampil sendiri 
memimpin serangan, Imam Ali r.a. bermaksud hendak menguji ketangguhan puteranya yang 
bernama Muhammad Al Hanafiyah. Sambil menyerahkan panji pasukan, Imam Ali r.a. berkata 
kepada puteranya itu: "Majulah dengan panji ini dan pancangkanlah di depan mata unta itu! 
Jangan berhenti di tempat lain!" 
Baru saja Muhammad mengayunkan kaki beberapa langkah, ia sudah dihujani anak-panah yang 
beterbangan dari arah lawan. Melihat itu, ia memerintahkan regunya supaya berhenti sejenak: 
"Tunggu dulu, sampai mereka kehabisan anak-panah!" 
Mengetahui hal itu, Imam Ali r.a. segera menyuruh orang lain guna mendekati puteranya. 
Kepada orang yang disuruhnya itu, dipesan agar mendorong Muhammad Al Hanafiyah maju 
terus melancarkan serangan terbuka dan besar-besaran. Karena gerak Muhammad lamban, 
Imam Ali menghampirinya sendiri dari belakang. Sambil menepukkan tangan kiri ke bahu 
puteranya, Ia membentak: "Hayo maju!" 
Meskipun sudah dibentak ayahnya agar maju terus, namun Muhammad Al Hanafiyah masih juga 
lamban bergerak. Sebagai seorang ayah, Imam Ali r.a. merasa kasihan. Kemudian panji yang di 
tangan puteranya diambil kembali dengan tangan kiri, sedang pedang yang terkenal dengan 
nama "Dzul Fiqar" terhunus di tangan kanannya. Tanpa membuang-buang waktu Imam Ali r.a. 
memimpin serbuan ke tengah pasukan "Jamal". Setelah melakukan serangan beberapa saat 
lamanya, menangkis dan memukul musuh, Imam Ali r.a. kembali ke induk pasukan. Sahabat- 
100